
Di tahun 2012, saat langit masih menutupi dunia dengan senja yang semakin meredup, Alifa merasakan bagaimana tubuhnya yang perlahan-lahan mulai merana. Seperti sebatang pohon yang tak lagi mampu kokoh berdiri, Alifa berjuang untuk mempertahankan keseimbangan tubuhnya agar langkahnya tetap tegar. Namun, langkah-langkahnya terasa berat dan terhuyung-huyung, seperti dedaunan yang terombang-ambing di hadapan hembusan angin kencang.
Dengan kesabaran yang menggebu, Alifa berusaha menggapai mimpi-mimpi yang menjulang tinggi. Seperti seorang pelaut yang berlayar di lautan yang bergelora, Alifa berusaha menahan rasa sakit yang menusuk-nusuk, selayak tali-tali yang mengikat erat hati dan pikirannya. Ia berjalan menuju kampus, sebuah medan perjuangan yang menantang, di mana ia memasuki semester dua, seperti bunga yang mulai mekar di tengah-tengah padang pasir yang gersang.
Meskipun badai menggelayuti tubuhnya, Alifa tak pernah menyerah. Seperti burung rajawali yang mengarungi langit dengan sayap yang rentan, ia terus melangkah dengan semangat yang tak terkalahkan. Dalam setiap langkahnya, Alifa memupuk harapan dan kekuatan, seakan-akan ia adalah seorang pahlawan yang bertarung melawan gelapnya malam dan dinginnya angin.
Dengan hati yang penuh tekad, Alifa menorehkan kisahnya dalam sehelai daun kertas, mewarnainya dengan perjuangan yang melanda jiwanya. Seperti seniman yang melukis di atas kanvas kosong, ia menciptakan jejak langkahnya di kampus yang menjadi panggungnya. Alifa, sang pejuang tanpa pedang, berjalan menuju semester dua dengan semangat yang membara, seperti bara api yang melawan angin yang mencoba memadamkannya.
Pada setiap pagi yang datang, Alifa bangkit dari tempat tidurnya seperti matahari yang berusaha menerobos awan gelap. Ia menghadapi kenyataan dengan tekad yang kokoh, seakan-akan ia adalah pahlawan dalam cerita yang tak terhingga. Meski tubuhnya melemah, semangatnya tetap berkobar. Alifa, sang pejuang semester dua, melangkah maju dengan keyakinan yang menggelegar, seperti deburan ombak yang tak pernah surut di tepi pantai.
Dengan langkah gontai dan wajah yang pucat, Alifa tiba di kampus, kegigihannya dalam belajar, tak tergoyahkan. Ia berusaha memaksakan diri untuk tetap menghadiri kuliah, seakan-akan dirinya adalah robot yang tak mengenal lelah. Alifa, sosok yang terlalu keras pada dirinya sendiri, tampaknya telah melupakan arti penting kasih sayang terhadap diri sendiri. Ia membiarkan tubuhnya terus menerima rasa sakit, tanpa memberikan kesempatan untuk beristirahat, sekejap pun.
Pikiran Alifa berputar tak henti, seperti roda yang berputar tanpa henti. Ia menggunakan pikirannya selama 24 jam untuk memikirkan banyak hal, termasuk impian-impian yang menghampirinya. Seperti mesin yang tak pernah berhenti beroperasi, Alifa menjalankan pikirannya dalam kecepatan tinggi. Ia menerabas batasan waktu, memperjuangkan setiap detiknya untuk meraih mimpi-mimpi yang menjulang tinggi.
Namun, dalam hiruk-pikuk pikiran yang tiada henti, Alifa mungkin lupa bahwa dirinya juga perlu beristirahat. Sebagai manusia yang rapuh, tubuhnya membutuhkan waktu untuk pulih, mengisi kembali energi yang telah terkuras. Seperti mesin yang perlu dimatikan untuk diperbaiki, Alifa juga perlu memberikan dirinya kesempatan untuk istirahat, menyegarkan pikiran dan menghidupkan kembali semangat yang kian pudar.
Mungkin, di balik kegigihan dan kekerasan pada diri sendiri, Alifa terdorong oleh hasrat yang tak terbendung untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang ada dalam pikirannya. Ia tak ingin melewatkan satu kesempatan pun, tak ingin terjebak dalam rasa penyesalan di kemudian hari. Namun, dalam perjuangan untuk meraih cita-citanya, Alifa juga perlu mengingat bahwa menjaga keseimbangan tubuh dan pola makan adalah kunci untuk mencapai keberhasilan yang sejati.
Sejenak, Alifa membiarkan dirinya merenung. Ia menyadari bahwa mencintai diri sendiri bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah pertama dalam meraih kebahagiaan yang sejati. Ia menyadari pentingnya memberi ruang untuk istirahat, untuk mengatur kembali pikiran yang terlalu penuh. Alifa memutuskan untuk mencari keseimbangan antara perjuangan dan istirahat, memeluk dirinya sendiri dengan penuh kasih sayang, seolah menjadi pelangi yang menghiasi langit setelah hujan lebat berlalu. Ia pun berusaha untuk menjaga pola makan agar bisa melakukan aktivitas dengan baik.
