CEO Galak Vs Cewek Bar-bar

CEO Galak Vs Cewek Bar-bar
Bab 38. Wedding Day


__ADS_3

Gaun putih cantik sudah melekat di tubuh Carissa, gadis itu begitu cantik dengan riasan dan tata rambut yang sangat serasi.


Wajah chubby-nya membuat nya semakin manis saat di rias oleh makeup artist yang sepertinya sangat pintar memadu padankan warna dan tata rambut untuk Carissa.


Gadis itu berjalan menuju pelaminan di iringi dua wanita cantik yang merupakan kakak dan calon kakak iparnya.


Pandangan sang mempelai pria juga terlihat mengagumi meski sesekali baginya lebih nyaman melihat ke arah bawah saja.


Begitu Carissa sampai di pelaminan, tangan Raja terulur membantu calon istrinya itu untuk naik dan menghampiri dirinya.


Prosesi sakral itu pun terjadi. Membuat keduanya kini sah menjadi suami istri. Ucapan janji suci Raja itu hanya satu kali helaan nafas saja, membuat Kamila yang selama ini begitu khawatir putranya tidak akan pernah melupakan Vivian. Seperti terlepas beban dan rasa sesak yang begitu besar dari dadanya.


Raja mengulurkan tangannya pada Carissa, dan Carissa yang memang sudah di beritahu harus apa setelah itu, mencium punggung tangan Raja itu dengan sangat lembut.


Setelah itu Raja berpaling. Carissa pun memukul lengan Raja.


Plakk


"Ichaaa!" Tegur Siska yang tak enak pada Kamila dan Indra.


Sementara Erlangga hanya bisa memijat pelipisnya. Bagaimana dia harus menghadapi semua orang setelah ini. Bisa-bisanya putrinya itu memukul lengan suaminya yang baru saja menjadi suaminya beberapa detik yang lalu.


"Mas, kamu seharusnya mencium keningku kan?" tanya Carissa pada Raja.


Dia menanyakan itu karena memang yang di ajarkan oleh Siska, mamanya semalam ya seperti itu. Setelah mereka resmi menikah, maka dia harus mencium punggung tangan Raja. Dan Raja akan mencium keningnya.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Carissa. Penghulu di depan mereka pun menahan tawa. Kamila bahkan sudah terkekeh.


"Raja, apa yang kamu tunggu? apa yang dikatakan istrimu itu benar!" kata Restu, kakak Raja yang gemas melihat Raja hanya diam saja dan malah tidak segera menuruti apa yang Carissa katakan.


"Raja, seharusnya memang begitu kan? kalian sudah sah menjadi suami istri!" tambah Kamila lagi.

__ADS_1


Siska rasanya mau menghilang dari tempat itu. Begitu juga Erlangga. Sebenarnya apa yang salah dari cara mereka mendidik Carissa, sampai anak mereka menjadi bar-bar begitu. Bahkan di hari sepenting ini.


Melihat tatapan semua orang padanya, apalagi mamanya yang sudah seperti mau menelannya hidup-hidup. Raja pun menarik lengan Carissa pelan dan mencium kening wanita itu.


Baru mau di lepas, tukang foto menghentikan Raja.


"Sebentar ya mempelai pria, mau di ambil fotonya dulu. Tahan ya, bagus seperti itu!" kata tukang foto yang mendokumentasikan moment di acara penting itu.


Entah sengaja atau bagaimana, tapi tukang foto itu terlihat terus salah mengambil gambar, jadi kejadian itu agak lama terjadi.


Setelah acara itu, di lanjutkan dengan acara meminta restu orang tua. Prosesi itu juga berlangsung dengan sedikit drama, karena baik Raja maupun Carissa sama sekali tidak menangis saat sungkem pada kedua orang tuanya.


"Sayang, ini pernikahan yang bagaimana sih? kenapa adikmu sama sekali tidak menangis. Kamu dulu, dan aku juga, kita sama-sama tidak bisa menahan tangis saat prosesi seperti ini kan?" tanya Irsyad, suami Lidya.


