
Karena ketekunan dan disiplinnya, Alifa berhasil menyelesaikan praktik kerja lapangan dengan baik. Ia mendapat pujian dari atasan dan rekan kerja atas dedikasinya yang tinggi dan ketepatan waktunya.
"Selamat ya, Alifa, kamu sudah berhasil menyelesaikan PKL dengan hasil yang baik. Terima kasih sudah memilih bank ini sebagai tempat PKL-mu. Saya pribadi dan mewakili seluruh karyawan di sini, memohon maaf kalau kami ada salah kata atau pun perbuatan." Kepala Unit, Pak Handoko.
"Iya, Alifa. Saya juga minta maaf, ya, kalau ada salah-salah atau perbuatan yang kurang berkenan. Semoga silaturahmi selalu terjaga dengan baik," sahut Pak Andi, bagian pelayanan.
Semua karyawan bahkan satpam, penjaga gedung, dan OB pun saling berminta maaf kepada Alifa. Rasa kekeluargaan di kantor itu dapat dirasakan oleh Alifa sejak ia baru pertama menjalani kegiatan PKL-nya.
"Terima kasih, Pak Handoko dan Pak Andi, serta semua karyawan, satpam, penjaga gedung, dan OB yang telah memberikan dukungan dan kerja sama selama PKL saya di bank ini. Saya sangat menghargai permintaan maaf dan rasa kekeluargaan yang terjalin di antara kami.
Pencapaian dan pengalaman yang saya dapatkan selama PKL ini sungguh luar biasa. Saya merasa bangga dengan diri sendiri karena berhasil menyelesaikan PKL dengan hasil yang baik. Semua ini tidak mungkin tercapai tanpa dukungan dan bimbingan yang saya terima dari kepala unit, Pak Handoko, dan semua staf di bank ini.
Tentunya, rasa bangga saya juga dirasakan oleh ayah saya. Ayah saya merasa bangga melihat perkembangan dan kemajuan yang saya peroleh selama menjalani kegiatan PKL ini. Saya berterima kasih atas dukungan dan motivasi yang ayah berikan selama ini.
Saya berharap hubungan baik dan silaturahmi yang terjalin di antara kami dapat terus terjaga. Pengalaman yang saya dapatkan di bank ini akan menjadi bekal berharga dalam menghadapi tantangan di masa depan. Sekali lagi, terima kasih kepada seluruh tim di bank ini atas kesempatan dan pengalaman yang luar biasa ini."
"Iya, Alifa. Kamu anak yang mau bekerja keras, pantang menyerah, mau belajar. Emm ... apa lagi, ya? Pokoknya kamu pantas mendapatkan semua ini. Sukses selalu dan terus semangat belajar, ya!" Ibu Lita, bagian pemasaran, tersenyum bangga.
__ADS_1
"Yah, enggak ada yang dengerin saya curhat lagi, nih!" ujar Pak Andi dengan muka ditekuk.
"Enggak ada yang dengerin curhat, apa enggak ada yang nemenin kerja, nih?" ledek Bu Risma diiringi tawa kecil.
Tawa yang terdengar dan pipi yang memerah menggambarkan suasana yang ceria di antara mereka. Alifa hanya tersenyum melihat reaksi tersebut, menganggapnya sebagai lelucon yang biasa terjadi di lingkungan kerja. Bagi Alifa, saat ini fokusnya masih pada pengembangan pribadi dan mengejar tujuan karirnya, sehingga status lajangnya tidak menjadi masalah yang serius.
Setelah acara perpisahan yang hangat, mereka semua mengumpulkan diri untuk sesi foto bersama. Mereka berpose dengan senyum dan keceriaan, mencerminkan kebersamaan dan kenangan yang telah terjalin selama waktu PKL Alifa di bank tersebut. Foto tersebut akan menjadi kenang-kenangan yang berharga bagi Alifa sebagai bukti kerjasama dan pengalaman yang ia dapatkan di tempat tersebut.
Alifa merasa terharu dan berterima kasih kepada semua orang di kantor tersebut karena telah memberikan kesempatan dan pengalaman yang luar biasa selama PKL. Ia tahu bahwa momen perpisahan ini adalah awal dari perjalanan yang baru; bersemangat untuk melangkah ke fase berikutnya dalam hidupnya dengan dukungan dan kenangan indah dari tempat PKL-nya.
