
Tanpa menunggu waktu lama, Alifa langsung menghubungi dosen pembimbingnya, meminta waktu untuk bimbingan judul yang baru.
"Pagi, Miss. Maaf kalau mengganggu waktunya sebentar, saya sudah dapat tempat penelitian yang baru. Kapan saya bisa bimbingan judul lagi, Miss? Terima kasih, Miss." Alifa menekan tombol kirim dari ponselnya. Berharap pesannya segera mendapat balasan yang diharapkan dari Miss Elda.
Alifa berangkat ke kampus dengan senyum sumringah, padahal tubuhnya merasa sangat lelah. Wajahnya yang pucat diabaikan begitu saja. Ia berusaha menutupinya dengan bedak agar tampak cerah, tapi tetap saja tidak bisa menipu orang yang paham kalau Alifa sedang sakit. Sepertinya sakit lambung Alifa kumat lagi karena terlalu bersemangat untuk menyelesaikan kuliahnya, sampai-sampai beberapa hari belakangan ini, tubuhnya dibiarkan lelah dengan beristirahat sebentar.
Dengan langkah gontai, Alifa berjalan dari kosannya menuju kampus. Ia berjalan kaki dengan santai, ulu hatinya terasa sakit, tapi bukan Alifa namanya kalau tidak pintar bersandiwara di depan orang lain. Ia kerap kali menggunakan banyak topeng untuk menutupi kepedihan atau kesedihan yang dirasakan.
Di jalan, ia bertemu beberapa teman-teman kampus yang seangkatan dengannya. Mereka saling sapa, Alifa tetap menunjukkan ketegarannya.
"Hari ini mata kuliah "Perancangan E-Business", aku tidak boleh melewatkannya karena rencananya, setelah lulus kuliah, aku mau membuka usaha. Jadi, harus benar-benar tahu teori tentang bisnis." Alifa mengepalkan tangannya dengan penuh semangat. Ia pun terus berjalan melalui jalan tikus yang biasa dilewati.
Hingga tiba di kampus, Alifa melihat parkiran sudah terisi penuh dengan kendaraan roda dua dan empat. Alifa berjalan menuju salah satu gedung, karena 20 menit lagi, ia harus masuk kelas. Meskipun tubuhnya merasa lelah dan sakit, tetapi semangatnya untuk belajar dan mempersiapkan masa depan sebagai seorang pengusaha tidak surut. Ia duduk di depan kelas bersama teman-teman lainnya, sambil menunggu dosen datang.
Saat dosen datang dan masuk kelas, semua mahasiswa yang tadi menunggu, mengikuti dari belakang. Mereka masuk dengan tertib. Saat memasuki ruang kelas, Alifa tetap mencoba tersenyum walaupun terlihat pucat. Dosen itu bernama Pak Adi. Beliau menyapa mahasiswa-mahasiswanya dengan ramah dan memulai kuliah dengan memberikan penjelasan tentang "Perancangan E-Business."
"Selamat pagi, semuanya! Hari ini kita akan memulai mata kuliah "Perancangan E-Business." Sebelum kita masuk ke dalam materi, izinkan saya untuk memperkenalkan diri. Saya adalah Pak Adi, dosen yang akan membimbing kalian dalam mata kuliah ini. Baiklah, mari kita mulai."
"Selamat pagi, Pak Adi! Saya Alifa, senang bisa mengikuti mata kuliah ini." Alifa merespons sapaan dari Pak Adi sambil tersenyum.
Pak Adi membalas senyuman Alifa. Beliau memang salah satu dosen yang sangat ramah di kampus tempat Alifa kuliah. Jadi, tidak heran kalau banyak yang menyukainya. "Selamat pagi, Alifa! Senang bertemu denganmu dan semuanya. Pertama-tama, mari kita bicara sedikit tentang apa itu perancangan e-business. E-business merupakan singkatan dari 'electronic business' yang merujuk pada kegiatan bisnis yang melibatkan pemanfaatan teknologi informasi dan internet untuk melakukan berbagai proses bisnis."
