Catatan Mahasiswa Akhir

Catatan Mahasiswa Akhir
Ditolak Dosen Pembimbing


__ADS_3

Suatu hari, setelah selesai kelas Analisis Laporan Keuangan, Alifa mengikuti dosen yang mengajar tadi. Kebetulan beliau adalah dosen pembimbingnya. Dengan senyum sumringah, Alifa masuk di ruang dosen, di sana ada beberapa dosen yang satu ruangan dengan dosen pembimbingku tersebut.


Alifa memberikan berkas pengajuan judul proposal, berharap diterima dengan baik, tapi ternyata Alifa dapat penolakan.


"Miss. Kenalin, saya Alifa. Saya mau mengajukan judul proposal. Ini berkasnya, Miss," ujar Alifa sambil menyodorkan berkasnya dengan senyuman.


Tak disangka, perempuan yang usianya tidak lagi muda itu memberikan berkas Alifa dengan kasar.


"Judulnya ganti. Saya enggak suka dengan tema yang dibahas," pinta dosen pembimbing Alifa dengan wajah ketus.


Wajah Alifa langsung berubah. Deg! Hatinya berdebar karena habis ditolak. "Ternyata benar ya, gosip yang beredar di kampus ini, kalau ibu ini galak banget," batinnya sambil menatap berkas yang sudah kembali di tangannya


Dengan helaan napas, Alifa berusaha tersenyum. "Baik, Miss. Saya akan ganti judulnya. Saya juga akan cari tempat penelitian yang baru. Terima kasih, Miss."


Alifa membalikkan badannya dan hendak membuka pintu untuk keluar ruangan. Namun, tiba-tiba dosen yang kerap disapa Miss Elda itu menghentikannya. Rupanya beliau tidak tega melihat ekspresi Alifa yang mendadak lemas.


"Saya tidak mau pembahasan perbankan atau asuransi. Soalnya kebanyakan di perusahaan tersebut sudah benar-benar terkomputerisasi. Jadi, kamu bisa cari bahan penelitian lainnya yang memang benar-benar menarik untuk dibahas." Nada Miss Elda mendadak lembut. Entah ada angin apa yang baru saja merasukinya, ternyata beliau bisa lembut juga.


Alifa mengangguk. "Baik, Miss. Berarti kalau misalkan penjualan gitu, boleh ya, Miss?" tanyanya dengan harap walau entah tempat siapa yang akan dijadikan sebagai lokasi bahan proposalnya.


"Emm ..., boleh! Tapi kenapa harus penjualan? Alasannya apa?" Miss Elda bertanya balik.


"Soalnya kan ada beberapa penjualan yang sistem pencatatan laporannya masih manual, maksudnya masih tulis tangan menggunakan nota gitu, Miss. Jadi, dengan adanya pencatatan secara terkomputerisasi ini, bisa memudahkan mereka. Lebih efektif dan efisien juga untuk waktu, tenaga, hemat biaya, serta lainnya." Alifa berusaha menjelaskan dengan pengetahuan yang dimiliki. Ide itu muncul begitu saja tanpa dikonsep sebelumnya. Apa yang ada dalam pikirannya, ia sampaikan kepada dosen pembimbingnya itu dengan harapan kali ini analisis untuk rancangan materi penelitiannya bisa diterima dengan tangan terbuka.


"Baiklah. Bagus juga ide kamu. Saya tunggu pengajuan judul selanjutnya. Emm, tempat penelitiannya sudah ketemu belum?" Miss Elda menatap Alifa dengan serius.


"Belum ada gambaran sih, Miss. Tapi beneran boleh kan, Miss, kalau saya ambil judul tentang penjualan?" Alifa memastikan agar bisa mempersiapkan semuanya.