Farah melihat wajah Alifa begitu pucat, ia menghampiri Alifa dan menyapa.
"Alifa. Kamu saki, ya? Soalnya muka kamu pucat banget," tanya Farah dengan rasa khawatir.
Alifa masih saja menutupi rasa sakitnya.
__ADS_1
"Aku baik-baik aja, kok. Ayo kita naik, tunggu dosen di depan kelas aja, biar kita tidak terlambat masuk kelasnya," ajak Alifa sambil terus berzikir dan berdoa dalam hati, meminta kekuatan dan perlindungan dari Sang Maha Penyembuh. Alifa selalu ingat pesan ibunya, kalau ia harus bisa melawan rasa sakit yang melanda.
Farah melihat dengan kekhawatiran yang tak hilang, tetapi ia mengerti bahwa Alifa adalah sosok yang kuat dan gigih. Ia mengangguk mengerti, meskipun masih ada kegelisahan di hatinya.
"Aku percaya kamu kuat, Alifa," ujar Farah dengan penuh keyakinan. "Tapi jangan lupakan bahwa kita juga manusia dan tubuh kita butuh perhatian. Jika ada sesuatu yang bisa aku bantu, tolong beritahu aku."
Alifa tersenyum lemah kepada Farah, terharu dengan perhatian dan kepeduliannya. Meskipun ia masih enggan mengungkapkan rasa sakitnya, Alifa tahu bahwa memiliki teman sejati seperti Farah adalah anugerah yang tak ternilai.
"Terima kasih, Farah. Aku sangat menghargai kepedulianmu," kata Alifa dengan suara yang pelan. "Aku tahu aku bisa mengatasi ini, tapi jika aku benar-benar butuh bantuan, aku akan memintanya."
Keduanya naik ke kelas dan menunggu kedatangan dosen. Alifa tetap berusaha menjaga konsentrasinya meskipun tubuhnya lemah. Ia membiarkan doa dan keyakinannya membawa kekuatan yang diperlukan untuk melawan rasa sakit yang terus menghantui.
Mata Alifa terus memandang ke depan, tak mengenal lelah. Ia melanjutkan perjuangannya dalam mencapai mimpi-mimpinya, sambil menghargai dan merawat tubuhnya dengan lebih baik. Meskipun ia masih terlalu keras pada dirinya sendiri, Alifa mulai belajar untuk mendengarkan sinyal yang diberikan oleh tubuhnya dan memberikan waktu yang cukup untuk beristirahat.
Pada akhirnya, Alifa menemukan keseimbangan antara ambisi dan kebutuhan dirinya sendiri. Ia belajar untuk mencintai dirinya sendiri dengan lebih baik, seperti yang diajarkan oleh ibunya. Dalam kebersamaan dengan Farah dan teman-teman lainnya, Alifa merasakan kehangatan dan dukungan yang membantu menguatkan semangatnya.
...***...
Seperti perjalanan melalui lorong gelap yang dipenuhi kabut, Alifa kembali pulang dari kampus dengan tubuh yang semakin rapuh. Rasa sakit yang melanda tak kenal ampun, seakan-akan setiap serat dalam dirinya memohon untuk diberikan istirahat. Namun, Alifa tetap bertekad untuk mencapai tujuan terakhirnya: sampai di kosannya.
Dengan langkah yang gemetar, Alifa mengikuti jejak-jejaknya yang semakin kabur di jalan. Seperti lentera yang mulai redup, penglihatannya semakin samar, memudar dengan setiap napas yang terengah-engah. Namun, ia tak menghentikan langkahnya, seakan-akan ada kekuatan ghaib yang mendorongnya maju.
Tubuh Alifa terasa semakin berat, seolah-olah ia menggendong beban dunia di punggungnya. Namun, tekadnya tetap terbakar di dalam dirinya. Seperti pahlawan yang berjuang melawan angin malam yang menusuk tulang, Alifa mempertahankan langkahnya, menolak untuk menyerah kepada kelemahan yang menghampirinya.
Perjalanan pulang yang biasanya terasa singkat, kini berubah menjadi sebuah ujian yang tak terhingga. Alifa merasakan kesakitan di setiap langkah, seakan-akan tanah di bawah kakinya berubah menjadi bara. Namun, ia tetap melanjutkan perjalanan, mencapai kosannya dengan tekad yang membara, selayaknya bara api yang tak pernah surut.
__ADS_1
Akhirnya, dengan ketabahan yang luar biasa, Alifa sampai di kosannya. Tubuhnya terkulai lemah, napasnya terengah-engah. Dalam kelelahan yang menghantui, Alifa merasakan kepuasan yang tak terkatakan. Ia telah melewati ujian yang tak terbayangkan dan berhasil sampai di tempat yang dituju.
