CEO Galak Vs Cewek Bar-bar

CEO Galak Vs Cewek Bar-bar
Bab 28. Kehabisan Bensin


__ADS_3

Mereka berdua, Raja dan Carissa pun memilih makanan yang tidak terlalu aneh menurut mereka ya. Mereka makan nasi putih dan ayam goreng saja. Menurut mereka sayuran di sana sangat asing.


Ada tumis paku, lalu sayur santan bambu muda, dan masih banyak lainnya. Sayur itu memang biasa di temui di daerah, tapi bagi mereka yang tinggal di kota modern dengan makanan yang kebanyakan adalah makanan modern. Hal itu sangat asing bagi mereka.


"Mereka makan bambu muda, bagaimana rasanya ya?" tanya Carissa.


"Kalau mau tahu, coba saja!" ketus Raja yang duduk di depan Carissa.


"Astaga bos, kan bisa jawabnya santai bos. Jutek banget sih, ini nih calon istri kamu loh!" kata Carissa sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


Raja melihat cara Carissa makan, dia tampak menikmatinya. Padahal saat ini mereka berada di warung makan yang terlihat tua, dan tidak bersih-bersih amat. Alas lantainya, ya lantai biasa, semen gitu. Terus kursinya juga banyak coretan di sana-sini, pokoknya tidak seperti di restoran yang sangat bersih.


Beberapa orang bahkan terlihat merokok, dan mengobrol dengan suara yang keras. Tapi Raja melihat Carissa sama sekali tidak terganggu dengan semua itu.


"Kamu tidak terganggu sama sekali dengan suasana di tempat ini?" tanya Raja yang mau makan saja, sedikit bingung. Sebab pemilik warung hanya memberinya sendok, tidak ada garpu. Sementara dia lihat ayam gorengnya sepertinya agak alot.


"Tidak, makan ya makan saja. Daripada lapar kan?" tanya Carissa ada Raja.


Raja pun mengikuti cara Carissa makan, dia mencuci tangannya dengan air di gelas, seperti cara Carissa tadi lalu makan dengan tangannya.


Ini adalah kali pertama Raja makan menggunakan tangan. Rasanya tidak mudah, meraup nasi saja tidak mudah.


Carissa yang melihat itu pun langsung meraup nasi dan lauk dari piringnya dan menyodorkannya pada Raja.


"Coba ini!" kata Carissa.


Raja yang memang sudah lapar pun membuka mulutnya. Entah kenapa rasa makanan yang Raja makan lebih terasa enak dari makanan yang di makannya semalam. Meskipun lauknya lebih lengkap semalam.


Raja memandangi Carissa yang masih sibuk makan dengan tangannya.


"Lihat aku bos, meskipun sebenarnya kata bi Yati pakai tiga jari saja. Tapi kata pak Usman kita bisa pakai lima jari kita supaya cepat kenyang.. ha ha !"


Carissa menjelaskan apa yang dia pelajari dari asisten rumah tangga yang bekerja di rumah papanya.


"Siapa itu bi Yati dan pak Usman?" tanya Raja.


"Bi Yati itu asisten rumah tangga mama, pak Usman itu penjaga gerbang. Mereka baik, mereka selalu menemani ku makan siang kalau papa dan mama sibuk di luar!" jelas Carissa.


Raja pun mengangguk paham, mungkin karena terbiasa sangat akrab pada pelayannya. Carissa pun menjadi orang baik ang terlihat biasa saja sikapnya meskipun dia anak konglomerat.


Raja masih terlihat sulit makan dengan menggunakan tangan, setelah Carissa selesai makan. Carissa pun menyuapi Raja. Raja sama sekali tak melepaskan pandangannya dari Carissa. Menurutnya wanita di depannya itu tidak buruk juga.

__ADS_1


Setelah selesai makan, Carissa mencuci tangannya dan minum.


"Nah bos, bayar ya! aku keluar duluan, mau ambil motor!" kata Carissa yang membuat Raja baru menyadari kalau sedari tadi dia terus memperhatikan Carissa.


Setelah membayar, Raja keluar dari rumah makan itu.


"Let's go bos!" kata Carissa yang sudah membawa motor yang dia kemudian di depan Raja.