Alifa mencoba untuk fokus pada kuliah meskipun tubuhnya tidak mendukung sepenuhnya. Ia mencatat dengan rajin dan bertanya saat ada hal yang kurang dimengerti.
"Jadi, apakah e-business sama dengan e-commerce, Pak Adi?" tanya salah seorang teman Alifa.
"Pertanyaan yang bagus! E-commerce memang merupakan bagian dari e-business, tetapi tidak sama persis. E-commerce fokus pada transaksi jual-beli barang dan jasa secara online, sedangkan e-business mencakup seluruh aspek bisnis yang berbasis teknologi informasi, seperti manajemen rantai pasokan, pemasaran digital, dan interaksi dengan pelanggan melalui platform digital.
Teman Alifa yang lainnya pun turut bertanya. "Pak, bisnis online seperti itu tentu memerlukan strategi yang berbeda, ya?"
"Betul sekali. Perancangan e-business mengharuskan kita untuk merancang strategi yang tepat agar bisnis online bisa berjalan dengan baik. Kalian harus mempertimbangkan faktor-faktor, seperti keamanan data, pengalaman pengguna, dan integrasi sistem yang efisien."
Alifa bertanya dengan serius, "Bagaimana dengan pemasaran e-business, Pak Adi?"
"Pemasaran dalam e-business sangat berbeda dengan pemasaran konvensional. Di dunia digital, kita bisa menggunakan berbagai platform seperti media sosial, email marketing, dan iklan online untuk menjangkau target audiens dengan lebih efektif. Namun, kita juga harus memahami bagaimana cara mengukur keberhasilan kampanye pemasaran tersebut."
"Wah, menarik sekali! Apa saja materi lain yang akan kita pelajari dalam mata kuliah ini, Pak Adi?" Respons dari teman Alifa yang bertanya lebih awal tadi sangat antusias. Semangatnya begitu luar biasa untuk menyimak materi yang diberikan oleh Pak Adi.
"Di mata kuliah ini, kalian akan belajar tentang berbagai model bisnis online, strategi pemasaran digital, aspek hukum dalam e-business, manajemen risiko, hingga analisis kinerja bisnis secara online. Tentunya, kalian juga akan diajak untuk merancang sebuah proyek e-business sebagai tugas akhir mata kuliah ini."
"Wow, terdengar menantang! Saya semakin bersemangat mengikuti mata kuliah ini," seru Alifa yang sangat antusias belajar.
"Bagus sekali, Alifa! Semangat seperti itu yang akan membuat kalian sukses dalam memahami dan mengaplikasikan konsep-konsep e-business. Saya berharap kalian semua dapat mengambil manfaat maksimal dari mata kuliah ini dan kelak mampu menerapkannya dalam rencana bisnis masa depan."
Semua mahasiswa di kelas menjawab serentak. "Terima kasih, Pak Adi! Kami akan berusaha melakuian yang terbaik dan belajar dengan sungguh-sungguh agar tidak mengecewakan Bapak!"
Setelah kuliah selesai, Alifa memeriksa ponselnya, siapa tahu sudah mendapatkan balasan dari Miss Elda. Dibuka menu kotak pesan, ternyata benar saja kalau ada pesan dari Miss Elda.
"Temui saya besok siang jam 1 di ruang dosen."
Kalimat singkat, tapi benar-benar berarti untuk Alifa. Karena itu adalah kesempatan yang baik untuk bisa segera menemui dosen pembimbingnya kembali. Ini berbicara soal masa depan Alifa dengan berbagai target dalam hidupnya.
Alifa buru-buru membalas. "Baik, Miss. Terima kasih banyak atas waktunya. Besok saya akan menemui Miss Elda."
Alifa melangkah dengan penuh keyakinan kalau kali ini judul yang diajukan pasti akan diterima oleh Miss Elda. Ia pun pergi ke ruang perpustakaan untuk menunggu jam 11 siang karena ada kelas mata kuliah Analisis Rancangan Sistem Informasi. Materi pada mata kuliah ini berhubungan dengan tugas akhirnya nanti. Jadi, Alifa harus benar-benar fokus untuk menyimak dan memahami setiap materi yang akan dibahas.
