Catatan Mahasiswa Akhir

Catatan Mahasiswa Akhir
Cahaya di Balik Badai


__ADS_3

Setelah tiga bulan memiliki hubungan dengan Alim, hubungan antara Alim dan Alifa mulai diterpa masalah. Alim tampak memiliki kecenderungan untuk membuat masalah dari hal-hal kecil dalam hubungan mereka. Alifa merasa bahwa sejak awal ia belum sepenuh hati menerima Alim dan seiring berjalannya waktu, keraguannya semakin bertambah setelah melihat sifat Alim yang mulai terbuka.


Awalnya, Alifa berusaha untuk mengabaikan kejanggalan-kejanggalan kecil dalam perilaku Alim, berharap bahwa itu hanya perubahan sementara atau masalah yang bisa diselesaikan. Namun, seiring berjalannya waktu, masalah semakin sering muncul dan semakin jelas bagi Alifa bahwa ada perbedaan mendasar antara mereka berdua.


Salah satu masalah yang sering muncul adalah Alim seringkali menyinggung soal mantan Alifa, Khaleed. Hal ini membuat Alifa merasa tidak nyaman dan terganggu. Menyinggung mantan pasangan secara berulang-ulang adalah tanda bahwa Alim tidak sepenuhnya terfokus pada hubungan mereka dan masih memendam perasaan atau ketidakpuasan terhadap masa lalu Alifa.


Alim meminta waktu untuk jalan berdua dengan Alifa, tetapi Alifa menolak karena alasan Alifa ingin menyelesaikan tugas kuliah karena akan dikumpul esok hari. Alim marah dan mengungkin Khaleed.


Alifa menjawab sambil sedikit frustrasi, "Alim, aku harap kamu mengerti bahwa tugas kuliahku ini penting dan harus selesai tepat waktu. Bukan berarti aku menolakmu karena aku lebih memilih Khaleed. Itu bukan masalahnya."


Alim mengeluarkan gerutuan. "Iya, sih. Kalau sama Khaleed, pasti langsung mau diajak jalan. Kalau aku mah, selalu ditolak."


Alifa berusaha menjelaskan. "Itu bukan masalahnya tentang Khaleed atau orang lain. Kamu tahu betapa aku ingin menghabiskan waktu bersamamu, tapi aku perlu fokus pada tugas kuliah ini. Aku tidak ingin terjebak dalam tekanan karena tidak menyelesaikan tugas dengan baik. Cobalah untuk memahami situasiku."


Alim masih kesal. "Tapi kadang-kadang rasanya kamu lebih memprioritaskan hal-hal lain daripada aku. Aku merasa tidak dihargai."


Alifa berusaha menjelaskan dengan bijak. "Alim, hubungan kita adalah tentang saling mendukung dan memahami kebutuhan masing-masing. Saat ini, kebutuhanku adalah menyelesaikan tugas kuliah ini. Itu bukan berarti aku tidak menghargaimu. Aku hanya meminta pengertianmu saat ini."


Alim memikirkan kata-kata Alifa. "Baiklah, mungkin aku terlalu cepat bereaksi dan membandingkan diriku dengan Khaleed. Aku minta maaf. Aku akan mencoba untuk lebih memahami situasi dan memberimu ruang untuk menyelesaikan tugasmu dengan baik."


Alifa menghela napas lega. "Terima kasih, Alim. Aku menghargai pengertianmu. Aku harap kita bisa saling mendukung dan memahami kebutuhan satu sama lain di masa depan."


Alasan Alim terus membawa-bawa nama mantan Alifa, Khaleed, dalam hubungan mereka adalah sesuatu yang tidak dapat dimengerti oleh Alifa. Itu membuatnya merasa seperti ada ketidakseimbangan emosional yang mempengaruhi hubungan mereka. Alifa merasa bahwa hal itu menunjukkan kurangnya kedewasaan dan kesiapan Alim dalam menjalin hubungan yang sehat.

