
Selama perkuliahan, Alifa merasa seolah-olah berada dalam satu cerita yang penuh dengan kiasan. Di dalam dunia kecilnya, ada seorang laki-laki yang menari-nari di pikirannya, mencoba memasuki ruang hatinya sekali lagi. Namun, suasana hati Alifa terganggu oleh kehadiran seorang laki-laki yang seperti kupu-kupu, ia tak henti-hentinya mengelilingi bunga yang belum mekar.
Setiap kali Alifa duduk di ruang kuliah, si laki-laki itu selalu menjadi pusat perhatian, seakan-akan menjadi tokoh utama dalam drama yang tak berkesudahan. Sikapnya yang mencolok, selalu berusaha menarik perhatian Alifa, seperti bunga yang menggoda lebah dengan aroma manisnya.
Namun, perhatian yang diberikan oleh si laki-laki tersebut bukanlah pemandangan yang menyenangkan bagi Alifa. Seperti katak yang terus-menerus melompat-lompat, ia merasa risih dan tidak nyaman. Ia ingin kesendirian dan ketenangan, bukanlah perhatian yang berlebihan yang diungkapkan oleh laki-laki tersebut.
Alifa tak bisa menahan diri untuk tidak mengingat masa lalu. Dalam benaknya, hadir lagi sosok laki-laki yang pernah mengisi hatinya. Ia seperti bayangan yang mengembara di pikirannya, mengingatkannya akan perasaan hangat dan cinta yang pernah mereka bagi bersama-sama. Namun, perbandingan antara laki-laki itu dan si pengganggu saat ini membuat Alifa semakin terpaku pada pikirannya sendiri.
Perkuliahan menjadi medan perang bagi Alifa, di antara kupu-kupu yang mengelilingi bunga yang belum mekar dan bayangan laki-laki yang pernah memenuhi ruang hatinya. Ia berharap untuk menemukan kedamaian dalam kekacauan ini, di mana pikirannya dapat kembali fokus pada ilmu dan pembelajaran, tanpa gangguan dan memori masa lalu yang menghantui.
Laki-laki yang mengganggu Alifa di perkuliahan itu kerap disapa Alim, seolah-olah ia memiliki pengetahuan yang luas tentang seni menjalin hubungan. Namun, upayanya untuk menyentuh hati Alifa, seakan terhempas oleh angin yang tidak berpihak. Alifa sama sekali tidak tertarik dengan rayuan dan upaya Alim untuk mendapatkan perhatiannya.
Alim mencoba mendekati Alifa dengan ajakan kenalan, seakan-akan ingin membuka lembaran baru dalam cerita kehidupan mereka. Namun, senyum tipis tergambar di wajah Alifa, menggambarkan ketidakantusiasannya untuk mengenal lebih jauh sosok laki-laki yang terkesan caper dan sok ganteng.
Bagi Alifa, Alim hanyalah seperti buku yang dikemas dengan sampul menarik, tetapi isinya kosong. Ia merasa tidak tertarik untuk melibatkan diri dalam perkenalan yang tak lebih dari pertunjukan kesan semu. Alifa menginginkan sesuatu yang lebih nyata, yang lebih dalam dari sekadar penampilan fisik dan rayuan manis yang dilontarkan oleh Alim.
Meskipun Alifa menunjukkan ketidakantusiasannya, Alim terus berusaha menggoda dan mengganggu, seperti semut yang tak henti-hentinya merayapi makanan manis. Namun, Alifa bertahan dengan pendiriannya, tak ingin terjebak dalam jaring rayuan yang tipu daya.
Alifa tahu bahwa di balik penampilan luar yang menarik, terkadang tersembunyi kepribadian yang dangkal dan kurang memiliki substansi. Ia ingin lebih dari itu, ingin melibatkan hati dan pikirannya dalam sebuah hubungan yang nyata dan berarti.
Dalam perjalanan perkuliahan yang terus berlanjut, Alifa tetap berpegang teguh pada keputusannya untuk menjaga jarak dari Alim, seakan-akan memisahkan diri dari angin yang membawa kesan semu dan hanya menghasilkan kekecewaan belaka. Alifa memilih untuk menunggu sosok sejati, yang dapat mengisi ruang hatinya dengan kehangatan dan kejujuran yang tulus.
