
Hari ini adalah hari pertama Alifa menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL). Ia sangat sadar betapa pentingnya datang tepat waktu karena ayahnya memiliki reputasi sebagai pemimpin yang tegas, bijaksana, jujur, dan disiplin. Ayah Alifa selalu menunjukkan ketepatan waktu dalam segala hal, dan ini membuat Alifa merasa tertekan. Ia tahu bahwa jika ia sampai terlambat, maka hal itu akan menjadi bahan gosip atau ejekan dari orang-orang di sekitarnya. Bahkan ayahnya sendiri sering kali marah jika Alifa tidak tepat waktu.
Alifa mengingat masa-masa sekolahnya, di mana ia pernah bangun kesiangan dan akibatnya tidak diberikan ongkos dan uang jajan oleh ayahnya. Namun, Alifa beruntung memiliki teman yang rumahnya berada searah dengan rumahnya. Temannya sering menelepon Alifa untuk berangkat dan pulang bersama dan Alifa selalu dengan senang hati menyetujuinya.
Lalu, sejak memasuki dunia kuliah, Alifa belajar untuk menjadi lebih disiplin dalam mengatur waktu. Ia berusaha sebaik mungkin untuk tidak datang terlambat ke kampus atau acara-acara lain yang mengharuskannya hadir. Alifa menyadari bahwa ketepatan waktu adalah sikap yang penting untuk mencapai kesuksesan di masa depan, baik dalam karier maupun kehidupan pribadi.
"Alifa ...! Udah jam berapa sekarang? Jangan sampai terlambat ke kantor." Suara Pak Zaidan, ayah Alifa, menggema di segala sudut ruangan.
"Iya, Yah. Sebentar lagi Alifa selesai," sahut Alifa dari dalam kamar.
Alifa buru-buru memakai memakai jilbabnya dan segera keluad kamar, lalu bergegas turun karena kamar Alifa berada di lantai paling atas. Alifa melangkag
Baru mau menuruni anak tangga, Alifa ingat kalau belum bawa kaus kaki.
"Astaghfirullah. Kaus kakiku ketinggalan," ujar Alifa dan kembali ke kamarnya.
Suara Pak Zaidan yang begitu merdu sampai Alifa hapal dengan nyanyian ayahnya saban hari karena sering didengar, kembali menggema di telinga Alifa.
"Alifa, sayang. Coba kalau habis salat subuh itu, jangan tidur lagi. Langsung mandi biar seger. Terus olahraga kek, biar sehat."
"Iya, Ayah. Sebentar, ini kaus kaki Alifa hampir ketinggalan. Alifa ambil kaus kaki dulu." Alifa langsung mengambil sepasang kaus kakinya dan memastikan kembali, semua berkas dan apa-apa yang perlu dibawa, sudah dibawa semua.
Alifa langsung meluncur ke lantai dasar. Lalu ke ruang tamu karena ayahnya sudah menunggu sedari tadi. Alifa meletakkan sepatunya yang dibawa dari rak sepatu di dekat kamarnya, langsung meletakkan di depan pintu.
"Alifa udah sarapan apa belum?" tanya Pak Zaidan.
Alifa memperlihatkan giginya sebelum menjawab pertanyaan sang ayah. "Belum sih, Yah. Tapi Alifa udah mau terlambat ini," ujarnya sambil melihat arlogi di tangan kirinya.
"Masih 30 menit lagi. Sarapan dulu. Jangan mengabaikan kesehatan," ujar Pak Zaidan.
"Iya, Yah. Alifa sarapan dulu deh," jawab Alifa dengan melangkahkan kakinya ke dapur.
Tiba di dapur, Alifa sarapan dengan terburu-buru, seakan sedang ikut lomba makan. Siapa yang habis duluan, ia adalah pemenangnya.
Ibu Nisa, ibunya Alifa, menegur Alifa. "Kalau makan itu, harus pelan-pelan, Alifa."
"Iya, Bu. Maaf. Soalnya ayah udah ngomel-ngomel, tuh," jawab Alifa, lalu meneguk air mineral di dalam gelas bening yang ada di hadapannya.
