Catatan Mahasiswa Akhir

Catatan Mahasiswa Akhir
Sidang Proposal


__ADS_3

Tak terasa, waktu berjalan begitu cepat. Pada akhirnya, Alifa berhasil menyelesaikan penelitiannya dan menghasilkan laporan yang komprehensif tentang pentingnya sistem pencatatan yang terkomputerisasi bagi usaha kecil. Alifa mendapatkan kado terindah dari dosen pembimbingnya di usianya yang ke-21 tahun, yaitu menyetujui laporan proposalnya untuk diuji terlebih dulu sebelum lanjut pada tahap laporan skripsi.


Senyum semringah terpancar jelas di wajah Alifa. "Terima kasih banyak, Miss. Terima kasih. Ini adalah kado terindah untuk saya. Saya janji, tidak akan pernah mengecewakan Miss Elda."


"Alifa, senyumanmu begitu memikat hati. Saya sangat bahagia melihatnya. Ingatlah, jangan terlalu gugup saat sidang nanti. Percayalah pada dirimu sendiri dan tunjukkan kepercayaan itu dalam setiap kata yang kamu ucapkan. Kamu pasti bisa melakukannya dengan baik," ujar Miss Elda. "Terlebih lagi, jangan lupakan persiapan yang telah kamu lakukan. Kamu telah bekerja keras untuk sampai ke tahap ini. Jadi, jangan ragu pada kemampuanmu, ya! Buktikan pengetahuanmu pada persidangan nanti di hadapan penguji. Ingatlah bahwa setiap sidang adalah kesempatan untuk belajar dan tumbuh. Jika ada pertanyaan yang sulit, maka cobalah untuk tenang dan berpikir sebelum menjawab. Kamu punya potensi besar, Alifa, dan saya yakin bahwa kamu akan mengesankan semua orang di sana," lanjutnya.


"Terima kasih, Miss, atas dukungan dan nasihat berharganya. Saya sangat menghargainya. Saya akan mencoba sebaik mungkin untuk tidak gugup dan menjalani sidang dengan percaya diri. Persiapan saya sudah saya lakukan dengan matang, dan saya akan mengingat semua yang telah saya pelajari. Saya berharap bisa memberikan yang terbaik dalam sidang nanti. Semua kata-kata dan nasihat dari Miss Elda benar-benar memberi semangat serta keyakinan pada saya. Saya berjanji akan berusaha sekuat tenaga!"


Setelah berbincang dengan penuh semangat bersama Miss Elda, Alifa memberikan senyuman penuh apresiasi. "Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih banyak, Miss, atas semua dukungannya. Saya akan mengikuti nasihat-nasihat Miss dengan sungguh-sungguh," ucap Alifa sambil sedikit membungkukkan kepala sebagai tanda penghormatan.


Dengan berkas-berkas syarat sidang proposal yang rapi dan lengkap di tangannya, Alifa meninggalkan ruangan Miss Elda dengan langkah mantap. Ia berjalan melewati lorong-lorong kampus yang dikenalnya dengan baik, menuju ruang baku jurusan Sistem Informasi. Di ruang baku tersebut, ia meletakkan berkas-berkas tersebut dengan hati-hati di atas meja yang telah disediakan. Udara ruangan terasa tegang, karena tidak hanya Alifa yang akan menjalani sidang, tapi juga banyak mahasiswa lainnya yang sedang menunggu giliran.


Dengan perasaan campur aduk antara gugup dan percaya diri, Alifa memeriksa kembali berkas-berkasnya dan berdoa sejenak. Setelah itu, ia meninggalkan ruangan tersebut karena jadwal dan nama dosen penguji akan keluar keesokan harinya.


Langit senja membentang di atas kampus, memancarkan warna-warni keemasan yang hangat. Alifa melangkah dengan langkah ringan, wajahnya masih memancarkan semangat dari hasil sidang proposal yang telah dilalui. Dalam hatinya terasa kombinasi perasaan bahagia dan sedikit lega. Ia tidak sabar untuk menyampaikan berita baik ini kepada keluarganya.


