Catatan Mahasiswa Akhir

Catatan Mahasiswa Akhir
Kasih Ibu


__ADS_3

Alifa telah melewati banyak halangan dan rintangan dalam hidupnya. Kondisi kesehatan yang memerlukan perawatan, membuatnya seringkali harus bolak-balik rumah sakit. Meskipun Alifa sudah berjanji untuk menjaga kesehatannya, tetap saja kesibukan kuliah—membuatnya merasa sangat lelah. Ambisi Alifa untuk menyelesaikan kuliah dengan cepat sangat besar, tetapi pikiran dan energinya terkuras oleh tuntutan tersebut.


Di balik semua itu, Alifa juga memiliki dorongan kuat untuk membuktikan kepada ayah dan ibunya, terutama ayahnya, bahwa ia mampu meraih prestasi dalam hidupnya. Ayahnya selalu menuntut Alifa untuk mencapai prestasi yang tinggi dan tidak pernah mau mendengar kata kalah dari anaknya. Hal ini membuat Alifa merasa tertekan dan harus terus berjuang untuk memenuhi harapan ayahnya.


Namun, setiap individu memiliki kemampuan dan potensi yang berbeda-beda, baik dalam bidang akademik maupun non-akademik. Alifa mungkin memiliki kekuatan dan bakat yang berbeda dengan saudara-saudaranya, baik kakak maupun adiknya. Membandingkan Alifa dengan saudara-saudaranya, hanya akan menimbulkan tekanan dan merasa tidak cukup baik.


Penting bagi orang tua untuk mengerti dan menghargai perbedaan setiap anak. Setiap individu memiliki potensi unik dan kemampuan yang berbeda. Membandingkan anak satu dengan yang lain hanya akan merusak kepercayaan diri dan mengurangi motivasi mereka untuk berkembang.


Sebagai orang tua, penting untuk memberikan dukungan dan motivasi kepada setiap anak tanpa membandingkan mereka satu sama lain. Menghargai keberhasilan dan usaha anak dalam setiap bidang yang diminati oleh mereka adalah cara terbaik untuk membantu mereka tumbuh dan berkembang secara positif.


Suatu ketika, di rumah sakit tempat Alifa dirawat, suasana begitu tegang dan penuh kekhawatiran. Keluarga dan teman-teman Alifa berdatangan silih berganti, menunggu kabar terbaru tentang kondisinya. Mereka duduk berkelompok di ruang tunggu, masing-masing terlihat cemas dengan ekspresi wajah yang kental kekhawatiran.


Di sudut ruang tunggu, keluarga Alifa duduk bersama. Mereka saling bertukar pandangan, terlihat khawatir tentang apa yang sedang terjadi dengan putri mereka.


"Semoga Alifa baik-baik saja. Saya tidak tega melihatnya seperti ini," kata ayah Alifa, Pak Zaidan, dengan nada cemas.


Ibu Alifa, Ibu Nisa, mengusap air mata. "Ya, semoga saja ini hanya ujian yang bisa dia lewati dengan kuat."


Kakak sepupu Alifa, Novan, juga berada di ruang tunggu bersama istrinya, Vina.


"Kabar terakhirnya bagaimana, ya?" tanya Novan.


"Belum ada kabar terbaru, tetapi dokter mengatakan mereka sedang melakukan beberapa pemeriksaan tambahan," jawab Pak Zaidan.


"Semoga hasil pemeriksaan itu baik," timpal Vina yang turut mendoakan.


Tiba-tiba, pintu ruang perawatan terbuka, dan seorang perawat keluar. Semua orang berusaha untuk menenangkan hati mereka dan mendekatinya dengan cemas.


Perawat senyum ramah. "Maaf, Bapak, Ibu, apakah ini keluarganya Alifa?"

__ADS_1


Semua keluarga Alifa menjawab serempak, "Benar, Sus."


"Baik. Bapak dan Ibu harap tenang, Alifa baik-baik saja. Meskipun sering keluar-masuk rumah sakit, tetapi dia memiliki semangat yang luar biasa. Namun, dokter menyarankan agar Alifa segera dioperasi karena tukak lambungnya semakin parah."


Pak Zaidan lega, tetapi juga khawatir karena Alifa harus dioperasi. "Terima kasih, ya Allah. Terima kasih, Sus. Bisakah kami bertemu dengannya sebentar?"


"Tentu saja, tetapi jangan terlalu lama, ya. Alifa memerlukan istirahat." Suster itu pun pergi meninggalkan keluarga Alifa, karena ada obat-obatan yang harus diambil untuk diberikan kepada Alifa.


Keluarga Alifa kemudian diperbolehkan masuk ke dalam kamar perawatan. Alifa terlihat tersenyum meskipun sedang mengalami kesulitan dan kesakitan. Ia terlihat lemah, tetapi tetap berusaha menunjukkan semangatnya kepada keluarga yang datang menjenguknya.


Alifa dengan suara lemah. "Hai, semua. Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Rumah sakit sudah seperti rumah kedua bagiku."


Vina, istri kakak sepupu Alifa, dengan penuh kasih. "Kami semua khawatir, Dek. Kami ingin kamu sembuh dan pulang ke rumah bersama kami."


Alifa senyum. "Aku tahu. Terima kasih sudah selalu ada untukku. Aku pasti sembuh."


Keluarga Alifa berbicara dengan Alifa sebentar, berusaha memberikan semangat padanya. Meskipun khawatir, mereka merasa terhibur melihat semangat yang dipancarkannya. Mereka kemudian meninggalkan kamar perawatan dengan keyakinan bahwa Alifa akan menghadapi tantangan ini dengan tabah.


