Catatan Mahasiswa Akhir

Catatan Mahasiswa Akhir
Ambisi Lulus Tiga Tahun


__ADS_3

Rumah sakit tempat Alifa dirawat memiliki atmosfer khas yang kental dengan kesibukan dan keseriusan lingkungan medis. Koridor-koridor yang panjang dihiasi dengan lampu-lampu terang, memancarkan cahaya putih yang kaku. Terdengar berbagai suara dan langkah kaki para tenaga medis yang sibuk berlalu lalang, menciptakan suasana riuh rendah.


Alifa sendiri berada di ruangan rawat inap, tempatnya berbaring di atas tempat tidur putih bersih yang dikelilingi peralatan medis. Udara terasa dingin dan harum dengan aroma antiseptik yang khas. Di sekitarnya, terdapat layar monitor yang memantulkan berbagai indikator kesehatan Alifa, serta infus yang terpasang di tangannya.


Meskipun dalam kondisi sakit, Alifa tidak bisa lepas dari pikiran dan keinginan untuk menyelesaikan kuliahnya. Ia terus berkomunikasi dengan Farah melalui pesan teks, berbagi ide, dan membicarakan tugas kuliah. Alifa merasa tak henti-hentinya berusaha menjaga fokusnya pada target kelulusannya dalam tiga tahun.


Namun, suatu hari, dokter yang merawat Alifa memberikan peringatan penting. Dokter tersebut meminta Alifa untuk benar-benar istirahat dan tidak memikirkan hal lain selain pemulihan kesehatan. Menurut dokter, memaksakan diri untuk terus memikirkan kuliah dan tugas-tugasnya bisa memperburuk kondisi kesehatan Alifa.


Meskipun disarankan untuk beristirahat, Alifa tetap keras kepala dan tidak mau mengubah pendiriannya. Ia meminta izin kepada dokter untuk tetap mengerjakan tugas kuliahnya, dengan janji akan beristirahat jika merasa lelah. Alifa yakin bahwa ia bisa mencapai target kelulusannya, bahkan di tengah kondisi sakit sekalipun.


Meski dokter mungkin merasa khawatir, mereka memberikan izin kepada Alifa dengan syarat untuk tetap memperhatikan kesehatan dan beristirahat jika dibutuhkan. Alifa merasa terdorong oleh keinginannya yang kuat untuk mencapai tujuannya, meskipun dengan rintangan-rintangan yang ada.


Dengan semangat yang gigih, Alifa berjuang melawan penyakitnya dan tetap fokus pada kuliahnya. Ia mengirim tugas-tugasnya dan menjaga komunikasi dengan Farah. Namun, ia juga berusaha untuk mengikuti saran dokter dan mengambil istirahat yang cukup untuk pemulihan.


Di rumah sakit yang sibuk dan serius itu, Alifa menjadi contoh keteguhan dan tekad yang tak tergoyahkan. Ia terus membara dengan semangatnya untuk mencapai target kelulusan dalam tiga tahun, meskipun dalam keadaan yang kurang menguntungkan.


Ibu dan Ayah Alifa sangat khawatir dengan kondisi anak mereka. Mereka duduk di sisi tempat tidur Alifa, menggenggam tangan anak mereka dengan penuh kekhawatiran. Wajah mereka tercermin kecemasan yang mendalam.


"Nak, kamu harus fokus pada kesembuhanmu sekarang. Jangan terlalu memikirkan hal lain, termasuk kuliah. Kesehatanmu yang utama," ujar Ibu Nisa.

__ADS_1


"Ya, Alifa. Kami ingin yang terbaik untukmu. Jangan memaksakan diri. Kuliah dan tugas-tugas bisa menunggu. Yang penting sekarang adalah pemulihanmu," sahut Pak Zaidan.


Alifa mendengarkan dengan seksama kata-kata kedua orang tuanya. Ia memahami kekhawatiran mereka, tetapi juga merasa teguh pada tekadnya untuk menyelesaikan kuliah dalam waktu yang ditargetkan.


"Ibu, Ayah, Alifa memahami kekhawatiran kalian. Tapi kuliah dan target kelulusanku sangat penting bagi Alifa. Alifa akan tetap mengutamakan kesehatan, tapi Alifa percaya kalau Alifa bisa melakukan keduanya dengan bijak."


"Kami mengerti keinginanmu, Nak. Tapi ingatlah, tubuhmu perlu waktu untuk pulih sepenuhnya. Jangan membebani dirimu terlalu banyak. Kami akan selalu mendukungmu," ujar Ibu Nisa yang tidak henti-hentinya menasihati anaknya.