Ibu Alifa menaikkan alisnya, ia menghembuskan napas pendek.
__ADS_1
"Lagian, kamu juga udah tahu kalau ayahmu itu sangat disiplin waktu, eh ... kamu malah santai seolah hari ini adalah hari libur," ujar Nisa.
Alifa dan ibunya pun ke depan bersama-sama.
...***...
Setelah tiba di kantor perbankan yang dipilihnya sebagai tempat untuk menjalani program penelitiannya, Alifa disambut oleh kepala unit bank.
"Selamat pagi semua! Hari ini saya ingin mengenalkan seorang mahasiswa magang baru di kantor kita. Ini adalah Alifa, yang akan bergabung dengan kita selama beberapa bulan sebagai Mahasiswa PKL. Alifa, mungkin kamu bisa memperkenalkan dirimu?" ujar Kepala Unit mengenalkan Alifa kepada karyawan-karyawan yang bekerja di kantor tersebut.
Alifa merasa senang dan sedikit gugup karena ini adalah pengalaman pertamanya bekerja di lingkungan profesional seperti ini.
Sementara itu, Ayah Alifa yang telah mengantarkannya ke kantor perbankan itu memilih untuk pulang setelah memastikan bahwa Alifa telah diperkenalkan dengan baik kepada rekan kerja dan staf di kantor tersebut. Ayah Alifa mempercayakan Alifa sepenuhnya untuk menjalani praktik kerja lapangan dan belajar di tempat yang dipilihnya sendiri. Ia memberikan doa dan dukungan kepada Alifa sebelum pulang.
Setelah Ayah Alifa pergi, Alifa merasa bertanggung jawab dan bersemangat untuk memulai penelitiannya. Ia memperhatikan instruksi dari kepala unit bank dan pembimbingnya, serta menanyakan hal-hal yang perlu diketahui untuk menjalankan tugasnya dengan baik. Alifa berharap dapat memberikan kontribusi yang berarti selama PKL dan belajar banyak dari lingkungan kerja profesional di kantor perbankan tersebut.
"Selamat pagi semuanya! Nama saya Alifa, dan saya sangat senang bisa bergabung dengan kalian di kantor ini sebagai Mahasiswa PKL. Saya sedang menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi Teknokrat Bandar Lampung, jurusan Sistem Informasi. Saya berharap bisa belajar banyak dari pengalaman di sini dan berkontribusi sebisa mungkin," ujar Alifa dengan hormat menyapa dan berkenalan dengan karyawan-karyawan yang diperkenalkan oleh kepala unit bank.
Mereka memberikan sambutan hangat dan ramah kepada Alifa, mengungkapkan kegembiraan mereka untuk dapat bekerja sama dalam proyek penelitian Alifa.
"Terima kasih, Alifa. Saya yakin kita akan memiliki waktu yang produktif bersama. Sekarang, saya ingin memperkenalkan beberapa staf yang akan menjadi mentor dan pembimbing Alifa selama masa PKL. Pertama, kita punya Ibu Yuli dan Ibu Risma, yang akan membantu Alifa dalam hal pengenalan pekerjaan di departemen keuangan. Mereka bagian Teller. Ibu Yuli atau Ibu Risma, apakah kalian ingin menambahkan sesuatu?" ujar kepala unit yang bernama Handoko Setiawan dan biasa dipanggil Bapak Handoko.
"Oh, begitu? Baiklah, Ibu Risma. Lalu, bagaimana dengan Ibu Yuli, adakah yang ingin disampaikan sebelum Alifa menjalankan masa PKL-nya?" tanya Bapak Handoko dengan tegas, layaknya seorang pemimpin di perusahaan tersebut.
"Selamat pagi semuanya. Saya sangat senang bisa menjadi mentor Alifa selama masa PKL. Saya akan membantu Alifa memahami proses keuangan perusahaan kita, membimbingnya dalam penggunaan perangkat lunak keuangan, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin dia miliki sepanjang perjalanan PKL-nya," ujar Ibu Yuli dengan senyum ramah.