Tiba di ruang perpustakaan, Alifa mencari buku yang membahas tentang Analisis Rancangan Sistem Informasi untuk mempelajarinya di luar kelas.
Alifa berjalan, menelusuri setiap sudut ruangan mencari buku yang diinginkan, lalu setelah 15 menit berlalu, akhirnya ia mendapatkan buku tersebut. Alifa langsung mencari tempat duduk ternyaman dan membaca buku tersebut dengan sangat khusyuk.
Di sekelilingnya pun banyak mahasiswa bahkan dosen yang sedang asyik membaca. Ada pula yang sedang berdiskusi.
Saat sedang membaca, kepala Alifa mendadak sakit. Ia kembali merasakan sakit yang luar biasa, tetapi berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Hingga waktu sudah menunjukkan pukul 10.30 WIB, Alifa meninggalkan ruang perpustakaan dan tak lupa mengembalikan buku yang baru saja dibaca ke tempat asalnya.
Alifa berjalan menuju ruang kelas untuk mengikuti mata kuliah Analisis Rancangan Sistem Informasi. Meskipun kepala masih terasa sakit, tetapi ia berusaha untuk tetap fokus dan tidak membiarkan rasa sakit itu mengganggu konsentrasi belajarnya.
__ADS_1
Di kelas, Alifa duduk di kursi paling depan, dekat dengan kursi yang dosennya tempati. Ia menyimak dengan serius setiap penjelasan dari dosen tersebut. Meskipun materi cukup kompleks, Alifa berusaha untuk memahaminya karena ini berkaitan dengan tugas akhirnya yang akan diajukan nanti.
Beberapa kali, Alifa harus mengusap lembut pelipisnya karena sakit kepala yang semakin mengganggu. Namun, ia tetap bertahan dan tidak ingin melewatkan materi yang penting ini.
Setelah mata kuliah berakhir, Alifa kembali merasa lega. Ia memutuskan untuk segera kembali ke kosannya dan beristirahat sejenak sebelum bertemu dengan Miss Elda besok siang.
Di dalam kamar kos, Alifa berbaring di ranjangnya dengan mata tertutup. Ia mencoba untuk meredakan sakit kepala dengan mengistirahatkan tubuhnya sejenak. Alifa menyadari bahwa ia harus lebih memperhatikan kesehatannya dan tidak boleh terlalu memaksakan diri.
Tak lama kemudian, Alifa tertidur dengan tenang. Ia memutuskan untuk tidur lebih awal agar keesokan harinya, tubuhnya sudah lebih segar dan siap untuk bertemu dengan Miss Elda.
...***...
Keesokan harinya, Alifa bangun lebih awal dari biasanya. Ia merasa cukup segar dan siap untuk menghadapi hari yang penting ini. Ia mempersiapkan diri dengan baik sebelum berangkat menuju kampus. Namun sayangnya, tubuh Alifa mendadak terkulai lemas dan jatuh pingsan.
Eliz, Kakak Alifa yang saat itu sedang memasak, refleks teriak. "Alifa ...!"
Suara teriakan sang kakak menggema, membuat penghuni kosan menghampiri kamar Alifa dan kakaknya.
"Kenapa, Kak?" tanya Meli dengan suara keras karena orang Sumatera memang terkenal dengan suara yang tidak bisa pelan, termasuk Alifa yang asli Lampung.
Semua orang kaget saat melihat Alifa tekulai lemah di lantai. Wajah Alifa lucat pasi. Membuat semua orang panik, terkecuali kakak Alifa yang berusaha bersikap tenang.
Kakak Alifa, Eliz, segera berusaha untuk tetap tenang meskipun hatinya sedang panik. Ia mengambil langkah-langkah cepat untuk membantu adiknya yang pingsan.
Eliz dengan suara tenang. "Segera panggilkan bantuan! Cepat ambilkan air dan handuk."
Meli segera berlari ke luar kamar untuk memanggil bantuan, sementara teman-teman kos Alifa berusaha menenangkan diri dan membantu Eliz dalam situasi darurat ini. Salah seorang temannya membawa air dan handuk dari kamar mandi.
