CEO Galak Vs Cewek Bar-bar

CEO Galak Vs Cewek Bar-bar
Bab 34. Pisah Ranjang


__ADS_3

Sementara itu di lobby perusahaan, Marzi masih menunggu Carissa. Dia pikir Carissa belum pulang, sampai salah seorang petugas keamanan lewat di tempat itu.


"Mas Marzi belum pulang, mas?" tanya petugas itu.


"Eh iya pak, masih tunggu Carissa!" kata Marzi.


"Loh, bukannya mbak Carissa sudah pulang sama tuan Raja. Tadi saya lihat di basemen, mbak Carissa nya sudah pulang dengan tuan Raja!" kata penjaga keamanan itu pada Marzi.


Marzi sedikit terkejut, dia pikir Carissa sedang lembur seperti biasanya. Tidak tahunya dia sudah pulang dengan Raja. Sudah satu jam Marzi menunggu, bodohnya kenapa dia juga tidak ke ruangan Carissa, atau menghubungi Carissa.


Dengan wajah sedikit kecewa, Marzi pun mengucapkan terima kasih pada penjaga keamanan yang sudah memberitahunya. Marzi pun pulang dengan hati yang kecewa. Dia jadi ingat apa yang dikatakan oleh Anton padanya. Kalau jodoh itu pasti di dekatkan, kalau seperti ini. Marzi rasanya tidak yakin kalau dia bisa mengejar Carissa seperti yang dikatakan oleh Anton.


Beberapa hari berlalu, dan Marzi sama sekali tidak punya kesempatan untuk mengantar Carissa pulang, atau menjemputnya berangkat kerja bersama. Karena Raja yang melakukan semua itu. Namun seperti biasanya juga, Raja tak bicara sepatah katapun. Benar-benar seperti supir saja yang mengantar jemput Carissa bekerja.


Karena Carissa juga tidak mau membuat keributan, dia juga hanya diam saja. Di kantor juga sama, Raja selalu memberikan pekerjaan pada Carissa sesuai porsinya, kalau Carissa tidak membuat masalah. Tapi kalau Carissa membuat masalah, Raja akan selalu menyusahkannya. Masalah yang di maksud itu adalah, kalau Carissa membuat Raja cemburu dengan mengobrol akrab atau makan siang bersama dengan Marzi atau karyawan pria lainnya.


Seiring waktu berlalu Carissa dan Raja sudah harus mencoba gaun pengantin mereka, menentukan undangan dan menentukan tema pernikahan mereka.


Pertemuan keluarga kembali di gelar, kali ini di rumah Raja. Dimana nanti Carissa akan tinggal bersama dengan Raja.


"Raja, coba ajak Carissa berkeliling. Rumah ini kan akan jadi tempat tinggalnya nanti setelah kalian menikah!" kata Kamila pada Raja.


Raja pun mempersilahkan Carissa ikut dengannya.


Siska terlihat sedih sebenarnya ketika mendengar Kamila mengatakan sebentar lagi Carissa akan tinggal di rumah itu. Hal itu sama saja dengan sebentar lagi Siska juga harus merelakan putrinya meninggalkan rumahnya untuk tinggal bersama dengan suaminya.


Saat menatap punggung Carissa yang mengikuti langkah Raja. Mata Siska berkaca-kaca. Erlangga yang bisa merasakan perasaan yang sama dengan istrinya pun menepuk punggung tangan Siska yang ada di atas lututnya.


Siska memandang ke arah suaminya yang memandangnya. Mereka saling mengangguk dan melempar senyum. Saling menguatkan satu sama lain. Erlangga yakin, keluarga Raja adalah keluarga mertua terbaik untuk Carissa.


Sementara itu Carissa masih terus mengikuti langkah Raja. Kalau orang house tour itu kan biasanya pemandunya akan banyak bicara menjelaskan apa saja yang ada di rumah itu, ruangan apa saja. Dan sejak kapan tuan rumahnya pindah ke rumah itu. Tapi ini, Raja benar-benar tak mengeluarkan suara. Suara nafasnya pun sangat pelan dan nyaris tak terdengar.


Brukk


"Aughk!"

__ADS_1


Carissa memegang hidupnya yang menabrak punggung kekar dan keras Raja.


"Itu punggung apa beton sih, keras banget!" keluh Carissa lagi.