"Ya, boleh. Yang penting kata saya tadi, jangan bahas perbankan atau asuransi. Terus kalau penjualan, jangan pula sistem yang sudah terkomputerisasi, seperti mini market atau mall gitu," saran Miss Elda dengan lembut. Nada bicaranya benar-benar bisa menyesuaikan. Yah, mungkin menyesuaikan kondisi hatinya.


"Baik, Miss. Terima kasih banyak. Saya akan segera menemui Miss untuk pengajuan judul berikutnya." Alifa membalikkan badan, membuka pintu, dan keluar dengan senyum sumringah.


"Bismillah! Semoga judul selanjutnya bisa langsung di acc. Tinggal nyari tempat penelitiannya dulu nih!" Alifa berbicara pada dirinya sendiri dan menjadi pusat perhatian mahasiswa lainnya yang sedang menunggu giliran bimbingan di beberapa dosen, termasuk yang satu dosen pembimbing dengannya.


Alifa melangkahkan kakinya dengan rasa bahagia dan langsung menuju kosannya. Ia berjalan kaki, melewati jalan tikus karena kosannya memang sangat dekat dengan kampus.


Setelah tiba di kosannya, Alifa mulai mencari referensi dan ide untuk judul proposal barunya. Ia duduk di meja belajar kecilnya dengan laptop terbuka dan beberapa buku serta catatan tersebar di sekitarnya. Alifa merasa semangat karena kali ini ide yang diajukan telah disambut baik oleh dosen pembimbingnya.


"Oke, mari cari beberapa sektor penjualan yang masih menggunakan sistem manual," gumam Alifa sambil memasukkan kata kunci pencarian ke dalam mesin penelusuran. Setelah beberapa waktu mencari, akhirnya ia menemukan beberapa sektor yang menarik perhatiannya.


"Penjualan di pasar tradisional, toko-toko kelontong kecil, atau mungkin usaha kuliner dengan sistem pembukuan manual," pikir Alifa sambil mencatat beberapa potensi bidang penelitian tersebut.


Tidak puas hanya dengan mencari di internet, Alifa juga memutuskan untuk berbicara dengan beberapa temannya yang memiliki pengalaman di berbagai sektor usaha. Ia menginginkan pandangan langsung dari para pelaku bisnis mengenai keuntungan dan tantangan dalam menggunakan sistem manual.


Tiba-tiba, Alifa ingat dengan Alim.

__ADS_1


"Oh iya, kenapa aku enggak coba ngomong sama Alim aja, ya? Siapa tahu dia punya saran tempat untuk penelitianku." Alifa langsung meraih ponselnya dan mencari nomor Alim.


Saat telepon terhubung. Alifa tak lupa mengucapkan salam.


"Alim. Judulku ditolak sama Miss Elda. Disuruh cari judul lain dan ganti tempat penelitian. Kamu ada saran tempat enggak?"


"Ya, aku mana tahu. Kan aku enggak kuliah. Masa anak kuliahan tanya sama lulusan SMA, sih!"


Selalu saja Alim membahas status pendidikannya, padahal kan ia berhenti kuliah karena keadaan.


"Udah deh, enggak usah mulai nguji kesabaranku terus."


"Emangnya dosen pembimbing kamu maunya gimana?"


Alifa menjelaskan rencana pembahasan penelitiannya yang telah disampaikan oleh Miss Elda sore tadi.


"Miss Elda sebenarnya enggak mau aku membahas sektor perbankan atau asuransi karena kebanyakan perusahaan sudah terkomputerisasi. Jadi, aku harus mencari bidang penelitian lain yang menarik dan belum sepenuhnya terkomputerisasi," papar Alifa.


"Hmm, kalau begitu gimana kalau kamu mencoba sektor retail kecil atau toko kelontong tradisional? Mungkin masih ada beberapa usaha seperti itu yang menggunakan sistem manual," saran Alim.


"Wah, ide bagus juga! Aku sempat memikirkan sektor penjualan, tapi fokusnya belum jelas. Dengan saranmu, aku bisa lebih fokus untuk mencari usaha kecil yang benar-benar masih menggunakan sistem manual," ujar Alifa bersemangat.


