
Raja yang terbiasa hidup di kota, di tempat elite yang terbebas bahkan dari nyamuk. Tentu saja terkejut melihat ular melata di sampingnya. Mana dia tahu cara mengatasi ular itu.
Tapi ketika mendengar Carissa menyuruh Raja diam, Raja pun menuruti apa yang dikatakan oleh Carissa.
Jangankan bicara, Raja benar-benar menahan nafas seperti apa yang di perintahkan Carissa.
Sedangkan Carissa, dia sedang mencari botol parfum di tasnya. Begitu menemukannya, dia langsung saja menyemprotkan parfum itu di sekitar Raja duduk. Bahkan ke seluruh pakaian Raja.
Juga dirinya sendiri tentunya, karena dia tidak mau kalau sampai ular itu mendekatinya. Dia pernah berlatih saat ospek di kampus dulu. Kalau ular itu tidak suka bau wangi yang menyengat.
Meski Raja sebenarnya ingin protes. Tapi setelah dia pikir lagi, meskipun dia sangat tidak suka dengan wewangian itu. Dia memilih diam, agar dia selamat. Dia tentu saja tidak mau kalau semua harta papanya jatuh ke tangan Restu. Sebenarnya bukan itu saja, dia juga tidak mau mamanya yang masih sebelas dua belas agak berlebih-lebihannya dengan artis cantik Ayu Dewi itu sedih karena kehilangan dirinya.
Raja semakin terkejut, karena ternyata ular itu benar-benar tidak suka aroma yang di semprotkan dari botol parfum Carissa. Perlahan tapi pasti ular itu berbalik arah dan melata pergi meninggalkan tempat tadi.
Raja bergegas berdiri ketika ular itu pergi.
"Tidak mau katakan sesuatu?" tanya Carissa yang mengira Raja akan mengucapkan terima kasih padanya.
"Mengucapkan apa? lagipula kenapa bawa motor tidak lihat bensinnya ada atau tidak?" tanya Raja yang malah terlihat kesal.
Carissa langsung mengernyitkan keningnya dong.
"Ih, mana aku tahu bensinnya gak cukup. Lagian siapa yang suruh jalan-jalan. Kan rencananya cuma sarapan!" balas Carissa tak kalah kesal.
"Kamu mau bilang aku yang salah? mau aku pecat kamu?" tanya Raja yang langsung membuat Carissa diam.
'Ih, cowok macam apa sih, dikit-dikit ancamannya main pecat. Sudah di tolong dari ular juga, gak ada ucapan terima kasih sama sekali. Malah ngajak ribut, main ancam pecat pecat segala. Tahu begini, tadi aku mendingan biarin saja ular itu membelit mu sampai tak bisa bernafas, sampai matamu melotot keluar, sampai mukamu biru kehabisan oksigen. Nyebelin!' omel Carissa di dalam hatinya.
Carissa memilih membuang wajahnya dari Raja meskipun dia sangat kesal. Mereka berjauh-jauhan, lebih tepatnya Carissa menjauh dari Raja karena terlalu kesal para pria itu. Dan cukup lama mereka tak saling bicara.
Sampai pada akhirnya sebuah mobil datang, bersama dengan seorang bapak tua yang tadi naik sepeda di samping kepala pekerja bernama Benyamin itu.
__ADS_1
"Tuan, nona!" sapa Benyamin.
Raja dan Carissa pun kembali naik mobil, dengan sepeda motor yang sudah di isi bensin dan di bawa oleh anak buah Benyamin.
Sampai jam makan siang, Carissa sama sekali tidak berniat untuk membuka mulutnya. Dia hanya mengerjakan pekerjaan yang harus dia kerjakan. Sampai pada akhirnya, Raja mengambil air di dispenser perumahan itu. Tapi tanpa melihat ke arah tombolnya merah atau biru.
Carissa yang melihat itupun langsung merebut gelas yang di pegang Raja dan hendak pria itu minum.
"Apa-apaan sih kamu?" tanya Raja yang terkejut gelasnya di ambil oleh Carissa.
Karena terburu-buru mengambil gelas itu. Carissa sampai kecipratan air panas yang Raja ambil dan ingin minum tadi.
