
Satu bulan sudah Alifa berada di Kalianda, Alifa masih menjalin hubungan dengan Alim. Namun, sikap Alim masih belum berubah, masih kekanak-kanakan. Cemburu dengan hal-hal yang tidak seharusnya dicemburui.
Sifat Alim yang perlahan mulai terlihat adalah sikap dominan dan cenderung mengontrol. Ia sering mengkritik Alifa dengan cara yang membuatnya merasa rendah diri. Ia selalu mencoba mengendalikan setiap aspek dalam kehidupan Alifa, termasuk teman-teman yang Alifa temui dan kegiatan yang dilakukan.
Perilaku tersebut membuat Alifa merasa terkekang dan tidak bisa menjadi dirinya yang sebenarnya. Ia mulai meragukan apakah hubungan ini sehat dan apakah Alim adalah orang yang tepat baginya. Alifa merasa bahwa cinta sejati tidak seharusnya membuatnya merasa terjebak dan tidak bahagia.
"Kamu ke mana aja, sih? Di sms enggak dibalas dan ditelepon dari tadi juga, enggak diangkat-angkat!" ujar Alim dengan nada tinggi.
"Apa, sih? Telepon malah marah-marah. Aku dari tadi sibuk kerja. Kamu kira aku di sini main-main?" jawabku menghela napas pendek.
Alim bukannya meminta maaf atau apa, malah menuduh Alifa yang tidak-tidak. "Alah ...! Kamu abis ketemuan sama Khaleed, kan? Bilang aja kalau mau balikan sama dia!"
Alifa menghela napas berat, seakan ada beban yang menumpuk di kepalanya.
"Dengar, Alim, aku enggak punya waktu untuk drama dan tuduhan semacam ini. Aku bekerja keras dan memiliki tanggung jawab, jadi jangan mencari-cari masalah yang enggak ada. Aku enggak ada urusan apa pun dengan Khaleed. Jadi, kalau kamu enggak percaya sama aku, mungkin kita perlu memikirkan kembali hubungan kita," jawab Alifa dengan tenang, tetapi tegas.
Alim terdiam sejenak, menyadari bahwa sikapnya yang curiga dan menuduh tanpa alasan yang jelas tidak adil terhadap Alifa. Ia menyadari bahwa ia harus mempercayai pasangannya dan tidak langsung memvonisnya tanpa bukti konkret.
"Aku... maaf, Alifa. Aku memang terlalu cemburu dan khawatir. Aku berjanji untuk mempercayaimu dan tidak menarik kesimpulan sepihak seperti itu lagi," kata Alim dengan suara yang lebih lembut.
Alifa mengangguk, menghargai permintaan maaf Alim. "Terima kasih, Alim. Percaya dan saling memahami adalah dasar dari hubungan yang sehat. Mari kita berkomitmen untuk saling mendukung dan membangun kepercayaan satu sama lain, ya!"
Alim mengangguk setuju. "Ya, tentu. Aku benar-benar mencintaimu, Alifa, dan aku ingin kita bisa melewati semua rintangan ini bersama."
Alifa tersenyum, merasa lega bahwa mereka berdua bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik. Ia menyadari bahwa setiap hubungan memiliki tantangan dan perlu komunikasi terbuka serta kepercayaan yang kokoh untuk menghadapinya.
"Terima kasih, Alim. Aku juga sangat mencintaimu dan aku yakin kita bisa melewati ini bersama-sama. Mari kita belajar dari pengalaman ini dan terus membangun fondasi yang kuat untuk hubungan kita," kata Alifa dengan penuh keyakinan.
Alim berbicara dengan penuh kasih sayang. "Aku berjanji akan berusaha lebih baik, Alifa. Kita adalah tim dan harus saling mendukung. Ayo kita hadapi masa depan dengan optimisme dan kepercayaan."
__ADS_1
Keduanya merasa lega karena telah mencapai pemahaman yang lebih dalam dan menguatkan ikatan mereka. Mereka menyadari bahwa setiap masalah dapat diatasi dengan komunikasi yang jujur dan saling menghargai. Dalam keadaan ini, mereka merasa lebih dekat satu sama lain daripada sebelumnya.
