CEO Galak Vs Cewek Bar-bar

CEO Galak Vs Cewek Bar-bar
Bab 12. Siska Membujuk Erlangga


__ADS_3

Marzi cukup terkejut ketika Carissa mengatakan untuk berhenti di depan sebuah gerbang yang tingginya hampir tiga meter itu. Rumah yang begitu besar, dengan pagar yang begitu tinggi. Marzi berpikir apakah anak orang sekaya ini akan di biarkan magang di perusahaan yang ceo-nya terkenal galak dan sangat disiplin.


"Ini rumahmu?" tanya Marzi dan Carissa mengangguk cepat.


"Bunyikan klaksonnya!" kata Carissa.


Marzi pun membunyikan klakson mobilnya, dan terlihat dari dalam gerbang, pak Usman sedang berusaha dengan cepat membuka kunci pintu gerbang. Karena sudah malam, pintu gerbang memang biasanya sudah di gembok. Mereka tiba di rumah itu tepat pukul jam 9 malam.


Setelah pintu gerbang terbuka, Carissa meminta Marzi mengemudikan mobilnya masuk ke dalam pekarangan rumah Carissa.


Semakin Marzi ke dalam, semakin dia menelan salivanya melihat rumah Carissa yang seperti sebuah mansion itu. Semakin rendah diri pula dia yang awalnya ingin mendekati Carissa, karena sebenarnya Marzi sudah suka pada Carissa sejak di kampus dulu. Hanya saja Carissa tidak pernah menyadari hal itu, bahkan dia tidak ingat pada Marzi.


"Kak stop, itu mamaku!" kata Carissa menunjuk seorang wanita cantik yang tengah berdiri di depan pintu utama yang terbuka lebar.


"Mama kamu?" tanya Marzi yang menjadi gugup.


"Iya kak Marzi, ayo turun. Aku akan kenalkan pada mamaku, dia pasti senang bertemu denganmu!" kata Carissa.


Dan Marzi lebih terkejut lagi, ketika Carissa mengatakan hal itu. Dia akan mengenalkan Marzi pada mamanya. Itu di luar dugaan. Dan mendadak Marzi menjadi sangat rendah diri dan tidak percaya diri sekaligus minder.


"Bertemu mama kamu?" tanya Marzi yang menjadi canggung dan gugup di saat yang bersamaan.


Carissa langsung mengangguk dengan cepat.


"Iya kak, ayo!" ajak Carissa yang menarik tangan Marzi.


Carissa lantas turun dari dalam mobil Marzi, meski ragu Marzi juga ikut turun. Begitu melihat Carissa turun dari mobil, Siska langsung menghampiri anaknya itu dan memeluknya.

__ADS_1


"Icha sayang, mama khawatir sekali. Kamu pasti sangat lelah, sudah makan belum?" tanya Siska bertubi-tubi karena begitu mengkhawatirkan anaknya itu.


"Mama, aku sangat lelah. Tapi untung saja ada kak Marzi yang membantuku. Ma, kenalkan ini kak Marzi. Sekertaris CEO galak itu!" kata Carissa mengenalkan Siska pada pria tampan di belakang Carissa itu.


"Selamat malam nyonya, namaku Marzi. Senang bertemu dengan anda!" kata Marzi sopan.


Dia bahkan menempelkan kedua tangannya di depan dada. Benar-benar kesan pertama yang begitu lembut Siska senang melihatnya.


"Kamu sopan sekali Marzi, aku Siska mamanya Carissa. Jangan panggil nyonya ya? panggil saja Tante. Terimakasih sudah mambantu Carissa. Nak Marzi sudah makan malam belum? ayo masuk makan bersama dengan Icha!" kata Siska begitu ramah pada Marzi.


Marzi yang awalnya minder sekali pun menjadi lega, ternyata mamanya Carissa meskipun kaya raya sangat ramah dan baik orangnya.


"Terimakasih Tante, tapi ini sudah malam. Saya pamit dulu ya, selamat malam!" kata Marzi yang rasanya sangat tidak nyaman bertamu di rumah Carissa malam-malam begini dengan keadaan yang terlihat lelah karena sudah seharian bekerja, dan pakaiannya juga sudah tidak wangi lagi.