Di dalam hati Alifa, terdapat dialog batin yang mempertanyakan mengapa segalanya terasa seperti dejavu, seakan-akan ia sedang menjelajahi kembali cerita yang pernah dilewati. Pikirannya dipenuhi dengan tanda tanya yang menggelayuti, meraba-raba apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia bertanya pada dirinya sendiri, apakah akan muncul cerita lain setelah babak ini? Sementara itu, kehadiran Alim yang terus-menerus mengganggunya, menjadikan pertanyaan tersebut semakin mendesak.
Dalam keheningan pikirannya, Alifa berusaha mencari alasan mengapa Alim tidak dapat berhenti mengganggunya. Dalam gerutuan hatinya, ia mempertanyakan mengapa Alim terus mencari perhatian, seakan-akan menjadi hewan kelaparan yang selalu ingin terlihat.
Alifa menggelengkan kepala dengan kekecewaan, tidak menyukai sikap Alim yang terlalu mencari perhatian. Alifa menautkan alis kala melihat tingkah pecicilan si laki-laki yang rambutnya mulai memutih padahal usianya tidak jauh dari Alifa.
__ADS_1
"Apaan sih nih, cowok? Enggak jelas banget dah hidupnya!" gerutunya dengan muka masam.
Alifa merasa terganggu oleh sikap Alim yang suka tebar pesona di kelas, seakan-akan menjadi pemain dalam sandiwara yang tak kunjung berakhir. Ia merasa tidak nyaman dengan cara Alim mencoba menarik perhatian orang di sekitarnya, seperti seorang pemain sulap yang terus berusaha memberikan pesona kepada penontonnya dengan trik-trik yang mencolok.
Keberadaan Alim di kelas seperti bumerang yang kembali lagi dan lagi, mengusik ketenangan Alifa dan menimbulkan kejengkelan dalam dirinya. Alifa menginginkan suasana yang tenang dan fokus pada pembelajaran, bukan pertunjukan pesona yang mengaburkan fokusnya.
Dalam kegelisahan hati yang terus berdengung, Alifa bertekad untuk menjaga jarak dan tidak terpengaruh oleh Alim yang suka memainkan peranannya. Ia mengharapkan cerita selanjutnya akan membawa kejelasan dan kehangatan yang sejati, jauh dari permainan-permainan yang tak berarti.
...***...
Alifa duduk sendiri, membiarkan pikirannya melayang jauh dari keramaian perkuliahan yang penuh dengan gangguan Alim. Dalam keheningan, ia membiarkan dirinya terlarut dalam kilasan kenangan, merangkai nostalgia sejenak tentang hubungannya di masa putih abu-abu dengan Khaleed.
Seperti sehelai awan yang lembut menghiasi langit biru, kenangan tentang Khaleed muncul dalam benak Alifa. Mereka pernah berbagi momen-momen yang penuh dengan keindahan dan kehangatan. Hubungan mereka memancarkan kekuatan yang menyatukan, seperti warna putih yang mewakili kesucian, sekaligus abu-abu yang mencerminkan keragaman dan kompleksitas.
Di dalam benak Alifa, saat-saat bersama Khaleed menjadi ladang yang subur dengan bunga-bunga kenangan yang indah. Mereka menjalani cerita yang tak terlupakan, membangun ikatan yang kuat di antara mereka seperti pilar-pilar yang kokoh.
Namun, kilasan nostalgia itu hanya berlangsung sejenak. Alifa kembali ke kenyataan yang pahit, teringat akan kehadiran Alim yang terus-menerus mengganggunya. Ia merasa seolah-olah terjebak dalam labirin yang tak kunjung berakhir, dikelilingi oleh bayangan Alim yang mengusik ketenangannya.
Alifa memperhatikan dirinya sendiri, mencoba menguatkan tekadnya untuk menjaga jarak dari Alim yang terus mencari perhatian. Ia berharap, di antara masa putih abu-abu dan gangguan yang ada, akan ada cerita baru yang mengisi hatinya dengan kedamaian dan kebahagiaan yang tak ternilai harganya.
Tiba-tiba detak jantung Alifa berpacu dengan cepat, seolah-olah ia baru saja menyelesaikan lari maraton yang melelahkan. Pikiran yang tadinya terjebak dalam labirin perasaan terganggu oleh Alim dan kenangan bersama Khaleed, sekarang menjadi buyar. Seakan-akan film klasik yang baru tayang dalam bayangannya dihancurkan oleh suara riuh rendah dari Farah, Atiqah, dan Hanin.
