
Hari ini, suasana di sekitar Alifa terasa tegang dan penuh harapan. Ia kembali bimbingan untuk membahas laporan proposalnya. Dengan hati yang berdebar, Alifa berharap dosen pembimbingnya akan memberikan persetujuan agar sidang menuju skripsi bisa dilakukan.
Dengan mata berkaca-kaca, Alifa duduk di hadapan dosen pembimbingnya. Wajahnya mencerminkan kegelisahan yang mendalam, teringat akan usaha-usaha keras yang telah ditanamkannya dalam laporan proposal yang dibuat. Ketika dosen pembimbing membuka laporan proposal tersebut, Alifa merasakan detak jantungnya semakin cepat. Ia berharap segala usahanya tidak akan sia-sia dan bahwa kali ini proposalnya akan disetujui tanpa perbaikan lagi.
Perasaan cemas dan ketakutan akan perbaikan kembali menghantui Alifa. Keringat dingin terus mengalir, mengingat betapa lelahnya ia saat harus merombak rancangan sistem dan analisis sebelumnya. Ia sangat berharap, ini momen di mana ia akan mendapatkan pengakuan atas kerja kerasnya. Setiap kata yang keluar dari mulut dosen pembimbingnya tampak memanjang seperti detik-detik yang berlalu sangat lambat, menciptakan tekanan semakin besar.
Namun, semangat Alifa tak bisa dipadamkan begitu saja oleh ketakutan. Ia telah melewati banyak rintangan sejauh ini dan ini hanyalah salah satu bagian dari perjalanan menuju skripsi. Ia mencoba untuk tetap tenang dan mengingat semua usaha dan dedikasinya yang telah diinvestasikan. Tak peduli apa hasilnya, Alifa tahu bahwa ia telah belajar dan tumbuh melalui setiap tantangan yang ada di hadapannya.
Setelah Miss Elda memeriksa semua pekerjaan Alifa, akhirnya beliau berbicara. Dengan perasaan campur aduk, Alifa mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir Miss Elda.
"Analisis dan rancangan sistemnya sudah cukup bagus. Lalu, nanti rencananya kamu mau buat program berbasis desktop atau web?" tanya Miss Elda, menatap Alifa dengan serius.
Setelah sejenak menelan rasa kaget dan bahagia, Alifa dengan cepat menjawab pertanyaan dosen pembimbingnya tentang jenis program yang akan digunakan.
"Berbasis desktop, Miss. Rencananya mau buat pakai delphi," jawab Alifa dengan tegas.
Miss Elda mengangguk. "Baiklah. Siapkan semua berkas untuk sidang proposalnya, ya," ujarnya sambil menandatangani berkas proposal Alifa.
Rasa lega dan bangga terpancar dari wajah Alifa saat akhirnya dosen pembimbingnya memberikan persetujuan.
Ketika Miss Elda menandatangani berkas proposal Alifa dengan keterangan "Acc Sidang," Alifa merasa seolah-olah dunia berhenti sejenak. Air mata bahagia tak tertahan lagi dan meluncur di pipinya. Setiap perjuangan, kerja keras, dan tangisnya saat merombak analisis dan rancangan sistem telah membuahkan hasil. Tidak hanya itu, tanda tangan dan keterangan tersebut menjadi bukti nyata bahwa usahanya diakui dan diterima.
Saat Alifa melihat halaman judul laporan proposalnya yang kini berkilauan di bawah cahaya, ia merasa bangga pada dirinya sendiri. Semua usaha yang telah dilakukan selama ini tidaklah sia-sia. Langkah pertama menuju sidang skripsi telah diambil, dan Alifa siap menghadapi tahapan berikutnya dengan keyakinan yang lebih besar.
Dengan senyum lebar, Alifa mengucapkan terima kasih kepada Miss Elda. "Terima kasih banyak, Miss. Segera saya selesaikan berkas pengajuan sidang proposalnya." Alifa mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Setelah melepaskan jabatan tangan tersebut, Alifa bergegas memberi salam dan berpamitan untuk memberitahu ibunya tentang kabar baik ini. Bagi Alifa, ibunya adalah sosok yang selalu menjadi tempat berbagi kabar baik dan buruk dalam hidupnya.
Meskipun wajah Miss Elda tetap serius, tetapi matanya berbinar dan alisnya terangkat sejenak. Alifa mengerti bahwa dosen pembimbingnya yang terkenal galak memiliki hati yang penuh perhatian. Baginya, sikap tegas Miss Elda bukanlah tanpa alasan, melainkan sebagai wujud kasih sayang dan dukungan untuk membentuk mahasiswa yang disiplin dan kuat mentalnya.
