
Raja berjalan mendekati sesuatu yang baru di jatuhkan oleh Carissa. Carissa yang tak mau di pecat sebelum dia menikah dengan Raja pun berusaha dengan cepat meraih buku agenda itu dan menyembunyikannya di balik punggungnya.
Raja sekilas seperti melihat sesuatu yang dia rasa familiar. Tapi hanya sekelebat benda mirip buku bersampul coklat.
"Apa itu cewek tengil?" tanya Raja.
Raja benar-benar penasaran karena merasa cukup familiar dengan benda yang di sembunyikan oleh Carissa itu.
"Bukan apa-apa bos, ini milikku!" kata Carissa.
"Perlihatkan padaku!" perintah Raja.
Carissa menggelengkan kepalanya dengan cepat.
'Hah, mampus aku kalau ketahuan. Kalau aku di pecat sebelum pernikahan, aku akan di keluarkan dari kartu keluarga. Papaku kejam sekali sih, bagaimana caranya lolos dari Raja hutan ini!' batin Carissa terus memikirkan bagaimana dia bisa keluar tanpa menimbulkan kecurigaan dari Raja.
Carissa pun hanya bisa nyengir sambil terus berusaha agar apa yang dia pegang di belakang punggungnya itu tidak ketahuan oleh Raja.
"Tidak usah bos, bukan sesuatu yang menarik. Bos pasti tidak suka melihatnya!" kata Carissa lagi.
Raja yang semakin penasaran dengan gerak-gerik Carissa yang sangat tidak ingin dia melihat apa yang wanita itu sembunyikan malah semakin penasaran dan ingin cepat melihat apa itu.
Raja tak lagi bicara, dia maju dan berusaha meraih benda itu dengan tangannya.
Mata Carissa tentu saja melotot, dia segera menghindar. Ketika Raja maju, maka Carissa mundur. Ketika Raja bergerak ke samping menuju arah belakang Carissa. Carissa langsung menutup pergerakan Raja.
"Berhenti bercanda, tunjukkan atau aku akan...!"
Brukk
Ketika Raja berusaha meraih benda itu dengan sangat cepat. Carissa terkejut dan tak bisa bergerak lagi ketika dia baru menyadari kalau di belakangnya ada sofa.
Keduanya terjatuh ke atas sofa, dengan posisi Carissa berada di bawah Raja. Raja yang terkejut juga tak bisa menahan saat akan jatuh, dia berusaha menahan dengan mengarahkan tangannya ke atas meja. Namun ketika perhatiannya itu tertuju ke atas meja, pipinya malah tanpa sadar beradu dengan pipi Carissa.
Mata Carissa melebar, merasakan pipi mereka menempel.
__ADS_1
Raja yang sadar kalau dia telah melakukan kesalahan, langsung bangkit dan merapikan jasnya. Carissa masih dengan posisi awal dia terjatuh tadi. Dan itu membuat Raja menjadi salah tingkah.
"Benar-benar konyol!" keluh Raja yang langsung keluar dari dalam ruangannya.
Carissa masih belum beranjak dari posisinya, dia hanya menghela nafasnya lega.
"Oh syukurlah, hampir saja ketahuan!" Gumam Carissa yang langsung bangkit dan meletakkan agenda itu kembali ke tempatnya.
Sementara Raja, dia terlihat berdiri di rooftop perusahaan. Dia memandang jauh ke arah lautan yang bisa terlihat dari atas kantornya itu.
Dengan meletakkan satu tangannya di saku, matanya menatap nanar ke depan. Dia benar-benar belum bisa melupakan pengkhianat Vivian padanya. Raja benar-benar sangat mencintai Vivian, itulah mungkin yang menyebabkan hatinya begitu hancur dan sakit ketika mengetahui Vivian mengkhianatinya.
Sesekali bayangan pertemuannya dengan Vivian untuk pertama kalinya muncul di ingatannya. Dan hal itu membuatnya menjadi kembali merasa kesedihan yang begitu dalam.
Hari demi hari berlalu, sampai Raja harus pergi ke luar kota untuk survei lokasi pembangunan pabrik baru. Kamila tak mau melepaskan kesempatan ini untuk membuat anak dan menantunya menjadi lebih dekat.
