CEO Galak Vs Cewek Bar-bar

CEO Galak Vs Cewek Bar-bar
Bab 8. Membalas Raja


__ADS_3

Tapi alih-alih apa yang di katakan oleh Nando itu benar. Kalau Carissa saat ini pasti sangat sedih dan sedang menangis karena di pecat di hari pertamanya bekerja. Carissa malah sedang melamun di halte dekat Tekno Company.


"Huh, kenapa dia marah begitu. Padahal aku yang rugi, bibirku yang manis ini sudah tidak perawan lagi gara-gara si Raja hutan itu! dia malah marah-marah, mengusirku, tidak boleh bekerja di sana lagi. Habislah aku, pasti papa akan marah dan mencabut AC di kamarku, aku harus tidur dimana? mana bisa aku tidur tanpa AC. Atau aku tidur di rumah Lala saja ya? kan gara-gara dia melapor pada papa, kartu kredit ku di blokir papa!"


Carissa terus menggerutu sendiri, memikirkan dia harus apa setelah di pecat seperti itu. Dia sama sekali tidak menangis seperti yang di kira oleh Nando. Dia hanya pusing, harus tidur dimana nanti malam.


***


Sementara itu di kantornya, saat Raja masih memikirkan masa lalunya dengan Vivian. Tiba-tiba saja ponselnya berdering.


Raja dengan malas meraih ponsel itu lalu mendekatkan ke telinganya setelah dia menggeser icon telepon berwarna hijau ke atas.


"Rajaaaaa!"


Raja sampai menjauhkan ponselnya dari telinganya mendengar teriakkan mamanya.


"Apa sih ma?" tanya Raja lagi ketika dia merasa suara teriakan mamanya sudah berkurang.


"Apa yang kamu lakukan? kenapa mengusir calon menantu mama dari kantor? kenapa bilang dia tidak boleh datang ke kantor lagi?" tanya Kamila kesal.


'Pasti ini ulah Nando, dasar tukang ngadu!' keluar Raja di dalam hatinya.


"Dia tidak bekerja dengan benar...!"


"Yang suruh bekerja dengan benar itu siapa? dia itu sekertaris magang, kamu tahu artinya magang gak sih? kamu kan sudah ada Marzi, Anton dan yang lain. Suruh saja mereka yang bekerja, Carissa itu cuma magang you know? pokoknya mama gak mau tahu ya, kamu harus bawa lagi Carissa ke kantor. Lusa mama pulang pokoknya sudah ada dia di kantor. Kalau tidak ada, mama coret kamu dari kartu keluarga! understand?" kata Kamila yang kalau sudah emosi tata bahasanya campur aduk seperti gado-gado.


Di sela panjang lebar seperti itu oleh mamanya, Raja hanya bisa menghela nafas dan memijit kepalanya yang berdenyut pusing.


"Iya ma!" jawab Raja yang malas berdebat dengan mamanya.


"Bagus, ingat ya. Lusa mama mau ketemu Carissa, kalua dia tidak ada di kantor, mama akan kenalkan kamu sama anaknya pak Mirdad, biar kamu di terkam sama dia!" kata Kamila.

__ADS_1


Raja lantas mengingat pertemuan terakhirnya dengan anak pak Mirdad yang bernama Lusi. Raja benar-benar tak bisa berada satu detik saja dengan wanita itu. Dia terlalu agresif dan genit. Benar-benar membuat Raja bergidik ngeri.


Kamila memutuskan panggilan telepon setelah menggertak Raja. Raja hanya bisa mendengus kesal, mau bagaimana lagi. Dia juga tidak mungkin marah pada Nando. Nando itu adalah teman, sepupu dan asisten kepercayaannya. Mungkin bisa di bilang Raja bahkan bisa lebih percaya pada Nando di banding keluarganya bahkan kakaknya sekalipun.


Cuma masalahnya ya itu, Nando itu seperti mata dan telinga Kamila, maklum saja Nando itu juga keponakan kesayangan Kamila. Anaknya baik, jujur dan sangat bertanggung jawab pada ucapan dan pekerjaannya.


"Sekarang kemana aku harus mencari gadis bar-bar itu. Mana ada gadis yang bersikap seperti itu, dia itu ceroboh sekali. Di kafe main datang ke tempat duduk orang memanggil sayang, di kantor main cium sembarangan. Ck..!" Raja berdecak kesal.