Setelah meletakkan gelasnya di atas meja. Carissa meniup tangannya yang memerah terkena air panas.
"Lihat itu, lihat asap yang keluar dari gelas itu. Jika aku tidak mengambilnya. Mulut mu Alan terbakar, melepuh!" kata Carissa yang lantas pergi meninggalkan ruangan itu untuk minta salep luka bakar pada Benyamin.
Raja masih melihat ke arah gelas yang memang mengepulkan asap panas itu. Raja mengingat tangan putih Carissa yang tadi memerah karena terciprat air. Raja sedikit merasa bersalah, dia kemudian mengingat lagi ketika tadi Carissa membantunya menyelamatkannya dari ular yang datang mendekatinya.
Seharusnya dia tidak bersikap seperti itu pada Carissa. Raja diam dan berpikir, mungkin karena selama ini dia memang sangat anti dengan yang namanya perempuan karena tidak ingin sampai jatuh cinta lalu terluka lagi yang membuatnya menjadi pria yang sangat arogan dan keras kepala.
Raja menghela nafas panjang, dia menyamaratakan semua wanita seperti Vivian. Tapi sebenarnya dia melakukan semua itu agar hatinya tidak terluka lagi. Rasanya sangat menyakitkan, dan satu kali lagi Raja merasakan sakit hati di khianati seperti itu. Mungkin dia tidak akan sanggup.
Setelah merasa dirinya keterlaluan. Raja pun mengikuti Carissa yang berjalan ke arah ruang medis untuk para pekerja.
Di sana Raja melihat Carissa yang sedang di kerumuni beberapa pria, yang merupakan pekerja pembangunan yang perduli pada Carissa.
Karena di tempat itu, bisa di bilang Carissa adalah wanita yang terlihat paling cantik di sana. Tentu saja di lihat dari bentuk fisik dan penampilan serta cara berpakaiannya.
"Nona, aku bantu oleskan ya!"
"Aku saja nona, tangan Moko ini kasar sekali. Nanti yang ada kulit halus nona bertambah lecet!"
__ADS_1
"Jangan sembarangan, aku akan memberikan salepnya perlahan saja nona!"
"Aku saja nona Carissa, mereka berdua ini sudah punya istri!"
Mendengar para pekerja yang mengatakan kalimat-kalimat yang terus terang saja sangat mengganggu pendengaran Raja. Karena bagaimana pun juga, meskipun tidak setuju pada awalnya dan hanya sebuah perjanjian saja. Tapi Raja adalah tunangan Carissa. Artinya Raja adalah calon suami wanita yang sedang di kerumuni para pria yang mulutnya sedang mengeluarkan kata-kata berbisa pada Carissa yang polos itu.
"Kalian kenapa di sini? kembali bekerja!"
Sontak saja semua orang di tuan medis itu melihat ke arah sumber suara yang terdengar begitu garang, yang membuat mereka merinding.
Ketiganya tanpa bicara langsung mengangguk dan sedikit membungkuk memberi hormat. Lalu segera meninggalkan ruangan medis itu.
Carissa tak menghiraukan kedatangan Raja, dan lanjut memberikan salep pada tangannya yang memang terasa merah dan panas.
Raja yang tiba-tiba duduk di sampingnya langsung meraih salep itu dari tangan Carissa dan membantu Carissa mengoleskannya di bagian yang berwarna merah yang belum di oles salep.
"Aku bisa sendiri!" kata Carissa yang masih kesal pada Raja.
"Sudah diam, jangan keras kepala. Aku yang salah, seharusnya aku tidak marah padamu!" kata Raja.
Carissa hanya bisa menghela nafas, dia merasa kalau Raja itu orangnya cukup simpatik.
"Apa kamu lebih senang di oleskan salep oleh para kuli itu daripada aku?" tanya Raja yang membuat rahang Carissa nyaris jatuh.
Carissa lalu berdiri, dia tersinggung dong Raja bilang begitu.
"Barusan aku berpikir kamu tidak se-arogan yang aku kira. Tapi aku rasa aku salah!" kata Carissa yang lantas pergi meninggalkan ruangan itu dengan perasaan kesal.
Tapi Raja malah terbengong di tempatnya.
"Aku salah apa lagi?" tanyanya bingung.
__ADS_1
***
Bersambung...