
Setelah makan malam, Raja langsung kembali ke kamarnya. Dia ingin tidur, agar dia bisa melupakan wanita tengil yang sejak siang tadi wara-wiri di pikirannya.
Tapi sudah berganti posisi sebanyak 28 kali, wanita yang terus dia bilang wanita tengil itu tak kunjung mau pergi dari pikirannya. Sangking frustasinya, Raja sampai menutup wajahnya dengan bantal malam itu.
Keesokkan harinya, alarm jam di atas meja di samping tempat tidur Carissa berbunyi. Dia masih menyetelnya berbunyi di jam 6 pagi karena lupa menyetel ulang tadi malam.
"Ya ampun, aku lupa menyetel ulang!" gumam Carissa.
Carissa pun turun dari tempat tidur, lalu mandi.
Saat Carissa tengah merias dirinya dan menggunakan skin care paginya. Pintu kamarnya di ketuk dengan irama yang tidak enak ketukannya.
Tok tok tok tok
"Icha, ini mama. Cepat buka pintunya, sudah pagi sayang!" teriak Siska dari luar pintu kamarnya.
Carissa pun membuka kunci pintu kamarnya dan membuka pintu itu.
"Ya ampun, mama senang melihat kamu sudah rapi. Sekarang ikut mama ke dapur!" ajak Siska.
"Ke ruang makan kali ma, sarapan kan?" tanya Carissa.
"Hey, memangnya sarapan akan ada kalau tidak di buat dulu. Ayo ikut mama!" kata Siska lagi yang menggandeng tangan Carissa untuk kemudian mengajak anaknya itu memasak di dapur.
Di dapur, Siska memakaikan Carissa celemek yang bisa di gunakan untuk menutupi pakaian yang kita gunakan agar tidak terkena cipratan saat memasak atau mencuci sayuran.
"Perhatikan baik-baik apa yang di lakukan oleh bi Yati ya!" kata Siska.
"Ma, Icha gak bisa masak. Kemarin Icha goreng ikan saja jadinya ikan bakar...!"
"Ikan gosong non!" sela bi Yati.
"Nah tuh, mama dengar kan apa kata bi Yati. Jadinya ikan gosong!" kata Carissa yang malah terkekeh.
"Ih, sayang gak boleh gitu. Kamu tuh mau jadi istri orang sebentar lagi. Gak boleh kayak gitu. Sudah cepat bi Yati, mulai dengan potong sayurannya!" kata Siska yang memang sudah di ultimatum oleh suaminya agar bisa mengajarkan Carissa memasak.
__ADS_1
Paling tidak dia harus bisa membuat sarapan pagi untuk suaminya nanti. Kalau sampai Siska gagal, uang bulanannya juga akan di kurangi. Siska juga ketar-ketir akhirnya.
Bi Yati pada akhirnya memberikan contoh pelan pelan pada Carissa. Tapi dasarnya Carissa yang terlanjur di manjakan oleh mamanya sejak kecil. Memotong wortel saja, sejak tadi tidak berhasil.
"Ma, ini wortel beli dimana? pisaunya gak bisa motong wortelnya!" kata Carissa.
Siska yang penasaran pun maju dan membuka lebar matanya dengan apa yang dilakukan oleh anaknya itu. Siska pada akhirnya harus menepuk keningnya sendiri. Bagaimana tidak, pisaau yang di pegang Carissa itu terbalik. Mau sampai lebaran kingkong juga gak bakalan bisa kepotong itu wortel.
"Icha, tolong ya. Itu pisaau kamu kebalik, mau sampai papa kamu muda lagi juga gak akan terpotong wortelnya. Ya Tuhan berilah aku kesabaran ekstra, kalau perlu combo kesabaran ya Tuhan!" Siska sampai mengeluh akibat Carissa yang benar-benar membuatnya geleng-geleng kepala.
Setelah di balik, pisaau yang Carissa pegang akhirnya bisa di gunakan untuk memotong wortel itu. Tapi tetap saja, potongannya membuat Siska mendengus kesal.
