
Carissa tersenyum begitu melihat Raja turun dari dalam mobilnya. Tapi yang namanya Raja, dia mana mau terlihat perduli, padahal sebenarnya Raja sangat penasaran sekali bagaimana caranya Carissa bisa datang ke PT Harvey Mukti dalam waktu yang lebih cepat darinya. Padahal Raja meninggalkan nya tadi.
Alih-alih bertanya, Raja malah melewati Carissa begitu saja. Saat Raja berjalan melewatinya, Carissa pun tersenyum pada bosnya itu.
"Sinting kamu? senyum-senyum sendiri? Gak jelas!" omel Raja yang lantas meninggalkan Carissa yang tercengang di tempatnya.
Setelah Raja masuk ke Perusahaan, Carissa langsung mengepalkan tangannya di depan wajahnya, dia meremmas-remass kedua tangannya yang terkepal di depan wajahnya itu sangking kesalnya pada Raja.
"Sudah kalah telak masih saja sombong. Hih... gemasnya!" gerutu Carissa di depan pintu masuk.
"Cewek Tengil! cepat!" kata Raja berseru dengan suara yang dingin pada Carissa.
Carissa langsung berbalik dan menghampiri bosnya yang arogan, dingin seperti kulkas dan sombong seperti Raja hutan itu. Carissa mengikuti pria itu dari belakang.
Sepanjang mereka berjalan, semua mata terlihat tertuju pada Carissa. Sampai gadis manis dan cantik berusia 19 tahun itu melirik penampilannya sendiri dari atas kepala sampai ujung kakinya.
'Nih orang-orang pada kenapa sih? gak pernah lihat cewek cantik kali ya?' batin Carissa bertanya-tanya.
Dan apa yang di batin oleh Carissa itu sebenarnya tidak salah juga. Karena memang orang-orang yang melihat Carissa itu sedang keheranan melihat Carissa.
Selama ini kalau Raja datang ke perusahaan mereka. Biasanya selalu dengan sekertaris pria. Raja baru kali ini datang senang sekertaris wanita. Dan kelihatannya sekertaris wanita yang mengikuti Raja di belakangnya itu masih sangat muda dan terlihat sembrono. Terlihat dari caranya berjalan yang tidak ada anggun-anggunnya sama sekali.
Sampai masuk ke dalam lift, beberapa orang masih saja sibuk memperhatikan Carissa.
Di dalam lift kan ada cermin, nah di saat itulah Carissa mencoba memperbaiki semua riasan dan rambutnya.
Raja yang berdiri di depan Carissa sebenarnya juga tidak mau memperhatikan Carissa. Tapi karena dinding lif itu memang lima puluh persen nya terdiri dari cermin. Mau tidak mau, Raja pada akhirnya juga memperhatikan Carissa.
Carissa sedang memoles bibirnya dengan lip tint. Dan ketika dia selesai melakukan itu, bibirnya di monyong monyong kan dong seperti bisa di kuncir saja.
Raja sampai mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
'Sudah tengil, bodoh, tidak waras lagi. Kasihan sekali orang tuanya punya anak seperti dia!' batin Raja.
Mereka pun keluar dari lift, dan lanjut melaksanakan meeting dengan CEO perusahaan besar itu. Untung saja dokumennya sudah di siapkan oleh Carissa pagi-pagi sekali tadi. Dan kemarin juga sempat di revisi oleh Marzi. Kalia tidak mungkin Raja hutan itu akan mengamuk kalau sampai meeting ini berjalan tidak sesuai harapan Raja.
Begitu selesai meeting mereka pun kembali ke perusahaan. Tapi kali ini Raja menyuruh Carissa pulang terlanjur dahulu.
"Bos, beneran gak boleh nebeng ya bos?" tanya Carissa yang ongkosnya hanya cukup untuk naik ojek satu kali lagi.
Raja lantas melihat ke sepatu dan jam tangan juga tas yang di pakai oleh Carissa.
"Makanya kalau kantong tipis jangan suka pamer. Tas kamu dan sepatu kamu di tambah jam tangan kamu itu kalau di jual masih bisa dapat satu buah sepeda motor matic loh. Tapi ongkos saja tidak ada!" Kata Raja ketus lalu masuk ke dalam mobil.
