
Saking sibuk mengejar impian dan memulihkan kesehatan, Alifa sampai lupa untuk membagi waktu dengan Alim setelah pertengkaran-pertengkaran yang dibuat oleh laki-laki berhidung mancung dengan mata berwarna cokelat seperti warna kulitnya. Sampai banyak yang bilang kalau Alifa dan Alim itu bagai kopi dan susu. Namun, cinta bukan prihal warna kulit, tetapi tentang keamanan dan kenyamanan di hati.
Alim sudah tidak lagi kuliah di kampus yang sama dengan Alifa sejak semester empat karena masalah perekonomian. Alim adalah anak yang pintar, tetapi keadaan ekonomi dan berbagai konflik dalam hidupnya—membuat ia harus kehilangan masa-masa emas dalam mengejar impian. Sudah dapat beasiswa di STAN, tetapi mamanya tidak menginginkan anak sulungnya untuk kuliah di luar Lampung. Hal ini juga disebabkan karena perceraian kedua orang tua Alim dan mamanya sudah pernah gagal menikah dua kali. Kalau dari mama dan papanya, Alim hanyalah anak tunggal. Itu sebabnya, saat Alifa mendengar cerita pilu laki-laki kedua yang berhasil meluluhkan hatinya, membuat Alifa ingin bersama-sama mengobati luka masing-masing dengan cara menjalin hubungan lebih dari sekadar teman. Namun, semakin dijalani, sifat Alim benar-benar membuat Alifa lelah. Ia jenuh dengan pertengkaran-pertengkaran yang berulang, itu-itu terus yang dibahas.
Suatu sore, setelah berhari-hari merenungkan kekhawatirannya, Alifa tidak bisa lagi menahan perasaannya. Ia ingin berbicara dengan Alim tentang kegelisahannya terhadap hubungan mereka yang semakin memburuk. Semua yang diinginkan adalah perubahan yang lebih positif dan saling pengertian dalam hubungan mereka.
Alifa perlahan mendekati Alim yang sedang duduk di sebuah kafe; sebelumnya mereka sudah janjian untuk bertemu. Alifa mencoba tersenyum dan menunjukkan kebaikan hatinya untuk memulai percakapan dengan baik. Setelah duduk di dekat Alim, ia dengan lembut memulai pembicaraan.
"Alim, ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu. Aku merasa khawatir tentang hubungan kita akhir-akhir ini," ucap Alifa, berusaha untuk tetap tenang.
Alim menoleh dengan tatapan agak keheranan. "Kok tiba-tiba bicara seperti ini?" katanya dengan suara sedikit dingin.
"Aku merasa kita perlu berbicara tentang masalah-masalah yang muncul di antara kita. Aku ingin kita bisa lebih saling mendukung dan memahami satu sama lain," kata Alifa dengan harapan agar Alim mendengarkan dan mengerti.
Namun, bukannya merespons dengan empati atau rasa cinta, Alim malah menanggapinya dengan defensif. "Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan. Semuanya baik-baik saja. Jangan mencari-cari masalah di mana tidak ada," jawabnya dengan nada sinis.
Alifa merasa hatinya sedih mendengar reaksi Alim yang begitu dingin. Ia berusaha menjelaskan lebih lanjut, "Aku hanya ingin kita bisa saling berbicara tentang perasaan kita. Aku merasa kadang-kadang kita tidak bisa benar-benar saling mengerti."
Alim terus menolak untuk mendengarkan apa yang Alifa katakan. Ia justru mulai menyalahkan Alifa atas ketidakpuasannya, "Masalahmu adalah kamu terlalu sensitif dan mudah marah. Aku capek harus selalu berurusan dengan emosimu yang tidak stabil."
__ADS_1
Alifa merasa semakin terluka mendengar perkataan Alim. Ia telah berusaha dengan baik hati menyampaikan perasaannya, tapi Alim malah membalas dengan serangan. Perasaan kecewanya semakin mendalam karena Alim tampaknya tidak mau mengakui adanya masalah atau berusaha memperbaiki hubungan mereka.
"Mungkin aku memang sensitif, tapi aku percaya bahwa kita bisa mencoba untuk lebih memahami satu sama lain. Itu adalah bagian dari sebuah hubungan yang sehat," kata Alifa dengan penuh kehendak untuk memperbaiki situasi.
Alim menggelengkan kepala, "Aku tidak merasa ada yang perlu diperbaiki. Kamu yang harus berubah dan berhenti mencari-cari kesalahan dalam diriku."
Ketika Alifa menyadari bahwa Alim tidak berminat untuk mendengar atau mencoba memahaminya, hatinya hancur. Ia telah mencoba dengan baik hati untuk membuka jalur komunikasi dan memperbaiki hubungan, tetapi Alim menutup pintu dan menyalahkan Alifa.
"Padahal selama ini yang suka mencari-cari kesalahan adalah dia, tapi bukan Alim namanya kalau tidak pernah memutar balikkan fakta. Ia bahkan secara tidak langsung, seringkali menuduhku selingkuh. Padahal yang pernah kepergok selingkuh, chattingan dan jalan dengan cewek lain adalah dirinya! Namun, entah terbuat dari apa hatiku, sehingga selalu memaafkannya." Alifa membatin. Ingin menangis, tetapi dibendung. Berusaha untuk tetap kuat, meski matanya sudah berkaca-kaca.