Suara Farah, Atiqah, dan Hanin yang terdengar jelas berhasil merenggut penceritaan indah yang telah Alifa bina dalam pikirannya. Mereka memasuki panggung pikirannya seperti aktor yang tak terduga, menggantikan peran Alim dan Khaleed yang telah mendominasi layar pikiran Alifa.
"Alifa, dengar berita terbaru?" tanya Farah dengan antusias.
"Ada acara film yang baru tayang malam ini. Kita harus pergi menontonnya bersama!" seru Atiqah dengan semangat.
__ADS_1
Hanin ikut bergabung, "Aku sudah membaca ulasannya, katanya film itu luar biasa. Kita tidak boleh melewatkan kesempatan ini!"
Dialog antara mereka seakan membuyarkan bayangan Alim yang terus mengganggu Alifa. Suara-suara itu membawa Alifa kembali ke kenyataan, menyadarkannya bahwa hidup ini terus berjalan dan ada teman-teman yang menginginkan kebersamaan dan kegembiraan.
Detak jantung Alifa yang tadinya berpacu dengan cepat, perlahan mereda. Ia tersadar bahwa kehidupan tidak hanya tentang masalah yang dihadapinya, tetapi juga tentang momen-momen bersama teman-teman yang dapat membawa kegembiraan dan kesenangan.
Dalam keceriaan yang muncul, Alifa mengucapkan dengan senyum, "Tentu, kita akan pergi menonton film itu bersama-sama. Terima kasih, teman-teman, sudah mengingatkan aku akan hal-hal indah di sekitar kita."
Mereka pun melanjutkan percakapan yang takkan habis kalau sudah bercengkerama, mengobrol tentang rencana menonton film dan mengejutkan Alifa dengan cerita-cerita lucu. Pikiran Alifa kini dipenuhi dengan kegembiraan, seolah-olah Alim dan Khaleed telah tergeser oleh kehadiran teman-teman yang memberikan kehangatan dan keceriaan dalam hidupnya.
Tidak ingin membuang waktu lebih lama, Alifa, Farah, Atiqah, dan Hanin beranjak dari tempat Alifa yang baru saja terjebak dalam labirin perasaannya, meninggalkan ruang yang terasa begitu berat dan penuh teka-teki. Mereka berjalan bersama, seperti rombongan yang menemukan jalan keluar dari kegelapan.
"Alifa, kamu terlihat lega sekarang. Apa yang terjadi?" tanya Atiqah dengan penuh perhatian.
Alifa tersenyum, memandang ketiga temannya dengan penuh rasa terima kasih. "Kalian telah membantu mengalihkan pikiranku dari segala kerumitan. Kalian adalah sinar dalam kegelapan, teman sejati yang selalu ada untukku."
Hanin menggenggam tangan Alifa erat-erat. "Kami akan selalu ada untukmu, Alifa. Kita semua saling mendukung dan menjaga satu sama lain."
Farah menambahkan, "Ketika kamu merasa terjebak dalam labirin perasaan, jangan lupa bahwa kamu memiliki teman-teman yang siap membantu mengarahkanmu ke jalan yang benar."
Saat mereka berjalan bersama, Alifa merasakan beban di pundaknya semakin ringan. Pikiran yang tadinya kacau dan terombang-ambing, kini menjadi lebih jernih dan tenang. Mereka berbincang, tertawa, dan saling menguatkan satu sama lain seperti lentera-lentera yang menerangi jalan di kegelapan.
Dalam perjalanan ini, Alifa merasa dirinya terhubung dengan kehangatan dan dukungan yang diberikan oleh Farah, Atiqah, dan Hanin. Mereka adalah sumber kekuatan dan inspirasi yang membantu Alifa bangkit dari keterpurukannya.
Alifa menghela napas lega, merasakan bahwa masa depannya telah bercahaya kembali. Ia tahu bahwa dengan kehadiran teman-teman sejatinya, ia dapat menghadapi segala rintangan dan melewati labirin perasaan dengan penuh keyakinan.
"Terima kasih, teman-teman. Kalian adalah penyeimbang dalam hidupku, yang membawa keceriaan dan kekuatan. Kita akan terus menjalani perjalanan ini bersama-sama," ucap Alifa penuh harap.
__ADS_1
Mereka melangkah maju, menjelajahi dunia dengan semangat dan kebersamaan yang tak tergoyahkan. Alifa merasa beruntung memiliki teman-teman seperti mereka, yang tak hanya mengubah nasibnya, tetapi juga memperkaya hidupnya dengan cerita-cerita indah dan kebahagiaan yang tak ternilai.
...****...