CEO Galak Vs Cewek Bar-bar

CEO Galak Vs Cewek Bar-bar
Bab 10. Kerja Lembur Hari Pertama


__ADS_3

Sementara itu Kamila sudah mendapatkan laporan lagi dari Nando. Wanita yang usianya sudah tidak muda lagi namun masih terlihat cantik seperti brand ambassador produk anti aging itu pun terlihat sangat senang.


"Aku rasa sebaiknya kita selesaikan pekerjaan ini dengan cepat. Sebelum anakmu itu berubah pikiran. Dia benar-benar sudah punya pacar!" kata Kamila pada suaminya Indra.


"Siapa wanita itu?" tanya Indra.


"Siapa lagi, ya sekertaris magang yang nama belakangnya Setiawan itu. Pa, percepat saja pekerjaanmu. Kita langsung melamar ke keluarga Setiawan itu!" kata Kamila pada suaminya.


Sementara itu Carissa harus kembali berkutat dengan banyaknya pekerjaan yang dia lakukan.


Carissa baru tahu kalau bekerja itu seperti ini sulitnya. Kakinya nyaris mau lepas, bagaimana tidak. Dia harus bolak-balik mengambil beberapa dokumen dari ruang sekertaris, setelah itu dia harus membeli minuman untuk Raja dengan segala macam ini dan itu yang tidak sesuai. Carissa harus bolak-balik ke kafe di depan perusahaan.


Hingga dia hampir jatuh saat akan kembali setelah mengambil dokumen dari ruang sekertaris.


Untung saja, Marzi datang dengan cepat dan menangkap tubuhnya. Kalau tidak, Carissa pasti sudah jatuh menubruk ubin perusahaan yang dingin dan keras itu.


Mata Carissa menatap ke arah Marzi. Bagi Carissa saat ini sepertinya Marzi berubah menjadi seorang superhero yang menyelamatkan dirinya. Marzi yang memang sudah tampan malah terlihat menjadi lebih tampan lagi bagi Carissa.


Posisi mereka seperti posisi Kareena Kapoor dan Hrithik Roshan di salah satu scene film mereka. Dimana saat Kareena Kapoor jatuh di tolong oleh Hrithik Roshan. Kedua pasang mata saling pandang dan menatap kekaguman satu sama lain.


"Ekhem!"


Keduanya baru sadar saat terdengar deheman dari Anton yang baru saja keluar dari ruang sekertaris.


Carissa buru-buru berdiri dengan baik dan melepaskan tangannya dari Marzi.


"Maaf kak, pak!" kata Carissa yang langsung menganggukkan kepalanya perlahan pada Marzi dan Anton bergantian.


Setelah itu Carissa segera meninggalkan ruangan itu dan pergi ke ruang CEO.

__ADS_1


Anton terlihat tercengang ketika melihat Carissa pergi.


"Itu tadi. Kenapa dia memanggil kita dengan sapaan berbeda. Kamu di panggil kak, kenapa dia menyapaku dengan pak?" tanya Anton bingung.


Marzi hanya tersenyum dan menepuk bahu Anton sambil berlalu dan masuk ke ruang sekertaris lagi.


"Heh, apa artinya itu?" tanya Anton.


"Apalagi? dia memanggil sesuai dengan apa yang dia lihat!" kata Marzi sebelum benar-benar masuk ke ruangan sekertaris.


Anton berkacak pinggang dah menggelengkan kepalanya.


"Apanya yang pak sih? aku menikah juga belom, masak iya sudah seperti bapak-bapak?" tanya Anton bingung.


Dan Carissa sendiri, dia sudah berjalan dengan langkah yang lunglai saat akan masuk ke ruangan CEO. Gadis itu memang suka olahraga, tapi sayangnya dia tidak suka maraton. Kalau dia berjalan lurus yang di hitung dengan jumlah langkah kakinya yang di suruh ke sana dan ke sini oleh Raja. Mungkin sejak tadi sampai saat ini dia sudah berjalan ke Monas dan pulang lagi. Sudah sangat jauh, lututnya saja rasanya sudah pegal dan linu.


Telapak kakinya juga rasanya sangat berat untuk di angkat.


