CEO Galak Vs Cewek Bar-bar

CEO Galak Vs Cewek Bar-bar
Bab 32. Semakin Ingin Menjauh Malah Semakin Dekat


__ADS_3

Awalnya Carissa pikir Raja sudah tidak arogan lagi mengingat dia adalah tunangan Raja. Tapi ternyata Carissa salah, saat ini Carissa sedang berusaha keras menyelesaikan pekerjaan yang baru saja di berikan Raja. Menyalin dokumen sempurna buatan Nando yang di coret-coret tidak jelas oleh Raja.


Nando juga sejak tadi berada di sana untuk memastikan kalau apa yang di ketik oleh Carissa itu benar.


"Kak Nando, ada filenya kan. Coba kirimkan padaku, bukankah lebih mudah di print saja. Kenapa di ketuk ulang begini?" bisik Carissa pada Nando.


"Ada, tapi bos tidak memperbolehkan aku keluar dari sini!" jawab Nando.


"Kenapa kalian bisik-bisik?" tanya Raja dengan suara yang mengagetkan.


"Tidak.. tidak.. ini ada yang tidak jelas. Aku bertanya pada kak Nando..!"


"Memang siapa yang bicara padamu?" tanya Raja nyolot.


Rahang Carissa nyaris jatuh dong ya, perasaan tadi dia dengar kata kalian. Kenapa saat Carissa menjawab Raja malah bilang siapa yang sedang bicara pada Carissa.


"Carissa benar bos, dia...!"


"Kamu mau membelanya?" tanya Raja lagi.


'Ini Hitlernya kumat ini sudah! aku di salahin, kak Nando di salahin, repot kalau Raja hutan sudah kerasukan Hitler!' batin Carissa.


Nando pun tertunduk diam ketika Raja bicara dengan nada meninggi dan kian meninggi seperti itu pada mereka.


Carissa menggunakan sepuluh jarinya untuk mengetuk semua dokumen itu. Seperti yang di pikirkan oleh Carissa waktu itu. Sebenarnya di bawah arahan dan kemarahan Raja. Dirinya malah banyak belajar. Dia menjadi lebih rajin, terbiasa bangun pagi tanpa di bangunkan oleh mamanya lagi, terbiasa mandiri menyiapkan barang-barang keperluan sendiri, dan terbiasa berpikir cepat dan banyak bergerak.


Sebelumnya dia hanya gadis manja mageran, yang kalau tidak menghamburkan uang, dia tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan.


Tapi setelah satu bulan lebih menjadi sekertaris magang Raja, dia bahkan bisa mengetik cepat dengan sepuluh jari. Itu benar-benar perubahan yang bisa terlihat dari Carissa.


Lima belas menit hampir berlalu, sayangnya satu lembar dokumen sama sekali belum di kerjakan. Nando yang sejak tadi melihat ke arah jam di dinding ruangan itu menjadi khawatir. Sementara Carissa, dia tidak memperhatikan waktu, dia hanya fokus mengetik.

__ADS_1


'Ayo Carissa, satu menit lagi. Bagaimana ini!' Nando yang malah panik dalam hatinya.


Mata Raja juga sudah melihat ke arah jam di dinding.


"Waktu habis!" Seru Raja dan langsung membuat Carissa menghentikan gerakan ke sepuluh jarinya.


Carissa melihat ke arah dokumen di sampingnya, masih ada satu lembar lagi yang belum dia salin.


'Tidak.. tidak... aku tidak boleh di pecat. Bisa miskin mendadak aku. Tidak bisa!' batin Carissa yang begitu khawatir dia akan di pecat dan menjadi miskin dadakan karena ultimatum dari papanya yang akan mencoretnya dari kartu keluarga Setiawan kalau sampai dia di pecat sebelum tiga bulan.


"Bos...!"


Nando mencoba untuk bicara pada Raja, tapi Raja langsung menyelanya.


"Diam kamu Nando! kamu lihat sendiri dia gagal....!"


Cup


Tanpa pikir panjang Carissa mencium pipi Raja di depan Nando saat Raja sedang bicara. Carissa tidak punya cara lain. Dia tidak bisa memikirkan cara lain. Membujuk dengan kata-kata, pasti akan percuma saja. Terakhir kali Carissa menciumnya Raja terdiam.


