CEO GILA : Mencintai Istri Orang

CEO GILA : Mencintai Istri Orang
BAB 13 (Dua Gadis Datang)


__ADS_3

"Ayang!"


Andre menoleh. Sosok cantik tinggi langsing turun dari mobil pribadi yang baru pertama kali ia lihat.


Sosok itu adalah Wirda.


"Kamu tumben jemput aku!" ujar Andre dengan tersenyum manis.


"Kangen!" bisik Wirda membuat Andre jumawa. Jemari Wirda merem*s jemarinya.


"Ini masih dilingkungan sekolah, Yang!" Andre balas berbisik lembut di telinga Wirda.



"Keluar yuk?"


"Aku masih ada jadwal!"


"Ish!"


"Sorry, Beib! Masih sekitar dua jam-an lagi!"


"Terus aku gimana? Nunggu kamu selesai gitu?"


"Saranku, sebaiknya kamu pulang duluan. Aku ga bisa ninggalin. Turnamen basket sebentar lagi digelar. Dan aku adalah kapten yang harus mengurus teamku, Yang!"


"Hhh...! Padahal aku mau ngajak kamu kerumahku. Mama Papa pergi ke luar kota. Jadi kita bisa habiskan waktu di rumahku, Ndre!"


"Hm...! Maaf, padahal tawaran itu sangat menarik! Tapi aku harus fokus pada basket dulu. Gimana dong!?"


"Hhh... Ya sudah. Aku pulang deh! Tapi kalau kamu sudah selesai basket dan mau main ke rumahku... kabari aku ya? Aku pasti akan jemput!" kata Wirda dengan manja.


Andre mengangguk. Senyum gigi gingsulnya semakin menawan hati Wirda.


Pemuda itu juga mengusap lembut poninya sembari menepuk-nepuk lembut ujung kepalanya.


"Ah, Ayang mah! Bikin aku jadi melting!"


Andre tertawa kecil. Kini jemarinya mencubit gemas pipi Wirda.


"Sudah sana pulang! Nanti banyak cowok iseng yang naksir sama pacar cantikku ini!" godanya membuat Wirda merengut.


"Ga akan tergoda! Karena aku punya pacar tampan dan penuh cinta! Jauh-jauh deh tuh dari hidupku yang sempurna!" katanya.


"Hahaha... Ayangku keren!" jawab Andre senang.


Mobil Wirda meluncur meninggalkan area parkiran sekolah Andre.


Belum sepuluh menit berlalu, mobil Alphart Bianca memasuki parkiran sekolah.


"Andreee!"


Pemuda yang dipanggil namanya itu langsung menoleh. Wajahnya kembali sumringah dengan bibir menyeringai lebar.


Dua gadis datang mengajaknya kencan.


"Angin apa sampai ada bidadari turun dari khayangan?" gombalannya membuat Bianca memeletkan lidahnya.


Seketika Andre sadar. Bianca tidak suka mendapatkan rayuan picisan.


"Hahaha... gara-gara novel online yang kubaca, otakku jadi terkontaminasi!" Andre berusaha merubah sikap.


"Novel apaan sih?"

__ADS_1


"Novel online di Noveltoon! Oiya, ada apa Bi!"


"Aku mau ngajak kamu ke Bandung! Yuk?"


"Bandung? Sekarang?"


Bianca mengangguk.


Andre sebenarnya sangat tertarik. Ia juga ingin hunting kaos favoritnya yang kebanyakan dibeli di distro Bandung. Secara neneknya memang tinggal di kota kembang itu.


"Hm... tapi aku masih latihan basket! Gimana?"


"Kapan selesainya?" tanya Bianca.


"Dua jam lagi."


"Lama bet sih?"


"Mau ada turnamen, Bi! Jadi latihannya ditambah jamnya. Tuh! Aku udah dipanggil pak Jimin!"


"Hah? Park Jimin BTS?"


"Hahaha... iya, tapi setelah dua puluh tahun kemudian!"


"Hahaha...! Ish dasar! Terus aku gimana dong? Ditinggalin gini diparkiran?"


"Terserah! Kalo mau nonton, yok masuk aula GOR sekolahku! Kalo engga' ya... terserah!"


"Aku keluar dulu deh ya? Entar kujemput dua jam lagi!"


"Oke!"


Andre kembali melanjutkan permainan basketnya. Sempat mendapat teguran karena ia sebagai kapten team basket terkesan asal-asalan latihan. Namun kini tekadnya kembali fokus pada basket. Berharap team basket mereka akan membawa piala kemenangan dipertandingan minggu depan.


.....


Selebgram itu memang terbiasa disiplin. Sehingga hidupnya lebih teratur dan pastinya itu dibutuhkan baginya yang memiliki kegiatan berjubel.


Andre berangkat ke Bandung bersama gadis populer itu.


Menuju kota kembang dengan mobil keren yang dibeli Bianca dari hasil keringatnya sendiri. Cerita Bianca memotovasinya untuk ikut maju seperti gadis itu.


"Kamu mau ikutan modeling ga?"


"Hehehe... Yasalam! Mana laku badan kaku gini masuk modeling!"


"Bisa. Kamu punya modal, Ndre!"