"Ya, mencari toko-toko kecil yang memiliki sistem manual tidak akan sulit. Kamu bisa mulai mencari di sekitar tempat tinggalmu atau di daerah-daerah tertentu. Pastikan juga untuk memilih usaha yang cukup representatif agar hasil penelitianmu bisa lebih relevan," lanjut Alim memberikan petunjuk.


"Terima kasih banyak, Alim! Kamu selalu punya ide-ide brilian. Aku beruntung memilikimu," kata Alifa dengan rasa terima kasih.


"Tentu saja aku butuh bantuanmu, Alim. Bisa enggak kamu bantuin aku cari tempat penelitiannya? Kalau mau di Kalianda, kan jauh aku bolak-balik ke kampusnya. Biar di sekitar Bandar Lampung aja," pinta Alifa dengan harap Alim mau membantu.


"Iya. Apa sih yang enggak buat princess mah." Alim mulai mengeluarkan jurus gombalnya.


"Iss, apaan sih! Mulai deh, ngegombal!" Alifa terkesan tidak suka digombali oleh Alim, tetapi ekspresi wajahnya tidak bisa dibohongi.


"Alah, seneng aja kamu kalau aku gombali, kan?" Alim terus menggoda.


"Udah, ah! Besok aku kuliah cuma sampai jam 11. Kamu jemput aku di kampus, ya. Nanti kita salat zuhur dulu di musala, terus baru tancap gas keliling dunia, ehh ... maksudnya keliling cari tempat yang cocok untuk dijadikan tempat penelitianku."


"Iya, my princess! Siap, deh! Besok kabari lagi aja, aja!" ujar Alim, mengakhiri percakapan mereka.


Setelah berbicara dengan Alim, Alifa merasa semakin yakin dengan arah penelitiannya. Ia pun mulai mencari informasi lebih lanjut tentang sektor retail kecil yang masih menggunakan sistem manual. Alifa berharap penelitiannya kali ini akan mendapatkan respons positif dari dosen pembimbingnya.


Keesokan harinya, Alifa dan Alim mulai menjelajahi kota Bandar Lampung hingga ke pelosok demi menemukan toko kelontong atau toko-toko kecil yang masih menggunakan sistem pencatatan manual. Namun, sudah seharian, mereka belum juga mendapatkan tempat yang pas.


"Udah berapa meter nih kita ngukur jalanan di sini, tapi belum juga menemukan tempat yang cocok? Capek banget, mana haus, dan laper lagi," ujar Alifa dengan muka melas.


Alim melihat wajah Alifa yang letih dari kaca sepion motornya.

__ADS_1


"Sabar. Nanti juga pasti ketemu, kok."


Alifa mengangguk. "Ya udah, gimana kalau kita salat Asar dulu, ya. Cari tempat makanan yang ada musalanya atau yang dekat masjid aja, biar bisa salat dulu sambil nunggu makanan dateng pas kita pesen nanti." Alifa menyarankan karena jam sudah menunjukkan pukul 15.30 WIB.


Mereka pun langsung meluncur ke restoran yang memang ada musalanya.


Setelah melaksanakan Salat Asar dan bensin sudah terisi penuh, Alifa dan Alim merasa lebih segar, mereka siap melanjutkan pencarian tempat penelitian Alifa. Mereka kembali berkeliling kota Bandar Lampung dengan harapan segera menemukan toko kelontong atau toko kecil yang masih menggunakan sistem pencatatan manual.


Beberapa kali mereka berhenti dan bertanya kepada warga sekitar apakah ada toko yang sesuai dengan kriteria penelitian Alifa. Sayangnya, sebagian besar toko telah beralih ke sistem pencatatan terkomputerisasi. Meskipun begitu, Alifa dan Alim tidak menyerah dan terus melanjutkan pencarian mereka.