Saat langkah Alifa memasuki lorong menuju asrama mahasiswa, suasana tenang dan nyaman menyapanya. Cahaya lampu-lampu jalan mulai menyala, memberikan suasana hangat dan mengundang dalam senja yang mulai memudar. Tidak terasa, Alifa telah sampai di depan pintu kamarnya. Dengan hati berbunga-bunga, ia mengeluarkan kunci dan membuka pintu.


Di dalam kamarnya, suasana sederhana dan nyaman. Alifa meletakkan tasnya dengan berkas-berkas penting di meja belajar. Ia duduk sejenak di tepi ranjang, membiarkan dirinya merasakan momen ini. Rasa bahagia dan lega masih berpadu dalam dirinya.


"Sekarang hanya tinggal menunggu hasilnya saja," gumam Alifa pada dirinya sendiri sambil tersenyum. Ia merasa optimis bahwa usahanya selama tiga tahun ini akan membuahkan hasil. Hanya tiga tahun kuliah untuk meraih gelar strata satu, hal itu membuatnya merasa bangga dan puas dengan pencapaian yang sudah diraihnya.


Alifa mengambil ponselnya dan menelepon ibunya untuk berbagi kabar gembira. Suara ibunya yang penuh kebanggaan dan dukungan membuat Alifa semakin yakin bahwa keputusannya untuk mengejar gelar dalam waktu singkat adalah langkah yang tepat.


"Ibu, ada kabar baik! Alifa sebentar lagi akan berhasil mengejar gelar dalam waktu singkat!" ujar Alifa sambil tersenyum.


Ibu Alifa dengan suara penuh kebanggaan. "Alhamdulillah, Alifa! Ibu sangat bangga padamu. Itu adalah langkah yang tepat dan ibu selalu mendukungmu."


"Terima kasih, Ibu. Dukungan Ibu sangat berarti bagiku," ujar Alifa dengan senyum semringah.


"Semoga langkah ini membuka pintu-pintu kesuksesan yang lebih besar untukmu, nak. Kami selalu ada untukmu."


"Aamiin. Terima kasih, Bu. Alifa sangat bersyukur memiliki keluarga yang selalu mendukung."


"Kamu pantas mendapatkan semua kesuksesan ini, Alifa. Teruslah bekerja keras dan jangan lupa bersyukur."


"Tentu saja, Bu. Terima kasih banyak untuk doanya. Oh iya, jadwal sidang proposalnya besok baru keluar, Bu. Doakan sidangnya nanti berjalan lancar ya, Bu," pinta Alifa, tak henti memohon doa restu dari ibunya.


"Sama-sama, nak. Semoga Allah selalu melindungi dan memberkati langkah-langkahmu. Yang penting selalu ingat pesan ibu, ya!"


"Iya, Bu. Aku ingat kok," jawab Alifa tersenyum, seolah sedang berbicara di hadapan ibunya langsung, padahal hanya melalui telepon. "Sesibuk apa pun kamu, jangan pernah tinggalkan salat dan jangan pernah telat makan," ujar Alifa sambil mempraktikkan nada bicara ibunya.

__ADS_1


Kemudian Alifa dan ibunya tersenyum terbahak-bahak. Telepon pun berakhir.


Sambil memandangi langit senja yang semakin redup di luar jendela kamarnya, Alifa merenungkan perjalanan panjangnya selama tiga tahun di perguruan tinggi yang dijuluki "Kampus Sang Juara". Ia tahu bahwa perjalanannya belum berakhir, tapi ia sudah membuktikan pada dirinya sendiri bahwa dengan tekad dan usaha keras, ia mampu menggapai apa yang diinginkannya.


...***...


Pada hari presentasi, Alifa dengan percaya diri menyampaikan hasil penelitiannya di depan dosen-dosen dan teman-temannya. Miss Elda pun tampak bangga melihat perkembangan Alifa dari awal hingga akhir penelitian.