Dalam diam, Alifa merenungkan situasi ini. Ia menyadari bahwa untuk memiliki hubungan yang sehat dan bahagia, komunikasi dua arah dan pengertian dari kedua belah pihak sangatlah penting. Meskipun terasa sulit, Alifa tahu bahwa ia harus memutuskan apakah akan tetap bertahan dalam hubungan yang tidak sehat atau mencari solusi yang lebih baik untuk dirinya sendiri.
Hingga akhirnya, mereka pun pulang dengan masalah yang belum rampung. Begitu terus yang dijalani. Namun, Alifa yang memang sudah terbiasa menghadapi permasalahan dengan melibatkan Allah, jadi meski hatinya terasa sakit, ia tetap bisa berdiri tegak sampai sejauh ini dan terus melangkah mengejar mimpi-mimpinya.
Ia pun tetap fokus belajar, karena baginya, menempuh pendidikan lebih penting daripada harus membuang-buang waktu untuk memikirkan hubungan yang belum tentu akhirnya akan berujung pada pernikahan. Apalagi dengan sikap Alim yang benar-benar membuat Alifa jenuh, hal ini menjadi alasan mendasar baginya untuk berpikir ulang, apakah Alim pantas menjadi suaminya atau tidak.
Alifa pun akhurnya memutuskan untuk mendiskusikan prihal kegelisahan hatinya kepada Allah, karena hanya Dialah teman curhat terbaik.
Setelah berdiskusi dengan Allah subhanahu wa ta'ala di sepertiga malam, Alifa semakin yakin bahwa ia harus mengambil keputusan yang sulit. Alifa menyadari bahwa ia perlu menjaga kesehatan dan kebahagiaannya sendiri, bahkan jika harus mengakhiri hubungan dengan Alim.
__ADS_1
Dengan berat hati, Alifa memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan Alim. Meskipun sulit, ia merasa bahwa itu adalah keputusan yang benar untuk dirinya sendiri. Alifa ingin menemukan seseorang yang benar-benar mencintai dan menghargainya tanpa harus merasa terkekang atau meragukan dirinya sendiri.
Setelah berpisah, Alifa memberi dirinya waktu untuk menyembuhkan diri dan mengevaluasi apa yang ia inginkan dalam hubungan yang sehat. Meskipun perpisahan itu menyakitkan, tetapi ia memutuskan untuk fokus dan menemukan kebahagiaan dalam kehidupannya sendiri.
Beberapa bulan kemudian, Alifa menemukan kedamaian dan kebahagiaan dalam dirinya. Ia belajar untuk menerima dirinya sendiri sepenuhnya dan tidak lagi meragukan nilai dirinya. Ia juga menyadari bahwa cinta sejati adalah tentang saling mendukung, menghormati, dan tumbuh bersama.
Dalam perjalanan hidupnya, Alifa bertemu dengan seseorang yang benar-benar menghargai dirinya dan memberinya cinta yang sejati. Mereka membangun hubungan yang sehat berdasarkan saling pengertian, komunikasi terbuka, dan kebebasan untuk menjadi diri sendiri.
Alifa belajar dari pengalaman buruknya dengan Alim dan menggunakannya sebagai pembelajaran untuk memilih hubungan yang lebih baik di masa depan. Ia bersyukur telah memiliki keberanian untuk mengakhiri hubungan yang tidak sehat dan sekarang dapat melangkah maju dengan penuh keyakinan menuju masa depan yang lebih baik.
Mencari kebahagiaan dalam hubungan tidak selalu mudah. Terkadang, kita harus melewati rintangan dan mengambil keputusan sulit untuk menjaga kesehatan emosional dan mental kita. Lebih dari itu, kita bisa menunjukkan bahwa pentingnya memiliki keyakinan pada diri sendiri dan nilai-nilai diri, sehingga kita tidak perlu meragukan apakah seseorang pantas menjadi bagian dari hidup kita atau tidak.
Kita tidak perlu takut untuk melakukan introspeksi diri dan berbicara jujur dengan Allah tentang perasaan dan kegelisahan hati. Sebab, percakapan dengan-Nya dapat memberi kita kekuatan dan panduan dalam menghadapi masalah hidup.
Jangan sampai masalah percintaan menghalangi kita dalam mengejar impian. Kita hanya perlu melepaskan diri dari hubungan yang tidak sehat, karena masih ada seseorang di luar sana yang pantas mencintai dan dihargai sepenuhnya. Dengan tetap percaya pada diri sendiri dan memilih hubungan yang sehat, kita dapat menemukan cinta sejati dan bahagia bersama pasangan yang tepat.
Semoga kisah Alifa menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk menghadapi permasalahan hidup dengan tegar, percaya pada diri sendiri, dan memilih hubungan yang membawa kebahagiaan dan kedamaian dalam hidup.
...****...
__ADS_1