
Pada suatu hari, Alifa dan teman-teman kosannya, Humaira (kakak Alifa), Meli, Asih, Tia, Sari, Nania, dan yang lainnya merencanakan sesuatu untuk memberikan kejutan kepada ibu kosannya, Ibu Ovi. Mereka pun melibatkan adik ibu kosannya, Kak Gina, untuk menyukseskan rencana tersebut. Tidak ada dekorasi yang spesial dalam acara memberikan kejutan ulang tahun untuk ibu kosan mereka, hanya membeli kue tar sederhana.
Mereka mulai aksi membuat kerusuhan di kosan pada tengah malam agar ibu kosannya bangun, ada dua orang yang bersandiwara bertengkar, yang lainnya bersembunyi di kamar masing-masing. Kosan mereka ada dua tingkat.
"Woy, apa lo? Ngapain lo minep di sini? Kan lo enggak ngekos di sini!" ujar Asih kepada Tia dengan singut.
"Ya, kenapa emangnya? Kan gua udah minta izin sama Bu Ovi. Kok lo yang sewot!" Tia menanggapi dengan suara lantang.
"Jelaslah gua sewot, lo numpang di kosan ini tanpa bayar sepersen pun." Suara Asih semakin meninggi.
Di malam yang gelap gulita, ketika langit ditutupi oleh awan-awan yang menghalangi cahaya bulan, Alifa dan teman-temannya merayakan momen yang tak terlupakan. Suara tawa mereka menggema di sudut-sudut kosan yang sunyi, seperti bintang-bintang kecil yang berkelip di malam yang terlupakan.
Alifa dan yang lain keluar kamar, mereka berpura-pura mendamaikan Asih dan Tia, berharap ibu kos mereka bangun. Namun sayangnya, yang mendengar kerusuhan itu duluan adalah hansip di lingkungan kosan mereka.
Ketika langkah mereka tertangkap oleh pandangan tajam Hansip, ketakutan berkecamuk dalam hati mereka. Seperti kupu-kupu malam yang terkejut saat sinar terang menerobos gelapnya malam, mereka bersembunyi dalam kegelapan kamar kosan, bergetar di antara canda dan gemuruh. Mereka mengintip apakah hansipnya masih berkeliling di sekitar kosan atau sudah pergi.
Namun, kegembiraan tak terbendung muncul ketika ancaman meredakan. Seperti bunga-bunga yang bermekaran di bawah sinar rembulan, mereka keluar dari tempat persembunyian mereka dengan tawa yang mengalun manis. Hati mereka yang mencampur aduk antara ketakutan dan kegembiraan, berdegup kencang dalam ritme yang tak tertahan.
Meskipun awalnya terdapat keruwetan dan kegaduhan, kegagalan yang hampir melanda tak mampu meredam semangat mereka. Seperti burung-burung malam yang tak terlihat, mereka menyusun rencana dengan penuh tekad dan semangat. Mereka menghidupkan suasana kosan seperti panggung drama gelap yang penuh misteri.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, setelah situasi aman. Meli menelepon Kak Gina, menanyakan gimana keadaan rumah ibu kos mereka. Kosan mereka memang satu tempat dengan rumah ibu kosannya, hanya disekat pagar saja.
Kak Gina menjawab telepon dari Meli dengan suara pelan, "Halo, ada apa?" ujarnya yang ikut bersandiwara, tetapi dengan suara tawa, meski bisik-bisik.
Meli menjawab dengan terengah-engah, "Kak Gina, tadi kita hampir ketahuan Pak Hansip. Kami semua bersembunyi di dalam kamar kosan sekarang. Bagaimana keadaan di rumah ibu kos?"
Kak Gina yang tahu tentang rencana kejutan tersebut, tersenyum sambil menjawab, "Tenang saja, semuanya aman di sini. Ibu sedang tidur pulas di dalam kamar. Tidak ada yang mencurigakan."
Meli merasa lega mendengarnya. Ia memberikan kabar tersebut kepada Alifa dan lainnya yang ada di kamar kosan. Mereka merasa bersyukur bahwa rencana mereka masih bisa berlanjut tanpa ada kendala besar.
Di dalam kamar Ibu Ovi. "Bu, anak-anak buat ulah lagi tuh. Ayah sempat dengar kalau mereka ditegur sama hansip."