"Selamat, Alifa. Kamu telah melakukan pekerjaan yang luar biasa. Penelitianmu sangat bermanfaat dan memberikan wawasan baru bagi kita semua," ucap Miss Elda dengan bangga.


"Saya juga mengucapkan selamat kepadamu, Alifa, laporan penelitian proposalmu ini, bagus banget. Saya suka dengan kinerjamu dalam menyelesaikan pekerjaanmu, mulai dari analisis, hingga rancangan programnya sangat luar biasa untuk kemajuan usaha kecil seperti tempat penelitianmu. Kami tunggu laporan skripsinya, ya. Selamat mengerjakan tahap selanjutnya." Miss Ratna, dosen penguji pada laporan proposal hingga skripsi Alifa nanti.


Alifa tersenyum bahagia mendengar pujian dari dosen pembimbing dan pengujinya.


"Saya juga mengucapkan terima kasih banyak kepada Miss Elda yang sudah membimbing saya dengan baik. Saya berjanji, tidak akan mengecewakan Miss Elda laporan skripsi saya ke depannya. Saya akan segera menyelesaikannya dan menghubungi Miss Elda kalau sudah siap untuk bimbingan selanjutnya." Wajah Alifa tampak berseri.


"Tak lupa, saya juga berterima kasih kepada Miss Ratna atas kritik dan saran yang membangun untuk membuat tugas akhir saya sebagai mahasiswa ini menjadi lebih baik. Sehingga, ke depannya ilmu-ilmu yang sudah didapatkan bisa bermanfaat setelah saya lulus kuliah," lanjut Alifa sambil menghela napas lega. Ia bersyukur karena satu per satu, pekerjaannya selesai juga.


Setelah itu, dosen pembimbing dan penguji Alifa berpamitan, mereka keluar ruangan; hanya tersisa Alifa dan teman-temannya pun masuk ke dalam ruangan. Alifa mendapatkan apresiasi dari teman-temannya yang hadir dalam persidangan tersebut. Perjuangannya dalam menemukan judul proposal yang tepat dan melaksanakan penelitian dengan semangat telah membuahkan hasil yang memuaskan.


Sambil memberikan tepuk tangan, salah seorang teman Alifa berkata, "Selamat, Alifa! Kamu sangat luar biasa tadi dalam mempresentasikan hasil dari laporan proposalmu."


Alifa merasa terharu. "Terima kasih banyak, teman-teman. Aku tidak akan bisa melakukannya tanpa dukungan kalian."


"Aku bersyukur semuanya berjalan baik. Ini adalah perjalanan yang penuh perjuangan, tapi hasilnya sepadan," ujar Alifa sambil tersenyum.


"Kamu pantas mendapatkan apresiasi ini, Alifa. Semua kerja kerasmu terbayar," timpal kakak Alifa sambil memeluk adik tercintanya itu.


"Aku sangat menghargai kata-kata baik kalian. Ini semua berkat doa dan dukungan dari kalian juga. Apa lagi kakakku yang selama ini sudah mau mengorbankan waktu berharganya untuk menjaga dan memberikan masukan agar aku bisa memberikan yang terbaik." Alifa memeluk kakak dan teman-teman perempuannya dengan hangat.


"Kami bangga bisa menjadi bagian dari pencapaianmu ini, Alifa. Selamat sekali lagi!" ujar teman Alifa yang lainnya.


"Terima kasih, teman-teman. Ini adalah awal dari perjalanan panjang dan aku berharap kita semua terus mendukung satu sama lain," ujar Alifa, penuh harap.


Kemudian, satu per satu teman-teman Alifa berpamitan.


"Kami pamit dulu ya, Alifa. Selamat pulang dan istirahat dengan baik!"


"Jika kamu perlu bantuan lagi, maka jangan ragu untuk menghubungi kami. Selamat berjuang kembali, Alifa!"


