
Seperti yang di perintahkan oleh Raja, dalam satu jam Carissa sudah kembali ke ruangan raja dan memberikan dokumen yang harus dia ganti.
Raja terkejut bukan main, masalahnya dia benar-benar menghilangkan semua coretan yang menggantinya dengan tulisan yang lain.
'Ini tidak mungkin, Dennis dan Anton saja yang punya kecepatan mengetik 120 kata permenit tidak mungkin juga bisa mengerjakannya dalam satu jam. Apa iya dia sehebat itu?' batin Raja yang terus memeriksa dokumen di hadapannya.
Sementara Carissa hanya senyum-senyum sendiri.
'Heh, dia pikir bisa menghukum ku lagi karena gagal mengerjakan dokumen itu dalam satu jam. Jangan remehkan aku, aku akan punya Dimas and the geng. Mereka kan memang spesial tukang ketik naskah bayaran, untung saja aku sering membayar mereka untuk mengerjakan tugas. Jadi aku bisa kasbon dulu hi hi hi!' batin Carissa sangat senang.
"Kerja bagus, sekarang kamu siapkan ruang meeting. Aku akan meeting dengan semua kepala divisi. Beri tahu mereka, aku mau laporan mingguan tiap divisi dalam satu jam! sekarang keluar!" kata Raja tanpa melihat ke arah Carissa.
Carissa dengan cepat mencatat semua yang dikatakan oleh Raja.
Melihat Carissa belum pergi, Raja pun jadi sewot dan segera meminta Carissa untuk keluar.
"Kenapa masih di sini cepat keluar!" pekik Raja hampir saja membuat Carissa menjatuhkan agenda yang dia pegang.
'Ya ampun, darah tinggi amat sih. Ngagetin pula. Aku sumpahin kena radang tenggorokan ya, biar gak teriak teriak melulu. Heran, ngomong baik-baik juga bisa kan? teriak-teriak aja kerjanya kayak Tarzan. Huh!' batin Carissa yang langsung berbalik dan meninggalkan ruangan Raja.
Setelah berada di ruangannya, Carissa langsung mencari semua nomer kepala divisi untuk menghubungi mereka.
Setelah memberitahu semua kepala divisi, lanjut Carissa menyiapkan ruang meeting.
Dia menyiapkan 7 laptop, sebuah flip chart, 7 buku dan alat tulis lalu 7 air mineral dan gelas bersih.
Carissa juga minta OB memastikan semua lampu dan semua yang ada di ruang meeting itu berfungsi dengan normal.
Setelah selesai Carissa lantas duduk di salah satu kursi karena kelelahan.
"Ya ampun, aku gak perlu diet ini. Capek banget!" keluh Carissa yang memang sampai banjir peluh karena mengerjakan semua pekerjaannya.
Untung saja Carissa belajar dari pekerjaan kemarin dan membawa kemeja lain untuk ganti. Tapi sepertinya sekarang dia belum memerlukannya.
Baru juga dia meletakkan bokooonggg nya di kursi. Ponselnya sudah berdering, dan begitu Carissa memeriksanya ternyata itu adalah panggilan masuk dari Raja.
__ADS_1
"Apa lagi sih?" tanya Carissa yang memang belum terbiasa dengan pekerja yang begitu banyak dan perintah yang tidak habis-habis.
Biasanya malah dia tidak pernah di perintah orang lain. Carissa benar-benar mau menangis rasanya. Tapi menangis juga percuma, dia harus buktikan pada papanya kalau dia bisa bertahan selama tiga bulan di perusahaan ini dan mendapatkan semua fasilitasnya lagi tanpa limited.
"Halo bos!"
"Pesankan makan siang juga, aku akan meeting sampai makan siang. Tanyakan pada ke tujuh orang itu mau makan apa saja dan segera siapkan saat makan siang nanti!"
"Bos, tujuh?" tanya Carissa sambil berdiri karena terkejut.
Setahu Carissa divisi penting di perusahaan ini, divisi utama hanya enam orang saja. Kenapa jadi tujuh, dia hanya siapkan semua perlengkapan untuk tujuh orang. Artinya kurang satu.
"Kamu pikir aku akan meeting tanpa Nando, dasar bodoh!" kata Raja tanpa perasaan sama sekali.
