Catatan Mahasiswa Akhir

Catatan Mahasiswa Akhir
Menemukan Rumah Baru


__ADS_3

Di sebuah rumah sakit yang tenang, suasana ruangan terisi dengan kebisingan mesin-mesin medis yang berdetak dan hiruk pikuk para pasien yang sedang menjalani perawatan. Alifa, seorang wanita muda yang tengah berjuang melawan penyakitnya, menghabiskan harinya dengan duduk di tempat tidurnya yang dingin, dengan ekspresi lesu dan penuh ketidakpercayaan. Setelah mengalami banyak kekecewaan dalam hubungan asmara masa lalu, hatinya menjadi kaku dan ragu untuk membuka diri kepada orang lain.


Tiba-tiba, pintu ruangan itu terbuka perlahan, dan Alim, seorang pria dengan pandangan tegas dan teguh, muncul di ambang pintu. Alifa terkejut melihatnya. Alim adalah seseorang yang kerap kali membuatnya kesal dengan sikapnya yang terkadang ceroboh dan tanpa pemikiran. Namun, kali ini Alifa merasa berbeda. Ada sesuatu dalam ekspresi Alim yang berbeda dari sebelumnya, Alifa merasakan adanya kehangatan dan ketulusan yang terpancar darinya.


"Dia datang menjengukku? Mengapa dia mau meluangkan waktunya untukku?" batin Alifa sambil mencoba mengendalikan gejolak perasaannya yang bercampur aduk.


Alim menghampiri tempat tidur Alifa dengan hati-hati, menghindari mengganggu tabung infus dan kabel-kabel medis yang melilit tubuhnya. Ia tersenyum lembut, mencoba menenangkan Alifa yang tampak gugup.


"Alifa, aku tahu hubungan asmaramu yang lalu membuatmu menderita. Aku berjanji bahwa aku berbeda. Aku ingin membuktikan padamu bahwa ada laki-laki yang bisa membuatmu bahagia dan nyaman," ucap Alim dengan suara lembut dan tulus.


Alifa terdiam sejenak, memandang wajah Alim yang tampak serius dan penuh harapan. Hatinya berdebar kencang, masih ragu untuk memberikan kepercayaannya. Trauma masa lalu membuatnya takut untuk terluka lagi. Namun, ia juga merasa penasaran dengan niat baik Alim.


Beberapa hari kemudian, Alim kembali menjenguk Alifa. Kali ini, ia membawa buku kesukaan Alifa dan membacakannya dengan suara lembut di samping tempat tidur. Alifa mendengarkan kata-kata yang terlontar dari bibir Alim dengan hati yang berbunga-bunga. Alim tampak benar-benar peduli dan berusaha menghibur Alifa di saat-saat yang sulit.


Lama kelamaan, Alifa merasa hatinya mulai meleleh. Keberanian dan ketulusan Alim membangkitkan harapan baru di dalam dirinya. Meski masih ragu dan takut terluka lagi, Alifa mulai membuka hatinya pelan-pelan untuk memberikan kesempatan pada Alim.


Minggu demi minggu berlalu, Alim terus hadir di sisi Alifa, memberikan dukungan dan keceriaan. Ia menghadirkan bunga-bunga segar, mengobrol dengan riang, dan terus mencari cara untuk membuat Alifa tersenyum. Setiap hari, Alifa semakin yakin bahwa Alim adalah orang yang berbeda, orang yang mampu meluluhkan hatinya yang beku.

__ADS_1


Pada suatu hari, saat Alifa merasa cukup kuat untuk beranjak dari rumah sakit, Alim mengajaknya untuk berjalan-jalan di taman dekat. Dengan ragu tetapi penuh harapan, Alifa menerima ajakan tersebut. Mereka berjalan berdua, menghirup udara segar, dan berbagi tawa. Alifa merasa senang dan bahagia, seolah beban yang selama ini dipikul perlahan-lahan terlepas.


Lama kelamaan, Alifa menyadari bahwa Alim adalah pria yang sabar dan memahami, seseorang yang rela berjuang untuk mendapatkan hatinya. Trauma masa lalu pun mulai pudar seiring dengan kehadiran Alim yang setia. Perlahan, mereka membangun ikatan yang kuat dan saling percaya.


