Catatan Mahasiswa Akhir

Catatan Mahasiswa Akhir
Setitik Rindu di Setiap Kelas


__ADS_3

Di semester lima kuliahnya, Alifa merasa waktu berlalu begitu cepat. Ia merenung tentang perjalanan panjang yang telah ditempuh selama masa kuliah. Berbagai tantangan dan ujian telah dihadapi dengan penuh semangat dan tekad.


Awalnya, ketika memasuki dunia perkuliahan, Alifa merasa sedikit cemas dengan semua hal yang baru. Namun, dengan dukungan teman-teman seangkatannya dan para senior, Alifa merasa lebih percaya diri dan bersemangat untuk menghadapi semua tantangan kuliah setiap harinya.


Banyak hal yang telah Alifa lalui selama lima semester ini. Malam-malam begadang untuk menyelesaikan tugas, belajar keras untuk ujian-ujian yang menantang, dan tentu saja momen-momen menyenangkan bersama teman-teman kuliahnya. Semua itu menjadi bagian tak terpisahkan dari kenangan masa kuliahnya.


Tidak jarang Alifa merasa lelah dan ingin menyerah, tetapi ia selalu mengingat impian yang membara di hatinya, yakni lulus kuliah dalam waktu tiga tahun. Impian itu menjadi sumber motivasinya untuk tetap berjuang dan tidak menyerah meski ada saat-saat sulit.


Dengan setiap ujian yang dihadapinya, Alifa semakin merasa berkembang dan belajar banyak hal baru. Ia sadar bahwa proses kuliah bukan hanya tentang mendapatkan gelar, tetapi juga tentang pembelajaran dan penemuan diri. Setiap rintangan yang dihadapi menjadi peluang untuk tumbuh dan berkembang sebagai individu yang lebih baik.


Suatu hari, saat sedang mengerjakan tugas kampus. Alifa tiba-tiba merindukan Farah. Sampai-sampai, rindu pada Farah membuat Alifa merenungkan betapa dekatnya hubungan mereka dulu. Mereka telah melewati begitu banyak momen bersama, berbagi tawa, tangis, dan juga hobi. Alifa selalu merasa senang saat berada di dekat Farah, dan mereka saling melengkapi dalam banyak hal.


Alifa mengingat-ingat saat masih satu kelas dengan Farah.


"Alifa udah ngerjain tugas Aplikasi Komputer belum?"


"Alifa udah berangkat belum? Farah jemput, ya, biar berangkat bareng. Ini Farah udah mau sampai kosan Alifa."


Serta beberapa dialog lainnya yang membuat Alifa tersenyum ketika mengingat-ingat momen bersama Farah. Bahkan Farah adalah satu-satunya teman yang memang benar-benar peduli sama Alifa ketika Alifa sakit.


"Alifa cepat sembuh, ya."


"Alifa udah makan, belum?"


"Alifa jangan lupa minum obat?"


Kalimat yang paling membuat Alifa merasa terharu adalah saat Farah sangat memperhatikan pola makan Alifa. Apa yang boleh dan tidak boleh dimakan, Farah salah satunya yang paling bawel menasihati dan mengingatkan Alifa agar menghindari hal-hal yang memicu penyakit Alifa kambuh.


"Alifa enggak boleh makan pedes-pedes. Nanti sakitnya kumat, loh!"

__ADS_1


"Alifa enggak boleh terlalu capek. Jangan lupa rehat sejenak. Jangan diporsir kalau ngerjain tugas itu."


Namun, terdapat pertimbangan yang membuat Alifa sadar bahwa adakalanya menjaga jarak itu penting dalam pertemanan. Alifa berpikir bahwa dengan memberi kesempatan pada Farah untuk mandiri, itu bisa menjadi sebuah langkah positif dalam pertumbuhan mereka sebagai individu.


Menghindari Farah mungkin bukanlah tindakan yang mudah bagi Alifa. Terlebih karena mereka selalu bersama sebelumnya dan memiliki begitu banyak kenangan indah. Namun, terkadang, ada saatnya kita harus memberikan ruang pada sahabat kita untuk mengeksplorasi diri dan tumbuh sebagai individu mandiri. Ini bukan berarti Alifa tidak lagi mencintai atau menghargai persahabatan mereka, tetapi lebih tentang memberikan kebebasan dan kesempatan bagi Farah untuk menemukan jalannya sendiri.


Dalam menjalani perubahan ini, Alifa merasa sedih dan kesepian karena jarang bertemu dengan Farah. Namun, hal ini waktunya bagi Alifa untuk lebih memahami dirinya sendiri, mengeksplorasi minat dan keinginan yang lain, serta memberikan kesempatan pada diri sendiri untuk berkembang tanpa ketergantungan pada hubungan tertentu.


***


Keesokan harinya, matahari pagi bersinar terang, menerangi langkah-langkah Alifa menuju kampus. Ia merasa bersemangat karena tahu akan bertemu dengan Farah, sahabatnya yang sudah lama tidak ia temui. Dengan setumpuk buku pelajaran di genggamannya, Alifa mendekati anak tangga menuju gedung kuliah.


Tiba di depan tangga, Alifa hampir saja mulai menaiki anak-anak tangga tersebut ketika ia mendengar suara riang dari belakang.


"Alifa!" panggil suara itu.