Nando yang melihat hal itu langsung memalingkan wajahnya dan ijin keluar pada Raja.


"Bos, aku ada pekerjaan. Permisi bos!" kata Nando yang berjalan dengan cepat meninggalkan ruangan Raja.


Raja masih mematung di tempatnya, tapi tak lama kemudian dia menoleh ke arah Carissa yang menundukkan kepalanya di sebelah Raja berdiri.


"Apa kamu pikir dengan melakukan hal seperti ini, kamu tidak akan di pecat?" tanya Raja.


"Bos, beri aku tiga menit lagi. Ciuman itu untuk memberi aku tiga menit lagi. Sedikit lagi aku bisa menyelesaikannya bos. Aku mohon bos, ya ya ya!" bujuk Carissa dengan mata berbinar bulat yang sangat menggemaskan di depan Raja.


Melihat Carissa yang menyampaikan alasan itu, dan tidak memakai embel-embel sebagai tunangan Raja. Raja sebenarnya merasa sedikit senang di dalam hatinya, apalagi ciuman itu. Raja mulai terbiasa dengan tingkah konyol Carissa yang seperti itu.

__ADS_1


"Dua menit!" kata Raja langsung berbalik ke meja kerjanya.


Carissa juga langsung duduk dan mengerjakan pekerjaannya lagi. Dia berusaha dengan cepat. Sementara dari meja kerjanya. Raja memerhatikan Carissa. Dia tidak habis pikir, kenapa bisa luluh hatinya dengan satu ciuman saja dari Carissa.


Belum sampai dua menit. Carissa sudah mencetak file terakhir. Carissa merapikannya dan meletakkan dalam map biru yang ada di atas meja di samping laptopnya.


Carissa buru-buru ingin mengantarkan map itu pada Raja. Ketika dia melihat Raja tengah menatapnya dengan tatapan yang membuat Carissa seperti tersengat listrik.


Carissa langung memalingkan wajahnya ketika dia merasa perasaan yang aneh itu. Dia meletakkan map itu di atas meja.


"Ini bos dokumennya. Terimakasih sudah memberi waktu tambahan untukku!" kata Carissa yang langsung keluar dari ruangan itu.


Begitu sudah keluar pintu, dan menutup pintu ruangan Raja. Carissa memegang dadanya yang terasa tidak nyaman. Jantungnya berdetak cepat sekali.


"Hah, jantungku kenapa? jangan-jangan aku punya masalah jantung. Harus periksa ke dokter kalau begini, aku tidak mau mati muda!" gumam Carissa.


Sementara di ruangannya, Nando sedang menghubungi Kamila dan menceritakan apa yang terjadi barusan di ruangan Raja. Sebenarnya bukan seperti sedang memberitahukan informasi itu pada Kamila. Tapi Nando seperti sedang bergosip dengan tantenya itu.


"Astaga, seandainya aku di sana dan melihat bagaimana ekspresi wajah anakku yang kaku itu ha ha ha. Calon menantuku memang berbeda. Lalu.. apa yang terjadi?" tanya Kamila penasaran, begitu penasaran.


"Aku langsung keluar tante. Aku tidak tahu apa yang terjadi!" kata Nando.


"Yah, sayang sekali. Tapi aku rasa Raja akan luluh dengan Carissa. Aku sangat berharap dia bisa melupakan Vivian ya Nando. Kasihan dia, anak itu bahkan jarang sekali tersenyum. Cintanya pada Vivian begitu dalam, Tante sampai hampir putus asa mencarikan wanita yang bisa membuatnya melupakan Vivian. Tapi ternyata, dia malah bisa menemukan sendiri wanita itu. Terimakasih juga padamu ya Nando, kamu selalu menjaga Raja di sana!"


"Iya Tante!"


"Kalau ada update terbaru, jangan lupa kasih tahu Tante ya!" kata Kamila antusias.


"Baik Tante!"


Nando meletakkan ponselnya, dia juga punya harapan yang sama dengan Kamila. Dia perduli pada Raja. Nando juga senang, setidaknya ada seseorang yang akan membuat hari-hari Raja yang monoton itu berubah lebih berwarna.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2