"Selamat malam, hati-hati di jalan ya!" kata Siska.


"Kak hati-hati ya!" kata Carissa sangat ramah.


Sementara itu Siska langsung mengajak Carissa masuk ke dalam rumah.


"Sayang makan dulu ya, ya ampun. Mama gak nyangka loh, hari pertama kamu magang malah di suruh lembur. Bos kamu segalak itu? mungkin beban hidupnya sangat berat ya, makanya dia galak!" kata Siska mengajak Carissa ke ruang makan.


"Mungkin ma!" jawab Carissa asal karena mang dia sedang sangat lelah.


"Mau makan apa? mama masakan pasta ya?" tanya Siska dan Carissa pun mengangguk.


Sambil menunggu pasta buatan mamanya, Carissa menceritakan dari awal dirinya masuk ke perusahaan itu.

__ADS_1


"Mama bilang saingan Icha 3 orang, yang benar 30 orang ma!" kata Carissa sedikit protes pada apa yang tadi pagi di katakan Siska.


"Ya ampun sayang, 30 ya? he he he mama salah dengar kalau begitu. Kakak iparmu bilang pada mama, 3 orang. Berarti mama yang terlalu senang sampai salah dengar!" kata Siska memberikan alasan pada Carissa.


Padahal yang sebenarnya dia tahu kalau saingannya sangat banyak. Tapi Siska pikir, kalau dia memberitahu sejak awal saingan kerja Carissa sangat banyak, lihat aku anaknya itu malah jadi tidak bersemangat dan sudah menyerah duluan.


"Tapi untungnya aku punya banyak akal, akhirnya aku dapatkan pekerjaan itu!" kata Carissa yang terlihat sangat bangga pada dirinya sendiri.


Dan itu memang patut ya banggakan karena dia berhasil menyingkirkan saingannya sebanyak 29 orang. Itu bukan hal mudah. Untung otaknya pintar, cenderung licik sebenarnya. Kalau tidak mungkin saja dia yang akan tersingkir, karena sebenarnya dia punya masalah pribadi dengan ceo-nya perusahaan itu.


"Anak mama memang terbaik! ini makanlah, setelah itu kamu istirahat. Besok kamu kerja lagi kan?" tanya Siska.


Carissa menyantap makanannya, sambil makan dia banyak bercerita tentang bosnya yang benar-benar membuatnya sangat lelah.


"Hari gini dia masih nyuruh Icha mencatat semuanya di buku agenda. Dia itu pelit sekali ma, ya ampun. Gak kebayang nanti nasib istri dan anaknya!" kata Carissa bercerita sambil geleng-geleng kepala.


Siska juga memikirkan hal yang sama dengan Carissa.


"Kamu benar, kalau begini terus tangan kamu bisa gepeng pegang pulpen terus. Nanti mama bicara sama papa deh, biar kamu dapat keringanan. Jangan lama-lama magangnya ya, gak usah tiga bulan. Sebulan aja deh ya!" kata Siska yang langsung di angguki Carissa. .


Setelah selesai makan malam, Carissa pun beristirahat di kamarnya. Sedangkan Siska pergi menemui suaminya yang juga belum tidur. Erlangga sedang membaca buku sambil bersandar di sandaran tempat tidurnya. Dengan kaca mata bacanya tentunya.


"Pa!" panggil Siska mendekati suaminya dan duduk di sebelah Erlangga.


"Hem!"


"Pa, kasihan banget deh Icha. Dia baru pulang pa, aku baru kasih dia makan. Kasihan banget deh pa, katanya bosnya galak banget, jaman canggih gini masak iya dia suruh Icha nyatat semuanya pakai buku agenda. Sudah gitu disiplin banget, kalau Icha ngumpulin kerjaan telat lima menit saja, pekerjaannya di tambah lima kali lipat. Belum lagi, galaknya minta ampun. Icha benar-benar gak bisa selonjoran barang sebentar saja. Kasihan anak kita pa, coba pikirkan lagi ya pa!" kata Siska membujuk suaminya sambil mengusap lengan Erlangga naik turun perlahan.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2