CEO Galak Vs Cewek Bar-bar

CEO Galak Vs Cewek Bar-bar
Bab 39. Hari Pertama di Rumah Suami


__ADS_3

Raja susah keluar dari kamar mandi ketika terkejut melihat Carissa yang hanya menggunakan handuk sebatas dada dan di atas lututnya sedikit.


"Hei, apa yang kamu lakukan? apa yang kamu pakai itu?" pekik Raja terkejut bukan main melihat Carissa dalam keadaan seperti itu.


Carissa sempat terkejut, dia yang sedang mencari peralatan mandinya di koper, sampai langsung berbalik ke arah Raja, padahal dia belum menemukan peralatan mandinya itu.


"Kamu kenapa kalau bicara selalu teriak sih? apa kamu tidak lihat? aku sedang pakai handuk? memangnya kamu tidak tahu handuk?" tanya Carissa sambil memegang atasan handuknya.


Raja benar-benar di buat tak bisa berkata-kata lagi. Pria tampan itu, yang makin tampan karena rambutnya masih basah dengan piyama tidur yang membuatnya terlihat tampan dan menggemaskan, hanya bisa mengusap wajahnya kasar.


"Kamu itu wanita Carissa, tidak bisakah lebih waspada. Kamu membuka pakaian di kamar begini, memakai handuk di...!"


"Ini kamar suamiku, apa yang salah dengan itu?" tanya Carissa.


"Agkhhh, terserah!" seru Raja yang langsung keluar dari kamarnya menuju balkon.


Carissa yang merasa dirinya tidak melakukan sebuah kesalahan sama sekali lantas kembali mencari peralatan mandinya, setelah mendapatkannya, Carissa lantas masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi.


Raja masih berdiri di balkon, memandangi langit yang penuh dengan bintang-bintang. Meskipun begitu angin yang berhembus begitu dingin, dan ketika angin itu menembus pori-pori ribuan benang yang terajut itu, rasa dingin pun menghinggapi kulit Raja.


Raja terus merenung, sebenarnya apa yang membuatnya bisa terjebak sejauh ini. Dia memikirkan lagi, apa yang membuatnya sampai menikah dan berada di satu rumah, satu kamar yang sama dengan Carissa.


Raja merasa wanita itu berbeda, wanita yang selalu berpikir di luar nalar, bertindak di luar kebiasaan orang lain, dan sama sekali tidak sakit hati meskipun ribuan kata-kata kasar selama tiga bulan ini terus di ucapkan Raja padanya. Tapi jujur saja, Carissa memang akhir-akhir ini sangat mengganggu pikiran Raja. Benar-benar mengganggunya.


Raja merasa sudah cukup lama, dia berada di balkon. Raja pun kembali masuk ke dalam kamarnya. Tapi lagi-lagi pria tampan nan rupawan itu di buat terkejut karena wanita yang selalu dia panggil cewek tengil itu sudah berada di atas tempat tidurnya.


Sudah memeluk guling dan tampak tertidur pulas dengan rambut yang setengah kering.


Raja pun mengacak rambutnya kasar. Dia sudah mengatakan pada wanita itu kalau seharusnya Carissa tidur di sofa. Tapi malah dia duluan yang tidur di tempat tidur Raja.


Raja pun bergegas mendekati tempat tidurnya, Raja mau membangunkan Carissa, tapi dia bingung mau pegang apanya. Akhirnya Raja memegang lengan Carissa dan menggoyang-goyangkan lengan Carissa itu dengan keras berkali-kali.

__ADS_1


"Hei, wanita konyol. Bangun! Bukankah kamu harusnya tidur di sofa. Cepat bangun!" Raja berusaha membangunkan Carissa.


Tapi berapa kali pun Raja berusaha berseru dan menggoyangkan lengan Carissa, Carissa yang memang sangat lelah hari ini tak kunjung bangun juga.


Raja yang tidak ingin tidur satu tempat tidur dengan Carissa pun berniat menggotong Carissa untuk memindahkan wanita itu dari tempat tidur. Tapi saat Raja akan menggendongnya, Carissa berbalik, membuat Raja salah pegang sesuatu yang seharusnya punggung yang terasa keras menjadi sesuatu yang terasa sangat lunak dan membuat tangan Raja refleks dia tarik menjauh dari bagian tubuh Carissa itu.


