
Tak hanya memberikan minuman untuk Carissa, tapi Marzi juga membantu pekerjaan Carissa.
"Kak Marzi terimakasih banyak, saat aku gajian nanti aku akan mentraktir mu makan siang!" kata Carissa yang kembali bersemangat mengerjakan pekerjaannya.
Marzi hanya tersenyum melihat tingkah Carissa yang memang sangat polos dan apa adanya itu. Kalau di pikir-pikir lagi. Ini kan baru hari pertama Carissa bekerja, bukankah gajian itu perlu waktu 1 bulan, alias 4 Minggu, alias 30 hari. Itu masih sangat jauh, tapi Carissa sudah menjanjikan traktiran makan siang untuk Marzi.
"Kamu benar-benar sangat berusaha keras ya, kalau itu gadis lain mungkin mereka akan menyerah. Aku lihat kamu tempel plester di kakimu, apa kakimu terluka?" tanya Marzi yang kebetulan tidak sengaja melihat plester di bagian atas tumit kaki Carissa.
'Bagaimana tidak berusaha, kalau aku menyerah. Aku akan di coret dari kartu keluarga. Aku akan miskin dalam satu malam. Papaku bukan papa orang-orang yang bisa di bujuk. Papaku kalau sudah bilang A, sampai itu laut merah berubah warna, dia tidak akan merubah keputusannya!' batin Carissa.
Dan soal atas tumit yang dia pakaikan plester. Itu memang terluka, kakinya lecet karena terus berjalan kesana kemari sedangkan biasanya dia jarang menggunakan sepatu pantofel dengan hak tinggi. Biasanya dia pakai sneaker atau sepatu santai.
"Ini, iya tadi lecet. Tapi sudah tidak apa-apa. Kak, ini sudah malam. Apa kak Marzi tidak mau pulang saja? aku tidak apa-apa, tinggal sedikit lagi juga!" kata Carissa yang tidak enak Marzi harus terlambat pulang karena membantu pekerjaannya pada pekerjaan Marzi sudah selesai.
"Tidak apa-apa. Aku pikir aku juga akan mengantarmu pulang!" kata Marzi.
'Ya ampun, kak Marzi baik banget sih!' batin Carissa yang benar-benar kagum pada sosok Marzi yang baik, dewasa dan perhatian.
Sementara itu di rumah Carissa, Siska sejak tadi terus mondar-mandir di depan pintu menunggu kepulangan bungsunya.
Siska bahkan sudah berkali-kali melihat jam tangan yang ada di pergelangan tangannya. Bahkan saat Erlangga mengajaknya makan malam Siska pun menyuruh Erlangga makan duluan. Padahal selama lebih dari 30 tahun pernikahan mereka. Hal itu tidak pernah terjadi, Siska akan selalu menemani Erlangga makan malam. Kalaupun memang Siska sudah makan malam duluan karena suaminya lembur, setelah suaminya kembali pulang dia pasti akan duduk di samping suaminya ketika suaminya itu makan malam.
"Ma..!" kata Erlangga keberatan dengan jawaban Siska.
"Apa? kan papa yang suruh Icha kerja, sekarang sudah jam berapa ini? gak ada loh pa, kerja hari pertama sudah lembur! dan lagi ini adalah pertama kalinya anak kita itu bekerja. Masak iya jam segini belum pulang?" tanya Siska yang sebenarnya sedikit kesal di hatinya pada suaminya itu.
__ADS_1
Awalnya Siska memang setuju dengan rencana Erlangga yang ingin membuat anaknya itu mandiri dan tidak menghamburkan uang dengan percuma. Tapi kalau caranya seperti ini Siska juga jadi kasihan kepada anak bungsunya itu.
"Kan kita sudah menghubungi kantornya, katanya memang hari ini sekertaris magang di minta lembur oleh CEO karena banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan lalu mengatur jadwal agar cepat beradaptasi. Seharusnya kita bangga Icha yang biasanya manja tidak menghubungi kita karena mengeluh kelelahan!" kata Erlangga menjelaskan pada istrinya.
Setelah mendengar penjelasan dari suaminya, pada akhirnya Siska terdiam dan berpikir sejenak.
