
Setelah beberapa hari berlalu, suasana di ruang perawatan di rumah sakit tampak tenang. Pagi itu, Alifa duduk di tempat tidurnya, menunggu dokter dan seorang suster yang datang membawa alat-alat medis untuk pemeriksaan. Perasaan tegang menyelinap ke dalam hati Alifa, tetapi ia mencoba tetap yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Setelah bersiap, dokter dengan lembut melakukan pengambilan sampel darah untuk diperiksa di laboratorium. Alifa mencoba untuk tetap tenang selama prosedur tersebut, berharap bahwa hasil pemeriksaan akan membawa kabar baik bagi pemulihannya.
Beberapa saat kemudian, dokter memulai percakapan dengan ramah, "Gimana kondisimu hari ini, Alifa? Apakah lebih baik dari sebelumnya?"
Alifa menjawab dengan suara lemah, "Pengen pulang, Dok. Saya capek di sini, enggak bisa ngapa-ngapain."
Mendengar jawaban jujur dari Alifa, semua orang di ruangan itu tertawa, menciptakan sedikit kelegaan di suasana yang tegang.
Dokter tersenyum dan memberikan nasihat, "Kalau mau pulang, dibantu dengan pikiran yang rileks. Makannya harus dijaga juga, ya."
Alifa mengangguk penuh pengertian, "Tapi saya sudah merasa lebih baik kok, Dok," jawabnya dengan tetap berusaha bersemangat meskipun tubuhnya masih sedikit lemas.
Dokter memberikan penjelasan dengan hati-hati, "Syukurlah kalau kamu merasa lebih baik, tapi kita harus menunggu hasil laboratorium keluar dulu. Kalau sudah tahu hasilnya, baru bisa ditentukan sudah boleh pulang atau masih harus rawat inap." Upaya dokter untuk menjaga Alifa agar tidak terlalu khawatir tentang kondisinya terlihat jelas.
Mereka semua kemudian menunggu dengan harapan dan kesabaran untuk mengetahui hasil dari pemeriksaan darah Alifa, sambil berharap agar hasilnya akan membawa kabar positif dan membantu dalam proses pemulihannya. Suasana ruangan menjadi lebih tenang, dengan harapan sebagai sumber kekuatan bagi Alifa dan semangat bagi para petugas medis yang merawatnya.
Setelah menunggu dengan sabar, akhirnya hasil pemeriksaan darah Alifa keluar. Dokter dan suster datang dengan berita baik untuknya. Mereka tersenyum saat memasuki ruangan perawatan.
"Dok, gimana hasilnya?" tanya Alifa dengan ekspresi campur aduk antara cemas dan harapan.
Dokter mengangguk dan tersenyum ramah, "Hasil pemeriksaan darahmu menunjukkan ada peningkatan, Alifa. Tubuhmu sedang berjuang untuk pulih. Meskipun belum sepenuhnya pulih, ini adalah langkah ke arah yang baik."
Wajah Alifa bersemu merona bahagia mendengar berita itu. Ia merasa lega dan bersyukur atas kabar positif tersebut.
"Sekarang, untuk segera pulang, kamu tetap perlu beristirahat dengan cukup, mengikuti pola makan yang sehat, dan rutin minum obat yang telah kami berikan," lanjut dokter memberikan petunjuk perawatan selanjutnya.
Alifa dengan tulus mengangguk, "Terima kasih, Dok. Saya akan mematuhi semua petunjuk perawatan yang diberikan."
__ADS_1
"Alhamdulillah, berarti anak saya hari ini bisa pulang kan, Dok?" tanya Nisa, ibu Alifa, yang baru keluar dari kamar mandi.
Dokter menoleh ke arah Nisa. "Tentu saja boleh, Bu, tapi masih harus rawat jalan karena kami akan memeriksa tiap seminggu sekali agar tahu perkembangannya."
Senyum semringah terbit dari wajah Nisa. "Terima kasih banyak, Dok. Kami akan merawat Alifa dan mengingatkannya untuk mengikuti anjuran dari dokter demi kesembuhan Alifa."
Suster membantu Alifa untuk bersiap pulang, sambil memberikan beberapa tips untuk menjaga kesehatan di rumah. Alifa merasa senang karena akan segera kembali ke rumah dan berada di lingkungan yang lebih nyaman.
Setelah semua persiapan selesai, Alifa dengan hati bahagia meninggalkan ruang perawatan, merasa lebih percaya diri menghadapi proses pemulihan selanjutnya.
Selama beberapa minggu berikutnya, Alifa mematuhi dengan disiplin semua petunjuk perawatan yang diberikan. Ia menjaga pola makan yang sehat, teratur beristirahat, dan rajin minum obat. Kondisinya semakin membaik, dan ia kembali bersemangat untuk menjalani kehidupan sehari-harinya.
Ketika tiba saatnya untuk kunjungan berikutnya, Alifa bersama keluarganya datang ke rumah sakit dengan harapan untuk mendapatkan kabar baik dari dokter. Mereka semua telah menjadi semakin dekat dan lebih kuat dalam menghadapi perjuangan Alifa.
Dokter dengan senyum yang ramah menyambut mereka, "Alifa, hasil pemeriksaan darah kali ini menunjukkan perkembangan yang sangat bagus. Kamu sudah dalam tahap pemulihan yang lebih baik."