Alifa dan Alim melanjutkan perjalanan mereka dengan keyakinan baru, siap menghadapi tantangan apa pun yang datang, dengan harapan bahwa cinta dan kepercayaan mereka akan terus tumbuh dan memperkuat hubungan mereka.
...***...
Malam harinya, Alifa merebahkan tubuh di atas kasur. Badan terasa pegal.
"Begini, ya, rasanya kerja. Benar-benar melelahkan. Apalagi kalau sudah menerima telepon dari nasabah yang tidak sabaran, menguji kesabaran banget dah, pokoknya," ujarku sambil memijat-mijat kepala yang terasa sedikit nyeri.
Alifa memejamkan mata sejenak, mencoba meredakan ketegangan di tubuhnya. Setelah hari yang panjang dan berat, pikiran tentang pertengkaran dengan Alim kembali muncul, menyisakan rasa kebingungan dan kejenuhan.
"Duh, kenapa sih Alim selalu mengaitkan Khaleed dalam setiap pertengkaran kami?" gumam Alifa dengan nada frustasi. "Apa yang harus kulakukan agar dia bisa mempercayai aku sepenuhnya?"
Alifa merenung sejenak, mencoba mencari pemahaman tentang sumber ketidakpercayaan Alim. Mungkin ada kejadian di masa lalu yang membuatnya rentan dan cemas. Namun, Alifa merasa bahwa terus-menerus disalahkan tanpa alasan yang jelas hanya akan merusak hubungan mereka.
"Kami perlu bicara tentang ini dengan lebih mendalam," pikir Alifa. "Aku harus membuatnya sadar bahwa aku ada di sini untuknya, bahwa Khaleed bukanlah ancaman bagi hubungan kami. Aku ingin kami bisa membangun kepercayaan yang kokoh, tanpa perlu selalu meributkan hal yang sama."
Setelah mengirim pesan tersebut, Alifa merasa lebih lega. Ia menyadari bahwa dalam setiap hubungan, ada momen-momen sulit yang perlu dihadapi bersama. Ia berharap bahwa melalui komunikasi yang jujur dan tekad untuk memperkuat ikatan mereka, mereka dapat melewati rintangan ini dan membangun hubungan yang lebih kokoh dan penuh cinta.
Alifa berbaring kembali di atas kasurnya, berharap bahwa pesannya itu akan membuka pintu bagi perubahan dan pemahaman yang lebih dalam antara keduanya. Alifa berharap bahwa esok hari akan membawa perbaikan dan keharmonisan dalam hubungan mereka.
Mereka berdua akan duduk bersama untuk membicarakan perasaan dan menemukan cara untuk memperkuat hubungan mereka, dengan harapan bahwa komunikasi yang lebih baik dan kepercayaan yang tumbuh akan membawa kedamaian dan kebahagiaan dalam hubungan mereka.
Alifa merasa lega setelah mengirim pesan kepada Alim. Ia menyadari bahwa penting bagi mereka untuk duduk bersama dan membicarakan perasaan mereka dengan lebih mendalam. Ia berharap bahwa Alim akan menerima pesannya dengan hati terbuka dan bersedia berkomunikasi secara terbuka juga.
...***...
Keesokan paginya, Alifa dan Alim berkumpul untuk berbicara. Mereka duduk berhadapan, siap untuk mendengarkan satu sama lain dengan penuh perhatian.
__ADS_1
"Alim, aku ingin kita membicarakan pertengkaran kemarin," ucap Alifa dengan suara tenang, tetapi penuh ketegasan. "Aku ingin kita bisa saling memahami dan membangun kepercayaan yang kokoh. Pertanyaanku adalah mengapa selalu ada kecurigaan terkait Khaleed dalam hubungan kita?"
Alim mengambil napas dalam-dalam sebelum menjawab. Ia sadar bahwa sikapnya yang curiga tidak adil dan ia harus berbicara dengan jujur tentang apa yang ada di dalam hatinya.
"Alifa, maafkan aku atas ketidakpercayaan dan kecurigaan yang selalu muncul terkait Khaleed," ujar Alim dengan suara tulus. "Sebenarnya, aku punya kejadian di masa lalu yang membuatku khawatir dengan kemungkinan perpisahan. Namun, aku sadar bahwa aku harus mempercayaimu sepenuhnya dan tidak terus-menerus mengaitkan Khaleed dalam setiap pertengkaran kita."