Keluar dari ruang dosen, Alifa merasa seperti melayang di atas awan kebahagiaan. Semua orang yang melihatnya memahami bahwa ada berita baik yang tengah diemban Alifa. Meskipun Alifa belum membuka mulutnya untuk bercerita, tetapi wajahnya yang berseri-seri sudah cukup mengungkapkan semuanya.
Di lorong kampus, langkah Alifa penuh semangat. Ia melangkah dengan mantap menuju pintu gerbang kampus, dan dari sana ia terus berjalan menuju kosannya. Perasaan bahagia dan pencapaian baru mengiringi langkah-langkahnya, mengingatkan bahwa setiap usaha dan kerja keras tak pernah sia-sia.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan menuju kosannya, Alifa merasa hatinya dipenuhi rasa syukur dan terima kasih kepada Sang Pencipta. Ia mengingat perjalanan panjang yang telah ia tempuh, penuh dengan upaya, kerja keras, dan tantangan. Setiap langkah dan pengorbanan yang ia lakukan kini terasa sepadan. Ia mengucapkan doa-doa dalam hati, merasa diberkahi atas berkah ini.
Pada titik ini, Alifa merasakan kebahagiaan yang begitu mendalam. Setiap detik perjalanan membawanya lebih dekat pada target kelulusannya. Rasa gugup dan cemas yang sebelumnya menghampirinya telah berubah menjadi semangat dan kepercayaan diri. Ia merasa bangga atas dirinya sendiri karena tidak pernah menyerah dan selalu berjuang melalui segala keterbatasan yang ada.
Tak bisa disangkal, Alifa telah melewati banyak rintangan dan tantangan dalam perjalanan menuju sidang proposal ini. Namun, semua itu membentuk kekuatan dan ketabahan di dalam dirinya. Rasa bahagia yang dirasakan saat ini merupakan hasil dari semua usaha dan dedikasi yang telah diberikan sebelumnya.
Bulan sabit terbit di wajah Alifa sejak tadi dan cahayanya terus menyala seiring dengan langkah-langkahnya yang penuh semangat. Sepanjang perjalanan menuju kosan, wajahnya berseri-seri seperti sinar bulan yang tetap terang meskipun malam semakin larut. Bagai lukisan alam yang menghipnotis, ekspresi bahagianya terpancar jelas, seolah-olah refleksi cahaya bulan pada wajahnya menggambarkan ketenangan dan keyakinan yang dalam.
Dalam detik-detik itulah Alifa merasa seperti bulan itu sendiri, menuntunnya melalui kegelapan menuju cakrawala keberhasilan. Ia merasakan kehadiran bulan sabit itu sebagai teman setia yang mengiringi langkah-langkahnya, memberikan semangat dan kekuatan saat perjalanan menjadi berat. Dalam keheningan, ia merasa terhubung dengan alam semesta yang memberikan dukungan dan harapan.
Dalam perjalanannya, Alifa tidak hanya membawa mimpi dan cita-citanya, tetapi juga sebuah energi yang berasal dari kebahagiaan yang tulus. Seakan-akan setiap hembusan angin, membawa pesan bahwa semua usahanya telah diakui dan diberkahi. Bulan sabit yang terus menyala di wajahnya memberikan kilauan yang mengisyaratkan bahwa waktunya untuk bersinar telah tiba, seperti bulan yang menerangi gelapnya langit malam.
Saat akhirnya Alifa tiba di kosan, wajahnya masih berseri-seri. Ia merasa siap untuk menghadapi sidang proposal dengan percaya diri. Kebahagiaan dan semangat ini akan terus membawanya melewati setiap tahap perjalanan akademisnya dengan penuh keyakinan dan harapan.
Dengan hati yang berbunga-bunga, Alifa segera meraih ponselnya dan memutar nomor ibunya. Tidak ada yang bisa menahannya untuk berbagi kabar bahagia ini. Terlebih lagi, hari ini adalah hari ulang tahun Alifa yang ke-21 tahun, dan kabar laporan proposal yang diterima menjadi kado terindah yang pernah didapatkan dalam hidupnya.
Alifa dengan gembira memulai percakapannya. "Halo, Ibu! Aku punya kabar besar!"
Saat suara ibunya terdengar di seberang sambungan, Alifa dengan penuh semangat memberitahu tentang segala hal yang baru saja terjadi. "Ibu, tadi laporan proposalku ... disetujui oleh Miss Elda! Aku akan melakukan sidang menuju skripsi!"
Suara ibu Alifa yang cerah dan bangga. "Oh, Alifa, betapa hebatnya kamu! Aku sungguh-sungguh bangga padamu!"
Ia merasakan kebahagiaan itu mengalir dalam suara ibunya yang penuh dengan kebanggaan dan sukacita. Percakapan itu seperti jembatan yang menghubungkan antara perasaan Alifa dan ibunya, di mana cinta dan dukungan tak terhingga terasa nyata.