Kamila pun pada pada akhirnya menyarankan Raja untuk mengajak Carissa.
"Tidak perlu ma, kalau cewek tengil itu ikut yang ada hanya menyusahkan saja. Aku akan ajak Nando!" kata Raja.
"Eh, tidak boleh begitu. Nando harus mengurus perusahaan selama kami tidak ada. Pokoknya tidak boleh membantah. Ajak Carissa. Atau tidak usah pergi!" kata Kamila.
Dan saat ini mereka berdua sudah naik mobil yang menjemput mereka dari bandara.
"Bos, kita akan menginap di hotel mana?" tanya Carissa.
Raja pun menoleh ke arah Carissa.
"Apa kamu bilang? hotel? kita akan tinggal di gubuk!" ketus Raja menjawab pertanyaan Carissa.
"Gubuk? jangan bercanda bos, kita kan mau bangun pabrik sepatu bos, bukan pabrik penggilingan padi di tengah sawah yang gak ada hotelnya sama sekali, cuma ada sawah sama gubuk!" kata Carissa.
"Kamu lihat kanan dan kiri kamu, ada kamu lihat hotel? atau restoran? atau mall?" tanya Raja.
Carissa pun menoleh ke arah kanan dan kiri. Hanya ada kebun damar, kebun karet sejak dari bandara tadi.
__ADS_1
"Kita nyasar kali bos!" kata Carissa.
"Tanya saja supir di depan kamu, kita nyasar atau tidak!" kata Raja.
Carissa pun langsung sedikit maju dan bertanya pada supir yang sedang mengemudikan mobil yang mereka tumpangi.
"Pak supir, ini beneran kita gak nyasar?" tanya Carissa.
"Tidak non, memang ini jalanya. Di depan nanti baru akan ada sekitar lima perkampungan. Lokasi pabriknya di sana nona!" kata pak supir menjelaskan.
Carissa mendadak jadi lemas. Pasti tidak mudah hidup di tempat yang seperti itu.
Beberapa lama lama dan lama kemudian mereka pun sampai di sebuah rumah yang memang di peruntukan untuk bos dan tamu yang mengunjungi pembangunan pabrik.
Rumah itu sama persis dengan rumahnya bi Yati di kampung sewaktu papa dan mama Carissa mengajak Carissa ke rumah asisten rumah tangganya itu saat anak bi Yati menikah kala itu.
Seorang pengawas pembangunan menghampiri Raja. Pria paruh baya bernama Joni itu yang mengurus semua pembangunan di sini. Yang bertanggung jawab atas pembangunan pabrik baru di tempat ini.
"Selamat datang tuan Raja! senang bisa bertemu denganmu!" kata Joni ramah.
"Bagaimana pembangunan pabrik, sudah berapa persen?" tanya Raja.
Semua orang terlihat saling lirik, karena mereka memang sebenarnya sudah tahu kalau bos mereka itu tidak suka sama sekali dengan basa-basi.
"Sudah lebih dari 50 persen tuan. Semuanya lancar, cuaca sangat mendukung, dan semua pekerja bisa bekerja sama dengan baik. Bahan bangunan selalu datang sesuai jadwal, semuanya berlangsung dengan baik tuan!" jelas Joni lagi.
Setelah mendengar penjelasan Joni dan melihat sendiri progres pembangunan pabrik. Raja dan Carissa kembali ke rumah itu.
"Sebentar lagi kami akan membawakan makan siang pesanan tuan. Saya permisi dulu tuan!" kata Joni.
"Rapikan pakaian di kamarku!" kata Raja pada Carissa yang baru saja akan meletakkan bokonggnya di kursi rotan yang ada di ruang tamu.
Carissa pun urung untuk duduk, dia pun segera bangkit dan menuju ke kamar Raja.
"Baru datang, minum juga belum. Sudah harus ikut ke pabrik, catat ini itu, lihat ini itu. Batu mau duduk nih, baru ini bokongg mau ketemu kursi. Eh, ada lagi kerjaan. Emang dasar Raja hutan. Bisanya merintah-merintah melulu!" omel Carissa sambil mengerjakan pekerjaan yang di perintahkan Raja tadi.
__ADS_1
***
Bersambung...