
Di dalam kegelapan yang menggelayut, Alifa merangkak menuju tepian abadi. Kelelahan melanda tubuhnya seperti ombak yang mematahkan tekadnya. Hati yang rapuh terasa seperti bunga layu yang tak berdaya menghadapi terik takdir. Di mata Alifa, dunia terlihat seperti langit yang kusam, tak ada cahaya yang menyinari jalan yang ia tempuh.
Terkungkung dalam siksaan yang tak terucapkan, Alifa merasakan kekuatan hidupnya meredup seperti bara yang nyaris padam. Ia terombang-ambing dalam lautan keputusasaan yang bergelombang tinggi, seperti kapal yang terdampar tanpa arah. Setiap napasnya terasa seperti helaan terakhir, menggambarkan bahwa kehidupannya hampir merenggut napas terakhirnya.
Mentari dalam hati Alifa mulai terbenam, meninggalkan jejak kemuraman di dalam jiwanya. Seperti purnama yang semakin meredup, ia merasa dirinya semakin jauh dari sinar kebahagiaan. Kehidupan yang seolah berjalan pada akhirnya, memunculkan kesan bahwa Alifa telah mencapai batasnya, memasuki akhir dari perjalanan hidup yang terhampar di hadapannya.
Dalam bingkai kesedihan dan keputusasaan, Alifa merasakan tubuhnya seperti kain yang melorot dari tangan tak berdaya. Ia terkulai tanpa daya, bagai burung yang kehilangan kemampuan untuk terbang. Setiap detik yang berlalu seperti masa lalu yang memudar, meninggalkan Alifa dalam kehampaan yang mengguratkan cerita hidup yang teramat suram.
Namun, dalam setiap kemuraman itu, tetes-tetes harapan masih bersemayam di dalam benak Alifa. Seperti titik-titik embun yang menari di atas daun yang layu, harapan itu masih menyala di balik kegelapan. Di antara serpihan kesedihan dan rintihan kelemahan, ia menyadari bahwa perjalanan hidupnya belum berakhir sepenuhnya.
Pada malam hari yang gelap, suasana pulang kakak Alifa, Humaira, bersama temannya, Kinara, diwarnai oleh kekhawatiran dan rasa ketakutan yang tidak terduga. Saat tiba di kosan, mereka berharap untuk menyambut Alifa dengan senyum ceria dan kehangatan, tetapi apa yang mereka temui jauh dari harapan.
Ketika mereka memasuki kamar Alifa, mereka terkejut karena Alifa terbaring di tempat tidur, tidak bergerak sama sekali. Kakak dan temannya dengan cepat memanggil namanya, mencoba membangunkannya, tetapi tak ada respons apa pun. Ketakutan mulai merasuki pikiran mereka, dan jantung mereka berdebar kencang.
Humaira menghampiri Alifa dengan panik, diikuti oleh Kinara.
"Alifa! Alifa! Kenapa kamu tidak merespons? Kamu baik-baik saja?" ujar Humaira dengan jantung yang berdegup kencang. Takut adiknya kenapa-kenapa.
Mereka berdiri di samping Alifa dan saat cahaya lampu remang-remang menyentuh wajah Alifa, mereka melihat keadaannya yang mengkhawatirkan. Wajahnya pucat pasi, seolah-olah tidak ada tetesan warna yang tersisa di kulitnya. Begitu mereka menyentuhnya, mereka merasakan kehangatan yang biasanya ada di tubuh Alifa, telah digantikan dengan dingin yang menusuk tulang.
Kinara dengan khawatir, berkata, "Humaira, apa yang terjadi? Mengapa Alifa terlihat seperti ini? Tubuhnya begitu dingin!"
"Aku juga tidak tahu. Kan kita baru datang," ujar Humaira dengan suara gemetar.
Dalam kegelapan kamar, suasana menjadi semakin tegang. Humaira dan Kinara berusaha untuk menjaga ketenangan mereka, tetapi kekhawatiran semakin membesar di dalam hati mereka. Mereka tidak tahu apa yang terjadi pada Alifa dan itu membuat mereka semakin takut.