Di tengah-tengah perjalanan mereka, Alifa merasa telah menemukan cinta sejatinya. Cinta yang membawa kehangatan, kepercayaan, dan kebahagiaan dalam hidupnya. Mereka berdua melewati masa sulit bersama, saling menguatkan dan mendukung satu sama lain.


Rumah sakit yang sebelumnya terasa suram dan dingin, kini menjadi saksi dari perjalanan cinta yang luar biasa antara Alifa dan Alim. Meski trauma masa lalu pernah melumpuhkan hatinya, Alifa akhirnya belajar untuk mempercayai lagi dan memberikan hatinya pada seseorang yang pantas menerimanya. Alifa memang belum mencintai Alim, tetapi ia merasa kalau Alim pantas diberikan kesempatan untuk bisa meyakinkannya dalam hubungan mereka.


...***...


Suatu ketika, Alim memutuskan untuk mengenalkan Alifa kepada keluarganya. Mereka berkumpul di ruang tamu yang hangat, dihiasi senyum dan kegembiraan. Alifa merasakan ketegangan dalam dirinya, khawatir dengan reaksi keluarga Alim terhadap kehadirannya.


Keluarga Alim menerima Alifa dengan tangan terbuka. Mamanya Alim tersenyum lembut dan memberikan salam hangat, serta saudara-saudaranya menyambutnya dengan ramah. Mereka menanyakan keadaan Alifa dengan perhatian, tertarik dengan apa yang ia lakukan, dan mendengarkan ceritanya dengan antusiasme. Alifa merasa seperti memiliki keluarga baru yang menghangatkannya dengan cinta dan perhatian.


Sedangkan papanya Alim, tidak ada di sana karena kedua orang tua Alim sudah lama bercerai. Hingga mamanya menikah lagi dan memiliki anak tiga orang anak dari suami keduanya. Namun, sayangnya—pernikahan kedua mamanya Alim pun kandas. Alifa tidak tahu pasti apa penyebabnya, karena ia pun tidak ingin terlalu ikut campur dengan permasalahan yang ada di keluarga Alim, kecuali memang diminta.


Mamanya Alim bertanya, "Kenapa Alifa mau sama Alim? Padahal Alim kan kadang selengean, keras kepala, dan hidupnya juga kadang tidak jelas."

__ADS_1


Alifa menjawab dengan senyuman, "Alifa juga enggak tahu, Tante, kenapa bisa menerima Alim. Yang jelas, Alifa ingin mencoba menjalin hubungan dengan Alim, memberikannya kesempatan untuk menemani hari-hari Alifa."


"Jangan panggil tante dong, Alifa," pinta mamanya Alim.


"Terus lu mau dipanggil apa, Teh?" sahut adik bungsu mamanya Alim. "Ibu kah?" lanjutnya.


Semua orang tertawa.


"Ya, panggil mama, dong!" tegas wanita paruh baya yang usianya sama dengan kakak sepupu Alifa.


Alifa terkejut mendengar pernyataan itu. Ia terharu, dalam hatinya berkata, "Kenapa Khaleed tidak pernah memperkenalkanku dengan keluarganya, ya? Sedangkan Alim, baru awal menjalin hubungan saja, sudah dikenalkan dengan keluarga besarnya."


Semakin lama Alifa berada di sana, semakin nyaman yang dirasakan. Makan malam bersama keluarga Alim menjadi momen istimewa yang penuh tawa dan keceriaan. Mereka berbagi cerita, menertawakan lelucon satu sama lain, dan saling mendukung dalam kebaikan. Alifa tidak bisa menyembunyikan rasa syukur dan kebahagiaannya, merasa seperti menemukan tempat yang sejati.


Dalam momen itu, Alifa menyadari betapa berani Alim telah mengubah hidupnya. Dengan membuka pintu hatinya dan memperkenalkannya kepada keluarganya, Alim telah memberinya kekuatan untuk menjadi dirinya yang sebenarnya. Alifa merasa dihargai, dicintai, dan diterima apa adanya.


Ketika malam itu berakhir, Alifa pulang dengan perasaan hangat di dadanya. Ia tahu bahwa ia telah menemukan rumah baru yang sejati di dalam keluarga Alim. Keberanian Alim untuk memperkenalkannya kepada orang-orang yang paling penting dalam hidupnya telah mengubah segalanya. Alifa merasa beruntung dan siap menghadapi masa depan dengan keyakinan dan keberanian yang baru ditemukannya.

__ADS_1


...****...


__ADS_2