"Cha, plis deh. Kamu potong wortel sebesar itu, bagaimana mama bisa makannya nanti? potong seukuran bibi Yati itu. Lihat potong tipis sedikit, astaga!" lagi-lagi Siska mengeluh.
"Ma, nanti kan mau di sayur, nanti bakalan hancur ma. Sama saja!" kata Carissa memberi alasan.
"Memang kamu mau rebus berapa lama, empat jam, biar jadi bubur wortel gitu?" tanya Siska yang sepertinya tensinya mulai naik.
Bi Yati malah terkekeh melihat Siska yang terus menerus di buat emosi oleh Carissa. Bi Yati sebenarnya juga tidak bisa menyalahkan nona mudanya itu. Salah sendiri sejak kecil, mamanya sibuk dengan urusan sosialita dan lain-lain. Sampai Carissa terlalu di manjakan, dan tidak pernah sama sekali melakukan pekerjaan rumah tangga. Jika dia bahkan tidak tahu cara memegang pisauu, itu juga bukan sepenuhnya salah Carissa.
Sejak kecil Siska mang tidak menginginkan anaknya itu memang benda tajam. Tapi kan tidak selamanya juga, ada waktunya seorang anak harus di ajari mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
"Di cuci non, seperti ini. Lalu kita potong dan rebus brokolinya. Setelah itu kita siapkan saus buat saladnya!"
Bi Yati mengajari Carissa dengan sangat telaten. Siska yang sudah kehabisan kesabaran akhirnya memilih duduk dulu di ruang makan. Sambil terus memijit pelipisnya yang mulai terasa pusing dibuat oleh Carissa.
Di rumah Raja, terlihat Raja yang juga baru bangun tidur dan keluar dari kamarnya.
Kamila yang melihat anaknya itu pun menyapanya.
"Selamat pagi Raja!" kata Kamila.
Tapi saat Kamila memperhatikan, dia melihat mata anaknya itu tampak merah dan kantung matanya jelas terlihat.
"Loh, kamu kenapa? begadang ya?" tanya Kamila.
__ADS_1
Kamila lantas berdiri dari duduknya dan menghampiri Raja.
"Kan mama sudah bilang, kamu harus istirahat yang cukup. Itu kantong mata, astaga. Ayo ikut mama!" kata Kamila mengajak Raja ke kamarnya.
Kamila meminta Raja berbaring di sofa.
"Apa yang kamu lakukan? nonton bola? sepertinya tidak ada, papa kamu biasanya juga akan begadang kalau ada pertandingan bola. Tapi semalam dia tidur cepat, pagi-pagi sudah berangkat!" kata Kamila panjang lebar sambil mengoleskan krim yang rasanya begitu sejuk di bawah mata Raja.
Raja yang memejamkan matanya dan menikmati sejuknya krim yang di oleskan mamanya pun hanya mendengus kesal.
"Aku tidak bisa tidur ma!" kata Raja.
Mendengar jawaban Raja, Kamila malah terkekeh geli sendiri.
"Ha ha ha, mama tidak tahu kalau pertunangan ini membuatmu sangat gugup sampai tidak bisa tidur. Tenang sayang, semua akan di urus oleh mama kamu ini. Kamu tinggal hafalan Ijan qobul saja dari sekarang, siapa nama lengkap Carissa?" tanya Kamila.
"Mana aku tahu!" jawab Raja cepat.
Plakk
Kamila sampai memukul lengan Raja dengan keras.
"Heh, jangan keterlaluan ya. Mama tahu kamu itu sok cool orangnya. Tapi jangan sampai nama lengkap calon istrimu kamu tidak tahu dong!" kesal Kamila.
"Nanti akan aku tanya pada Nando" kata Raja.
Kamila sampai geleng-geleng kepala.
"Bagaimana sih kamu ini, jangan-jangan ulang tahun calon istrimu itu juga kamu tidak tahu?" tanya Kamila lagi.
"Tidak tahu!" jawaban itu terlalu terus terang.
Kamila sampai berdiri dan berkacak pinggang.
"Raja, jangan uji kesabaran mama ya, bagaimana bisa kekasih sendiri kamu tidak tahu kapan ulang tahunnya!" Kesal Kamila.
__ADS_1
***
Bersambung...