Raja berbalik dan menatap Carissa dengan datar.


"Apa yang ingin kamu lihat dari rumah ini?" tanya Raja.


Mata Carissa melebar. Pria di depannya itu tidak peka sekali. Biasanya kalau ada wanita terluka seperti Carissa saat ini yang hidungnya sudah merah seperti udang kukus. Seharusnya si pria bertanya dong 'apa kamu baik-baik saja?' paling tidak harus seperti itu kan?


Ini malah tidak sama sekali, tidak perduli sama sekali kesannya.


"Jika tidak ingin lihat apapun, kita kembali saja ke ruang tamu!" kata Raja lagi.


"Kamar ku!" kata Carissa cepat.


Sebenarnya itu tercetus begitu saja dari mulut Carissa.


Awalnya Carissa mengira, Raja mungkin akan menoleh ya. Karena yang ingin dia lihat itu area pribadi Raja bukan? tapi di luar dugaan. Raja malah mengangguk beberapa kali dan berbalik.


Carissa pun kembali mengikuti Raja, dari ruang keluarga mereka menuju ke arah belakang. Di dekat kamar utama ada ruang kerja yang terbuka sedikit pintunya. Lalu ruang santai yang di sepanjang dindingnya terdapat banyak sekali lukisan dan hiasan dinding. Juga tak buku-buku tebal.


Carissa memutar bola matanya malas melihat buku-buku itu.


'Astaga, apa mereka tidak akan minus matanya membaca buku-buku setebal itu?' tanya Carissa dalam hatinya.


Sampai akhirnya mereka tiba di depan sebuah anak tangga yang sebenarnya bisa langsung di tuju dari ruang tamu. Tapi Raja malah membawa Carissa melewatinya dengan jalan memutar hampir ke dapur.


Mereka berdua menaiki anak tangga satu persatu sampai lantai dua. Di sebelah kanan ada pintu yang terlihat sangat besar. Raja berhenti di tempat itu dan membuka ruangan itu.


"Ini kamarku!" kata Raja.


Carissa masuk ke dalamnya, sangat rapi, wangi dan luas. Hanya ada sedikit barang, mungkin itu yang membuat kamar ini menjadi luas. Hanya ada satu tempat tidur, king size. Sofa panjang dan sebuah meja. Tak buku kecil di dekat sofa panjang itu. Dan jam dinding. Tidak ada lukisan, atau hiasan dinding lain. Foto saja hanya ada satu ukuran 10R yang di letakkan di atas meja dekat tempat tidur.


"Dimana lemarimu?" tanya Carissa.

__ADS_1


"Di ruang ganti, di dalam kamar mandi!" kata Raja menunjuk kamar mandi yang ada di sebelah kiri pintu masuk.


"Sejak kecil kamu tinggal di sini?" tanya Carissa lagi.


"Sejak lahir!" jawab Raja singkat.


"Benarkah? aku kalau aku tinggal di rumahku sejak umur 3 hari. Aku lahir di rumah sakit kata mama!"


*Hening


Sebenarnya Carissa ingin bercanda, tapi dia lupa dengan siapa dia bicara.


'Ups, aku lupa aku bicara dengan kulkas tiga pintu yang sukanya marah-marah. Candaan ku pasti dia tidak mengerti!' batin Carissa.


"Ini juga akan jadi kamarku kan setelah kita menikah?" tanya Carissa.


"Menurutmu?" tanya balik Raja.


Carissa menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali.


'Aduh, kayak ngobrol sama tembok ya rasanya! sabar Carissa, sabar... orang sabar di sayang pacar!' batin Carissa.


Yang jelas dia tidak sedang membicarakan dirinya, karena dia kan tidak punya pacar.


"Kamu akan tidur di sofa, aku di tempat tidur!"


Dan ucapan Raja berhasil membuat rahang Carissa nyaris terjatuh untuk kesekian kalinya.


"Gimana-gimana?" tanya Carissa ingin memperjelas apa yang dikatakan Raja.


"Setelah kita menikah, kita akan tinggal di kamar ini. Tapi kamu tidur di sofa, dan aku di tempat tidur!" tegas Raja.


"Bos, yang benar saja. Kenapa baru menikah kita sudah pisah ranjang?" tanya Carissa membuat Raja mengernyitkan keningnya.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2