Menurutnya, apa yang dikatakan oleh suaminya itu benar. Icha sama sekali tidak menghubungi dirinya artinya dia memang tidak Ingin mengeluh pada pekerjaannya. Artinya juga, enaknya itu benar-benar serius dan berusaha untuk bekerja dengan baik.
Dan apa yang dikatakan oleh suaminya itu benar kalau seharusnya dia bangga pada anaknya itu. Anak yang biasanya terus merengek kalau diberikan uang kurang dari yang dia inginkan, saat ini sedang berusaha keras untuk bekerja agar fasilitas yang sebelumnya akan diambil kembali oleh bapaknya dikembalikan lagi kepadanya.
"Ayo makan, setelah makan malam. Kamu kan akan punya tenaga untuk kembali mondar-mandir di pintu seperti itu lagi nanti!" kata Erlangga ya langsung berbalik dan melangkahkan kakinya menuju ruang makan.
Sedangkan Siska yang emang tahu tabiat suaminya seperti itu pun hanya bisa menghela nafas panjang saja. Mau bagaimana lagi, suaminya itu punya prinsip sekeras baja. Kalau sudah bilang berdiri, jangan harap yang lain bisa duduk.
Siska pun mengikuti langkah suaminya, tapi sesekali dia tetap menoleh ke arah belakang berharap kalau putrinya cepat pulang.
"Terimakasih sekali lagi kak Marzi, kalau tidak dibantu olehmu mungkin jam 10.00 malam pun aku belum beranjak dari meja ini!" kata Carissa jujur.
Marzi kembali tersenyum.
"Apa kamu lapar? bagaimana kalau kita makan malam dulu sebelum pulang?" tanya Marzi.
"Ah, tidak tidak. Aku tidak bawa uang lebih, aku tahu kak Marzi akan mentraktir ku. Tapi ini tidak benar, seharusnya aku yang mentraktir kak Marzi karena telah membantuku. Jangan traktir aku sebelum aku mentraktir kak Marzi, oke!" kata Carissa.
"Kalau begitu aku antar pulang saja boleh kan?" tanya Marzi lagi.
__ADS_1
"Nah kalau itu boleh!" sahut Carissa cepat dan membuat Marzi lagi-lagi tersenyum.
Mereka berdua lantas berjalan menuju basemen. Carissa cukup terkejut dengan mobil Marzi. Mobilnya sangat biasa, harganya di bawah seratus juta. Tapi sebenarnya yang membuat Carissa heran bukan harga mobilnya. Tapi gaji Marzi. Bukankah dia seorang sekertaris CEO yang luar biasa kata raya. Perusahaan ini juga besar, seharusnya gaji Marzi tak kurang dari 10 sampai 15 juta sebulan. Kenapa mobilnya biasa sekali.
"Em.. kak Marzi, apa bos kita itu pelit?" tanya Carissa saat mereka sudah mulai meninggalkan perusahaan itu.
Marzi cukup terkejut dengan pertanyaan Carissa.
"Kenap bertanya begitu?" tanya Marzi.
"Sebenarnya gaji kak Marzi sesuai upah minimun kota tidak?" tanya Carissa lagi.
Dan setelah pertanyaan itu keluar dari mulut Carissa. Marzi pun akhirnya mengerti kalau sebenarnya pertanyaan itu berhubungan dengan mobil yang sedang dia kemudikan.
"Oh pasti pertanyaan mu tentang mobil ini ya? gaji kita sesuai dengan upah minimum regional kok, cuma aku suka mobil ini. Ini adalah mobil pertama yang aku beli dari hasil kerja kerasku sendiri, mobil ini aku beli saat aku masih kuliah!" kata Marzi.
"Wah, keren sekali. Kak Marzi sudah mandiri sejak kuliah. Ku pikir bos kita pelit!" kata Carissa.
"Tidak juga Carissa, bos kita itu sebenarnya baik!" kata Marzi.
"Hah, baik darimana nya? Dari atas, bawah, kanan, kiri.. dia itu menyebalkan!" kata Carissa terus terang.
Marzi pun hanya bisa terkekeh pelan, menurutnya wajar kalau Carissa kesal. Karena Marzi juga lihat Carissa terus di kerjai oleh Raja sepanjang hari. Sedangkan Raja yang baru akan berbaring di tempat tidur terus saja bersin-bersin.
"Hatciuh... Hatciuh...! ada apa ini!" keluh Raja.
__ADS_1
***
Bersambung...