"Aku harap kita segera menemukan tempat yang pas. Aku ingin benar-benar memberikan kontribusi dalam penelitian ini," ujar Alifa dengan semangat.


Alim tersenyum menguatkan, "Kita pasti akan menemukannya, Alifa. Kita telah melakukan usaha sebanyak mungkin dan ini adalah bagian dari proses. Jangan kehilangan harapan."


Setelah berkeliling cukup lama, akhirnya mereka melihat sebuah toko kelontong kecil dengan tanda-tanda yang menarik perhatian. Mereka berdua mengamati toko itu dari kejauhan dan melihat pemiliknya mengeluarkan nota manual untuk mencatat pembelian seorang pelanggan.


"Alifa, lihat! Itu mungkin salah satu toko yang kita cari!" ujar Alim bersemangat.


"Tapi sepertinya toko itu sedang ramai. Kita harus menunggu pelanggan lain pergi sebelum mendekatinya," tambah Alifa.


Mereka memutuskan untuk berdiri di dekat toko itu sambil menunggu momen yang tepat untuk mendekat. Setelah beberapa saat, toko tersebut mulai sepi, Alifa dan Alim berjalan mendekat dengan penuh harapan.


"Mohon maaf, Pak. Bolehkah kami mengajukan beberapa pertanyaan seputar usaha bapak?" ucap Alifa sopan kepada pemilik toko.


Pemilik toko tersenyum dan menyambut baik. Mereka mulai berbincang, Alifa menjelaskan tentang maksud dan tujuannya datang ke toko tersebut.


"Tentu, silakan bertanya apa saja. Saya siap membantu," jawab pemilik toko dengan ramah.


Alifa dan Alim pun mulai mewawancarai pemilik toko tersebut, mendapatkan informasi berharga tentang bagaimana sistem manual berjalan dalam usahanya, keuntungan dan tantangan yang dihadapinya, serta pandangan mengenai sistem terkomputerisasi.


"Jadi, boleh enggak kalau saya jadikan toko Bapak ini sebagai tempat penelitian untuk pengajuan skripsi saya, Pak?" pinta Alifa dengan hormat.


"Wah, tentu saja boleh," ujar pemilik toko tersebut.


Setelah selesai dengan wawancara, wajah Alifa bersinar, akhirnya setelah beberapa jam mencari, mereka menemukan tempat yang cocok. Hari sudah mau gelap. Alifa mengajak Alim pulang. Mereka mengucapkan terima kasih kepada pemilik toko dan berjanji akan memberikan hasil penelitian kepada beliau.


"Alhamdulillah, akhirnya usaha hari ini tidak sia-sia. Terima kasih, Alim, karena selalu mendukung dan membantuku," ucap Alifa bersyukur.


"Tidak perlu mengucapkan terima kasih, Alifa. Aku senang bisa membantu dan berbagi pengetahuan denganmu," balas Alim dengan senyum tulus.


Alim mengantarkan Alifa ke kosan dengan kecepatan motor yang pelan karena ia tidak biasa mengendarai dengan kecepatan tinggi. Bagi Alim, keselamatan itu lebih penting dari hal apa pun. Namun, ia tetap memperhitungkan waktu, menyesuaikan situasi dan kondisi pada saat itu.


"Nih orang kadang ngeselin sih, tapi buat kangen. Entah bagaimana akhir dari kisahku nantinya, apakah menikah dengan Alim atau dengan orang lain, yang pasti aku bersyukur atas apa yang dimiliki saat ini. Yah, walaupun hubungannya seperti lautanlah, ya. Bahkan bisa putus nyambung kayak benang aja, bisa disambung lagi kalau putus." Alifa membatin


Dalam perjalanan pulang, mereka menikmati momen bersama-sama sambil berhayal tentang kehidupan selanjutnya. Berharap bisa sama-sama terus hingga akhir hayat.

__ADS_1


...****...


__ADS_2