Alifa tersenyum lebar. "Terima kasih, Bu. Ini adalah kabar yang luar biasa, terutama karena hari ini adalah ulang tahunku yang ke-21."
Ibunya tersenyum dengan kehangatan. "Wah, kamu benar, Alifa. Ini adalah kado terindah yang kamu berikan pada dirimu sendiri dan juga pada kami."
Alifa tersenyum bahagia. "Iya, Ibu. Aku merasa begitu beruntung mendapatkan dukungan dari Ibu selama ini. Percakapan kita seperti menghubungkan hatiku yang penuh dengan kebahagiaan dengan Ibu.
Ibu Alifa dengan suara yang penuh cinta. "Kita selalu bersama, sayang. Kemenanganmu adalah kemenangan kami semua. Ini adalah bukti kerja kerasmu dan doa-doa kami yang terwujud. Teruslah melangkah maju dengan semangatmu, Alifa."
__ADS_1
Alifa tersenyum lembut. "Aku pasti akan terus berjuang, Bu. Aku bersyukur bisa membagikan momen ini dengan Ibu. Terima kasih sudah selalu ada di setiap langkahku."
Ibu Alifa penuh kasih sayang. "Sama-sama, sayangku. Sekali lagi, Ibu ucapkan selamat ulang tahun walaupun tadi pagi sudah mengucapkannya. Selamat juga atas pencapaianmu yang luar biasa sampai sejauh ini, ya. Ibu semakin bangga kepadamu, Nak."
Alifa tersenyum tulus. "Terima kasih, Ibu. Semua ini tidak akan mungkin terjadi tanpa dukungan dan cinta Ibu."
"Selalu di sini untukmu, Alifa. Semoga hari ini dan semua hari esokmu dipenuhi kebahagiaan," ujar Ibu Alifa dengan lembut.
"Aamiin, Ibu. Terima kasih lagi untuk semuanya," jawab Alifa penuh harapan.
Ibu Alifa menjawab dengan hangat. "Tidak perlu berterima kasih, sayang. Kita saling mendukung dan mencintai. Semoga kamu selalu bahagia."
Alifa dengan penuh semangat berkata, "Aku yakin itu, Bu. Aku akan berusaha semaksimal mungkin."
Ibu Alifa mengangguk. "Kamu benar-benar anakku yang penuh optimis. Tetaplah melangkah dengan teguh. Kamu punya masa depan yang cemerlang di depan."
Alifa merasa bersyukur. "Iya, Ibu. Terima kasih atas kata-kata dan doanya. Aku sayang Ibu. Aku sangat mencintai Ibu."
"Ibu juga mencintaimu, Alifa. Semoga harimu terus menjadi lebih indah," jawab Ibu Alifa penuh cinta.
Percakapan tersebut membawa rasa kedekatan yang hangat di antara Alifa dan ibunya, sebuah ikatan yang tidak tergantikan oleh apa pun.
Seolah-olah waktu berhenti sejenak, Alifa dan ibunya berbagi momen kebersamaan dalam percakapan yang hangat. Mereka tertawa, berbagi harapan, dan bermimpi bersama tentang masa depan yang lebih gemilang. Kabar tersebut memberikan arti yang mendalam bagi ulang tahun Alifa kali ini, mengingat bahwa pencapaian ini tidak hanya menjadi hadiah untuknya, tetapi juga untuk ibunya yang selalu berada di sisinya.
Setelah berbicara dengan ibunya, Alifa merasa hatinya memancarkan kehangatan dan kebahagiaan. Percakapan mereka mengingatkannya betapa pentingnya dukungan keluarga dalam setiap langkah perjalanan hidupnya. Ia merasakan bagaimana kata-kata dan doa-doa ibunya telah memberinya kekuatan tambahan untuk menghadapi tantangan, serta meraih pencapaian.
Sambil tersenyum puas, Alifa menutup panggilan telepon dan merenung sejenak. Ia melihat ke luar jendela, memandangi bulan sabit yang bersinar di langit malam. Bulan itu seperti pelipur lara, mengiringi setiap momen penting dalam hidupnya.
Mengenang perjalanan panjang yang telah dilaluinya, Alifa merasa lebih kuat dan siap menghadapi apa pun yang akan datang. Ia tahu bahwa pencapaian ini adalah buah dari kerja kerasnya dan dukungan yang tak tergantikan dari keluarga dan teman-temannya. Perasaan bahagia dan rasa syukur yang terus mengalir dalam dirinya membuatnya merasa penuh dengan energi dan semangat.
Momen hari ini akan selalu diingat oleh Alifa setiap kali bertemu pada tanggal ulang tahunnya. Ia akan selalu teringat akan perjuangan, dukungan ibu, dan kado terindah yang diterima dalam hidupnya. Alifa semakin bersyukur kepada Allah atas apa yang didapatkan sampai saat ini.
__ADS_1
...***...