Eliz mengambil handuk dan meletakkannya dengan lembut di bawah kepala Alifa. Ia juga mencoba untuk membuka kancing kerah baju adiknya agar Alifa dapat bernapas dengan lebih lega.
Eliz berbisik. "Tetaplah tenang, Alifa. Kakak di sini, semuanya akan baik-baik saja."
Teman-teman kos Alifa berdiri di sekitar mereka, terlihat cemas dan tak tahu apa yang harus dilakukan. Beberapa menawarkan bantuan dan mencoba mencari informasi tentang nomor tenaga kesehatan.
Beberapa saat kemudian, Meli kembali dengan ibu kos dan bapak kos mereka.
Eliz menggeleng. Tangannya sambil berusaha mengusap-usap tangan Alifa. Yang lain, mengusap kaki Alifa yang terasa dingin dan pucat.
"Coba telepon orang tua kalian dulu, gimana tanggapan mereka. Apa kita harus bawa ke rumah sakit atau bagaimana?" Ibu Ovi menyarankan.
Eliz langsung mengambil ponselnya. Sementara Eliz menelepon orang tuanya, teman-teman kosan Alifa terus berupaya membangunkan Alifa.
Sambil menunggu hasil telepon dari Eliz, teman-teman kosan Alifa terus berupaya untuk membangunkannya dengan lembut. Beberapa di antaranya mengusap tangan dan wajah Alifa dengan penuh perhatian, mencoba membangunkannya dari pingsan.
Meli cemas. "Alifa, tolong bangunlah. Lu itu cewek kuat yang gua kenal. Lu jangan kayak gini, dong. Bangun, yuk! Udahan tidurnya. Iss, lu ini, loh! Alifa ...!"
Tia menyemangati. "Kamu pasti bisa bangun, Alifa. Kamu harus kuat!"
Nania menambahkan. "Kamu sudah berusaha keras, Alifa. Sekarang kamu perlu istirahat, tapi sekarang bangun dulu, ya. Tubuhmu dingin banget. Jangan buat kami khawatir seperti ini."
Raut wajah semua orang tampak semakin cemas karena sudah hampir satu jam, Alifa belum juga ada reaksi. Padahal sudah dipencet-pencet jempol kakinya, digoyang-goyangkan badannya, dipancing pakai minyak kayu putih melalui indra penciumannya, tapi tetap saja hasilnya nihil.
Saat itu, Eliz sudah menyelesaikan telepon dengan orang tua mereka. Ia kembali ke sisi Alifa dengan wajah sedikit lega.
"Kata orang tua kami akan segera datang ke sini. Disuruh membawa Alifa ke rumah sakit terdekat untuk pemeriksaan lebih lanjut. Saya diminta menelepon saudara untuk membawa Alifa ke sana." Eliz menjelaskan kepada teman-teman kosannya dan di sana masih ada ibu kos mereka.
"Ya udah, Eliz, cepet telepon. Kasihan adekmu, dari tadi enggak gerak sama sekali," ujar Bu Ovi yang ikut cemas.
Eliz panik mencari-cari nomor keluarganya yang tinggal di Bandar Lampung. Di tengah kebingungannya, ia mendadak lupa nama kontaknya di ponsel. Ia mencoba mengingat, tetapi situasi membuatnya semakin gugup dan bingung.
"Ya Allah, nama kontaknya apa ya? Panik banget, jadi lupa!" ujar Eliz dalam hati.
Ia terus mencoba mengingat dan akhirnya berhasil menemukan nomor yang tepat. Tanpa ragu, ia segera menekan tombol panggil dan menunggu dengan cemas.
Telepon berdering beberapa kali, hingga akhirnya diangkat oleh kakak sepupu Eliz yang tinggal di Bandar Lampung.
__ADS_1
Terdengar jelas suara kakak sepupu Eliz dan Alifa di sisi telepon. "Halo, ada apa, Eliz?"
Eliz dengan suara tergopoh-gopoh. "Halo, Kak. Maaf mengganggu, tapi ada keadaan darurat, Alifa pingsan dan sampai sekarang belum juga sadarkan diri. Kata ayah, suruh telepon Kak Imah atau Alak Rosa untuk minta tolong agar Alifa segera dibawa ke rumah sakit terdekat."