'Ih, tidak mau kasih tumpangan ya sudah. Gak usah ngomel kayak ibu-ibu arisan!' batin Carissa.
Carissa pun tak bicara lagi, dia hanya pergi ke pangkalan ojek yang tak jauh dari perusahaan besar itu.
Raja yang melihat Carissa naik ojek tersenyum sinis.
"Ternyata dia naik ojek, kemana-mana naik ojek saja. Gayanya selangit. Jangan-jangan dia dapat nyuri semua barang-barang branded yang dia pakai!" gumam Raja lantas meninggalkan perusahaan itu dan kembali ke kantor.
Mendengar kalau Raja sudah pulang, Carissa benar-benar sangat senang. Dia merasa seperti akan meyambut tahun baru senangnya, seperti ketika dia akan merayakan pesta ulang tahun. Pokoknya perasaannya seperti itu. Dia bahkan ingin menari dan melompat sambil berseru sangat senang.
"Yes, la la la la!" kata Carissa bersenandung sambil menari karena senang mengetahui Raja sudah pulang.
Tapi baru saja Carissa menselebrasikan kesenangannya. Tiba-tiba saja Anton masuk ke dalam ruangan Carissa.
"Ekhem... Carissa!" panggil Anton.
Carissa langsung berbalik dan terlihat nyengir di depan Anton.
"Kak Anton, iya ada apa?" tanya Carissa yang melihat Anton membawa banyak sekali dokumen dan di letakkan di atas meja Carissa.
__ADS_1
"Ini, kata tuan Raja. Kamu harus mengcopy semua data ini dan buat masing-masing dua rangkap. Juga jadwal untuk satu tahun tuan Raja ini, tulis di agenda mu!" kata Anton pada Carissa.
Rahang Carissa nyaris terjatuh mendengar apa yang di katakan oleh Anton.
Carissa pikir karena Raja sudah pulang maka dia hanya perlu menyelesaikan pekerjaan yang tersisa di atas meja. Tapi ternyata dugaannya itu salah. Raja tidak akan pernah membiarkan Carissa duduk manis dengan santai.
Sementara itu di kediaman Mahesa. Kamila dan Indra sudah menunggu kedatangan Raja. Mereka menunggu di ruang keluarga. Ada juga Ajeng dan Restu di sana. Kakak dan kakak ipar Raja.
"Ada apa ini?" tanya Raja yang melihat kakaknya yang tinggal di luar kota dayang.
"Uncle Raja!" Teriak seorang anak berusia 5 tahun yang langsung memeluk kaki panjang Raja.
"Keenan!" panggil Raja lalu menggendong keponakannya itu.
"Kamu datang? bukankah ulang tahunmu masih tiga bulan lagi?" tanya Raja pada Keenan.
"No uncle, bukanlah kita akan menjemput aunty dari rumahnya untuk tinggal bersama dengan uncle?" tanya Keenan kecil yang di beri penjelasan seperti itu oleh Ajeng.
Raja cukup pintar untuk mengerti apa yang di katakan oleh Keenan. Raja menurunkan Keenan dan menatap penuh curiga pada mamanya.
"Apa-apaan ini ma? aku sudah bilang kan...!"
"Memangnya kenapa kalau kami melamar pacar kamu? sampai kapan kalian mau pacaran. Sudahlah, bersiap sekarang karena papa kamu sudah membuat janji dengan tuan Setiawan!" kata Kamila.
"Setiawan siapa, gadis itu hanya gadis tengil yang tidak punya...!"
"Bersiaplah Raja. Papa tidak mau berdebat dengan kamu. Kamu sudah 30 tahun, sudah saatnya kamu berumah tangga. Atau kamu ingin menikahi Intan saja? keponakan tuan Hariri?" tanya Indra yang membuat Raja lantas menghela nafas kesal dan memilih masuk ke dalam kamarnya.
"Apa dia akan setuju pa?" tanya Restu, kakak kandung Raja.
"Dia tidak punya pilihan lain, dia sudah berjanji pada mendiang kakeknya untuk menikah ketika usianya 30 tahun!" kata Indra terlihat sendu saat mengatakan hal itu.
__ADS_1
***
Bersambung...