"Agkhhh, wanita ini benar-benar!" keluhnya lagi sambil memandang tangannya yang betul saja menyentuh satu dari dua gundukan berharga Carissa.


Raja yang frustasi pada akhirnya meraih bantalnya, lalu menarik selimut yang sedang di pakai Carissa. Tapi sayang Carissa juga menindih selimut itu hingga sulit untuk di tarik oleh Raja.


Tak mau lebih lama berurusan dengan Carissa, pada akhirnya Raja memilih melepaskan selimut itu dan mencari yang lain di lemarinya di ruang ganti.


Raja pun tidur di sofa, dia menoleh ke arah Carissa yang masih tampak tertidur pulas.


"Dasar wanita tengil, konyol, menyebalkan!" omelnya sebelum menutup mata dan tertidur pada akhirnya karena dia juga sangat lelah hari ini.


Keesokan harinya, Carissa yang sudah mulai terbiasa bangun pagi, hari ini juga bangun sangat pagi. Dia melihat ke sekeliling, dan matanya langung membulat sempurna. Carissa bahkan langsung bangkit dari posisi tidurnya lalu berganti posisi dengan posisi duduk.


Tapi Carissa langsung melihat ke sekeliling kamar, baru saat melihat Raja tertidur di sofa. Carissa menghela nafas lega.


Carissa bahkan menepuk jidatnya sendiri, karena dia kira dia tadi ada dimana. Dia sempat lupa kalau dia sudah menikah dan tinggal bersama Raja.


Carissa pun turun dari tempat tidurnya, dan merapikan tempat tidurnya itu. Dia ingat pesan mamanya, kalau dia harus rajin dan bersih di rumah suaminya. Bangun pagi, mandi dan harus membantu mama mertuanya membuatkan sarapan. Carissa tentu saja tidak mau menjadi menantu yang tidak di sayang mertua. Jadi dia menuruti semua ucapan mamanya.


Setelah tempat tidur rapi, Carissa pun pergi mandi dan berganti pakaian. Saat Carissa keluar dari kamar mandi, Raja belum bangun. Carissa juga tidak ingin membangunkannya. Karena itu dia menyisir rambutnya dengan perlahan, dan hanya mengeringkan rambutnya dengan handuk saja. Carissa bahkan tidak membuka tirai jendela.


Setelah itu Carissa pun menuju ke dapur. Di dapur ada seorang asisten rumah tangga. Carissa tidak melihat mama mertuanya di sana.


"Selamat pagi bi, mau buat sarapan apa?" tanya Carissa.


Asisten rumah tangga itu langsung menoleh begitu mendengar Carissa menyapanya.

__ADS_1


"Selamat pagi nyonya muda. Ini mau buat salmon panggang dan salad buah nyonya muda!" kata asisten rumah tangga itu.


Carissa pun mengangguk paham dan melihat-lihat persiapan yang di lakukan asisten rumah tangga bagian dapur mama mertuanya itu.


"Nama bibi siapa?" tanya Carissa.


"Ani, nyonya muda!" kata asisten rumah tangga itu dengan sopan.


"Aku bantu ya!" kata Carissa yang langsung memegang satu buah melon dan pisauu yang ada di sampingnya.


Ani tidak bisa menolaknya tentunya, Ani pun fokus pada olahan ikannya.


Beberapa saat berlalu, Ani tentu saja percaya kalau Carissa pasti bisa memotong buah melon. Tidak mungkin seseorang tidak bisa mengupas dan memotong buah melon kan.


Dan beberapa saat kemudian.


"Bi Ani, aku sudah selesai, apa lagi yang bisa aku potong?" tanya Carissa lagi.


Bi Ani tersenyum senang, bisa di bilang waktu yang Carissa gunakan untuk memotong satu buah melon ukuran sedang itu sangat cepat.


Tapi begitu bi Ani berbalik, rahangnya nyaris jatuh.


"Nyonya muda...!" lirih bi Ani tak bisa meneruskan apa yang ingin dia ucapkan.


Melihat buah melon di mangkuk besar, yang di potong dengan ukuran besar, dan biji juga kulitnya tidak di buang.


'Ya tuhan, bolehkah aku berteriak? kalau begini sama saja aku kerja dia kali, bahkan akan lebih lama membuang kulit dan biji satu-satu dari potongan buah itu!' sedih bi Ani yang ternyata bukan mendapatkan bantuan dari Carissa. Tapi malah mendapatkan kesulitan.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2