"Terima kasih, teman-teman. Selamat berjuang juga untuk kalian," jawab Alifa. Matanya berkaca-kaca, meski yang datang di persidangannya sedikit, setidaknya memenuhi persyaratan sidang. Hal itu benar-benar membantu melancarkan proses persidangannya. Dari sini, Alifa sadar, siapa yang benar-benar peduli dengannya, bahkan seseorang yang diharapkan bisa selalu menemaninya pun tidak hadir. Alifa benar-benar kecewa untuk kesekian kalinya dengan sikap Alim. Namun, ia tidak bisa membohongi perasaannya, kalau ia masih mencintai Alim.

__ADS_1


Setelah semua temannya pergi, Alifa dan kakaknya pun pulang ke kosan.


Tiba di kosan, mereka duduk dengan tenang, merenungkan hari yang penuh pencapaian tersebut.


Kakak Alifa memulai percakapan. "Kamu benar-benar telah melakukan pekerjaan yang luar biasa, Alifa. Kakak sangat bangga padamu."


"Terima kasih, Kak. Semua ini tidak mungkin terjadi tanpa dukungan dari Kakak, keluarga, dan teman-teman semuanya. Alifa benar-benar merasa beruntung di kelilingi orang-orang tulus seperti kalian."


"Kamu telah membuktikan bahwa keputusanmu untuk mengejar gelar dengan cepat adalah langkah yang tepat. Semangatmu benar-benar menginspirasi."


"Aku tahu perjalanan ini belum selesai, Kak. Tapi aku akan terus berjuang."


Mereka berdua melanjutkan obrolan hangat mereka sambil merencanakan langkah-langkah selanjutnya dalam perjalanan Alifa menuju kesuksesan akademiknya.


Dua jam berlalu, Alifa baru ingat kalau ia belum mengabari ibu dan ayahnya tentang hal ini. Alifa mengambil ponselnya dengan senyum di wajahnya dan mulai menghubungi ibu dan ayahnya untuk segera memberitahukan kabar baik tersebut.


"Halo, Ibu. Halo, Ayah. Ada kabar baik yang ingin Alifa bagikan."


Ibu Alifa mengerutkan dahinya. "Apa itu, nak? Ceritakanlah?"


"Kami penasaran, Alifa. Apa yang terjadi?" tanya Ayah Alifa.


Alifa dengan suara ceria berkata, "Alifa lulus dalam ujian laporan proposalnya, Yah, Bu. Persidangannya tadi sukses dan Alifa mendapatkan banyak apresiasi dari dosen pembimbing, dosen penguji, dan teman-teman yang hadir."


Ibu Alifa dengan suara penuh kebahagiaan mengapresiasi. "Alhamdulillah! Itu adalah berita yang sangat baik. Kami sangat bangga padamu, nak."


"Kamu telah bekerja keras untuk ini, Alifa. Kami senang melihat usahamu membuahkan hasil," ujar Ayah Alifa yang turut bangga atas keberhasilan anaknya.


"Terima kasih, Ibu, Ayah. Dukungan kalian selalu menjadi motivasi terbesar bagi Alifa."


Ibu Alifa berharap, "Semoga ini menjadi awal dari banyak kesuksesan yang akan kamu capai, nak. Kami selalu mendukungmu."


Ayah Alifa pun menyemangati. "Tetap semangat, Alifa, dan jangan lupa bersyukur atas pencapaian ini."


"Siap! Alifa akan selalu ingat pesan Ayah dan Ibu. Terima kasih atas doa dan dukungannya. Alifa sangat bersyukur memiliki keluarga seperti kalian."


"Sama-sama, nak. Semoga Allah terus memberkati langkah-langkahmu ke depannya." Doa ibu Alifa dengan tulus, matanya berkaca-kaca.


Alifa merasa hangat dalam hatinya karena dukungan dan cinta yang begitu besar dari keluarganya. Ia tahu bahwa mereka selalu ada di sampingnya dalam setiap perjuangan dan pencapaiannya.


Dari pengalaman tersebut, Alifa belajar bahwa ketekunan, ketelitian, dan semangat untuk terus berusaha adalah kunci untuk meraih kesuksesan dalam mengejar pengetahuan dan mencapai tujuan akademiknya.

__ADS_1


...****...


__ADS_2