Alifa merasa tubuhnya seperti ranjang yang hancur, tak mampu menopang beban lagi. Namun, ia tersenyum pahit, mengetahui bahwa besok akan ada hari baru, sebuah harapan yang menggantung di langit kelam. Alifa tahu bahwa ia perlu istirahat, memberi waktu bagi tubuhnya untuk pulih, sebelum kembali melangkah dalam perjuangan hidupnya.
Dalam gelapnya kamar kosan, Alifa merenung. Ia merasakan betapa rapuhnya dirinya, tetapi di dalam hatinya tetap terbakar api semangat yang tak terpadamkan. Ia tahu bahwa perjalanan hidupnya adalah ujian yang tak pernah berhenti, ia bertekad untuk terus melangkah, menghadapi setiap rintangan dengan keberanian yang tak tergoyahkan.
Dalam keheningan malam, Alifa menutup mata, membiarkan lelahnya mereda. Ia tahu bahwa esok hari akan menjadi tantangan baru, ia harus siap untuk menghadapinya dengan kepala tegak dan hati yang tulus. Alifa tak kenal lelah, ia siap kembali melangkah dalam perjalanan hidupnya, menjelajahi kegelapan dan mencari sinar yang menyinari jalannya.
"Ya Allah. Ya Rahmaan. Ya Rahiim. Sakit banget ...!" Alifa meringis kesakitan, seakan-akan tubuhnya dirasuki oleh rasa sakit yang tak terhentikan. Seperti belati tajam yang menusuk ke dalam, kesakitan itu merayap ke setiap serat tubuhnya, memenuhi ruang kosong dalam dirinya. Alifa memegang beberapa bagian yang terasa sakit, mencoba menahan gejolak yang tak terelakkan.
Dalam keadaan yang rapuh, Alifa memohon dengan suara lemah kepada Sang Maha Penyembuh. Ia memohon kekuatan dan keberanian untuk melalui cobaan yang melanda dirinya. Ia berharap agar esok pagi, dengan kuliah yang menantang, ia tak kekurangan istirahat yang begitu penting. Alifa mengunci matanya, mencoba memejamkan mata dalam upaya merehatkan diri, meski sakit terus menghujam tubuhnya seperti rintik hujan yang tak pernah berhenti.
Dalam kegelapan yang melingkupinya, Alifa terpaksa memejamkan mata, tetapi tak bisa menyembunyikan rasa sakit yang masih menghujam dalam tubuhnya. Ia terombang-ambing dalam lautan kepedihan, berharap akan ada waktu yang cukup untuk mengobati lukanya yang semakin dalam. Alifa, seperti pahlawan yang terpaksa beristirahat sejenak di medan perang, tahu bahwa rehat adalah kebutuhan yang tak dapat diabaikan, kendati dalam situasi yang penuh dengan penderitaan.
Alifa mengingat masa SMA, saat-saat di mana tubuhnya seperti menyerah untuk hidup lebih lama. Alifa sering pingsan, ia jatuh tanpa daya dan tak sadarkan diri, hanya untuk bangun di ruang yang dingin dengan bau antiseptik yang menyengat. Jarum suntik dan tabung oksigen menjadi teman setianya, membantu menjaga napasnya yang terengah-engah.
Dalam kenangan itu, Alifa berharap dengan segenap hati, seperti bintang jatuh yang memohon pada langit, agar tak lagi perlu berhadapan dengan jarum suntik yang menusuk kulitnya atau tabung oksigen yang membantunya bernapas. Ia ingin terbebas dari belenggu rumah sakit dan menjadi manusia yang sehat, tanpa batasan dan ketergantungan.
Namun, di balik harapannya yang terpendam, Alifa tahu bahwa takdir telah mengukir jalannya dengan penuh tantangan. Tubuhnya yang melemah dan rapuh mungkin adalah ujian yang tak dapat dihindari. Meski ia berharap dengan segenap kekuatannya, ia juga menyadari bahwa hidup tak selalu mengikuti keinginan manusia.
Dalam setiap detak jantungnya, Alifa bertekad untuk terus melangkah. Ia menerjang badai dan melawan angin kencang yang terus berembus. Alifa memperkuat harapannya, seperti api kecil yang terus berkobar di tengah malam yang kelam.
Ia melangkah maju dengan keyakinan yang teguh, menuntunnya melalui lorong-lorong kegelapan. Alifa tahu bahwa meski keinginannya mungkin tidak terpenuhi, ada kekuatan dan ketabahan dalam dirinya yang tak tergoyahkan. Ia berharap, dalam setiap hembusan napasnya, akan muncul keajaiban yang dapat meringankan beban yang dipikul.
Alifa terus bertekad untuk melanjutkan perjalanan hidupnya dengan penuh keberanian. Ia berharap, di antara kabut kesakitan dan penderitaan, ada cahaya yang akan menuntunnya menuju kehidupan yang lebih baik, di mana ia tak lagi harus berhadapan dengan jarum suntik atau tabung oksigen yang menyertainya selama ini.
__ADS_1
...****...