Catatan Mahasiswa Akhir

Catatan Mahasiswa Akhir
Gemintang Kehangatan


__ADS_3

"Kak. Kak Eliz...!" seru Alifa dengan halus.


Eliz tetap terjaga dalam keterjagaan bergantian mereka, memberikan jawaban dengan suara lembut yang tak ingin mengganggu orang-orang yang tertidur.


"Kak. Aku boleh minta tolong enggak?" tanya Alifa dengan lembut, suaranya terdengar lemah karena tubuhnya masih merasa lemas.


"Mau minta tolong apa, Dek?" balas Eliz sambil meraih tangan Alifa.


"Aku mau pergi ke kamar mandi. Bolehkah Kakak mengantarku?" pinta Alifa.


"Tentu saja. Mari, aku akan membantumu." Eliz dengan sigap membantu Alifa bangkit dari tempat tidurnya dan menopang adiknya.


Ketika mereka berdiri, Alifa baru menyadari bahwa seluruh ruangan gelap gulita. Alifa meminta Eliz untuk menyalakan lampu.


"Kak. Mengapa semuanya terasa begitu gelap? Tolong, nyalakan lampunya, Kak. Alifa tak bisa melihat apa pun di sekitarnya!" ucap Alifa dengan polos.


Perasaan Eliz menjadi terombang-ambing, terdapat kebingungan di dalam dirinya, di antara ingin menangis atau tertawa saat melihat ekspresi adiknya yang seolah-olah baik-baik saja karena matanya terbuka lebar, tetapi mengapa Alifa tak mampu melihat apa pun di sekitarnya?


Secara bersamaan, dari sisi lain kamar, terdengar suara dengkuran yang lembut dari salah satu saudara Alifa yang sedang tidur. Suara kecil Alifa dan kakaknya terdengar oleh ayah mereka, Zaidan, yang sebelumnya juga terlelap.


Zaidan menggeliat dan memperhatikan percakapan mereka dengan teliti. Ia memahami bahwa Alifa merasa kebingungan karena kegelapan di ruangan tersebut.


Dengan lembut, Zaidan bangkit dari tempat tidur dan mendekati mereka. Ia mengarahkan langkahnya dengan hati-hati, mengikuti suara-suara yang terdengar.


"Hmm... Ada apa, anak-anakku?" tanya Zaidan dengan suara lembut, mencoba meredakan kegelisahan mereka.

__ADS_1


Alifa dan Eliz kaget mendengar suara sang ayah. Mereka berpaling dan melihat Zaidan dengan pandangan yang penuh harap.


"Ayah, semuanya gelap di sini. Alifa tidak bisa melihat apa-apa," jelas Alifa dengan sedih.


Zaidan tersenyum penuh kasih sayang sambil mengelus kepala Alifa. Berusaha untuk tetap tenang walau hatinya gusar. Ia pun ikut bertanya-tanya, kenapa anaknya tidak bisa melihat apa pun.


"Astaghfirullahal 'adziim. Ya Allah, ya Rahmaan, ya Rahiim. Apa yang sedang Kau uji melalui anakku? Kenapa Alifa tidak bisa melihat apa pun? Padahal matanya terbuka lebar? Apakah anakku mengalami kebutaan? Ya Allah! Aku memohon pertolongan-Mu." Zaidan menyebut nama Allah dalam hati gemetar.


Ayah Alifa berusaha menghibur. "Mungkin karena Alifa ngantuk berat, terus ini kan baru bangun tidur, langsung berdiri, jadi sedikit sempoyongan dan terlihat gelap. Kan Alifa ada sakit darah rendah juga."


Alifa mengerutkan dahinya. "Hmm, mungkin Ayah ada benarnya," ujar Alifa menghela napas pendek. "Ya sudah, Alifa mau ke kamar mandi dulu, Yah. Ini kamar mandinya sebelah mana?" tanya Alifa sambil meraba-raba dinding bercat putih itu.