Alifa langsung berbalik, dan di sana ia melihat Farah, berlari menghampirinya dengan senyuman cerah di wajahnya. Hatinya seakan-akan terasa hangat melihat sahabatnya itu.


"Iya, Farah baru saja keluar dari kelas. Ternyata kita satu gedung, tapi beda kelas, ya? Lama tak bertemu, Farah kangen banget sama Alifa," ucap Farah sambil membalas pelukan dengan hangat.


Alifa mengangguk, masih tersenyum bahagia. "Benar, Alifa juga kangen banget sama Farah. Rasanya kok beda kalau enggak ketemu, ya? Oh iya, kabar Farah gimana, nih?"


"Alhamdulillah, Farah baik-baik aja, kok. Kalau Alifa, gimana?"


"Sama, Alifa juga baik-baik aja. Farah masih suka belanja-belanji, kan?" tanya Alifa dengan senyum menggoda. Tangannya menoel lembut pinggang Farah dengan ujung jari telunjuk.


Farah tertawa ringan. "Iya dong, hobi kan tetap hobi. Kalau kamu, belanja bukunya masih rajin?"


"Ah, ya iyalah. Tapi sekarang lebih banyak beli atau download e-book, sih, biar enggak berisik di kamar," jawab Alifa sambil tertawa.

__ADS_1


Mereka terus berbincang sembari duduk di anak tangga, seperti dulu kala. Semangat Alifa kembali terpenuhi dengan kehadiran Farah. Mereka saling berbagi cerita tentang pengalaman kuliah selama terpisah dan tertawa atas kenangan-kenangan lucu yang mereka alami bersama.


Setelah cukup lama mengobrol, mereka akhirnya harus berpisah lagi karena sudah waktunya untuk masuk ke kelas masing-masing.


"Sayangnya kita beda kelas ya, jadi enggak bisa selalu ketemu kayak dulu," ucap Farah.


Alifa mengangguk setuju. "Iya, tapi enggak apa-apa. Kita masih bisa saling cerita kok, dan nanti kalau ada waktu luang, kita bisa makan siang bareng atau ke mall seperti dulu lagi."


"Deal!" sahut Farah sambil berjabat tangan dengan Alifa.


Keduanya berdiri dan saling berpelukan sekali lagi sebelum berpisah. Meski beda kelas, pertemuan itu telah menghangatkan hati mereka dan membuang kerinduan yang telah terpendam cukup lama. Alifa merasa bersyukur karena hari ini mereka berada dalam gedung yang sama, dan itu memberinya harapan untuk lebih sering bertemu dan melepas rindu dengan sahabatnya.


Setelah berpisah dengan senyuman dan saling berjanji untuk tetap menjaga komunikasi, Alifa dan Farah pun berjalan menuju kelas masing-masing. Meskipun gedung kelas mereka selalu berpindah-pindah, ada perasaan lega di hati Alifa karena mereka setidaknya bisa bertemu di beberapa kelas di gedung yang sama.


Saat memasuki kelasnya, Alifa tersenyum melihat teman-teman seangkatannya yang duduk di sekitarnya. Meskipun ia senang bertemu kembali dengan Farah, tapi Alifa juga sangat menyayangi teman-teman di kelasnya. Mereka adalah teman-teman yang selalu mendukung dan berbagi tawa dalam perjalanan kuliah.


Perkuliahan berjalan dengan lancar, Alifa tetap fokus pada pelajaran dan catatan yang dibuat. Ia berusaha mengikuti setiap penjelasan dosen dengan serius, menyerap ilmu yang diberikan agar bisa mempersiapkan diri dengan baik untuk ujian-ujian mendatang.


Setelah selesai kuliah, Alifa melanjutkan harinya dengan berbagai aktivitas seperti biasa. Namun, kali ini ada kebahagiaan tambahan karena pertemuan singkat dengan Farah pagi tadi telah meningkatkan semangatnya.


Setelah makan siang, Alifa mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan pesan singkat kepada Farah.


"Hai, Farah! Senang banget tadi pagi kita bisa ketemu. Jadi kangen waktu kita sering bareng-bareng. Semoga kita bisa sering bertemu lagi ya, apalagi kelas kita kadang ada di gedung yang sama."


Tidak lama berselang, balasan dari Farah pun masuk.


"Hai, Alifa! Sama, Farah juga senang banget bisa ketemu Alifa lagi, padahal kita satu kampus. Kangen banget deh waktu kita ke mana-mana berdua. Hmm ... semoga kita bisa sering ketemu lagi ya, meski beda kelas. Nanti kapan-kapan kita makan siang bareng, ya. Kita ketemuan di kantin kampus aja."


Senyum terukir di wajah Alifa saat membaca pesan dari Farah. Alifa berharap pertemanan mereka tetap erat dan mampu mengatasi jarak fisik yang kadang menghalangi pertemuan mereka.

__ADS_1


Sejak hari itu, Alifa dan Farah berusaha untuk tetap menjaga komunikasi dan mengatur waktu untuk bertemu ketika kesempatan muncul. Pertemuan singkat di antara kesibukan kuliah mereka menjadi momen yang sangat dinantikan dan membuat persahabatan mereka tetap hangat meskipun gedung kelas mereka selalu berpindah-pindah, serta tidak bisa berjumpa meskipun satu kampus karena disibukkan dengan tugas kuliah yang menumpuk dan sangat menyita waktu.


****


__ADS_2