
Pukul 12.00 WIB, seusai kuliah, Alifa merasa sedikit lelah, tetapi juga memiliki keinginan untuk mendekatkan diri pada Tuhan setelah selesai menuntut ilmu. Ia memutuskan untuk mengambil waktu sejenak untuk salat di musala kampus sebelum melanjutkan rencana selanjutnya.
Setelah melaksanakan salat, Alifa merasa lebih tenang dan fokus. Namun, ia juga menyadari bahwa kadang-kadang, perasaan negatif atau depresi bisa datang menghampirinya. Saat itulah, ia mencari cara untuk mengatasi perasaan tersebut dengan cara yang lebih positif. Salah satu cara yang sering ia lakukan adalah pergi ke Mall Boemi Kedaton, yang berlokasi dekat dengan kampusnya.
Sesampainya di mall, Alifa mulai berjalan-jalan tanpa ada rencana tertentu. Beberapa toko menarik perhatiannya dan ia pun memilih untuk membeli beberapa barang kecil yang memang dibutuhkan, seperti pulpen dan jurnal baru untuk menulis. Aktivitas ini, meskipun sederhana, memberikan sedikit kebahagiaan bagi Alifa dan membantunya melupakan sejenak perasaan negatif yang menghantuinya.
Namun, Alifa sadar bahwa berbelanja hanya memberikan kebahagiaan sesaat. Ia tidak ingin terlalu mengandalkan belanja sebagai jalan keluar dari masalah atau perasaan negatif yang lebih dalam. Oleh karena itu, selain berbelanja, Alifa juga berusaha untuk mencari cara-cara lain untuk mengatasi perasaan depresi, seperti berbicara dengan teman-teman dekat atau mencari dukungan dari keluarga.
Alifa percaya bahwa menghadapi masalah dan perasaan negatif dengan cara yang lebih konstruktif adalah jalan yang lebih baik untuk menyelesaikan masalahnya. Ia tahu bahwa belanja hanya menawarkan solusi sementara dan tidak bisa menjadi solusi jangka panjang. Dengan cara ini, Alifa berusaha untuk tetap positif dan berempati pada dirinya sendiri, serta terus mencari cara-cara yang lebih sehat dan berarti untuk mengatasi perasaan negatifnya.
Setelah menghabiskan dua jam berkeliling di Mall Boemi Kedaton, Alifa merasa ingin berbagi kebahagiaan dengan sahabatnya, Farah. Ia berpikir bahwa mungkin Farah juga memiliki waktu luang dan bisa bergabung dengannya untuk bersantai serta menikmati kuliner di mall tersebut.
Alifa pun mengambil ponselnya dan menelepon Farah. "Halo, Farah! Lagi di mana?"
Farah senang mendengar suara Alifa. "Halo, Alifa! Farah lagi di depan perpustakaan, nih! Baru aja keluar dari kelas. Ada apa? Suaramu terdengar sangat semangat gitu," ujarnya tersenyum. Alisnya naik ke atas. Pikirannya bertanya-tanya tentang sahabatnya itu.
Alifa: dengan wajah ceria, mulai menceritakan apa yang baru saja terjadi. "Alifa habis kuliah dan tadi salat di musala kampus. Setelah itu, mampir ke mall yang dekat dengan kampus kita. Seru banget, Farah! Ada banyak toko menarik dan tempat makan yang menggiurkan di sini!"
Mata Farah terbelalak. Ia tertarik mendengarkan cerita Alifa lebih lanjut. "Wah, itu kedengarannya menyenangkan! Alifa belanja apa aja di sana?"
Alifa bercerita dengan penuh semangat. "Aku beli beberapa pulpen dan jurnal baru untuk menulis, serta ada sedikit cemilan juga. Oh ya, tadi aku mampir ke toko buku juga, ada banyak buku bagus di sana."
__ADS_1
Beruntung, Farah juga memiliki jam kosong di jadwalnya dan merasa senang dengan ide untuk bertemu Alifa di mall. Tanpa ragu, Farah setuju untuk bergabung dengannya.
Farah menanggapi dengan antusias. "Bagus, Alifa. Farah turut senang karena Alifa menemukan kesenangan di sana. Oh iya, Farah ada jam kosong untuk jadwal kuliah hari ini. Yah, jam 3 sore ke atas, jadwal Farah free. Sekarang kan masih jam dua siang. Gimana kalau kita ketemu di mall? Farah ingin ikut berkeliling dan mencoba tempat makan baru yang Alifa sebutkan tadi."
