
Pada suatu siang yang terik, Alifa berjalan melintasi kampus dengan langkah hati-hati. Seperti mentari yang menghiasi langit, kehangatan dan keceriaan mengelilingi suasana tersebut. Namun di dalam hati Alifa, ada sesuatu yang masih terpendam, seperti luka yang belum benar-benar sembuh.
Tak terduga, dalam keheningan siang itu, Alifa menerima sebuah panggilan telepon dari Khaleed. Seperti kilat yang menyambar di siang yang cerah, getaran itu membangkitkan perasaan campur aduk dalam diri Alifa. Khaleed, laki-laki yang pernah menghancurkan hatinya dan meninggalkan bekas luka yang belum hilang.
Dalam setiap kalimat yang diucapkan Khaleed, Alifa merasakan kegigihan yang tak pernah pudar. Seperti burung yang tak kenal lelah, Khaleed terus berusaha menjaga komunikasi dengan Alifa. Padahal, Alifa telah memberikan izin pada Khaleed untuk pergi bersama perempuan lain. Namun, seperti embun yang menetes di pohon yang rindang, Alifa tetap berjuang untuk pulih dari segala luka.
Alifa dengan nada hati-hati mengangkat telepon, "Halo, Khaleed!"
"Alifa, apa kabar? Aku merindukanmu," ujar Khaleed, tanpa basa-basi.
Alifa bicara dengan nada tegas, "Kabar baik, Khaleed. Ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan?"
Dengan nada penuh harap, Khaleed berkata, "Alifa, aku sadar akan kesalahan yang pernah aku buat. Aku menyesal telah menyakiti hatimu dan meninggalkanmu. Aku ingin memperbaiki segalanya, apakah kita bisa mencoba lagi?"
"Khaleed, apa yang kamu harapkan dengan menghubungiku? Sudah kukatakan sebelumnya bahwa aku telah mengikhlaskanmu dan memilih untuk berpulang pada hidupku sendiri," ujar Alifa dengan nada dingin.
Khaleed tak pernah menyerah, ia berusaha menggugah hati Alifa. "Alifa, aku tahu aku membuat kesalahan besar. Namun, cintaku padamu tidak pernah pudar. Aku bersedia melakukan apa pun untuk memperbaiki hubungan kita. Tolong berikan kesempatan kedua padaku," pintanya dengan penuh harap.
Alifa dengan suara tegas dan penuh kepastian berkata, "Khaleed, luka yang kamu berikan kepadaku telah terlalu dalam. Aku telah merasakan sakit hati yang tak terhingga. Aku tidak lagi ingin menjalin hubungan pacaran, apalagi menerimamu sebagai suamiku di masa depan. Itu adalah keputusanku yang tak akan berubah."
"Alifa, aku memahami perasaanmu. Hanya saja, aku berharap kamu bisa melihat bahwa aku benar-benar berubah dan ingin menjadi yang terbaik untukmu," ujar Khaleed penuh penyesalan.
__ADS_1
Alifa yang telanjur sakit hati, dengan suara mantap menolak. "Khaleed, terima kasih atas penyesalanmu. Aku juga telah belajar dari pengalaman ini. Namun, bagiku, sudah waktunya untuk melanjutkan hidup dan memulihkan diri tanpa melibatkanmu di dalamnya. Aku berharap kamu juga bisa menemukan kebahagiaanmu di tempat lain," ujar Alifa dengan hembusan napas panjang. Ia memejamkan mata sejenak, bola matanya mulai basah. Ia berusaha menyeka agar airnya tak mengalir.
Khaleed dengan suara lemah tetap berusaha agar Alifa mau berubah pikiran. "Aku mengerti, Alifa. Meskipun aku sangat sedih dengan keputusanmu, aku akan menghormatinya. Semoga kamu menemukan kebahagiaan yang sejati."
"Terima kasih, Khaleed. Semoga kita bisa menemukan kedamaian masing-masing di masa depan. Selamat tinggal," ujar Alifa dengan nada lembut.
Mereka berdua mengakhiri percakapan mereka dengan penuh kepastian dan harapan untuk memulai babak baru dalam hidup mereka, masing-masing menjalani jalan yang berbeda dengan keteguhan hati dan harapan akan kebahagiaan di masa depan.
Meskipun luka itu masih terasa, Alifa seperti kaktus yang berjuang tumbuh di padang pasir yang tandus. Dalam keheningan hati yang terdalam, ia mengikhlaskan dan melepaskan Khaleed ke dunianya yang baru. Ia berusaha memulihkan diri, meskipun jalan yang harus ditempuh masih terasa berliku.
Mungkin Alifa belum sepenuhnya pulih, tapi ia tidak menyerah pada kegelapan yang pernah datang. Ia terus berusaha membangun kembali harapan dan kebahagiaan, seperti bunga yang mekar di tengah teriknya siang. Meskipun Khaleed telah memberikan luka, Alifa tetap berjuang untuk menemukan cahaya yang membawa kesembuhan.