Raja kemudian menghubungi Indira, staf HRD yang mengurusi tentang perekrutan sekertaris magang melalui telepon kantor.


"Ya tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Indira dengan cepat.


"Indira, kamu punya nomer telepon sekertaris magang yang tadi?" tanya Raja.


"Carissa Mandasari Setiawan tuan? ada tuan, saya memilikinya!" kata Indira cepat.


Sebagai staf di perusahaan Raja, semua memang harus bekerja dan berpikir cepat.


Kembali lagi pada Carissa, sudah beberapa bus yang berhenti di depan halte. Sudah banyak juga orang yang menunggu bersamanya naik bus dan pergi. Tapi Carissa masih diam di tempatnya. Dia pikir, dia akan menunggu sampai sore saja, supaya papanya tahunya dia di terima bekerja. Setidaknya dia tahu beberapa nama orang-orang yang ada di sana dan nama PT yang bekerja sama dengan Tekno Company. Setidaknya dia bisa tidur nyenyak dengan AC malam ini.


Kalaupun dia mau menunggu di kafe, dia tidak punya uang. Uangnya hanya cukup untuk makan siang yang tidak terlalu banyak proteinnya. Dia kan di antar jemput supir mamanya, dan ATM nya juga di sita. Dia hanya punya lima puluh ribu rupiah pemberian namanya untuk makan siang.


"Gini amat ya nasib aku, padahal aku ini anaknya Erlangga Setiawan loh, pengusaha kaya, mobil di rumah ada empat. Tapi gak boleh di pakai, punya perusahaan besar. Tapi anaknya di suruh magang di perusahaan yang bosnya galak melebihi Raja hutan. Huh...!" gerutu Carissa lagi.


Tapi saat dia mengomel seperti itu, tiba-tiba saja ponselnya berdering.


"Ih, siapa lagi nih? gak kenal! males banget. Jangan-jangan mama minta pulsa lagi!" kata Carissa yang kembali menyimpan ponselnya.


Tapi ponselnya terus berdering. Dengan kesal Carissa pun menjawabnya tanpa menunggu orang yang menghubunginya bicara.


"Mau pulsa tuh kerja, jangan nipu orang...!"

__ADS_1


"Siapa yang mau menipu orang?" tanya Raja menyela ucapan Carissa.


Carissa lantas melihat ke layar ponselnya dengan tatapan bingung.


'Oh, ini nomer Raja hutan! mau ngapain dia nelpon?' batin Carissa bertanya-tanya.


"Mau apa telepon aku?" tanya Carissa yang sudah terlanjur kesal pada Raja.


"Kamu dimana? kembali ke kantor sekarang!" perintah Raja terdengar serius.


Lagi-lagi Carissa menjauhkan ponselnya dari telinganya dan melihat ke arah layar ponselnya lagi dan kali ini dia menyunggingkan bibirnya.


'Ih, apa-apaan orang ini. Enak saja sudah di usir sekarang nyuruh balik lagi ke kantor. Emang aku cewek apaan!' batin Carissa jual mahal.


"Heh, om! Situ sehat? tadi tuh aku di usir loh, terus kata om besok jangan kerja lagi. Itukan sama saja aku di usir, di pecat tidak hormat. Sekarang om mau aku balik ke kantor buat apa? mau di kasih pesangon? gak usah om! aku gak butuh!" kata Carissa seolah benar-benar marah dan tersinggung atas sikap Raja.


Meskipun sebenarnya iya, tapi gak segitunya juga.


"Aku hanya terkejut tadi, sudah jangan banyak drama. Kembali ke kantor sekarang, dan bekerja seperti biasanya lagi!" kata Raja.


"Kalau aku gak mau, om mau apa?" tanya Carissa.


"Jangan macam-macam kamu ya...!"


"Aku gak macam-macam kok, om yang sudah usir aku. Kalau mau aku balik kerja, ya susulin aku di halte bis dekat kantor!" kata Carissa.


"Kamuuu!" terdengar suara pekikan dari Raja, sepertinya dia marah.


Tapi sayangnya Carissa tidak perduli. Dia malah memutuskan panggilan telepon dari Raja.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2