__ADS_1


Perilaku Alim yang terus-menerus menyinggung mantan Alifa menimbulkan rasa sakit dan ketidaknyamanan bagi Alifa. Ia merasa bahwa hal itu merupakan bentuk ketidakpercayaan dan kurangnya rasa hormat dari Alim terhadap hubungan mereka. Seiring berjalannya waktu, hal ini semakin menguatkan keraguan Alifa terhadap keseriusan dan kesungguhan Alim dalam hubungan mereka.


Setelah mempertimbangkan dengan matang, Alifa akhirnya menyadari bahwa ia tidak bisa terus hidup dalam hubungan yang dipenuhi dengan ketidakseimbangan emosional dan penyinggungan masa lalu. Ia menyadari bahwa kebahagiaannya penting dan ia harus menghormati dirinya sendiri dengan mengambil keputusan yang sulit, tetapi tepat.


Akhirnya, Alifa memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan Alim. Ia menyadari bahwa hubungan yang sehat dan bahagia tidak boleh didasarkan pada rasa tidak nyaman dan penyinggungan masa lalu. Meskipun perpisahan itu menyakitkan, Alifa merasa bahwa itu adalah langkah yang penting untuk menjaga kebahagiaan dan kesehatan emosionalnya.


Setelah berpisah, Alifa memberi dirinya waktu untuk menyembuhkan dan menemukan kembali kebahagiaannya. Ia belajar untuk memaafkan dan melepaskan masa lalu serta membuka diri terhadap kesempatan baru dan hubungan yang lebih baik di masa depan.


Alifa menyadari bahwa penting untuk memilih pasangan yang benar-benar menghargai dan mencintainya tanpa membebani hubungan dengan masa lalu yang tidak relevan. Ia berharap dapat menemukan cinta yang sejati, di mana masa lalu dapat diterima dan hubungan mereka dapat berkembang dalam kepercayaan dan kebahagiaan yang saling menguatkan.


...***...


Saat sedang mengerjakan tugas kuliah, Alifa mendapatkan telepon dari salah satu anggota keluarga Alim yang meminta untuk datang ke rumah karena sudah lama Alifa tidak ke rumah mereka.


Suasana hati Alifa berubah seperti hujan badai yang mendadak mengguyur, saat bibinya Alim menghubunginya.


"Oh, udah lama banget kamu enggak dateng ke rumah. Kangen, loh!" ujar Teteh Euis dengan nada sedih.


"Maaf, Teteh. Aku akan mencoba datang ke rumah secepatnya setelah tugas kuliahku selesai. Aku harap kamu bisa mengerti situasiku sekarang," ujar Alifa merasa sedikit terbebani.


Teteh Euis menghela napas. "Baiklah, Alifa. Nanti kalau enggak sibuk lagi, main ke rumah, ya!" pintanya.


Alifa dengan perasaan campur aduk menjawab, "Tentu, Teteh. Aku tidak melupakan keluarga. Aku akan mencoba menyempatkan waktu untuk berkunjung segera. Maaf jika aku membuatmu khawatir."

__ADS_1


Setelah menutup telepon, Alifa merasa sedikit bingung dan heran dengan panggilan 'Teteh' yang diberikan kepada bibi Alim. Ia merasa tidak memahami adat dan budaya keluarga Alim yang unik. Namun, ia tidak ingin membuat permasalahan ini menjadi lebih rumit dengan membahasnya kepada Alim saat ini. Alifa memutuskan untuk lebih fokus pada tugas kuliah dan menyelesaikannya dengan baik, sambil menjaga hubungan baik dengan keluarga Alim.


Ia berencana untuk mencari kesempatan untuk berbicara dengan Alim tentang perbedaan adat dan budaya di keluarga mereka. Alifa percaya bahwa komunikasi yang jujur dan saling memahami akan membantu mereka memahami satu sama lain dengan lebih baik. Walau saat ini mereka sedang tidak saling bicara setelah pertengkaran yang dibuat Alim.


