
Beberapa hari kemudian, setelah melewati masa istirahat yang diperlukan untuk pemulihan penyakit komplikasinya, Alifa akhirnya diberi izin oleh dokter dan ibunya untuk kembali kuliah. Meskipun demikian, ia tetap diharuskan menjalani pemeriksaan rutin sebagai bagian dari proses penyembuhannya dan menjaga pola makan yang sehat.
Alifa sangat bersemangat dengan izin yang diberikan tersebut. Setelah beberapa minggu terjebak di rumah sakit lalu berlanjut terkurung di kosan karena sakit, ia merasa senang dapat kembali ke kegiatan sehari-hari dan mengejar pendidikannya. Meskipun masih perlu menjalani pemeriksaan rutin, Alifa yakin bahwa ia dapat mengatasi hal itu.
Setiap minggu, Alifa secara teratur mengunjungi dokter untuk memeriksa kondisi kesehatannya. Dokter memberikan pengawasan yang cermat terhadap penyakit komplikasinya dan memberikan rekomendasi yang sesuai untuk pemulihan yang optimal. Alifa sangat menghargai upaya dokter dan bersikap kooperatif dalam menjalani setiap pemeriksaan yang diperlukan.
Selain itu, ibu Alifa juga membantu memastikan bahwa Alifa menjaga pola makan yang sehat. Ibu Alifa memasak makanan bergizi dan seimbang untuknya, memastikan bahwa ia mendapatkan semua nutrisi yang dibutuhkan untuk pemulihan yang cepat. Alifa menyadari betapa pentingnya pola makan yang tepat untuk mempercepat proses penyembuhan dan mempertahankan kesehatan secara keseluruhan.
Alifa mengenakan tas kuliahnya dengan semangat yang membara saat keluar dari kamarnya di kosan. Setelah berhari-hari terbatas di dalam ruangan yang sama, ia merasa begitu lega bisa keluar dan melangkah ke dunia luar. Cahaya matahari pagi menyambutnya dengan hangat dan angin sejuk menyentuh pipinya saat ia berjalan menuju pintu keluar.
"Hai Alifa, apa kabar? Sudah sembuh sepenuhnya kah?" tanya Ibu Kosan.
"Hai, Ibu! Alhamdulillah, saya sudah merasa jauh lebih baik sekarang. Proses penyembuhan memang memakan waktu, tapi saya sudah diizinkan oleh ibu saya untuk kembali masuk kuliah," jawab Alifa sambil memperhatikan jarum jam pada arlogi di tangan kirinya.
"Wah, itu kabar bagus, Alifa! Aku senang mendengarnya. Bagaimana perkembanganmu?" tanya Tia sambil membenarkan kacamatanya.
"Iya, gimana kesehatan lu, Fa? Udah bener-bener sembuh belum? Jangan dipaksakan masuk kuliah dulu kalau emang belum sembuh," ujar Meli dengan gaya bicaranya yang khas. Ia memang anak yang suka ceplas-ceplos, terkadang ucapannya tidak bisa dikendalikan, tetapi ia termasuk teman yang sangat peduli.
"Terima kasih, teman-teman. Alifa masih menjalani pemeriksaan rutin dan menjaga pola makan yang sehat, tapi alhamdulillah nih, kondisi kesehatan semakin membaik. Dokter memberikan perhatian yang baik dan Alifa berusaha untuk mengikuti semua petunjuknya."
"Apa kamu merasa cukup kuat untuk kembali kuliah, Alifa?" tanya Tia dengan cemas.
"Ya, aku merasa cukup kuat sekarang. Aku ingin mengejar ketinggalan dalam kuliah dan menyelesaikan tugas-tugas yang tertunda. Tetapi aku juga tahu bahwa aku harus tetap memperhatikan kesehatan dan tidak berlebihan dalam melakukan aktivitas," jawab Alifa dengan helaan napas panjang.
"Bagus, Alifa! Kami semua mendukungmu. Jika ada yang bisa kami bantu, maka jangan ragu untuk mengatakannya. Kesehatanmu adalah prioritas utama," ujar Ibu Kosan yang kerap disapa Ovi itu.