Tanpa ragu, Humaira segera menghubungi orang tuanya. Saat telepon tersambung, Humaira mengucap salam dengan suara gemetar. Hal ini membuat ayahnya curiga kalau anaknya sedang ada masalah.
"Ada apa, Kak? Ada masalah di sana kah?" tanya Pak Zaidan yang berusaha tenang.
"Ada apa, Yah?" tanya Ibu Nisa dengan suara berbisik. Terdengar dari ujung telepon.
Pak Zainal tidak merespons pertanyaan istrinya.
"Ada sesuatu yang buruk terjadi, Yah. Alifa pingsan. Tubuhnya pucat pasi dan terasa dingin," ujar Humaira dengan mata berkaca-kaca. Ia berusaha menyeka air mata agar tak keluar.
"Astaghfirullahal 'adziim. Terus kalian di mana sekarang?" tanya Pak Zainal yang mulai merasa cemas.
"Kami berada di kosan, Yah, Alifa terbaring tak bergerak di tempat tidur. Ketika kami mencoba membangunkannya, tidak ada respons sama sekali. Wajahnya begitu pucat, seolah-olah kehidupan telah meninggalkannya. Tubuhnya terasa dingin, seperti mayat."
Sementara Humaira berbicara dengan ayahnya, Kinara membantu merangsang tubuh Alifa agar bangun. Namun, hasilnya nihil.
Humaira yang melihat keadaan adiknya yang memprihatinkan, semakin khawatir.
Ibu Nisa mengambil alih telepon yang ada digenggaman tangan suaminya (Pak Zainal). "Tetap tenang, Humaira. Kami akan segera tiba di sana. Coba periksa nadi dan pernapasan Alifa. Jika dia tidak bernapas atau nadi tidak terasa, maka untuk sementara, kamu hubungi nomor alakmu¹, ya, agar bisa dibawa ke rumah sakit."
__ADS_1
"Baik, Bu. Aku akan segera memeriksa nadinya. Tapi tolong segera datang, kami sangat khawatir," pinta Humaira. "Oh iya, Humaira segera menghubungi alak setelah ini. Assalamu'alaikum," lanjutnya.
Setelah percakapan tersebut selesai, Humaira dengan cemas memeriksa nadi dan pernapasan Alifa sambil menunggu kedatangan orang tuanya. Dia berharap dan berdoa agar Alifa segera mendapatkan bantuan medis yang dibutuhkan dan pulih dengan selamat. Lalu, Humaira buru-buru mencari kontak telepon alaknya yang bernama Rosa.
Ketika menunggu kedatangan bantuan, mereka duduk di sekitar Alifa, memandanginya dengan campuran rasa cemas dan harapan. Mereka berharap bahwa Alifa akan segera bangun dan tersenyum seperti biasa, menghilangkan kegelisahan yang melanda mereka.
Humaira menelepon alaknya. "Halo, ada apa, Ra?" tanya Ibu Rosa dengan lembut.
"Alak, Alifa tiba-tiba tidak sadarkan diri dan tubuhnya terasa dingin. Ayah memintaku untuk menghubungi Alak," ujar Humaira sambil memencet-mencet sela-sela jari kaki Alifa yang masih terasa dingin.
"Astaghfirullahal'adziim. Gimana ceritanya, kok bisa Alifa tidak sadarkan diri? Belum makan kah dia atau bagaimana?" tanya Ibu Rosa dengan nada cemas.
"Aku juga tidak tahu, Lak. Soalnya aku baru pulang, pas manggil-manggil Alifa, dia tidak menyahut. Lalu, Humaira mendekat ke arahnya, ternyata dia pingsan. Saat menyentuh tubuhnya, rasanya dingin banget."
"Ya sudah, kamu tunggu di sana, ya. Alak segera ke sana."
"Iya, Lak. Terima kasih," ujar Humaira seraya menutup teleponnya.
Ibu Rosa dan anak semata wayangnya yang laki-laki pun langung menuju kosan Alifa dan Humaira.