Raja pun kembali naik membonceng Carissa.


"Mau jalan-jalan dulu tidak?" tangan Raja pada Carissa.


'Ih, tumben nih Raja hutan bertanya, bukan memerintah!' batin Carissa curiga.


"Mau kemana bos?" tanya Carissa.


"Ke arah sana saja!" kata Raja menunjuk ke arah kanan jalan.


Carissa pun melajukan motornya ke arah sana. Beberapa jauh mereka berkendara, hanya ada kebun damar dan kebun karet saja. Sesekali mereka melihat kebun nanas juga.


Tak lama kemudian, Carissa merasa laku motornya semakin melambat. Di tarik gas pun tidak mau bertambah kecepatan. Sampai pada akhirnya, suara mesin motor tidak lagi terdengar.


Carissa pun menghentikan motornya.


"Bos, motornya mati!" kata Carissa.


Raja pun turun dari atas motor.


"Coba lihat tangki bensin nya?" perintah Raja.


Carissa pun mengikuti perintah Raja, dan ternyata ketika Carissa melihat ke arah tangki bensin. Tangki itu sudah kering.


"Bos, bensinnya habis, bagaimana ini?" tanya Carissa.


Raja pun turun dari atas motor dan mengeluarkan ponselnya.


"Tidak ada sinyal, coba ponselmu!" kata Raja.


'Ih ponsel bos yang harganya puluhan juta gak ada sinyal, lempar saja ke laut bos!' sorak Carissa dalam hatinya.


Tapi ketika Carissa juga mengeluarkan ponselnya. Ternyata sama saja, ponselnya juga tidak ada sinyal sama sekali.

__ADS_1


'Astaga, untung tadi aku bicara dalam hati. Kalau aku bilang seperti itu tadi, bos pasti akan balas menyindirku!' batin Carissa lagi.


"Tidak ada juga bos!" kata Carissa.


Raja berdecak kesal, tak jauh dari tempat mereka berdiri ada seorang pengendara sepeda yang terlihat lewat membawa kayu bakar.


Raja pun menghentikan pengendara sepeda yang sudah agak tua itu.


"Pak.. pak..!"


Pengendara sepeda itu langsung berhenti, sepertinya rem sepedanya sudah tidak berfungsi. Dia menggunakan kakinya untuk menghentikan laju sepedanya.


"Iya den, ada yang bisa saya bantu?" tanya bapak tua itu dengan ramah. Wajahnya juga menunjukkan senyum, yang baik dari desa tempat mereka datang ini adalah orang-orangnya, penduduknya sangat ramah-tamah.


"Bapak tahu pabrik sepatu yang mau di bangun itu, di unit 12?" tanya Raja.


"Ah iya tahu den, anak saya Karjo kerja di sana. Kuli bangunan!" kata bapak tua itu.


"Nah, bapak. Saya minta tolong boleh ya, tolong bapak ke sana. Cari mandor yang namanya Benyamin, lalu katakan pada dia. Kalau saya ada di sini!" kata Raja yang langsung mengeluarkan dompetnya dan memberikan uang pecahan seratus ribuan sebanyak lima lembar pada bapak tua itu.


"Ini untuk apa?" tanya bapak tua itu.


"Ini buat bapak, tapi tolong sampaikan ke Benyamin, suruh dia jemput di sini ya!" kata Raja.


Bapak tua itu terlihat mengangguk paham. Dia mengambil uang itu dengan mata berkaca-kaca lalu segera mengayuh sepedanya dengan cepat.


"Sekarang kita ngapain bos?" tanya Carissa.


"Berenang!" ketus Raja yang menepi dan duduk di bawah pohon.


Tapi saat Carissa akan ikut duduk, dia melihat ada pergerakan di rerumputan di dekat Raja duduk.


Mata Carissa melotot ketiak dia melihat seekor ular mendekati Raja.


"Bos jangan bergerak, bos di sampingmu ada ular!" kata Carissa yang membuat Raja langsung menoleh.


Benar saja, ada seekor ular besar melata di sampingnya.


"Bos itu bukan cobra, tapi itu sanca. Bos yang penting jangan bergerak ya, diam. Tenang. Tahan nafas!" kata Carissa sambil mencari sesuatu di dalam tasnya.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2