"Jangan khawatir, Alifa. Kami akan selalu ada untukmu kalau butuh pertongan," ujar Meli yang sedang bijak.
"Ya, setuju! Jangan pernah merasa sendirian, karena kita adalah keluarga di kosan ini," ujar Tia seraya memegang tangan Alifa dengan lembut. Lalu, Tia seakan sedang melakukan telepati dengan salah satu buku yang akan kami pasarkan.
__ADS_1
"Terima kasih, semuanya. Aku benar-benar beruntung memiliki teman-teman seperti kalian. Dukungan dan bantuannya berarti banyak bagikua. Aku berjanji akan memberikan yang terbaik dan tetap menjaga kesehatan."
"Itu yang ingin kami dengar, Alifa. Jangan ragu untuk memberi tahu kami kalau ada hal yang bisa kami lakukan untuk membantumu. Semoga kamu semakin kuat dan sukses dalam perjalanan kuliahmu," ujar Tia.
"Terima kasih, Bu. Alifa akan memberitahu Ibu kalau ada sesuatu yang dibutuhkan. Alifa sangat menghargai perhatian dan dukungan dari kalian semua."
"Semoga proses penyembuhanmu terus berjalan dengan baik, Alifa. Kami akan selalu ada untukmu," ujar Tia penuh semangat.
"Pasti, Alifa! Jangan ragu untuk menghubungi kalau butuh bantuan. Kita akan saling mendukung satu sama lain!" ujar Meli antusias.
"Terima kasih, teman-teman. Aku sangat beruntung memiliki kalian di sisiku. Kalian memang seperti keluarga keduaku selama merantau," ujar Alifa haru.
...***...
Alifa melihat sekeliling, menikmati pemandangan yang biasanya dilewatkan ketika ia sakit. Pohon-pohon di sepanjang jalan tampak lebih hijau, dan bunga-bunga yang beraneka warna mewarnai trotoar. Suara langkah kaki dan tawa mahasiswa lain memenuhi udara, memberikan kehidupan baru pada rutinitasnya.
Dengan hati yang penuh rasa syukur dan semangat, Alifa melangkah maju. Ia tahu perjalanan pulihnya masih berlanjut, tetapi ia siap menghadapinya. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap patuh pada petunjuk dokter dan menjaga pola makan yang sehat.
Dalam perjalanan ke kampus, Alifa merasa bersyukur dan bersemangat. Ia memahami bahwa proses penyembuhan membutuhkan waktu dan dedikasi, tetapi ia siap untuk menghadapinya. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk mengikuti petunjuk dokter dan menjaga pola makan yang sehat.
Di kampus, Alifa menemukan dukungan dari teman-teman sekelasnya. Mereka membantu dan memahami situasinya, memberikan semangat dan bantuan saat diperlukan. Dengan bantuan mereka, Alifa dapat menyesuaikan diri kembali dengan kehidupan kuliah dan memfokuskan diri pada studinya.
"Nanti Alifa bawa saja catatanku, biar Alifa bisa salin dan pelajari materinya. Kalau ada yang belum paham, insyaa Allah, aku bisa bantu menjelaskan," ujar Farah dengan senyumnya yang khas, memperlihatkan giginya yang berbehel.
Alifa menjawab dengan senyum haru, "Iya, Farah. Terima kasih banyak, ya."
"Tidak perlu terima kasih, Alifa. Kita teman dan saling membantu adalah hal yang harus kita lakukan. Aku senang bisa membantumu mengejar ketinggalan dalam kuliah."
"Aku sungguh beruntung memiliki teman sepertimu, Farah. Kamu selalu peduli dan siap memberikan dukungan. Aku benar-benar menghargai semua bantuannya."
__ADS_1
"Ah, jangan bilang begitu. Kita saling mendukung, bukan? Itulah yang namanya teman sejati. Kita bisa melewati ini bersama-sama."
"Ya, benar. Bersama-sama, kita bisa melewati semua rintangan. Aku berjanji akan menghargai bantuanmu dan berusaha semaksimal mungkin untuk mengejar ketertinggalan. Terima kasih lagi, Farah."
