CEO Galak Vs Cewek Bar-bar

CEO Galak Vs Cewek Bar-bar
Bab 30. Speechless


__ADS_3

Malam harinya, hujan turun begitu deras. Namanya daerah yang belum berkembang, sarana dan prasarana di sana juga kurang banyak dan terbatas.


Rumah yang di buat semi permanen itu pun cukup mengkhawatirkan saat hujan angin begini. Semua orang terlihat waspada padahal sudah malam.


Melihat situasi semacam ini, Raja pun menjadi sangat marah pada anak buahnya. Terutama pada mandor proyek dan Benyamin.


"Meskipun hanya sementara dan akan di bongkar ketika pabrik selesai, tidak seharusnya kalian membangun dengan tidak sesuai standar keamanan begini. Aku tidak mau tahu, besok sebelum melanjutkan pekerjaan di pembangunan pabrik. Kalian harus membenahi bangunan rumah pekerja ini!" kata Raja yang terlihat sangat marah.


Carissa yang melihat itu sebenarnya merasa senang. Karena Raja begitu perduli pada para pekerjanya. Kadang kala Carissa memang merasa kalau Raja itu tidak seburuk yang terlihat. Tidak semengerikan yang tampak. Kadang dia merasa kalau Raja itu hanya ingin sesuatu itu berjalan dengan baik dan benar.


Beberapa hari ketika Carissa dan Raja harus bekerja sama di tempat yang serba terbatas, membuat mereka berdua sedikit banyak sudah bisa melihat kebaikan antara satu sama lain.


Mereka pikir tidak buruk juga untuk bisa lebih mengenal lebih jauh karena mereka akan menikah kurang dari dua bulan lagi.


Di suatu malam, di mana akan menjadi malam terakhir mereka di tempat itu untuk mengawasi jalannya pembangunan pabrik baru salah satu cabang perusahaan Mahesa dan Tekno Company.


Raja duduk di sebelah Carissa yang sedang melihat ke arah banyaknya bahan bangunan di dekat rumah pekerja tempat mereka tinggal.


"Sudah malam, tidurlah. Besok kita pulang?" kata Raja.


Carissa tersenyum dan menoleh ke arah Raja.


"Kamu tahu tidak, setelah beberapa waktu ini aku berpikir...!"


"Memang kamu punya otak?" sela Raja bertanya pada Carissa.


Senyum Carissa langsung lenyap dari wajahnya.


"Apa maksudmu? biar kecil aku masih punya otak ya!" kata Carissa begitu polos mengatakan kalau otaknya kecil.


Raja ingin tertawa, tapi dia menahannya. Terus terang saja Raja mulai merasa kalau Carissa ini tidak seperti wanita yang lain yang pernah mendekatinya setelah Vivian. Carissa itu apa adanya, tidak menutupi betapa bobroknya dia di depan Raja. Raja pikir kalau hanya berteman setelah pernikahan itu terjadi sampai perjanjian itu berakhir, tidak buruk juga.


"Aku punya otak, dan otakku ini berpikir. Kalau sebenarnya bertemu denganmu itu membuat hidupku lebih baik!" kata Carissa yang lantas mengarahkan pandangannya ke arah depan.


Raja cukup terkejut dengan penuturan Carissa itu. Dia tertegun dan melihat pipi kiri Carissa yang lumayan cubby itu. Tapi lama-lama dari pipinya saja, Raja mulai memperhatikan Carissa yang kalau dari arah samping, dan saat diam seperti ini itu tampak lumayan visualisasinya.

__ADS_1


"Dulu aku hanya tahu menghabiskan uang, menghabiskan waktu sia-sia hanya untuk bersenang-senang dan membeli barang-barang mewah yang sebenarnya tidak terlalu berguna untukku. Aku melakukan semua itu supaya teman-temanku merasa bangga berteman denganku. Tapi setelah papa mencabut semua fasilitasnya, tak ada satu pun teman-temanku yang hanya sekedar bertanya padaku, apa aku sehat? bagaimana kabarku? tidak ada!" kata Carissa yang mulai ingin berbagi perasaannya dan apa yang saat ini sedang dia rasakan pada Raja.