Zaidan menahan tangis di depan anak-anaknya, berusaha kuat agar anak-anaknya tetap semangat dalam hidup, khususnya Alifa. Ia berharap Alifa lekas sembuh dan ceria kembali. Semua orang merindukan keceriaan pada wajah Alifa. Sebab, Alifa memang jarang bahkan tidak pernah sekalipun mengeluhkan rasa sakit dalam dirinya kepada semua orang, meskipun hatinya sangat rapuh. Alifa berusaha untuk tegar seperti ibunya yang tidak pernah mengeluh meskipun termasuk sakit parah.


Alifa tersenyum lebar, terpancar kebahagiaan dari wajahnya yang berseri-seri. Ia merasa aman dalam pelukan kasih sayang sang ayah, sementara Eliz juga merasakan ketenangan melihat kedua orang yang sangat dicintai itu bersama-sama.


Alifa pun ke kamar mandi dipandu oleh ayah dan kakaknya.


Di dalam kamar mandi yang redup, Alifa merasa sedikit gemetar. Malam itu, ia sedang mengalami sakit yang cukup parah, sehingga ia harus mengandalkan bantuan ayah dan kakaknya. Alifa menggerakkan tubuhnya dengan hati-hati karena ada infus yang mengalirkan obat-obatan yang diperlukan terpasang di tangannya.


Kakak Alifa, Eliz, dengan penuh kehati-hatian memegang infus tersebut, memastikan agar tidak ada masalah saat proses pengobatan. Ayah Alifa, Zaidan, berdiri di sampingnya, memberikan dukungan dan semangat pada Alifa. Mereka berdua saling bertatap mata, saling memberi isyarat dan mengerti apa yang harus dilakukan.


"Kalau butuh bantuan, kasih tahu kakak sama ayah ya, Dek." ujar Eliz yang was-was saat adiknya meraba-raba kamar mandi. "Apa kakak ikut masik saja?" lanjutnya, menawarkan diri karena tidak tega melihat adiknya yang seperti orang buta. Hanya mengandalkan indra lainnya yang masih berfungsi dengan baik.


"Iya, Nak. Ada baiknya Kak Eliz ikut masuk agar kamu bisa meminta tolong mengambilkan sikat gigi atau lainnya di dalam sana." Zaidan terlihat semakin cemas

__ADS_1


"Tenang saja, Yah, Kak. Aku akan baik-baik saja di sini. Nanti aku panggil kalian kalau membutuhkan bantuan. Kak Eliz tadi sudah kasih tahu kan, di mana letak-letak peralatan mandi dan lainnya. Jadi, aku tinggal meraba-rabanya saja. Selagi tidak ada benda tajam di sini, kulitku tidak akan pernah terluka."


Dengan penuh kecermatan, Alifa mengambil sikat gigi dan pasta gigi dari wastafel, serta segelas air. Meskipun sakit, ia tetap berusaha melakukan rutinitas harian dengan semangat yang tersisa. Alifa mulai menyikat giginya perlahan, sambil memikirkan perjalanan yang dilalui selama sakitnya. Ia mengingat momen-momen berharga bersama keluarganya dan betapa mereka selalu ada di setiap langkahnya.


Sementara itu, di luar kamar mandi, Eliz dan Zaidan saling berpandangan dengan senyum. Mereka bersyukur dapat mendampingi Alifa di saat-saat sulit seperti ini. Eliz menggenggam erat infus Alifa, memberikan kepastian bahwa ia selalu di sisinya, tidak peduli apa pun yang terjadi. Zaidan mengusap pundak Eliz dengan penuh kehangatan, mengucapkan terima kasih atas keberanian dan dedikasinya dalam merawat adik perempuannya.