"Aku berubah pikiran, aku tidak mau baca dokumen bulan Juli. Cari dokumen bukan Agustus saja, jangan lupa revisi yang aku beri coretan di dokumen ini. Lalu untuk besok, aku tidak mau bertemu dengan klien dari luar kota. Pastikan klien yang aku temui besok semuanya adalah klien dari dalam kota saja. Luar kota sedang tidak bagus cuacanya, bisa saja mereka membawa virus berbahaya!" kata Raja tanpa melihat ke arah Carissa dan menyodorkan dokumen yang sudah dia coret sana sini per halamannya.


Sementara itu Carissa masih menatap kesal pada Raja.


'Kalau bukan untuk mendapatkan kembali fasilitas dari papa. Sudah aku lempar semua dokumen ini ke wajah pria tidak berperasaan ini. Dia anggap apa aku ini? robot? robot juga perlu di charger kan, juga butuh istirahat selama di charger. Astaga, kakiku sudah mau patah, aku lelah sekali. Gini amat sih mau hidup enak!' keluh Carissa dalam hatinya.


Raja lalu melihat ke arah Carissa yang belum juga meraih dokumen yang dia dorong ke arahnya sejak tadi.


"Hei, dengar tidak? kamu sedang apa? melamunkan apa?" tanya Raja ketus.


"Hah, tidak bos. Iya iya, garis biru kan, oke oke!" kata Carissa yang lantas keluar dan menuju ke meja kerjanya di depan ruangan Raja.

__ADS_1


Begitu Carissa keluar, Raja melihat ke arah pintu dan berdecak kesal.


"Ck.. aku pikir dia akan menyerah dengan sendirinya. Tapi ternyata dia kuat mental dan fisik juga. Tapi ini baru satu hari gadis tengil. Besok pasti kamu akan menyerah!" kata Raja bergumam.


Raja sengaja memperbanyak tugas untuk Carissa dengan segala macam tugas yang aneh dan terkesan mengada-ada sebenarnya. Karena memang dia tidak suka ada wanita di timnya. Raja masih berpikir kalau semua wanita itu pengkhianat. Mencari wanita yang setia itu sama seperti mencari jarum dalam jerami. Hanya akan ada satu dua antara ribuan bahkan ratusan ribu atau bahkan jutaan.


Carissa rasanya ingin menangis. Tapi dia mencoba untuk tetap mengerjakan apa yang di perintahkan oleh Raja.


"Raja hutan itu, yang benar saja apa dia Hitler. Ya Tuhan! kenapa hampir semuanya di garis biru olehnya. Dia baca atau sebenarnya hanya sembarangan menggaris saja sih?" gumam Carissa yang merasa sudah sangat lelah tapi tak akan bisa mengerjakan pekerjaan di depannya itu dalam waktu singkat.


Sudah lewat jam lima sore. Para karyawan biasa sudah banyak yang pulang. Tapi yang bekerja di ruang sekertaris akan kembali setelah pekerjaan mereka selesai. Bisa satu jam setelah jam kerja, atau bahkan sampai dia atau tiga jam setelah itu.


Carissa benar-benar sudah lelah, dia sampai mengulang beberapa kali revisi karena jari-jarinya semakin sulit di kendalikan dan mengetik huruf yang salah sejak tadi.


"Kamu selesaikan itu, kalau sudah bawa ke ruangan ku. Besok pagi, aku datang sudah harus ada di sana!"


Kata Raja sambil lalu, sepertinya dia akan pulang. Carissa hanya terus mengetik tanpa memperhatikan apa yang di katakan Raja. Pada intinya dia harus kerja lembur di hari pertamanya. Benar-benar luar biasa bukan.


Semua karyawan sudah satu persatu pulang. Sudah sangat sepi.


"Agkh... lelah sekali!" keluh Carissa sambil memijat lengannya bergantian dengan tangannya sendiri.


"Ini minumlah!" kata seseorang yang menyodorkan segelas kopi dingin untuk Carissa mereknya Bintangbuck.


Carissa melihat ke arah pemilik tangan yang menyodorkan kopi itu.


'Kak Marzi, you are my hero!' batin Carissa yang seperti mendapatkan jus semangka di tengah gurun Sahara.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2