Walaupun hujan telah reda dan langit kembali cerah, Alifa masih merasa tersesat dalam kegelapan hatinya. Seperti senja yang tak mampu mencerahkan segala sesuatu di sekitarnya, telepon dari bibinya Alim hanya meninggalkan bayang-bayang kebingungan dalam benaknya.


Namun, seperti tetesan embun yang menghiasi daun-daun segar pada pagi yang baru, kata-kata Alim meluncur dari telepon itu dengan begitu ringan.


"Aku kangen kamu," ujar Alim.


Seperti angin lembut yang menyapu hati Alifa, ia merasa terombang-ambing oleh kata-kata itu. Seolah-olah segala pergumulan dan jarak yang pernah terjadi antara mereka, hanya sebuah khayalan yang hilang seiring dengan angin musim gugur.


Alifa mengernyitkan dahinya, seakan mencoba memecahkan teka-teki yang disuguhkan oleh Alim. Namun, seperti pohon tua yang misterius berdiri di tengah hutan, ia memilih untuk tidak mempedulikan pesan dari Alim. Hatinya telah terikat oleh tanggung jawab kuliah yang menuntut perhatian penuh.


Dalam setiap ketukan jari Alifa di atas keyboard, seakan ada aliran sungai yang mengalir deras melalui pikirannya. Ia merasakan cobaan dan ujian yang melintas seperti arus yang tidak bisa dibendung. Walaupun kata-kata Alim terus menghampiri pikirannya seperti ombak yang menggulung pantai, ia tetap teguh pada pilihan yang telah dibuat.


Sebagai penerang di malam yang kelam, Alifa menjaga kecerahan dalam dirinya dengan tetap fokus pada tugas-tugasnya. Ia mengabaikan kabar-kabar dari Alim yang datang melalui pesan-pesan singkat. Seperti bintang-bintang yang gemerlap di langit gelap, ia memilih untuk menatap layar laptop dan melangkahkan kakinya menuju kesuksesan, meninggalkan kabut keraguan di belakangnya.


Dalam hatinya yang tersembunyi di balik keputusannya, Alifa merasa adanya rindu yang perlahan merambat. Seperti rembulan yang menghiasi malam dengan cahayanya yang pucat, kehadiran Alim masih membekas dalam benaknya. Meskipun terikat oleh tugas-tugas kuliah, ada sejuta tanda tanya yang berputar di pikiran Alifa, menggiringnya ke dalam kegelapan yang tak terlihat.


Namun, dalam senyapnya ruangan yang sunyi, Alifa tahu bahwa ada waktu untuk segala sesuatu. Seperti pohon yang bertahan melawan angin ribut, ia juga harus bertahan melawan godaan yang menghampirinya. Pada akhirnya, Alifa memilih untuk menunda rindu yang menggebu dan tetap melangkah maju dengan teguh.


Dalam kebingungan yang berkecamuk di hati Alifa, ia tetap merangkul tekadnya dengan erat. Seperti burung yang terbang bebas di langit biru, ia merasa terikat oleh tanggung jawabnya sendiri. Walau Alim masih ada di balik layar telepon yang terabaikan, Alifa tidak akan membiarkan dirinya terjerat oleh nostalgia yang menggoda.

__ADS_1


Begitu tegar dan luruslah langkah Alifa menuju puncak kehidupannya. Meskipun Alim mengungkapkan kerinduannya dengan kata-kata manis yang bermain-main di telinganya, Alifa telah menutup pintu hatinya untuk waktu sesaat. Kebersamaan mereka mungkin hanya tertunda, tapi dalam perjuangannya yang gigih, Alifa yakin bahwa cahaya yang akan menyinari jalan mereka akan datang pada saat yang tepat.


...****...


__ADS_2