
Carissa membelikan semua makanan yang akan di berikan pada para kepala divisi yang di ajak meeting oleh Raja. Begitu jam makan siang, Carissa meminta dua orang OB untuk membantunya.
Setelah semuanya beres Carissa yang akan kembali ke ruangannya bertemu dengan Marzi yang baru saja selesai meeting di tempat lain.
"Hai Carissa!" sapa Marzi.
Carissa yang awalnya menunduk ke bawah berharap menemukan kartu kredit unlimited pun lantas mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Marzi.
"Hai kak Marzi!" balas Carissa menyapa Marzi.
"Sedang apa? apa yang kamu cari di bawah sana?" tanya Marzi.
"Hah, aku lapar. Tapi uangku hanya cukup untuk naik taksi online saat pulang nanti. Bos memberikan aku pekerjaan untuk mondar mandir mencari perlengkapan meeting, aku harus berikan uang tips pada OB untuk membantuku. Aku berharap aku menemukan kartu kredit unlimited di lantai!" kata Carissa terdengar sangat menyedihkan.
Marzi terdiam, terus terasa jadi tidak percaya sebenarnya apa yang terjadi dengan Carissa di rumahnya. Mamanya terlihat sangat sayang padanya, dan daru rumahnya itu bisa di lihat bukan kalau dia anak konglomerat. Tapi kenapa bahkan untuk makan siang saja, Carissa kebingungan seperti itu.
"Carissa, kebetulan aku juga mau makan siang. Bagaimana kalau aku mentraktir mu makan siang juga?" tanya Marzi pada Carissa.
"Ah yang benar saja kak Marzi, kemarin kamu juga sudah mentraktir ku. Aku tidak enak jadinya!" kata Carissa yang sebenarnya dalam hatinya bersorak senang karena Marzi akan mentraktir dirinya makan siang.
"Tidak apa-apa, nanti kalau kamu sudah gajian. Kamu kan bisa mentraktir aku juga!" kata Marzi yang langsung di angguki senang oleh Carissa.
Mereka berdua lantas makan di sebuah resto di dekat perusahaan. Setelah makan Marzi pun menanyakan pada Carissa, apa yang menjadi kesulitannya.
"Sebenarnya ada apa sih Carissa? aku kemarin kan mengantarkan kamu pulang. Rumahmu sangat besar, mobil kamu banyak, mamamu sangat sayang padamu. Tapi kenapa kamu harus susah payah menjadi pekerja magang di sini? aku yakin papa kamu juga punya perusahaan sendiri kan?" tanya Marzi yang mengungkapkan rasa penasaran nya dengan bertanya seperti itu pada Carissa.
__ADS_1
Carissa yang baru saja selesai minum langsung menyeka mulutnya dengan tissue yang ada di atas meja.
"Aku sebenarnya masih kuliah kak Marzi, tapi nilaiku sangat jelek akhir-akhir ini. Dan mata mata papa ku, alias keponakannya melaporkan aku pada papa. Aku bahkan tidak boleh bertemu dan main lagi dengan teman-teman ku. Semua fasilitas ku si cabut, dan papa bilang jika aku bisa bertahan tiga bulan di perusahaan ini. Maka semuanya akan di kembalikan padaku dan tidak akan pernah di cabut lagi dariku. Selama kerja aku harus naik taksi online, makan siang ku hanya 75 ribu rupiah. Karena dua hari aku hanya di beri 250 ribu rupiah. Kak Marzi bisa bayangkan itu, itu hanya seharga satu gelas minuman di kafe Kejora!"
Carissa tampak menuangkan semua keluh kesahnya di depan Marzi. Sekarang Marzi tahu kenapa papanya melakukan hal itu. Dulu dia juga pernah menemui beberapa orang seperti teman-teman Carissa ini di kampus saat dia masih kuliah dulu.
"Carissa, apa teman-teman kamu sangat menyukaimu, apa mereka sangat perduli padamu?" tanya Marzi pada Carissa.
Carissa mengangguk.
"Iya mereka perduli padaku, kalau kamu habis main dan jalan-jalan sampai lupa waktu, mereka membantuku mengerjakan tugas kampus. Aku tinggal bayar saja mereka!" kata Carissa jujur.