Alifa sangat antusias mendengar pernyataan sahabatnya itu. "Serius, Farah? Tentu saja! Itu ide yang bagus. Alifa senang sekali bisa bersama Farah. Kita bisa berjumpa di depan toko buku di lantai bawah ya."
Farah setuju. "Deal! Sampai jumpa di sana. Beberapa menit lagi Farah sampai. Ini Farah udah jalan ke depan gerbang. Farah juga bersemangat untuk bertemu dengan Alifa."
...***...
Di mall, pukul 15.00 sore.
Alifa sambil berpelukan dengan Farah. "Hey, Farah! Senang banget bisa bertemu denganmu."
Alifa memperkenalkan toko-toko. "Ayo, Alifa akan memperkenalkan Farah pada beberapa toko menarik yang sudah disebutkan tadi. Kemudian, kita bisa berkeliling dan melihat-lihat apa yang menarik perhatianmu, Farah."
Farah antusias. "Kedengarannya hebat, Alifa. Farah udah siap untuk petualangan ini," ujarnya dengan semangat membara.
Tanpa menunggu waktu lebih lama, mereka berdua berkeliling mall, berbincang, dan mencari tempat makan yang menarik.
Alifa sambil memperlihatkan tempat makan. "Nah, inilah restoran yang ingin Alifa coba. Katanya makanannya enak banget!"
__ADS_1
Farah memperhatikan menu makanan yang terpampang di dinding dari luar restoran tersebut. Ia pun tertarik setelah membaca semua menunya. "Bagus, mari kita masuk dan pesan makanan. Tadi aku juga mendengar tentang tempat ini."
Di dalam restoran, mereka menikmati makanan lezat sambil bercerita tentang kehidupan masing-masing.
Alifa tersenyum. "Kamu tahu, Farah, Alifa sangat berterima kasih memiliki sahabat seperti Farah. Alifa merasa kalau kita sudah seperti keluarga. Apalagi Farah selalu membuat Alifa bahagia. Yah, kalau ada cekcok di antara kita, namanya juga sebuah hubungan, pasti ada aja perbedaan pendapat dan permasalahan-permasalahan yang bakal terjadi. Ini berlaku dalam hubungan apa pun."
Farah dengan penuh hangat, membalas senyuman Alifa. "Sama-sama. Alifa juga selalu ada untuk Farah dan Farah senang bisa menjadi bagian dari hari yang menyenangkan ini."
Alifa mengangkat gelas. "Baiklah, ini untuk persahabatan kita yang tak tergantikan. Terima kasih sudah membuat hari ini istimewa."
Farah mengangkat gelas juga. "Cheers! Persahabatan kita selamanya."
Keduanya tersenyum bahagia, menikmati momen berharga bersama di mall tersebut.
Waktu berlalu dengan menyenangkan, dan Alifa merasa bersyukur telah mengambil keputusan untuk menghubungi Farah. Sahabatnya itu telah membantu mengubah hari yang awalnya biasa saja menjadi momen yang berarti dan menyenangkan.
Ketika sore hari tiba, mereka berdua mengakhiri kunjungan mereka di mall dengan senyum bahagia di wajah. Alifa menyadari bahwa saat-saat bersama sahabatnya adalah salah satu cara terbaik untuk meredakan perasaan negatif dan mengisi dirinya dengan kebahagiaan yang lebih berarti dan abadi.
Penting bagi Alifa untuk tetap menjalin komunikasi dengan Farah, meskipun mereka tidak bertemu sebanyak dulu. Namun, hubungan persahabatan tetap bisa dijaga meskipun ada jarak fisik, dengan berbicara lewat pesan atau telepon. Mungkin Alifa bisa berbagi cerita tentang apa yang ditemukan dan pelajari selama waktu terpisah, dan juga mendukung langkah-langkah yang diambil oleh Farah dalam perjalanan hidupnya.
Mungkin suatu saat nanti, jika jalan mereka kembali bertemu, maka persahabatan mereka bisa tumbuh dan berkembang lagi dengan cara yang baru dan lebih matang.
__ADS_1
...****...