"Terima kasih, Ibu Yuli. Selanjutnya, kita juga punya Ibu Lita, yang akan menjadi mentor Alifa dalam departemen pemasaran. Ibu Lita, apa yang ingin Anda katakan?" tanya Pak Handoko.
Ibu Lita menyambut Alifa dengan hangat. Ia tersenyum sambil berkata, "Selamat pagi semuanya. Saya sangat antusias untuk bekerja dengan Alifa dalam departemen pemasaran. Saya akan membantu Alifa memahami strategi pemasaran, mengenalkannya pada berbagai alat dan teknik pemasaran, serta memberikan tugas-tugas yang relevan dengan bidangnya. Saya berharap kami dapat saling belajar dan tumbuh bersama selama PKL Alifa."
"Terima kasih, Ibu Lita. Oh iya, pada bagian pemasaran ini juga, kita ada Pak Nanang, Pak Dika, dan Pak Budi. Mungkin Alifa bisa bertanya-tanya kepada salah satunya kalau Mbak Lita sedang tidak ada di kantor atau sedang sibuk pekerjaan lainnya," ujar Pak Handoko yang hampir melupakan ketiga karyawannya pada bagian pemasaran juga.
Alifa mengangguk. "Oh, iya. Siap, Pak!" ujar Alifa dengan hormat.
"Kalau kedua orang yang ada di samping Alifa ini, namanya Dera dan Randi. Mereka yang akan membantu Alifa untuk bagian Sumber Daya Manusia (SDM)," kata Pak Handoko.
Bapak Dera dan Bapak Randi menyapa dengan senyum ramah. Alifa membalasnya, "Iya. Salam kenal, Pak Dera dan Pak Randi."
"Nah, yang terakhir, karena tugas utama Alifa ditempatkan pada bagian CS, maka kita memiliki Bapak Andi, yang akan menjadi mentor Alifa pada bagian pelayanan.Bapak Andi, silakan berbagi beberapa kata," ujar Pak Handoko.
__ADS_1
"Selamat pagi semuanya. Saya senang bisa menjadi mentor Alifa pada bagian pelayanan. Selama PKL, saya akan membantu Alifa bagaimana memberikan informasi kepada nasabah/calon nasabah mengenai produk perusahaan kita guna menunjang pemasaran produknya. Saya juga akan membantu bagaimana memberikan informasi saldo simpanan, transfer maupun pinjaman bagi nasabah yang memerlukan guna memberikan pelayanan yang memuaskan kepada nasabah. Saya berharap Alifa dapat memahami pekerjaan di dunia CS secara menyeluruh dan mendapatkan wawasan yang berharga untuk menunjang laporan PKL-nya nanti." Pak Andi berbicara sedikit gugup, mungkin terlalu terpesona dengan kecantikan Alifa dan melihat senyuman Alifa yang membuat semua orang melihatnya merasa adem.
"Terima kasih, Bapak Andi. Baiklah, Alifa, kini kamu telah diperkenalkan dengan tim dan mentor-mentormu. Jika ada pertanyaan atau bantuan apa pun, jangan ragu untuk menghubungi mereka. Semua staf di kantor ini juga siap membantu. Selamat bergabung, Alifa, dan semoga masa PKL-mu menjadi pengalaman yang berharga!
"Terima kasih, Pak Handoko, dan terima kasih kepada semua staf yang telah menerima saya dengan hangat. Saya sangat bersemangat untuk memulai PKL saya di sini dan belajar bersama Bapak/Ibu semua. Saya akan berusaha keras dan bekerja sebaik mungkin," ujar Alifa dengan sedikit menunduk. Lalu, tersenyum.
Saat semuanya akan memulai bekerja, ada tiga orang lagi yang belum diperkenalkan. Salah satu di antara mereka, datang dengan tiba-tiba dan membuat semua orang sedikit kaget.
"Tunggu ...!" ujar Asep dengan seragam putih birunya.