"Itu bukan perduli Carissa, mereka memanfaatkan kamu!" kata Marzi yang lantas membuat Carissa terdiam.
"Mereka menemani kamu saat kamu punya banyak uang, mereka mengajak kamu jalan pasti kamu yang bayar semuanya kan? mereka mengajakmu keluar saat kuliah, menurutmu itu sangat menyenangkan, padahal mereka sedang memanfaatkan kamu dan membodohi kamu!"
Carissa langsung mematung di tempatnya. Dia bungkam seribu bahasa.
"Kamu tidak kuliah, maka kamu akan menjadi bodoh. Semakin kamu bodoh semakin mudah mereka memanfaatkan kamu dengan berbagai hal yang memang terlihat dan terasa menyenangkan dan menarik, padahal semua itu hanya akan menyesatkan kamu saja. Kamu akan menjadi seperti mereka, tidak kuliah tahunya hanya bersenang-senang dan menghabiskan harta orang tua kamu saja. Apa di saat kamu kesulitan begini ada di antara mereka yang membantu kamu?" tanya Marzi membuat Carissa geleng-geleng kepala.
"Lihat kan! mereka benar-benar hanya ada saat mereka butuh kamu untuk membuat mereka senang. Berhenti berteman dengan orang-orang seperti itu Carissa. Mereka akan membuatmu jauh dari keluarga mu. Jangan pedulikan mereka mau bilang kamu cupu atau pengkhianat atau apapun itu, percayalah menjauh dari sekelompok orang seperti itu akan lebih baik bagimu ke depannya. Penyesalan pasti selalu ada di akhir Carissa, jangan sampai kamu menyesal!" kata Marzi panjang lebar menasehati Carissa.
Setelah mendengar kata-kata Marzi, Carissa mulia paham. Benar juga apa yang di katakan Marzi, sepertinya geng Ouch itu sama sekali bukan teman, mereka selaku memanfaatkan Carissa, benar kata Marzi.
Carissa cukup lama menundukkan kepalanya. Dia ingat kemarin saat dia mengingat sebanyak apa dia di bantu oleh geng Ouch tanpa bayaran. Dan itu tidak pernah sama sekali, bantuan mereka untuk Carissa selalu ada bandrol harga nya.
__ADS_1
"Apa aku membuatmu sedih Carissa?" tanya Marzi yang tak mendengar suara Carissa cukup lama.
Carissa lantas mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Marzi.
"Tidak kak Marzi, justru kak Marzi membuatku sadar. Kak Marzi benar, mereka memang hanya ada saat aku baik-baik saja dan banyak uang. Di saat aku kesulitan mereka bahkan menjauh. Aku tidak pernah mendengarkan Vera, meskipun dia berkata benar. Aku malah berpikir kalau sepupu ku itu hanya cari muka pada papaku, seperti kata Emi, salah satu temanku. Aku akan minta maaf padanya nanti, terimakasih banyak ya kak Marzi. Kamu bukan hanya memberiku makan siang, tapi membuatku sadar kalau selama ini aku berteman dengan orang-orang yang tidak baik!" kata Carissa sambil tersenyum sangat manis.
Marzi senang Carissa termasuk orang yang mudah untuk di nasehati. Mungkin memang cara penyampaian Marzi yang langsung mengena padanya. Tapi baru saja suasana di antara keduanya hangat dan begitu manis.
Tiba-tiba saja ponsel Carissa berdering dan suara deringnya adalah suara khas Tarzan ketika berteriak sambil melompat dan berpindah menggunakan sulur yang ada di hutan.
Auwouwouow
Kira-kira seperti itulah dering ponsel Carissa. Sampai Marzi mengernyitkan keningnya.
"Ya bos!" sapa Carissa.
Marzi ingin tertawa tapi dia berusaha menahan tawanya. Ternyata itu dering khusus untuk Raja.
"Kamu dimana, ini semua orang sudah makan siang. Bereskan!" kata Raja yang langsung menutup panggilan telepon nya.
'Ya ampun, dia kan bisa panggil OB. Astaga, sebenarnya jam kerjaku ini tidak ada istirahat atau gimana sih?' batin Carissa kesal.
***
Bersambung...
__ADS_1