
Carissa sudah membawa dokumen yang diminta oleh Raja ke ruangannya. Namun saat Carissa sampai di ruangan CEO ternyata Raja belum keluar dari ruang pribadinya yang ada di dalam ruangan CEO tersebut.
Carissa ingat kalau, Raja tadi bilang padanya agar jangan mengganggunya. Jangan pernah memanggilnya kalau Raja sedang berada di dalam ruangan tersebut.
Carissa yang memang tidak mau mencari masalah di hari pertamanya bekerja. Memilih untuk menunggu saja Raja keluar sendiri dari ruangan pribadi nya itu.
Carissa memilih untuk duduk di sofa dan sedikit bersenandung. Dia memperhatikan seluruh ruangan bos nya itu. Sangat rapi dan bersih, semua di susun berdasarkan warnanya, sangat rapi dan tertata. Tapi sebenarnya Carissa kurang suka dengan hal monoton seperti itu. Carissa lebih suka sesuatu yang berwarna, itu akan membuatnya moodnya lebih baik dan ceria.
Carissa memang bukanlah gadis yang suka diam dan menunggu. Carissa lantas berdiri dan mencoba untuk mendengarkan apa yang sedang Raja lakukan di ruangan pribadinya itu. Carissa buru-buru mendekat ke arah pintu ruang pribadi Raja karena sudah hampir 10 menit Raja tidak keluar juga dari ruangan itu.
Carissa mendekat perlahan ke arah pintu kemudian meletakkan kedua telapak tangannya ke arah pintu. Sedikit melakukan dorongan untuk memastikan apakah pintu itu terkunci atau tidak. Dan ternyata, saat Carissa melakukan dorongan kecil terhadap pintu itu pintu itu tidak bergerak sama sekali. Yang menandakan kalau pintu itu dikunci dari dalam oleh Raja.
Carissa menempelkan daun telinga sebelah kanan ke arah pintu. Karena menurutnya telinga sebelah kanannya lebih peka. Sebab yang selalu di pasang handset atau earphone adalah telinga sebelah kirinya. Jadi Carissa yakin, kalau saat ini ketajaman pendengarannya di telinga yang sebelah kiri sudah berkurang.
Setelah menempelkan daun telinganya beberapa saat ke pintu ruangan pribadi milik Raja itu. Carissa sama sekali tidak mendengar suara apapun.
"Loh, kok gak ada suaranya?" tanya Carissa sambil bergumam.
Carissa pun berpikir sejenak.
"Hah, jangan-jangan dia pingsan. Dia kan dari pagi tadi kayaknya marah-marah terus. Jangan-jangan darah tingginya kumat terus dia pingsan! aduh... gimana ini?" tanya Carissa yang panik sendiri.
Paniknya sudah jelas kalau dia buat sendiri, karena dia yang berpikir kalau Raja pingsan.
Carissa yang penasaran pun lantas, mencoba untuk membuka pintu ruangan Raja itu. Tapi tidak bisa. Dia sudah menggunakan seluruh kekuatannya dan tenaganya, bahkan tenaga dalam juga sudah dikeluarkan sampai dia buang angin. Tapi tetap saja tak bisa membuka pintu ruangan itu.
"Hah.. capek. Tahu gini aku dulu ikut ekskul taekwondo deh, bukan tata boga. Ini gimana dong!" gumam Carissa yang merasa kebingungan.
Carissa pun mencoba untuk mengetuk pintu, yah setidaknya Carissa berharap kalau dengan dirinya mengetuk pintu sangat kuat membuat suara yang bising di ruangan Raja, hingga walaupun resipisan dia bisa sadar dengan kebisingan yang dibuat oleh Carissa.
__ADS_1
Tapi sampai tangannya pegal, tak kunjung ada jawaban dari arah dalam ruangan tersebut. Carissa menjadi semakin panik.
"Agkhhh... masak iya sih, baru pertama kali masuk kerja bos nya udah take away, eh kok take away sih, go away?" gumam Carissa semakin melantur saja.
Carissa ya sudah tidak tahu lagi harus bagaimanapun memilih untuk keluar mencari pertolongan. Dia kemudian pergi ke ruangan Nando, karena sebelum Nando pergi tadi. Pria itu mengatakan kepada Carissa kalau aku ada apapun yang terjadi atau ada masalah yang terjadi pada Carissa dia bisa mencari Nando.