"Apa yang dikatakan oleh ibumu itu benar. Kami berada di sini untukmu, Alifa. Kalau kamu merasa terlalu lelah atau butuh istirahat, beritahu kami. Kesehatanmu adalah prioritas utama," ujar Pak Zaidan, menambahkan ucapan istrinya, Nisa.


Alifa tersenyum dan mengangguk. Meskipun ia keras kepala dalam mengejar target kelulusannya, ia juga menghargai perhatian dan cinta yang diberikan oleh kedua orang tuanya. Alifa tahu bahwa dukungan mereka sangat berarti dalam perjalanan pemulihannya dan pencapaiannya di dunia akademik.


Ibu dan Ayah Alifa tersenyum dengan harapannya yang tulus. Mereka menggenggam tangan Alifa dengan penuh kasih sayang, menunjukkan bahwa mereka akan selalu ada untuk mendukung dan merawat anak mereka di setiap langkah perjalanan hidupnya.


Setelah hampir satu bulan dirawat, dokter memberikan izin kepada Alifa untuk pulang, dengan syarat bahwa ia harus tetap menjalani perawatan rutin.


"Alifa, kondisimu telah membaik secara signifikan. Namun, penting bagi kamu untuk terus menjaga kesehatanmu. Kamu bisa pulang, tetapi pastikan untuk datang kembali ke rumah sakit untuk perawatan rutin dan tindak lanjut," pesan dokter.


Alifa merasa lega mendengar kabar itu, tetapi ia juga menyadari pentingnya tetap mematuhi perawatan yang diberikan oleh dokter.

__ADS_1


"Terima kasih, dokter. Saya sangat berterima kasih atas perawatan yang diberikan. Saya akan memastikan untuk tetap menjalani perawatan rutin dan mengikuti semua petunjuk yang diberikan."


"Baiklah, Alifa. Pastikan juga untuk beristirahat yang cukup, mengonsumsi obat sesuai resep, dan memperhatikan pola makan yang sehat. Jika ada gejala yang tidak biasa atau perlu bantuan tambahan, maka jangan ragu untuk menghubungi kami."


Alifa mengangguk sebagai tanda kesepakatan dan berterima kasih sekali lagi kepada dokter. Kemudian, Ibu dan Ayah Alifa yang hadir di sana merasa lega dan bahagia dengan keputusan ini.


"Kami senang kamu bisa pulang, Nak. Tapi ingatlah, pemulihanmu tetap menjadi prioritas. Jangan lupakan perawatan dan tindak lanjut yang diberikan oleh dokter," ujar Ibu Nisa.


"Kamu kuat, Alifa. Kami yakin kamu akan menjaga kesehatanmu dengan baik. Jika ada yang kamu butuhkan, maka katakan saja. Kami di sini untukmu," ujar Pak Zaidan.


Alifa tersenyum dan merasa terharu dengan dukungan yang diberikan oleh orang tuanya. Mereka bersama-sama meninggalkan rumah sakit dengan harapan baru dan tekad yang lebih kuat untuk masa depan. Alifa bertekad untuk tetap disiplin dalam menjalani perawatan dan menggapai target kelulusannya, dengan dukungan dan cinta dari keluarganya di sepanjang jalan.


Sementara itu, kakak Alifa, Eliz, masih sibuk dengan tugas-tugasnya sebagai mahasiswa tingkat akhir. Ia tengah berada di masa perjuangan untuk menyelesaikan kuliahnya sendiri. Eliz merasa bahwa dalam hidup ini, setiap orang harus melewati perjalanan sendiri dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya. Bagi Eliz, menjadi kakak bagi Alifa adalah bagian dari takdirnya. Meski melelahkan, ia harus bolak-balik antara rumah sakit dan kampus, berusaha menjaga dan merawat adik-adiknya.


Eliz adalah anak pertama dalam keluarga, tanggung jawabnya untuk menjaga Alifa dan adik-adiknya yang lain sangat besar. Ia mengalami lika-liku perjuangan yang tidak mudah, tetapi tetap bertekad untuk memberikan yang terbaik.


Meskipun terkadang cerewet, Eliz sangat mencintai adik-adiknya. Ia berperan sebagai kakak yang penuh perhatian dan siap membantu dalam menjaga kelima adiknya. Billal dan Alifa seakan sedang berlomba, selalu saling bergantian dalam kunjungan ke rumah sakit. Namun, Eliz merasa beruntung memiliki adik-adik yang selalu mendukung dan mencintainya, meskipun dalam situasi yang sulit.


Dalam kehidupan yang penuh dengan tanggung jawab, Eliz tetap tegar dan berusaha memberikan yang terbaik bagi keluarganya. Ia adalah sosok kakak yang cerewet, tetapi dengan cinta dan kepedulian yang tak terbatas terhadap adik-adiknya.

__ADS_1


...****...


__ADS_2