Saat Humaira dan Kinara menunggu, suara detak jam di dinding kamar terdengar dengan jelas, mengingatkan mereka pada setiap detik yang berlalu. Setiap detik terasa seperti keabadian, saat mereka mencoba untuk tetap tenang dalam situasi yang penuh ketidakpastian.
Teman-teman dan ibu kosan Alifa yang mendengar kericuhan yang terjadi di dalam kamar Alifa, langsung menghampiri.
Humaira tidak bisa berkata-kata lagi. Kinara membantu menjawab, "Alifa pingsan. Sampai sekarang belum juga ada respons dari tubuhnya."
Gina dengan logat batak dan suara lantang terkejut melihat sekujur tubuh Alifa yang pucat. Ketika disentuh tubuh Alifa, rasanya dingin sekali.
"Humaira sudah telepon orang tua belum?" tanya ibu kos.
"Su-sudah, Bu. Me-mereka sedang da-dalam perjalanan," jawab Humaira dengan terbata-bata.
"Terus apa kata mereka?"
"Ayah dan Ibu sedang dalam perjalanan ke sini. Saya juga sudah telepon alak. Beliau akan tiba beberapa menit lagi dan membawa Alifa ke rumah sakit."
...***...
Akhirnya, dengan penantian yang panjang, Ibu Rosa tiba di kosan dan Alifa segera dilarikan ke rumah sakit.
Humaira dan Kinara membawa barang-barang Alifa ke mobil. Sedangkan Alifa dibopong oleh abang sepupunya (Fatan) menuju rumah sakit dengan cepat.
Di sana, mereka berharap bahwa para dokter akan menemukan jawaban atas kondisi misterius yang menimpa Alifa. Sembari berdoa, mereka berharap yang terbaik untuk Alifa, terutama berharap agar Alifa segera pulih.
Dalam suasana ketegangan dan ketidakpastian, malam itu meninggalkan kesan yang mendalam di hati Humaira dan Kinara. Mereka akan selalu mengingat rasa khawatir dan ketakutan yang mereka rasakan saat melihat Alifa dalam keadaan yang tak bergerak dan tidak responsif. Keadaan Alifa yang pucat dan dingin seperti mayat menjadi gambaran yang membekas dalam pikiran mereka, mengingatkan betapa rapuhnya kehidupan dan pentingnya menghargai setiap momen yang kita miliki.
__ADS_1
Humaira gelisah. "Tolong Alifa, semoga kamu baik-baik saja. Kita sudah hampir sampai ke rumah sakit, tetaplah kuat!" ujarnya sambil menggenggam erat tangan adiknya.
"Semuanya akan baik-baik saja, Humaira. Rumah sakit akan memberikan perawatan yang dibutuhkan Alifa. Kita harus tetap tenang dan berdoa untuknya," ujar Kinara, menenangkan.
Hingga akhirnya, mereka tiba di rumah sakit dan membawa Alifa ke Unit Gawat Darurat (UGD). Sementara, Ibu Rosa sibuk menelepon anggota keluarganya yang lain.
Salah satu petugas medis menghampiri mereka. "Apa yang terjadi? Bagaimana dia bisa sampai seperti ini?"
Humaira hampir menangis. "Kami tidak tahu, Sus. Kami pulang dan menemukannya tak sadarkan diri, tubuhnya pucat dan dingin."
"Baiklah, kami akan segera merawatnya. Kami akan memberikan yang terbaik untuk Alifa. Tetaplah tenang dan berikan informasi yang diperlukan kepada resepsionis," ujar petugas medis yang merupakan seorang perempuan bertubuh langsing seperti gitar spanyol.
Humaira, Kinara, Ibu Rosa, dan Fatan duduk di ruang tunggu, menunggu informasi tentang keadaan Alifa.
Kinara memegang tangan Humaira seraya berkata, "Semuanya akan baik-baik, Humaira. Alifa akan mendapatkan perawatan yang terbaik di sini. Kita harus tetap kuat untuknya."
Humaira mengangguk dengan linangan air mata. "Aku hanya berharap dia baik-baik saja. Tolong bantu doa agar Alifa cepat pulih, ya!" pintanya.