"Baik, baik, Eliz! Tenang ya. Kakak segera datang ke sana. Jangan khawatir, kami akan tiba beberapa menit lagi," jawab Imah yang ikut cemas.
"Terima kasih banyak, Kak. Tolong cepat, Kak, soalnya kondisi Alifa memburuk. Takut terjadi apa-apa sama Alifa karena dari tadi tubuhnya enggak ada pergerakan. Mana tubuhnya kaku dan warnanya pucat lagi. Eliz takut, Kak," ujar Eliz dengan suara gemetar.
"Iya, Dek. Sabar, ya. Eliz usap-usap pakai minyak kayu putih dulu kaki dan tangan Alifa. Semoga Alifa segera siuman." Imah menenangkan Eliz dan langsung meminta suaminya untuk segera menuju kosan Alifa.
Eliz menutup telepon dan bernapas lega setelah berhasil menghubungi keluarganya. Ia segera memberitahukan teman-teman kosan dan Ibu Ovi bahwa bantuan sedang dalam perjalanan. Mereka menunggu dengan gelisah sambil berusaha memberikan dukungan untuk Alifa yang masih belum sadarkan diri.
Beberapa menit kemudian, akhirnya kakak sepupu Eliz dan Alifa tiba di kosan. Eliz dan teman-teman kosannya menyambut dengan haru, lalu menceritakan kondisi Alifa.
Imah menguatkan. "Jangan khawatir, Eliz. Semuanya akan baik-baik saja. Kami di sini untukmu. Sekarang kita bawa Alifa ke rumah sakit terdekat, ya."
Kemudian Imah meminta tolong suaminya untuk menggotong Alifa ke dalam mobil.
Setelah menyiapkan Alifa, mereka segera membawanya ke rumah sakit terdekat dengan mobil. Ibu Ovi juga ikut mengantarkan dan memberikan dukungan kepada mereka. Beliau membawa mobilnya karena anak-anak kosan mau ikut mengantar.
Di rumah sakit, Alifa segera mendapatkan perawatan lebih lanjut dari tim medis. Orang tua Alifa dan Eliz masih dalam perjalanan dari Kalianda ke Bandar Lampung. Semua keluarga dan teman-teman Alifa berusaha untuk tetap kuat serta memberikan dukungan kepada Eliz agar bisa lebih tegar karena Eliz adalah anak pertama yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga adik-adiknya.
Di ruang UGD, seorang dokter dan beberapa suster mencoba memberikan perawatan agar Alifa segera siuman, tetapi hasilnya nihil, Alifa masih belum merespons apa pun, bahkan jarum suntik yang mengenai kulit di tangannya, tidak dirasakan oleh Alifa. Padahal Alifa sangat takut dengan jarum suntik karena pernah pingsan gara-gara disuntik waktu SD.
Sementara ada yang periksa Alifa, ada seorang suster lainnya yang menghampiri Imah dan meminta untuk menyelesaikan administrasi.
Sambil memegang beberapa berkas, suster tersebut berbicara, "Maaf, Bu. Tolong selesaikan administrasinya, ya. Sambil pasien ditangani oleh dokter."
Dengan muka kesal dan bete, Imah berkata, "Iya, Mbak. Sabar dulu. Nanti pasti akan kami bayar. Adek saya lagi sekarat nih, belum bangun-bangun dari tadi."
"Iya, Bu. Kan sudah ada dokter yang menangani. Baiknya Ibu selesaikan dulu administrasinya, soalnya banyak yang mengantre juga untuk mendapatkan penanganan." Suster itu seakan tidak peduli dengan kondisi Alifa, yang ada dipikirannya adalah menjalankan tugasnya. Faktanya, di beberapa rumah sakit memang kerap kali mendahului administrasi keuangan daripada nyawa dari pasiennya. Seakan tidak punya hati nurani, yang penting bayaran masuk dulu.
Imah pun langsung mengeluarkan dompetnya dan menyelesaikan administrasi. Setelah selesai, ia melihat kondisi Alifa kembali.