Dalam kekhawatiran dan cemas, Alifa tetap menjadi sosok yang penuh semangat dan inspirasi bagi semua orang di sekitarnya. Meskipun sering berada di rumah sakit, ia tidak pernah kehilangan senyumnya dan selalu mencoba memberikan dukungan kepada orang-orang yang peduli padanya.


Nisa, Ibu Alifa, masuk ke ruang perawatan Alifa. "Nak. Ibu tahu, kamu adalah anak yang kuat. Ibu nyaris tidak pernah melihatmu putus asa dan selalu tersenyum meski menyimpan banyak masalah serta lara hati."


Alifa tersenyum kecil.


"Alifa sayang. Ibu pernah bilang, kan, bahwa kita harus percayakan semua takdir kepada Sang Penentu Takdir, Allah subhanahu wa ta'ala. Dia Maha Penyembuh sakit dan Penolong setip permasalahan dalam hidup kita." Ibu Nisa menghela napas berat. Ada tangisan yang sedang ditahan, tetapi harus bisa kuat untuk menyemangati anaknya, Alifa.


"Tapi dokter bilang, Alifa harus dioperasi, Bu. Jujur, Alifa takut banget." Wajah Alifa tampak tegang. Pikirannya terganggu dan hatinya gelisah.


"Ibu tidak izinkan kamu dioperasi karena ibu yakin kalau kamu akan sembuh atas izin Allah. Kita ikhtiar dengan obat-obat tradisional dan menjaga pola makan serta pola hidup sehat, ya. Kamu pasti bisa melakukan ini. Ingat, jangan terlalu memikirkan apa yang belum terjadi." Nasihat bijak dari ibunya Alifa selalu menenangkan dan menyenangkan.

__ADS_1


"Oh iya, sudah jam 11 malam, sebaiknya kamu beristirahat agar besok bisa lebih segar." Ibu Nisa membantu memakaikan selimut kepada putri keduanya itu dengan penuh cinta dan sayang.


Alifa merasa sangat lelah setelah menjalani serangkaian perawatan di rumah sakit. Ia memejamkan matanya dengan perlahan di kamarnya, merasakan kenyamanan tempat tidur yang mengelilinginya. Ia tahu bahwa di sampingnya, Ibu Nisa telah mengambil posisi di sofa, siap untuk mengawasinya semalaman.


Saat Alifa memejamkan matanya, Ibu Nisa berusaha tetap terjaga, menatap putrinya dengan penuh perhatian. Meskipun lelah juga, tetapi Ibu Nisa tidak bisa membiarkan dirinya tidur dengan nyenyak, karena Alifa membutuhkan pengawasan konstan. Jika Alifa butuh bantuan atau suster harus datang untuk memberikan obat, maka Ibu Nisa harus siaga.


Di sisi tempat tidur Alifa, terpasang sebuah infus yang lambat laun menyuntikkan cairan penting ke dalam tubuhnya. Ibu Nisa tahu bahwa infus ini harus diawasi dengan ketat. Jika infus tersebut sampai habis dengan tiba-tiba, maka bisa menyedot darah Alifa lebih banyak dari yang seharusnya, dan menyebabkan potensi bahaya bagi kesehatan putrinya.


Waktu berlalu, suasana di kamar itu menjadi tenang. Suara perlahan dari detak jam dinding mengiringi napas Alifa yang perlahan dan teratur. Sementara itu, Ibu Nisa mencoba menjaga dirinya tetap terjaga dengan mengalihkan perhatiannya pada beberapa buku yang ada di sekitar sofa.


Tidak lama kemudian, suasana tenang tiba-tiba terganggu oleh gemeretak infus yang memberi tanda bahwa cairan hampir habis. Ibu Nisa segera bergerak cepat dan hati-hati, memeriksa perangkat infus dengan cermat. Ia memastikan bahwa aliran infus tidak bergerak terlalu cepat dan menjaga agar tetap stabil.


Namun, di tengah usahanya, Alifa tiba-tiba merintih pelan dan wajahnya tampak gelisah dalam tidurnya. Ibu Nisa dengan sigap berada di sampingnya, menenangkannya dengan lembut sambil menyentuh tangannya.


"Tidak apa-apa, Nak, Ibu di sini," bisik Ibu Nisa dengan lembut.


Perlahan, Alifa merasa nyaman dan kembali tenang. Ibu Nisa kembali melanjutkan pengawasannya pada infus, tetap mengontrol agar aliran cairan tetap stabil.


Lama kelamaan, matanya yang lelah tidak bisa lagi menahan kantuk. Ibu Nisa berusaha keras untuk tetap terjaga, menyadari betapa penting perannya dalam menjaga Alifa tetap aman semalaman.


Waktu berjalan dengan lambat, dan akhirnya, suasana pagi mulai menyelinap masuk melalui jendela. Ibu Nisa berhasil melewati malam tanpa insiden berarti. Ia merasa lega karena telah melindungi Alifa dengan penuh kesetiaan.


Alifa terbangun dari tidurnya dengan perlahan. Matanya yang segar dan senyumannya yang mengembang membuat Ibu Nisa merasa bangga dan bahagia. Meskipun lelah, perawatan dan pengawasannya telah membuahkan hasil.


"Bagaimana perasaanmu hari ini, Nak?" tanya Ibu Nisa dengan penuh kasih sayang.


Alifa tersenyum lembut, "Lebih baik, Ibu. Terima kasih sudah selalu ada di sampingku."


Ibu Nisa memeluk Alifa dengan penuh kasih, "Ibu akan selalu ada untukmu, Nak. Kita akan melalui ini semuanya bersama-sama."

__ADS_1


...****...


__ADS_2