Mata Carissa benar-benar sudah berkaca-kaca. Dia tidak pernah di bentak seperti itu sebelumnya.
"Baik bos!" Carissa langsung menutup telepon dari Raja.
Padahal Raja kan belum selesai bicara. Carissa pada akhirnya menangis juga. Dia duduk di kursi yang tadi dia duduki. Dia benar-benar sangat sedih, dia pikir dia akan menangis sebentar di sana, sebelum dia menyiapkan lagi perlengkapan meeting dan bertanya pada kepala divisi satu persatu ingin makan siang apa hari ini.
Bagaimana pun juga ini adalah pekerjaan pertama Carissa. Dan di pekerjaan pertama nya dia di pertemukan dengan pria galak dan super tidak punya hati sepertinya Raja. Wajar saja kalau dia menangis kan. Orang yang bisanya tidak pernah melakukan apapun, kini semua pekerjaan seperti di serahkan kepadanya. Wajar jika dia mengeluh bukan.
Setelah beberapa saat menangis, Carissa merapikan kembali riasannya. Wajahnya memang sudah cantik, kulitnya memang sudah putih dan glowing. Jadi hanya perlu menambahkan lipstik saja dia sudah terlihat sangat cantik.
"Huh, sudah sedihnya. Sekarang kerja lagi!" kata Carissa menyemangati dirinya sendiri.
Carissa melanjutkan pekerjaannya, dia mendatangi satu persatu kepala divisi dan bertanya tentang semua makanan yang ingin mereka makan saat makan siang. Tapi menu makan siang mereka sungguh mahal. Carissa pun kembali ke ruangan Raja untuk mengatakan masalahnya pada Raja.
Tok tok tok
"Bos, ini aku. Boleh aku masuk?" tanya Carissa dari luar ruangan CEO.
Dan seperti biasanya juga, satu kali mengetuk dan satu kali menyapa tidak akan langsung membuat Raja menyahut.
"Bos, boleh aku masuk?" tanya Carissa lagi dan kali ini dia pakai suara kepalanya.
__ADS_1
Ceklek
"Apa kamu pikir aku tuli?" tanya Raja yang tiba-tiba membuka pintu dan membuat Carissa mundur karena terkejut.
"Ya ampun bos, aku sudah berusaha memanggil dengan suara normal tapi bos tidak menyahut!" kata Carissa.
"Jadi mau menyalahkan aku?" tanya Raja dengan mata yang tatapannya masih sama, masih sangat tajam pada Carissa.
"Bukan begitu bos...!"
"Mau apa kamu kemari? tugasmu sudah selesai?" tanya Raja menyela dengan suara tinggi, lebih meninggi dan semakin tinggi.
Carissa sampai sedikit berjingkat karena terkejut!
"Bos, aku sudah hampir selesaikan. Masalahnya aku tidak punya uang untuk membeli semua makanan yang di inginkan oleh para kepala divisi!" kata Carissa terus terang.
"Sama sekali tidak ada? kamu kuliah pakai jalur beasiswa? gaya saja kamu tinggi ya, tapi tidak punya uang!" sindir Raja.
Masalahnya kan memang bukan sekali ini saja Carissa menunjukkan kalau dia memang tidak punya uang. Waktu di kafe itu dia juga pakai uang Raja untuk membayar tagihannya.
Sementara Carissa hanya bisa menggembungkan pipinya menahan marah.
"Jadi bagaimana bos, kalau mau belikan makanan untuk mereka setidaknya berikan aku 2 juta lima ratus ribu!" kata Carissa.
Raja lantas meraih dompet dari saku celana nya untuk mengambil dompetnya. Raja mengambil sebuah kartu kredit, tapi warnanya tidak hitam. Dan memberikan itu pada Carissa.
"Ini, gunakan hanya untuk kepentingan kantor!" tegas Raja yang langsung di angguki oleh Carissa.
Begitu menerima kartu itu, Carissa langsung pergi. Raja yang melihat Carissa sedikit berlari hanya berdecak kesal.
"Ck.. jaman sekarang banyak sekali orang yang bergaya elite padahal ekonomi sulit, menyedihkan!"
***
Bersambung...
__ADS_1