
Alifa merasa senang dan sedikit gugup saat tiba waktunya untuk melaporkan hasil PKL kepada dosen pembimbingnya, Pak Hasan. Selama tiga bulan menjalani kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di sebuah perusahaan perbankan, Alifa telah bekerja keras untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dan menunjukkan kemampuannya.
Alifa menghampiri ruang kerja Pak Hasan dengan file-file yang berisi laporan-laporan yang telah ia susun dengan rapi. Ia berharap dengan kerja kerasnya, dosen pembimbingnya akan senang dengan hasil yang telah dicapai.
Setelah mengetuk pintu ruangan Pak Hasan, Alifa masuk dan meletakkan file-file laporannya di atas meja. Pak Hasan tersenyum dan menyambutnya dengan hangat.
"Alifa, silakan duduk," kata Pak Hasan.
Alifa duduk di depan Pak Hasan, sedikit gugup tapi tetap berusaha menunjukkan kepercayaan dirinya. Ia memulai presentasinya dengan mengajukan judul, mengapa mengambil judul tersebut, menjelaskan tujuannya PKL di perusahaan tempatnya bekerja, serta tugas-tugas yang telah dilakukan.
Pak Hasan mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali mengangguk atau bertanya untuk memperjelas beberapa hal. Alifa merasa semakin percaya diri ketika melihat respons positif dari dosen pembimbingnya.
Setelah presentasinya selesai, Alifa menyerahkan laporan-laporan yang telah disusun kepada Pak Hasan. Laporan tersebut berisi hasil penelitian, analisis data, dan rekomendasi yang telah Alifa kumpulkan selama tiga bulan PKL.
Pak Hasan mengambil waktu sejenak untuk membaca laporan-laporan tersebut. Alifa duduk dengan tegang, berharap dosen pembimbingnya akan memberikan tanggapan positif.
Setelah membaca dengan seksama, Pak Hasan mengangkat kepalanya dan tersenyum.
"Alifa, karyamu sangat impresif. Kamu telah menunjukkan dedikasi yang luar biasa selama PKL ini. Saya sangat bangga dengan hasil yang kamu capai," kata Pak Hasan.
Alifa merasa sangat lega mendengar pujian tersebut. Semua kerja kerasnya selama tiga bulan terbayar dengan apresiasi dari dosen pembimbingnya. Ia merasa senang bahwa judul yang diajukan untuk penelitiannya telah disetujui dan mendapatkan hasil yang memuaskan.
Pak Hasan kemudian memberikan beberapa masukan dan saran konstruktif kepada Alifa untuk perbaikan lebih lanjut. Ia juga memuji kemampuan analisis dan presentasi Alifa yang sangat baik.
"Kamu sepertinya terlalu cepat ini, bimbingan di hari pertama, sudah sampai bab 3 saja. Padahal biasanya, mahasiswa lain, hanya bimbingan judul. Cerdas juga otak kamu. Semuanya juga nyaris sempurna. Hanya ada perlu sedikit revisi saja," ujar Pak Hasan seraya melemparkan sebuah senyuman.
Alifa membalas senyuman sang dosen. "Soalnya biar cepat selesai, Pak. Kalau sudah punya ide untuk membuat tulisan di laporan PKL-nya, untuk apa lama-lama. Iya, kan, Pak?"
__ADS_1
"Iya. Kamu benar, Alifa. Saya bangga dengan semangatmu. Semoga semuanya dipermudah, ya." Doa Pak Hasan itu menutup pertemuan bimbingan Alifa di hari pertama.
Dengan semangat yang baru, Alifa merasa termotivasi untuk terus berusaha lebih baik lagi. Ia berterima kasih kepada Pak Hasan atas bimbingan dan dukungannya selama PKL.
Dengan melaporkan hasil PKL yang memuaskan kepada dosen pembimbingnya, Alifa merasa puas dengan pencapaian yang telah diraih. Berharap pengalaman ini akan menjadi modal berharga untuk kariernya di masa depan, hingga ia siap untuk menghadapi tantangan yang akan datang.
Dengan senyum sumringah, Alifa keluar dari ruangan dosen pembimbingnya. Ia merasa lega dan bahagia karena mendapat apresiasi yang positif atas hasil PKL yang telah dilaporkan.
Langkahnya terasa ringan saat Alifa berjalan melintasi koridor kampus. Ia merenungkan perjalanan yang telah dilalui selama tiga bulan PKL dan bagaimana usahanya membuahkan hasil yang memuaskan. Perasaan bangga dan puas mengisi hatinya.
Saat melintasi teman-teman seangkatannya, Alifa tak bisa menahan senyumnya yang semakin lebar. Beberapa temannya memperhatikan kegembiraannya dan bertanya, "Alifa, bagaimana hasil laporannya?"
Dengan penuh semangat, Alifa menjawab, "Semuanya berjalan dengan baik! Dosen pembimbingku sangat puas dengan hasilnya. Aku merasa sangat senang dan terbantu dengan bimbingannya. Alhandulillah, judul yang aku ajukan langsung diterima dengan baik."
Teman-teman Alifa tertarik dengan cerita suksesnya. Mereka memberikan ucapan selamat dan bertanya lebih banyak tentang pengalaman PKL Alifa. Alifa dengan senang hati menceritakan detail tentang proyek yang dikerjakan, tantangan yang dihadapi, dan pencapaian yang diraih.