Carissa menundukkan kepalanya. Raja masih diam memperhatikannya.


"Apa teman-temanmu begitu penting bagimu?" tanya Raja beberapa saat kemudian.


Carissa mengangguk.


"Iya, aku dan kak Lidya berbeda usia cukup jauh, kami beda 8 tahun. Dia kuliah di luar negeri. Setelah lulus kuliah menikah. Aku tidak pinyah teman selain teman-temanku sejak sekolah sampai di kampus sekarang itu. Aku bisa tertawa lepas dengan mereka, tapi ternyata semua itu tidak gratis!" kata Carissa lagi.


Raja mulai simpatik pada wanita di sampingnya itu. Selain tengil, ternyata sebenarnya Carissa itu sangat kesepian. Dia hanya punya teman-teman yang seperti itu yang hanya memanfaatkan dirinya saja.


"Setelah semua ini, apa kamu masih akan berteman dengan mereka?" tanya Carissa.


Carissa lantas menoleh ke arah Raja.


"Bukannya kita akan menikah?" tanya Carissa.


"Iya, tapi kamu juga masih bisa tetap kuliah...!"


Raja menjadi sangat bingung.


"Hamil?" tanya Raja.


"Hamil bagaimana? bukankah kita sudah menandatangani perjanjian untuk tidak saling menyentuh?" tanya Raja.


Carissa lupa perjanjian itu, dia sudah sangat excited ketika papanya mengatakan akan memberi warisan, semua warisan bagian Carissa kalau sampai Carissa hamil dan memberikan Erlangga seorang cucu.


Sangking senangnya kala itu, Carissa sampai lupa kalau dia sudah menandatangani perjanjian dengan Raja.


Carissa terbengong di tempatnya dengan tatapan bingung ke arah Raja.


"Hah... aku lupa dengan perjanjian itu!" kata Carissa canggung.


Carissa bahkan langsung berdiri dan terlihat ingin segera pergi dari tempat itu.

__ADS_1


"Bos, aku... aku tidur duluan ya. Nanti takut kesiangan besok. Selamat malam bos!" ucap Carissa sambil berlalu dan kembali masuk ke dalam rumah itu menuju kamarnya.


Raja masih terdiam melihat kepergian Carissa.


'Apa maksudnya dengan hamil dan punya anak? apa dia menganggap serius pernikahan itu?' batin Raja yang mulai bingung dan heran dengan apa yang tadi di katakan Carissa.


Keesokan harinya, mereka sudah sampai di bandara. Pagi-pagi sekali mereka terbang kembali ke kota dengan penerbangan pertama dari daerah itu.


Carissa terus terlihat menghindari kontak mata dan saling berhadapan dengan Raja. Tentu saja hal itu membuat Raja semakin penasaran.


Sampai ketika Carissa harus duduk di bagian dekat jendela, tentu saja dia tidak bisa menghindar ketika Raja duduk di sebelahnya.


'Aih, kenapa duduk di sini. Nanti dia bertanya tentang semalam bagaimana? aku jawab apa?' batin Carissa bingung.


Carissa terus melihat ke arah jendela. Tapi lama-lama lehernya pegal juga. Saat Carissa menoleh ke arah Raja, pria itu tengah menatap dirinya.


'Mampus aku!' batin Carissa.


"Apa maksudmu kamu lupa perjanjian yang sudah kamu tanda tangani?" tanya Raja lagi.


Carissa diam cukup lama, tapi dengan otaknya yang kecil itu dia merasa kesulitan mencari alasan yang pas.


"Bos, memangnya kenapa kalau menyentuhku? aku ini sehat loh, gak punya penyakit, gak punya penyakit kulit juga. Coba saja cium aku. Bos tidak akan kenapa-napa kok!" kata Carissa yang mendekatkan wajahnya ke arah Raja.


Dan tanpa berkata lagi, Carissa bahkan menarik Raja dan menempelkan bibirnya dengan bibir Raja.


Mata Raja membelalak lebar menatap mata Carissa yang terpejam.


Hanya dua detik lalu Carissa melepaskan ciumannya dan melihat ke arah Raja.


"Tuh kan, bos gak kenapa-napa kan?" tanya Carissa tanpa dosa.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2