Alifa mendengarkan dengan perhatian dan empati. Ia mengerti bahwa kecurigaan Alim berasal dari ketakutan yang dalam, tetapi penting bagi mereka untuk mencari solusi bersama.
"Alim, aku mengerti bahwa kamu pernah melalui pengalaman yang menyakitkan, tapi kita tidak bisa membangun masa depan yang baik jika kita terus terjebak dalam kecurigaan dan pertengkaran yang sama," kata Alifa dengan lembut. "Kita harus saling mendengarkan, berbicara tentang kekhawatiran, dan bekerja sama untuk memperkuat kepercayaan. Kita harus berkomitmen untuk membangun fondasi yang sehat dan saling mendukung."
Alim mengangguk, merasakan kelegaan dan harapan. Ia menyadari pentingnya komunikasi terbuka dan harus mempercayai Alifa sepenuhnya. Mereka berdua berjanji untuk saling mendengarkan dengan penuh pengertian, mengungkapkan perasaan dan kekhawatiran mereka secara jujur, serta berusaha memperbaiki hubungan mereka.
Dalam perjalanan mereka untuk memperkuat hubungan, Alifa dan Alim menyadari bahwa kepercayaan dan komunikasi adalah kunci utama. Dengan kesungguhan dan tekad yang sama, mereka berharap bahwa rintangan-rintangan yang dihadapi akan memperkuat ikatan mereka, membawa kedamaian dan kebahagiaan dalam hubungan mereka yang saling mencintai.
"Ya sudah, aku mau kerja lagi. Aku di sini untuk kebutuhan kuliah, loh! Sebagai syarat skripsi nanti. Kamu tahu, kan, kalau aku punya target untuk lulus tiga tahun? Tolong, jangan hancurkan mimpiku," pinta Alifa dengan harap.
Alim mengangguk. "Oke. Aku pulang dulu. Kamu jaga kesehatan, ya," ujarnya dan berlalu meninggalkan Alifa.
Alifa memasuki kantor dengan langkah yang pasti, menyambut suasana yang sudah akrab bagi dirinya. Ruangan tersebut dipenuhi dengan suara telepon berdering, percakapan antara nasabah dan pegawai bank, serta suara mesin pencetak dokumen yang terus berputar. Alifa merasa bahwa kantor adalah tempat di mana ia dapat fokus pada pekerjaannya dan menghindari persoalan pribadi.
Namun, di dalam hatinya, Alifa merasa terbebani dengan dinamika hubungan yang rumit antara dirinya dan Alim. Ia mengakui bahwa Alim sering kali terlalu keras dan terlalu menuntut. Ketidaksukaan Alim terhadap Khaleed dan kecurigaannya yang berlebihan, membuat Alifa merasa curiga apakah ada sesuatu yang Alim sembunyikan.
Dalam hati, Alifa ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun, tanpa bukti yang kuat, ia tidak bisa bersikap gegabah. Ia merasa terjebak antara kebutuhan untuk mengungkap kebenaran dan menjaga ketenangan dalam hubungan mereka.
Sambil melangkah menuju meja kerjanya, Alifa memutuskan untuk tetap fokus pada pekerjaannya. Ia memilih untuk memperkuat keahliannya di bidang perbankan, memberikan pelayanan terbaik kepada nasabah, dan menjaga profesionalisme dalam segala situasi. Ia berharap bahwa dengan menjadi pribadi yang kuat dan bertanggung jawab dalam pekerjaannya, ia dapat menemukan jalan untuk mengatasi masalah dalam hubungannya dengan Alim.
Alifa menyadari bahwa menghadapi ketidakpastian dan kesulitan adalah bagian dari kehidupan. Ia bertekad untuk mempertahankan integritasnya dan tidak terjebak dalam kecurigaan dan spekulasi yang tidak berdasar. Dengan sabar dan kehati-hatian, Alifa berharap dapat mengungkap kebenaran dan membangun hubungan yang lebih sehat dengan Alim, jika memang itu yang terbaik bagi keduanya.
Dalam ruangan yang hampir tak pernah sepi, Alifa terus bekerja dengan tekad yang kuat, sambil menjaga hatinya tetap tenang dan fokus pada tanggung jawabnya sebagai seorang profesional di dunia perbankan.
__ADS_1
...****...