Di siang yang bercahaya, Alifa melangkah maju dengan harapan baru. Ia menyadari bahwa semangat dan kekuatan untuk pulih tidak bisa datang dari orang lain, melainkan dari diri sendiri. Meskipun luka itu masih ada, Alifa tetap berdiri teguh, siap menghadapi tantangan hidup dengan ketabahan dan keyakinan yang tak tergoyahkan.
Namun, tiba-tiba dari arah belakang, Alifa disambut oleh kejutan yang menyenangkan. Farah, Atiqah, dan Hanin, ketiga temannya, muncul dengan tiba-tiba. Seolah kilat menyambar di tengah siang yang cerah, kehadiran mereka memecah keheningan Alifa.
"Hayo, ngelamunin apaan?" serentak mereka bertanya dengan senyum dan tawa yang riang. Suara mereka terdengar seperti nyanyian burung-burung kecil yang bersemangat.
Alifa tersenyum dan merasa terhibur oleh kehadiran mereka. Seperti angin yang membelai pipi, keceriaan teman-temannya menyapu hati Alifa dan membawanya kembali ke momen kebersamaan yang penuh kebahagiaan.
"Kalian tahu deh, sedang terbang sendiri ke dunia pikiranku," jawab Alifa dengan senyum yang lebar. Kata-katanya terdengar seperti gurauan alam semesta yang berpadu dengan gemerlap bintang di langit.
__ADS_1
Tanpa beban dan tanpa rasa sedih, Alifa merasa dikelilingi oleh cinta dan kehangatan persahabatan. Seperti kembang api yang menerangi langit malam, kehadiran ketiga temannya memberikan semangat baru dan mengingatkannya bahwa kebahagiaan terletak dalam ikatan persahabatan yang tak tergantikan.
Dalam tawa mereka yang terdengar, suasana kian riuh dan penuh keceriaan. Seiring langit yang berubah warna, mereka melanjutkan perbincangan dengan leluasa, membangun kenangan yang tak akan terlupakan.
Di dalam kebersamaan itu, Alifa merasa seperti burung yang kembali terbang di langit biru. Bersama teman-temannya, ia merasakan kebebasan dan kehangatan yang mengusir semua luka dan kekecewaan yang pernah ada.
Tidak lama setelah keceriaan mereka mencapai puncaknya, penjaga perpustakaan datang dengan langkah tegas. Ia menegur mereka dengan ramah tapi tegas, meminta mereka untuk memelankan suara karena mengganggu pengunjung lain di perpustakaan yang sedang belajar dengan konsentrasi.
Alifa dan ketiga temannya, Farah, Atiqah, dan Hanin, segera menurunkan volume suara mereka dengan tertawa kecil yang mencerminkan pengertian mereka terhadap situasi tersebut. Seperti angin yang berhembus halus, keceriaan mereka berubah menjadi ketenangan.
Duduk di meja yang tersedia, mereka melanjutkan pembicaraan dengan suara rendah. Topik pembicaraan mereka berubah dari kehidupan pribadi menjadi materi-materi kuliah, tugas-tugas kampus, dan persiapan ujian yang menanti mereka. Suara mereka terdengar seperti bisikan halus, menghiasi perpustakaan dengan energi yang penuh konsentrasi.
Alifa mengambil buku-buku dan catatan-catatan yang diperlukan, merasa terinspirasi oleh kehadiran teman-temannya. Seperti api yang menyala dalam gelapnya malam, semangat mereka membakar semangat Alifa untuk terus belajar dan berprestasi di dunia akademik.
Dalam kesunyian yang produktif, mereka saling membantu satu sama lain. Seperti titik-titik pencahayaan yang memandu di kegelapan, mereka bertukar ide, memberikan saran, dan menjelaskan konsep-konsep yang sulit. Suara mereka terdengar seperti aliran sungai yang tenang, membawa kearifan dan pengetahuan.
Alifa merasa beruntung memiliki teman-teman seperti mereka. Mereka adalah pilar dukungan, bukan hanya dalam momen keceriaan, tetapi juga dalam perjuangan akademiknya. Mereka adalah teman sejati yang membantu Alifa tumbuh dan berkembang, seperti air yang memberi kehidupan pada tanaman yang menghijau.
Dalam keterikatan mereka terhadap materi kuliah, tugas-tugas, dan impian akademik, Alifa merasa terpanggil untuk berjuang lebih keras. Ia yakin bahwa dengan dukungan teman-temannya, ia dapat mengatasi tantangan apa pun yang dihadapinya di kampus.
Dalam keheningan perpustakaan yang kini bersemi dengan semangat belajar, Alifa dan teman-temannya terus membaurkan energi mereka untuk meraih masa depan cerah yang mereka impikan. Dalam kebersamaan yang terjalin, mereka menemukan kekuatan dan inspirasi untuk melangkah maju, meraih kesuksesan akademik, dan mewujudkan impian mereka satu per satu.
__ADS_1
...****...