"Wajah tampan doang, ga jamin sukses di dunia catwalk! Dan aku ga merasa itu adalah pasionku!"


"Tapi cuannya banyak! Kamu mau sukses diusia muda khan? Atau... kamu mending jadi selir aku aja deh! Aku bakalan kasih apapun yang kamu mau! Ya? Ya, ya? Hahaha..."


"Hiks...selir! Hahaha..."


"Kamu gemesin! Aku jarang tertarik sama cowok sembarangan! Tapi kamu beda! Kamu..., diam-diam menghanyutkan!"


"Hadeh! Apakah aku ini sejenis benda kuning yang bisa mengambang! Lalu hanyut tanpa ucapan say goodbye dari sang pemilik aslinya!"


"Hahaha... itu t*kay!"


"Hahaha..."


Andre merasa nyaman jika Bianca sedang normal seperti ini. Namun ketika Bianca dalam mode on geragas ingin menerkam, Andre akan pasang mode on siaga.

__ADS_1


Karena gadis itu bisa membuatnya menjadi gila. Dan Andre tak mau gila diusia muda.


Seperti hari ini. Ke Bandung pukul lima sore, bakalan sampai lokasi jam berapa nanti.


Andre hanya bisa tersenyum geleng-geleng kepala. Mereka pasti akan sampai malam hari dan pulang kembali sekitar tengah malam atau pagi hari.


Beruntung besok sekolah Andre pelajarannya agak santai. Jadi bisa untuknya pergi hang out mengekor Bianca.


Hari ini Andre untung besar.


Beberapa outfit keren hadiah dari Bianca. Juga ia dapat menjam*h gunung kembar indah milik selebgram ternama itu. Plus ci*man hotnya juga.


Dada Bianca tidak seperti dada Wirda. Lebih membusung hingga kekeny*lannya lebih terasa.


Tentu saja Andre tak menyia-nyiakan kesempatannya pura-pura polos dalam hal jam*h menjam*h. Dan ternyata Bianca pun menikmati s*nsasi belaiannya yang dibuat seperti grogi luar biasa.


"Ndre!"


"Hm?"


"Kamu bisa jadi artis top kalau masuk dunia intertainment!"


"Aku ga minat, Bi! Medsosku pun jarang kubuka dan tak pernah upload status apapun! Aku ini gaptek soal tehnologi!" katanya, bohong soal gaptek. Andre bisa meretas beberapa kode rahasia negara dengan kejeniusannya.


"Tapi sebaiknya jangan! Aku ga mau kehilangan kamu!" sela Bianca kemudian.


"Aku ini dimatamu apa, Bi?!"


"Kekasih gelapku! Hehehe..."


"Sudah kuduga! Aku cuma bemper. Iya khan?"


"Bukan seperti itu, Ndre!... Hhh...! Aku sudah dijodohkan Papaku dengan putra teman bisnisnya. Kami akan tunangan setelah aku tamat SMA. Jadi... itu baru rencana mereka!"


"Hari gini masih ada perjodohan? Jaman Siti Nurbaya sudah lewat sangat jauh. Sekarang jamannya siti ripuh!"


"Hahaha... Andre, Andre...! Kamu manis dan lucu!"


"Calon tunanganmu?"


"Wow, dia orang terkenal. Dan sepertinya juga baj*ngan! Hehehe..."


"Ck ck ck...!"


"Itu sebabnya aku jadi seperti ini. Aku ingin menikmati masa mudaku dengan kebahagiaanku sendiri. Aku meminta Papa dan pria itu untuk tidak mengganggu privasi karierku sebelum aku resmi dipersunting olehnya!"


"Kapan kamu menikah?"


"Menikah? Hahaha... entah, Ndre! Mungkin Papa ingin aku kuliah dulu di luar negeri setelah tunangan nanti!"


"Hm...! Kenapa orang kaya suka sekali mengirim anaknya kuliah keluar negeri!?! Seolah universitas di negeri ini tiada berbobot sama sekali!"


"Hehehe...! Selain buatan internasional, gaya intelek dan elektabilitasnya juga menaikkan derajat pastinya! Kamu sendiri?"


"Aku? Kamu tanya aku?... Hmmm... go with the flow ajalah! Aku ikuti arus!"


"Kamu enak,... cerdas dan keluargamu mendukung!" tutur Bianca membuat Andre mendengus. Tawa renyahnya pecah, tapi lelaki muda itu tak ingin membuka aib keluarganya. Karena ia tak terlalu tertarik masuk dalam dunianya Bianca.


Seperti halnya Bianca, yang menganggapnya seperti cowok murahan. Selir ataupun kekasih gelap. Rasanya itu masih lebih baik bagi Andre daripada suatu ketika nanti tiba-tiba Bianca meminta pertanggungjawabannya.


Andre sendiri mulai bosan dengan Wirda.


Bahkan saat ini pun hapenya ia silent karena ribuan chat gadis remaja itu menyepam menanyakan keberadaannya.

__ADS_1


Andre Wiguna Darma. Begitulah dirinya. Padahal saat ini Papanya sedang mendapatkan aduan dari Mama tirinya perihal sikap serta tindakannya.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2