Setelah beberapa pemeriksaan, dokter mengonfirmasi bahwa kondisi Alifa memang dipengaruhi oleh kelelahan berlebihan dan stres yang dialaminya. Mereka memberikan perawatan yang sesuai dan menyarankan untuk benar-benar beristirahat dengan baik.
Namun, salah seorang suster mengonfirmasi kalau ruangan pada penuh. Adanya ruangan yang campur dengan pasien lainnya. Imah tidak setuju kalau adiknya dirawat di ruangan yang campur dengan pasien lain, akhirnya memilih untuk pindah rumah sakit. Kondisi Alifa masih belum siuman. Alifa pun langsung dibawa ke mobil kembali oleh suami kakak sepupunya itu.
Dalam perjalanan, Eliz mendapat telepon dari ibunya.
"Gimana, Eliz? Adekmu udah siuman belum? Kalian di rumah sakit mana? Ini ibu dan ayah udah sampai Bandar Lampung." Ibu Alifa masih dalam keadaan tenang, tapi ayah Alifa yang panikan, melajukan mobilnya dengan tergesa-gesa.
"Yah, hati-hati aja. Yang penting sampai tempat tujuan," ujar Nisa, Ibu Alifa, memperingatkan suaminya.
Zaidan menghela napas panjang. Lalu, mengurangi kecepatan laju mobilnya.
"Tadi udah ke rumah sakit Advent, tapi ternyata ruangan pada penuh, Bu. Ini kita bawa Alifa ke KMC, tempat biasa Alifa dirawat. Semoga aja di sana Alifa masih mendapatkan ruangan untuk dirawat, karena kata dokter tadi yang sempat menangani Alifa, dia harus rawat inap. Apalagi Alifa sampai sekarang belum bangun-bangun juga." Eliz menjelaskan dengan perasaan campur aduk.
"Oke. Tolong kabari lagi nanti ya, Nak. Sampai bertemu di sana. Semoga adekmu segera siuman," ujar Nisa, mengakhiri percakapan mereka.
Tibalah di KMC, suami Imah memarkirkan mobilnya dan mereka segera meminta pertolongan tenaga medis di sana. Syukurnya di KMC memang Alifa selalu mendapatkan pelayanan yang baik. Semua yang bekerja di sana pada ramah, walau ada salah seorang yang pernah membersihkan tempat tidur Alifa wajahnya sedikit ketus karena beberapa bulan lalu, keringat Alifa sangat banyak sampai kasurnya basah banget. Jadi, harus sering-sering ganti seprai.
Setelah menyelesaikan administrasi dan diperiksa oleh dokter, Alifa sudah siuman setelah beberapa jam tidak sadarkan diri.
"Akhirnya Alifa sadar juga," ujar semua orang, mereka tersenyum lega.
Tanpa menunggu lawa, Alifa akhirnya dibawa ke ruangan untuk penanganan lebih lanjut.
Ruangan yang selalu membuat Alifa merasa terkurung. Kalau tidak pingsan, Alifa tidak pernah mau untuk dibawa ke rumah sakit. Ia lebih senang menahan rasa sakit dan berusaha menyembuhkan sakitnya sendirian.
Tidak lama kemudian, kedua orang tua Alifa datang. Mereka sangat prihatin dengan keadaan anaknya dan berjanji untuk lebih memperhatikan kesehatannya di masa mendatang. Mereka juga berterima kasih kepada teman-teman kosan Alifa dan Ibu Ovi yang memberikan perhatian serta membantu Alifa dalam situasi darurat tersebut. Mereka juga tidak lupa berterima kasih kepada keponakannya yang selalu siap sedia membantu.
Selama beberapa hari berikutnya, Alifa mendapatkan perawatan di rumah sakit dan juga dukungan dari keluarga serta teman-teman terdekatnya. Ia belajar untuk lebih menghargai tubuhnya dan mengelola stres dengan lebih baik.
Kesehatan adalah hal yang sangat berharga dan harus dijaga dengan baik. Alifa berjanji untuk lebih memperhatikan kesehatannya selama menjalani masa kuliah yang penuh tantangan.
__ADS_1
...****...