Setelah beberapa saat merencanakan langkah selanjutnya, Alifa dan teman-temannya mulai bergerak secara hati-hati. Mereka keluar dari kamar kosan dan melintasi pagar menuju rumah ibu kos. Sambil berjalan di kegelapan malam, mereka mencoba untuk tidak membuat suara yang terlalu bising agar tidak mengganggu ibu kos dan tetangga sekitar.
Tiba di rumah ibu kos, mereka masuk dengan hati-hati. Kak Gina membuka pintu dengan kunci yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Mereka berusaha secepat mungkin menyiapkan kejutan ulang tahun untuk ibu kosannya. Tia mengambil kue tar dari dalam kantong plastik dan meletakkannya di atas meja ruang tamu. Sementara itu, Nania dan Sari mencari lilin di dapur dan segera menyalakannya.
Alifa dan Asih sebagai penanggung jawab rencana ini, menyuruh teman-temannya untuk bersiap bersembunyi. Mereka mengatur diri di balik pintu masuk dan di sudut ruangan, menanti momen yang tepat untuk memberikan kejutan.
Beberapa menit kemudian, Alifa melihat Ibu Ovi keluar dari kamarnya. Ia mengucek-ngucek matanya, bingung melihat suasana yang sedikit berbeda dari biasanya. Tiba-tiba, Ibu Ovi melihat kue tar dan lilin yang tersedia di meja ruang tamu. Ia terkejut dan tersenyum lebar.
__ADS_1
Meskipun tidak ada dekorasi megah atau cahaya berkilau di ruang itu, tetapi dalam kebersamaan mereka, sejuta bintang berpendar dan menari dalam gelapnya malam. Mereka menghadirkan kehangatan dan keceriaan dengan kasih sayang yang mereka bagikan.
Di tengah gelapnya malam, mereka memberikan kejutan yang sederhana, tetapi penuh makna.
"Selamat ulang tahun, Ibu Ovi!" serentak Alifa dan teman-temannya keluar dari tempat persembunyian mereka sambil menyanyikan lagu ulang tahun dengan riang.
Kue tar menjadi simbol persahabatan yang manis dan lilin yang menyala adalah nyala api semangat yang tak pernah padam. Dalam riuhnya tawa dan nyanyian mereka, suasana kosan menjadi panggung kecil yang penuh cahaya, meskipun dihiasi oleh bayangan dan kegelapan.
Ibu Ovi terharu dan senang melihat kejutan dari anak-anak kosannya. Air mata bahagia pun mengalir di pipinya. Ia merasa sangat bersyukur memiliki mereka sebagai anak-anak kos yang perhatian dan peduli.
Setelah momen kejutan itu, mereka semua berkumpul di ruang tamu dan menghabiskan waktu bersama. Alifa dan teman-temannya bercerita tentang kerusuhan di kosan yang hampir membuat rencana mereka terbongkar.
Ibu Ovi tertawa mendengarnya, lalu ia berkata, "Kalian lucu banget. Lagian, ada-ada aja, sih. Udah tahu, sekarang ini tengah malam, eh ... malah ribut. Buat ulah aja. Tapi terima kasih atas kejutannya, ini sangat berarti bagiku. Kalian adalah keluarga kosku yang luar biasa."
Mereka menyadari bahwa momen tersebut bukanlah tentang dekorasi yang megah atau hiasan yang spektakuler. Kebersamaan dan perhatian yang mereka berikan satu sama lain adalah harta yang tak ternilai. Seperti kembang api yang memercik dalam malam yang pekat, kehadiran mereka mengubah keadaan menjadi sesuatu yang berarti dan indah.
Dalam malam yang penuh keceriaan dan kehangatan itu, mereka semua merayakan takdir yang membawa mereka bersama. Dalam ketidaktahuan malam yang gelap, mereka menemukan terang satu sama lain, menggenggam erat tangan satu sama lain, dan menyadari bahwa cinta dan persahabatan adalah dekorasi terindah yang menghiasi ruang kosan mereka.
Malam itu, mereka mengukir kenangan yang akan terus hidup dalam hati mereka, seperti bintang-bintang yang tetap bersinar di langit malam. Dalam momen-momen yang sederhana, mereka belajar bahwa kebersamaan dan perhatian adalah yang membuat hidup berarti, bahkan dalam ketidaksempurnaan dan kegelapan yang melingkupi kita.
__ADS_1
...****...