Di ruang tunggu, Humaira dan Kinara menunggu dengan harapan serta kekhawatiran yang mendalam, berdoa agar Alifa segera pulih dan kembali siuman.
Ibu Rosa masih sibuk menelepon. Hingga panggilan terakhir, tertuju kepada ayah Alifa dan Humaira.
"Zainal, kami sudah berada di rumah sakit. Kamu sudah sampai mana?"
"Sekitar satu setengah jam lagi, kami akan segera tiba, Kak. Tolong kabari saya bagaimana perkembangan Alifa, ya. Terima kasih banyak." Pak Zainal mempercepat sedikit laju mobilnya.
Ibu Nisa mengingatkan keselamatan itu penting. Jangan sampai, Alifa sudah masuk rumah sakit, mereka juga ikutan masuk. Ibu Nisa minta suaminya agar berhati-hati dalam mengendarai mobil.
"Pelan-pelan saja, Yah, yang penting sampai pada tujuan." Ibu Nisa sambil melihat keadaan di depan karena hari sudah malam, sedangkan suaminya mengendarai mobil dalam keadaan panik. Jadi, Ibu Nisa terus memantau keadaan agar tidak terjadi hal yang diinginkan.
Di ruang perawatan rumah sakit yang terang, Alifa terbaring lemah di tempat tidur, mengandalkan bantuan tabung oksigen untuk bernapas. Suasana di sekitarnya dipenuhi oleh bising alat-alat medis dan aroma antiseptik yang khas. Meskipun Alifa mendapatkan perawatan yang intensif, kesadarannya masih belum pulih.
Dokter dan perawat dengan penuh kehati-hatian mengawasi kondisi Alifa, mencoba segala cara untuk membangunkannya dari keadaan tidak sadar. Dalam upaya terakhir, jarum suntik disisipkan dengan lembut di tangan Alifa, berharap akan memberikan rangsangan yang diperlukan untuk memicu respons dari tubuhnya.
Namun, meski jarum menusuk kulitnya, Alifa tetap dalam keadaan tidak responsif. Seperti sebuah rahasia yang dipegang erat oleh tubuhnya, ia tampak enggan untuk membuka mata dan memperlihatkan kehadiran kesadaran. Semua yang ada di sekitarnya, bahkan rasa sakit fisik, tidak mampu memaksanya untuk kembali ke dunia yang sadar.
Teman-teman kosan Alifa bersama Ibu dan Bapak Kos, tiba di rumah sakit. Mereka turut mendoakan Alifa dan mengikuti perkembangan keadaan gadis berkulit kuning langsat, tubuh mungil, dan orangnya sangat ceriwis. Mereka merindukan keceriaan Alifa dan cerita-cerita yang selalu dibagikan saban hari.
Dalam keheningan yang tegang, keluarga dan teman-teman kosan Alifa menahan napas mereka, berharap akan ada tanda-tanda kehidupan yang muncul. Namun, waktu berlalu, Alifa tetap terjebak dalam dunia yang gelap dan misterius, tak tergoyahkan oleh apa pun yang dilakukan oleh tim medis yang berdedikasi.
Rasa khawatir dan frustrasi melanda mereka semua. Setiap mata memandang Alifa dengan harapan, sementara dalam hati mereka memanjatkan doa-doa yang penuh harapan. Mereka ingin sekali melihatnya kembali tersenyum dan berbicara seperti biasa. Namun, keheningan sepertinya menjadi teman setia, terus menemaninya dalam kegelapan.
Di tengah keputusasaan yang melingkupi mereka, mereka bersatu dalam kekuatan kasih sayang dan harapan. Alifa masih belum bangun, tetapi keinginan mereka untuk melihatnya pulih dan kembali berada di antara mereka tidak pernah padam. Mereka tetap bertahan, siap untuk mendukung Alifa dalam perjalanan yang tak terduga ini, meskipun mereka tidak tahu berapa lama lagi cobaan ini akan berlangsung.
...****...
__ADS_1