"Kamu tidak perlu berterima kasih terus, Alifa. Kita tim, kita saling membantu. Ayo, sekarang kita fokus pada perjalanan kuliah kita. Aku yakin kamu akan berhasil."
"Aku yakin juga, Farah. Dengan dukunganmu dan bantuanmu, aku pasti bisa mengatasi semua ini. Mari kita mulai dengan semangat baru."
"Betul sekali! Ayo kita tunjukkan kepada dunia bahwa kita tidak bisa dihentikan oleh rintangan. Kita akan berhasil bersama, Alifa!"
"Ya, kita akan berhasil bersama. Terima kasih sekali lagi, Farah. Aku beruntung memiliki teman sepertimu."
"Sama-sama, Alifa. Aku akan berusaha untuk selalu ada di sisimu. Mari kita mulai petualangan kuliah ini dengan semangat dan kebersamaan."
Persahabatan Alifa dan Farah begitu hangat dan erat, seperti keluarga yang saling mendukung. Mereka bukan hanya sekadar teman, tetapi telah menjadi pilar kekuatan satu sama lain. Seperti tali yang mengikat hati mereka, persahabatan ini tumbuh dan berkembang dengan indah, menghadirkan kehangatan yang memeluk mereka di setiap langkah perjalanan mereka.
Alifa dan Farah adalah sahabat sejati, penuh dengan kebaikan dan kesetiaan. Seperti sinar matahari yang menerangi hari, senyuman Farah yang khas selalu mampu membuat Alifa merasa aman dan nyaman. Dalam setiap perbincangan mereka, suara tawa mereka berpadu seperti melodi yang indah, membangun atmosfer kegembiraan dan kehangatan di sekitar mereka.
Ketika Alifa merasa terjebak dan tertekan oleh kesulitan, Farah selalu ada di sana untuk menawarkan tangannya yang hangat. Ia memberikan catatannya dengan tulus, bukan hanya sebagai bahan pelajaran, tetapi juga sebagai bukti betapa ia peduli. Seperti mata air yang mengalir dalam gurun tandus, penjelasan Farah menghidupkan kembali semangat dan harapan dalam hati Alifa.
Dalam kebersamaan mereka, Alifa merasa terlindungi dan didukung sepenuhnya. Farah hadir seperti pelindung yang teguh, siap menghadapi badai dan mengatasi segala rintangan yang mungkin muncul di jalan mereka. Mereka saling menguatkan, mengingatkan satu sama lain akan kekuatan yang ada di dalam diri mereka.
Persahabatan mereka bukan hanya tentang berbagi sukacita, tetapi juga tentang menemani satu sama lain dalam kesedihan. Ketika Alifa merasakan kelelahan atau keputusasaan, Farah hadir sebagai tempat berteduh yang nyaman. Ia memberikan dukungan tak terbatas, menawarkan telinga yang siap mendengarkan dan bahu yang siap untuk bersandar.
Persahabatan Alifa dan Farah seperti akar yang terjalin erat, mengikat mereka dalam ikatan yang tak terpisahkan. Ketika satu dari mereka merasakan kebahagiaan, yang lainnya juga merasakan kebahagiaan yang sama. Mereka berbagi impian dan aspirasi, saling mendorong untuk meraih keberhasilan dan kebahagiaan.
Persahabatan mereka adalah tempat di mana hati mereka saling berbagi, tempat di mana mereka tumbuh dan berkembang bersama. Seperti keluarga yang dipilih sendiri, Alifa dan Farah saling mendukung dengan penuh cinta dan pengertian. Mereka adalah sumber kekuatan satu sama lain dan bukti nyata bahwa persahabatan sejati dapat menjadi anugerah yang tak ternilai.
Dalam kehangatan persahabatan mereka, Alifa dan Farah menemukan kekuatan untuk menghadapi segala tantangan. Dalam setiap perjalanan hidup, mereka berjalan berdampingan sebagai sahabat sejati yang saling menginspirasi dan mendorong untuk menjadi yang terbaik.
__ADS_1
...****...