Tanpa mengetuk pintu, karena sangat cemas. Carissa pun masuk ke dalam ruangan Nando yang sedang memeriksa sebuah dokumen di laptop nya.
"Carissa...!"
"Pak Nando, itu si bos. Si bos pingsan!" kata Carissa panik.
Nando agak terkejut ya, masalahnya selama ini Raja itu hidupnya sangat teratur dan dia selalu menjaga makanan yang dia konsumsi. Jadi kalau dia mendengar aja pingsan itu sedikit membuat dirinya terkejut.
Nando kemudian berdiri dengan ekspresi wajah yang sedikit tidak percaya kepada apa yang Carissa katakan kepadanya.
"Bos pingsan?" tanya Nando lagi.
"Cepat pak Nando, pak Nando ada kunci cadangan ruangan pribadi bos tidak? kalau ada cepat bawa ya, ayo!" kata Carissa yang tanpa segan menarik tangan Nando untuk segera mengikutinya ke ruangan CEO.
Nando yang melihat Carissa begitu panik sebenarnya ingin mengatakan kalau biasanya Raja masuk ke dalam ruangan pribadinya untuk tidur. Dan ruangan pribadinya itu memang dibuat kedap suara hingga tidak bisa mendengarkan suara dari luar agar dia bisa istirahat dengan tenang.
Tapi Nando yang penasaran dengan kebenaran apakah benar, Carissa itu pacarnya Raja. Merasa harus membuktikan sesuatu.
Jadi Nando mengikuti Carissa masuk ke dalam ruangan CEO kemudian membuka pintu ruangan pribadi Raja dengan perlahan, karena memang hanya Raja dan Nando saja yang punya kuncinya.
Nando sebelumnya juga tidak pernah membuka pintu ruangan itu kalau tidak Raja yang memintanya. Tapi karena sepengetahuan Nando, Carissa adalah pacar Raja maka dia membuka pintu ruangan itu.
Melihat Raja yang terbaring di tempat tidur dengan posisi telentaang setengah badan dengan kaki yang menjuntai ke bawah bahkan masih menyentuh lantai. Carissa yakin kalau Raja pingsan. Apalagi ketika Carissa mengetuk pintu dengan keras dari luar tadi, sama sekali tidak ada tanggapan dari dalam.
__ADS_1
"Dia pingsan pak Nando, apa yang harus aku lakukan? panggil dokter? atau angkat dia dan bawa ke rumah sakit! kenapa diam saja pak Nando?" tanya Carissa yang sudah panik tapi melihat para Nando dia itu malah terlihat sangat tenang.
Bagaimana Nando tidak tenang, itu jelas Raja sedang tidur.
"Pak Nando?" tanya Carissa.
"Hah, mungkin bos memang pingsan. Coba kamu beri dia nafas buatan!" kata Nando.
"Hah..!" rahang Carissa nyaris jatuh.
Memberi nafas buatan, artinya dia harus mempertemukan antara bibirnya dengan bibir Raja bukan?
'Bagaimana ini, bibirku kan masih perawan. Ah, tidak boleh. Aku kan sudah janji sama seokjin oppa, kalau aku akan menunggunya wajib militer dan menjaga kesucian bibirku ini!' batin Carissa yang lagi-lagi melantur.
Carissa lantas melihat ke arah Nando.
"Pak Nando, kamu saja!" kata Carissa menawar.
"Maaf Carissa, aku masih normal. Lagian kan kamu kekasihnya Raja. Apa kalian belum pernah melakukannya?" tanya Nando sambil mempertemukan dua jari tangan kanannya dengan dua hari tangan kirinya.
'Aih aku lupa, aku tadi bersandiwara menjadi pacar bos galak ini!' batin Carissa.
Merasa kepalang tanggung, maka Carissa pun mulai mendekati Raja. Dia sudah memanyun-manyunkan bibirnya.
Tapi saat dia menyentuh bibir atas dan bawah Raja agar terbuka. Raja membuka matanya merasa terganggu sedang sentuhan Carissa.
"Apa yang kamu lakukan?"
Brukkk
__ADS_1
***
Bersambung...