Dengan semangat dan tekad yang tinggi, Alifa terus melanjutkan perjuangannya untuk pulih sepenuhnya. Ia belajar menghargai kesehatan dan hidup dengan lebih baik, serta berjanji untuk menjaga dirinya dengan lebih baik di masa depan.
Semangat Alifa yang gigih dan keyakinannya bahwa segalanya akan baik-baik saja telah membantu mengatasi cobaan yang dihadapinya. Dukungan dari keluarga dan tim medis juga telah menjadi pilar penting dalam proses pemulihan. Hal ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu menjaga kesehatan dan menghadapi cobaan hidup dengan optimisme dan ketabahan.
...***...
Setelah sembuh, Alifa kembali bersemangat untuk menyelesaikan tugas akhirnya dan meraih impian dalam perancangan bisnis serta membuka usaha di masa depan. Ia yakin, dengan dukungan dan perhatian dari orang-orang terdekatnya, ia bisa menghadapi setiap rintangan dengan lebih kuat dan meraih kesuksesan yang diimpikannya.
Alifa akhirnya merasa cukup pulih untuk bertemu dengan Miss Elda dan membicarakan rencana penelitian barunya. Alifa berangkat ke kampus dengan wajah ceria.
Saat tiba di kampus, Alifa menuju ruang dosen dengan penuh harapan. Ia merasa yakin bahwa ide judul penelitiannya akan diterima oleh Miss Elda. Namun sayangnya, ketika menunggu gilirannya bimbingan setelah mahasiswa-mahasiswa tingkah akhir lainnya, Miss Elda menolak Alifa untuk bertemu.
Dengan penuh semangat dan memasang wajah senyum, Alifa memberanikan diri untuk berbicara pada dosen pembimbingnya tersebut.
__ADS_1
"Miss. Maaf, saya baru bisa menemui Miss hari ini," ujarnya dengan jantung berdegup kencang. Wajahnya mendadak tegang karena melihat ekspresi Miss Elda yang memasang muka masam.
"Enggak bisa. Saya lagi sibuk. Kan saya sudah bilang waktu itu, temui saya hari Selasa. Kenapa baru sekarang temuinya?" ujarnya dengan naga sedikit tinggi.
Alifa terdiam, kaget dengan respons yang diberikan Miss Elda. Karena tidak ingin menangis depan orang lain, Alifa berusaha menahan air matanya agar tidak menetes di ruangan dosen tersebut.
Alifa pamit untuk keluar ruangan. "Ya sudah, Miss, tidak apa-apa. Saya tunggu Miss Elda saat tidak sibuk saja. Terima kasih, Miss." Ia menunduk dan membalikkan badannya ke arah pintu keluar. Namun, baru dua langkah, Miss Elda memanggilnya.
Miss Elda menghela napas pendek. "Tunggu! Silakan duduk."
Alifa menaikkan alisnya. Mengatur napas dalam-dalam. Tangan kanannya menghapus air mata yang hendak keluar dari ujung matanya. Ia tersenyum dan duduk sambil menunggu instruksi dari dosen pembimbingnya tersebut.
"Coba saya lihat berkas pengajuan judulnya," pinta Miss Elda. Kali ini suaranya begitu lembut. Ia menatap Alifa seakan mengasihani batin Alifa yang baru saja dibuat terluka dengan penolakannya.
Alifa memberikan berkasnya, berharap kali ini judulnya bisa diterima agar ia bisa segera menggarap analisis, rancangan, dan juga membuat program aplikasi sesuai rancangan yang sudah direncanakan di dalam pikirannya.
Setelah membaca berkas tersebut, Miss Elda menatapku kembali. "Judulnya bagus. Coba kamu jelaskan kenapa memilih toko material mebel ini sebagai tempat penelitianmu?"
Dengan penuh semangat, Alifa menjelaskan ide penelitian yang ingin dilakukan. Miss Elda merespons positif dan memberikan beberapa masukan berharga untuk pengembangan judul tersebut.
Setelah berdiskusi panjang, akhirnya judul penelitian Alifa disetujui oleh Miss Elda. Alifa merasa senang karena mendapat dukungan dari dosen pembimbingnya. Ia tidak lupa berterima kasih atas dukungan dan kesempatan ini.
Dengan semangat yang baru, Alifa semakin termotivasi untuk bekerja keras dalam menyelesaikan tugas akhirnya. Ia berjanji pada diri sendiri untuk tetap menjaga kesehatan dan tidak terlalu memaksakan diri agar bisa memberikan yang terbaik dalam penelitiannya. Ia akan berusaha untuk memberikan yang terbaik dalam menyelesaikan kuliah sesuai targetnya agar bisa meraih mimpi-mimpinya.
Meskipun masih harus menghadapi beberapa tantangan, Alifa percaya bahwa dengan tekad dan semangat yang kuat, maka ia dapat mengatasi semua rintangan dan meraih kesuksesan di masa depan. Ia memahami pentingnya keseimbangan antara bekerja keras dan menjaga kesehatan fisik serta mental. Dengan panduan dari dosen dan dukungan dari teman-teman, Alifa yakin bahwa masa depannya akan cerah dan penuh harapan.
Hari-hari berikutnya, Alifa dengan penuh semangat mempersiapkan diri untuk menyelesaikan tugas akhirnya dan meraih impian menjadi seorang pengusaha sukses di masa depan.
...****...
__ADS_1