Pak Handoko menautkan alisnya. "Kenapa, Asep? Ada masalah di luar kantor?" tanyanya yang ikutan ngos-ngosan ketika melihat napas Asep tidak beraturan, seakan habis lari maraton, keliling lapangan.
Tanpa basa-basi atau instruksi dari Pak Handoko, Asep langsung memperkenalkan diri. "Hai, Mbak Alifa. Saya Asep."
Pak Handoko tersenyum. "Asep! Asep! Kamu ini, ya. Kalau lihat cewek cantik, matanya langsung bersinar. Semangat banget," ujarnya sambil menggelengkan kepala, menatap Asep. Lalu pandangannya ke arah Alifa. "Oh iya, Alifa, ini namanya Asep. Dia penjaga keamanan di sini. Kalau butuh bantuan masalah parkir atau lainnya, selagi bisa dibantu olehnya, Alifa bisa minta bantuan sama dia, ya!"
Alifa mengangguk. "Baik, Pak! Terima kasih dan salam kenal, Kak Asep!" sapa Alifa dengan ramah.
Asep tersenyum dengan memperlihatkan giginya. "Saya juga siap menjaga hati Mbak Alifa, tetapi tidak mau sekedar parkir aja sih, Pak. Pengennya menetap di hati Mbak Alifa." Baru juga awal Alifa masuk di kantor tersebut, sudah ada saja yang berani menggombali Alifa.
Pak Handoko menggelengkan kepalanya. "Aduh, Asep! Kamu ini, ya!Emm ..., kalau tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, lebih baik kembali bekerja." Perintahnya.
Asep menjawab dengan hormat, "Siap, Pak!" Ia pun kembali ke tempatnya.
Alifa hanya tersenyum melihat tingkah laku Asep karena dia sudah biasa digombali oleh para lelaki. Jadi, semua rayuan itu tidak mempan untuk meluluhkan hatinya.
Baru ingin duduk di kursi yang sudah disediakan. Bapak Handoko yang hendak masuk ke ruangannya, kembali menoleh ke arah Alifa.
"Oh iya, kalau Alifa butuh minum atau makanan, bisa minta tolong sama Mbak Ratih, ya. Sekarang Mbak Ratih lagi ke pasar," ujar Pak Handoko sambil memegang gagang pintu. Siap untuk masuk ke ruangannya.
"Iya, Pak. Terima kasih banyak," ujar Alifa.
Seiring berjalannya waktu, Alifa semakin terbiasa dengan rutinitas dan disiplin waktu yang diterapkan. Ia belajar mengatur jadwal dengan baik, menggunakan alarm, dan memperhitungkan waktu tempuh agar tidak terlambat. Meskipun ada beberapa kali kesalahan atau kejadian tak terduga yang membuatnya hampir terlambat, tetapi Alifa selalu berusaha sekuat tenaga untuk tiba tepat waktu.
Hari pertama PKL Alifa berjalan dengan lancar. Ia bangun pagi dengan alarm yang telah diatur sebelumnya. Setelah bersiap-siap, Alifa meninggalkan rumah dengan tepat waktu. Ia mengingat pesan ayahnya yang selalu menekankan pentingnya ketepatan waktu dan disiplin. Selama PKL, Alifa terus menjaga ketepatan waktunya, menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dengan penuh tanggung jawab.
Di hari pertama PKL, Alifa fokus dalam mengamati dan mengumpulkan data yang diperlukan untuk penelitiannya. Ia aktif berinteraksi dengan karyawan-karyawan di kantor perbankan, menanyakan pertanyaan, dan berdiskusi untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bidang perbankan dan topik penelitiannya.
Dalam perjalanannya, Alifa menemui tantangan dan kesulitan, tetapi ia tidak pernah menyerah. Ia menggunakan kesempatan ini sebagai pembelajaran dan kesempatan untuk mengasah kemampuan dirinya. Alifa tetap berusaha untuk menjadi seorang yang disiplin dan tepat waktu, menghormati aturan dan etika kerja yang berlaku di kantor perbankan.
__ADS_1
...****...