Setelah selesai menyikat gigi, Alifa merasa sedikit lega. Ia memandang cermin di depannya, melihat refleksi dirinya yang lemah karena sakit, tetapi penuh dengan keteguhan dan semangat. Ia memutuskan untuk melanjutkan malamnya dengan penuh keberanian, karena ia tahu ada orang-orang tercinta yang selalu mendukungnya.


Alifa keluar dari kamar mandi dengan bantuan ayah dan kakaknya. Walaupun lemah, ia menggenggam tangan mereka dengan erat, merasakan kehangatan keluarga yang mengalir dalam sentuhan itu. Bersama-sama, mereka berjalan menuju tempat tidur Alifa, siap menghadapi malam yang penuh tantangan dengan penuh keyakinan dan cinta.


Malam itu menjadi saksi kebersamaan dan kekuatan keluarga dalam menghadapi cobaan. Meskipun Alifa sedang mengalami sakit yang berat, kehadiran ayah dan kakaknya memberinya kekuatan untuk tetap berjuang. Dalam gelapnya malam, mereka saling menguatkan dan memastikan bahwa tidak ada yang sendiri.


Setelah tiba di tempat tidur, Alifa mengambil posisi yang nyaman. Ia membaringkan dirinya dengan hati-hati, memastikan agar tidak merusak infus yang masih terpasang di tangannya. Di sisinya, kakaknya, Eliz, membantu menata bantal dan selimut agar Alifa merasa nyaman.


Alifa meraih sisir kecil yang ada di meja samping tempat tidur. Dengan gerakan lembut, ia menyisir rambutnya. Setiap gerakan sisir tersebut, membawa rasa tenang dan kenyamanan baginya. Alifa membiarkan pikirannya terlepas, berfokus pada momen kecil ini sebagai cara untuk meredakan sakit dan kecemasannya.


Eliz duduk di samping Alifa, menatapnya dengan penuh kehangatan. Ia melihat bagaimana adiknya berusaha untuk tetap tenang dan terlihat indah di tengah kesulitan. Eliz mengucapkan kata-kata penuh kasih, memuji keberanian dan kecantikan Alifa, serta memberikan dukungan tak terbatas yang selalu ada di setiap langkahnya.


Alifa melihat ayahnya, Zaidan, berdiri di sisi tempat tidurnya. Wajahnya penuh kelembutan dan Alifa dapat melihat kebanggaan dan cinta yang terpancar dari matanya. Zaidan memegang tangan Alifa dengan penuh kelembutan, memberikan rasa keamanan dan ketenangan pada putrinya yang sedang berjuang.


Saat Alifa menyelesaikan sisiran rambutnya, ia merasa sedikit lega. Ia menutup mata sejenak, menikmati sensasi ketenangan yang melingkupinya. Meskipun sakit dan terbatas secara fisik, Alifa merasa kuat dan indah dari dalam.


Ketika Alifa melihat kedua orang yang paling dicintai berada di sisinya dengan pandangan yang samar-samar, masih belum jelas penglihatannya. Kakak dan ayahnya memberikan senyuman hangat, memberikan keyakinan bahwa Alifa tidak pernah sendirian dalam perjuangannya. Mereka adalah sumber kekuatan dan cinta yang tak tergantikan dalam hidupnya.


Alifa tersenyum lembut, merasakan kerinduan dan terima kasih yang mendalam terhadap keluarganya. Ia tahu bahwa malam itu adalah awal dari perjalanan panjang. Ia juga tahu bahwa dengan dukungan dan kasih sayang mereka, Alifa dapat menghadapinya dengan keberanian dan keteguhan.

__ADS_1


Dalam keheningan malam, Alifa memejamkan mata dan membiarkan dirinya tenggelam dalam mimpi yang indah, dipenuhi dengan harapan dan keteguhan hati. Ia tahu bahwa ketika pagi tiba, ia akan terbangun dengan semangat baru, siap menghadapi hari-hari mendatang dengan kekuatan keluarga di sisinya.


...****...


__ADS_2