Lidya yang mendapatkan pertanyaan seperti itu dari suaminya juga bingung mau jawab apa. Sejak kecil dia memang sudah mengerti sekali kalau adiknya itu lain dari yang lain. Ketika seseorang akan menangis kalau di bicarakan orang lain. Adiknya itu sama sekali tidak menangis. Pernah suatu ketika Lidya berjalan dengannya dan teman-temannya kala itu mengatakan kalau Carissa itu anak manja, anak mami, apa-apa tidak bisa kalau tidak di temani mamanya, pasti makan masih di suapin mama, jangan-jangan ke toilet juga masih di temani mama.


Anak SD dulu pasti akan menangis saat di katai seperti itu oleh teman-temannya di depan banyak orang lain. Tapi Carissa tidak menangis kala itu. Dia malah berkata, iya dong aku mah anak manja, apa-apa di bantuin mama. Emang kenapa, masalah buat loh!


Saat Carissa sungkem pada Siska, mamanya itu gemas sekali dan langsung bertanya.


"Cha, kamu gak nangis? setelah ini kamu akan meninggalkan papa dan mama dan menjadi seorang istri. Kamu akan tinggal di rumah suamimu?" tanya Siska yang bisa di dengar oleh Erlangga dan yang lain. Termasuk oleh Raja dan kedua orang tuanya.


"Kenapa harus menangis ma, kita masih satu kota. Dari rumah mama Kamila ke rumah mama juga gak lebih dari setengah jam!" jawab Carissa yang membuat semua orang tak bisa berkata-kata lagi.


Setelah acara selesai, Carissa juga langsung ikut bersama dengan Raja ke rumahnya. Satu buah koper Carissa sudah di masukkan ke dalam mobil Raja. Kopernya yang lain akan di antarkan oleh Lidya dan Irsyad secepatnya.


Dan Carissa pun akhirnya sampai di rumah Raja.


"Sayang, sekarang kamu adalah anggota keluarga ini. Ini juga rumah kamu, jangan sungkan-sungkan ya. Pokoknya kamu anggap saja rumah ini seperti di rumah kamu, anggap mama juga seperti mama Siska ya, nak" kata Siska sambil mengusap lembut lengan Carissa.


Siska benar-benar baik, dan menganggap Carissa seperti anaknya sendiri. Sayangnya sama seperti dia menyayangi Raja.

__ADS_1


"Iya ma, terimakasih!" kata Carissa.


Carissa pun pergi ke kamarnya, pelayan yang membawakan kopernya juga masuk ke dalam kamar Raja.


"Ini kopernya nona!" kata pelayan itu sopan.


"Iya terima kasih!" kata Carissa menyahut dan pelayan itu langsung pergi.


Ketika Carissa akan menutup pintu, Raja terlihat di depan pintu dan akan masuk ke dalam kamarnya.


"Hai suami!" kata Carissa.


"Apa ada di surat perjanjian, kalau kamu boleh memanggilku begitu?" tanya Raja yang langsung melewati Carissa begitu saja.


Carissa menutup pintu dan menghampiri Raja.


"Meskipun tidak ada, tapi sekarang kan kita suami istri. Seharusnya aku memang memanggilmu suami. Dan kamu...!"


"Memanggilmu istri?" tanya Raja menyela ucapan Carissa.


"Jangan mimpi!" lanjut Raja lagi dan berbalik meninggalkan Carissa lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Tapi yang namanya Carissa, butuh lebih dari sekedar kata-kata kasar seperti itu untuk membuatnya menyerah atau merasa sedih.


Carissa mencebikkan bibirnya ke arah pintu kamar mandi.


"Hilih aneh sekali, kalau sudah menikah tidak mau di panggil suami lalu mau di panggil apa? ayah mertua? dasar aneh!" gerutunya.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2