Dalam perjalanan pulang, Alifa merenung tentang betapa pentingnya disiplin waktu dalam kehidupan. Ia merasa senang dan lega karena telah berhasil mengatasi tantangan ini. Alifa bertekad untuk terus mempertahankan sikap disiplinnya di masa depan, karena ia percaya bahwa disiplin waktu adalah kunci menuju kesuksesan dan pencapaian yang lebih besar.
Di ruang keluarga yang hangat, Alifa dan ayahnya, Zaidan, duduk berdua, menciptakan momen kebersamaan yang berharga. Suasana tenang memenuhi ruangan, memungkinkan mereka untuk saling berbagi pikiran, perasaan, dan pengalaman.
Zaidan melihat Alifa dengan penuh kebanggaan dan kasih sayang. Beliau senang bisa meluangkan waktu bersama Alifa setelah seharian penuh bekerja. Mereka berdua menikmati momen ini sebagai kesempatan untuk saling berbagi dan menguatkan ikatan ayah dan anak.
Alifa merasa nyaman duduk berdampingan dengan ayahnya. Ia merasakan kehangatan dan dukungan yang selalu ada dalam hubungan mereka. Mereka bisa membicarakan berbagai hal, mulai dari perkembangan Alifa selama PKL hingga mimpi-mimpi dan tujuan masa depan yang ingin Alifa capai.
__ADS_1
"Ayah, Alifa berterima kasih banyak, karena Ayah selalu mengajarkan tentang disiplin waktu, sehingga semua kerja keras Alifa selama beberapa bulan ini telah membawa hasil yang memuaskan." Alifa memeluk ayahnya dengan erat.
Zaidan tersenyum penuh kebanggaan dan merangkul Alifa dengan penuh kasih sayang. Beliau merasa bahagia mendengar apresiasi dari Alifa mengenai ajaran disiplin waktu yang telah diajarkan. Zaidan senang melihat kerja keras Alifa selama beberapa bulan ini telah membuahkan hasil yang memuaskan.
Dalam hati Alifa, tekad untuk terus mempertahankan sikap disiplin dan semangat belajar yang diajarkan oleh ayahnya semakin kuat. Ia menyadari bahwa disiplin waktu dan semangat belajar adalah kunci untuk meraih kesuksesan dalam hidup.
Alifa juga mengungkapkan terima kasih yang tulus kepada ayahnya atas dukungan yang diberikan selama PKL di perusahaan perbankan, tempat ayahnya bekerja sebelumnya. Alifa menyadari bahwa dukungan dan motivasi dari ayahnya telah memberikan pengaruh positif dan memberikan kepercayaan diri yang diperlukan selama masa PKL. Alifa merasa beruntung memiliki seorang ayah yang selalu mendukung dan memotivasi dalam meraih cita-citanya.
Zaidan tersenyum dan mengucapkan, "Ayah selalu bangga padamu, Alifa. Ayah akan terus mendukung dalam setiap langkah hidupmu. Teruslah berjuang dan jadilah yang terbaik. Ayah yakin bahwa memiliki masa depan yang cerah."
Dalam percakapan mereka, Alifa mendapatkan nasihat berharga dari ayahnya. Zaidan membagikan pengalaman hidupnya, memberikan pandangan dan wawasan yang akan membantu Alifa dalam menghadapi perjalanan masa depannya. Alifa mendengarkan dengan penuh perhatian, mengambil setiap kata sebagai penuntun dan inspirasi.
Selama waktu itu, Alifa juga merasakan kehadiran ayahnya sebagai pendengar yang baik. Dia merasa didukung sepenuhnya dan bahwa pendapat dan aspirasinya dihargai. Mereka saling bertukar pendapat, membangun diskusi yang bermakna, dan menciptakan ikatan yang lebih dalam di antara mereka.
Di ruang keluarga itu, Alifa merasa bahagia dan bersyukur memiliki ayah yang begitu peduli dan berkomitmen dalam membimbingnya. Mereka saling memperkuat, memberikan dukungan, dan bersama-sama membentuk fondasi yang kokoh untuk masa depan Alifa.
Dalam momen tersebut, Alifa merasa didukung sepenuhnya oleh ayahnya dan merasa yakin bahwa dengan disiplin dan semangat belajar yang terus dipertahankan, ia akan menghadapi masa depan dengan keyakinan dan sukses.
__ADS_1
Momen di ruang keluarga ini adalah momen yang berharga bagi Alifa, di mana ia merasa didukung dan diberi kekuatan untuk terus melangkah maju.
...****...