Ketika Alifa tiba di kantin, ia melihat beberapa teman seangkatannya sedang berkumpul di sekitar meja. Mereka sedang merayakan penyelesaian PKL mereka dengan makanan ringan dan minuman.
Beberapa temannya mengangguk dan menceritakan tentang presentasi mereka kepada dosen pembimbing masing-masing. Mereka berbagi cerita tentang pengalaman, tantangan, dan pencapaian yang mereka hadapi selama PKL.
Alifa mendengarkan dengan antusias, memberikan semangat, dan memberikan ucapan selamat kepada teman-temannya atas keberhasilan mereka. Mereka semua merayakan keberhasilan dan saling memberikan dukungan satu sama lain.
Saat menjelang magrib, Alifa dan teman-temannya pulang ke rumah atau tempat kos masing-masing, tetapi dengan kegembiraan yang masih terpancar dari wajah mereka. Mereka menyadari bahwa PKL telah memberikan pengalaman berharga dan meninggalkan kesan yang tak terlupakan dalam perjalanan mereka di dunia akademik dan profesional.
Alifa pulang dengan hati penuh kebahagiaan dan keyakinan. Ia merasa siap menghadapi masa depan dengan segala tantangan dan peluang yang akan datang. PKL telah membuka pintu baru baginya, membantunya tumbuh dan berkembang sebagai seorang profesional.
...***...
__ADS_1
Malam harinya, Alifa duduk di depan laptopnya dengan perasaan yang antusias. Ia telah mendapatkan umpan balik konstruktif dari dosen pembimbingnya dan ingin memperbaiki beberapa hal dalam naskah laporan PKL-nya.
Di sebelahnya, kakaknya sedang sibuk memasak di dapur. Kamar kosan Alifa memang cukup kecil; kamar tidur, ruang tamu, ruang makan, dan dapur, campur menjadi satu. Aroma harum masakan yang menguar membuat perut Alifa berisik, mengingatkannya bahwa makan malam adalah kebutuhan yang harus dipenuhi. Ia merasa lapar dan menyadari bahwa mungkin akan lebih baik jika dia makan malam sejenak untuk mengisi energi sebelum melanjutkan pekerjaannya.
Alifa berdiri dari meja dan melangkah ke arah dapur. Ia melihat kakaknya dengan sibuk mengaduk masakan yang sedang dimasaknya.
"Kak, harum sekali masakannya. Bisakah aku mengambil sedikit makanan sekarang? Aku merasa lapar dan ingin makan malam sebentar sebelum melanjutkan pekerjaanku," kata Alifa dengan lembut.
Kakaknya tersenyum dan mengangguk. "Tentu, Alifa. Ayo, ambil saja makanan yang kamu inginkan. Aku hampir selesai memasak nih!" ucap kakaknya ramah.
Alifa merasa bersyukur memiliki kakak yang perhatian dan pengertian. Ia membuka lemari dapur dan mengambil piring serta sendok. Kemudian, mengambil beberapa hidangan yang telah disiapkan oleh kakaknya. Alifa merasa senang bisa duduk dan menikmati makan malam yang lezat sejenak.
Setelah merasa perutnya cukup terisi, Alifa kembali ke meja kerjanya dengan semangat yang baru. Ia duduk di depan laptopnya, menggigit bibirnya dengan konsentrasi, dan mulai memperbaiki naskah laporan PKL-nya.
Suasana di ruangan itu tenang. Suara ketukan keyboard yang teratur dan aroma teh hangat dari cangkir di samping laptop menciptakan atmosfer yang cocok untuk bekerja. Alifa merasa semakin fokus dengan tugasnya setelah makan malam yang mengisi energinya.
Saat Alifa mengerjakan perbaikan laporan, kakaknya menghampiri dan duduk di sampingnya. "Bagaimana perkembangannya, Alifa? Apakah kamu butuh bantuan?" tanya kakaknya sambil meminum secangkir teh.
Alifa tersenyum. "Terima kasih, Kak. Aku baik-baik saja. Sudah hampir selesai. Aku hanya perlu memperbaiki beberapa bagian dan menambahkan beberapa data tambahan," jawabnya.
Kakaknya mengangguk dan memberikan semangat. "Kamu pasti bisa, Alifa. Aku percaya pada kemampuanmu. Jika ada yang bisa aku bantu, jangan ragu untuk memintanya," ucap kakaknya penuh dukungan.
Mereka berdua melanjutkan kegiatan masing-masing. Alifa dengan tekun memperbaiki naskah laporannya, sedangkan kakaknya kembali ke dapur untuk membersihkan peralatan memasak.
Beberapa jam kemudian, Alifa akhirnya menyelesaikan perbaikan laporan PKL-nya. Ia merasa puas dengan hasil kerjanya dan yakin bahwa laporan ini akan menjadi refleksi yang baik atas upayanya selama PKL.
Alifa melihat jam di dinding dan menyadari bahwa sudah larut malam. Ia menutup laptopnya dengan perasaan lega. Meskipun masih ada beberapa tugas yang harus diselesaikan, Alifa merasa bahwa langkahnya menuju penyelesaian sudah semakin dekat.
__ADS_1
Dengan perut yang kenyang, pikiran yang jernih, dan dukungan dari kakaknya, Alifa siap untuk menghadapi hari-hari terakhir dalam menyelesaikan PKL-nya. Ia berharap dapat mempresentasikan hasilnya dengan baik dan mencapai kesuksesan dalam langkah awal kariernya yang menjanjikan.
...****...