
Naysila menjalani kehidupannya kembali seperti biasa.
Ia menunggu Rendra pulang ke rumah jum'at malam demi untuk diskusi mencari rumah kontrakan. Dalam komunikasi via telepon, Rendra mengizinkan Nay mencari kontrakan untuk tempat tinggal mereka. Nay sangat ingin lepas dari orangtua Rendra yang tidak menyukainya.
Dan seperti tebakannya, sang suami baru pulang, orangtuanya langsung menebar racun.
"Nasehati istrimu, Di! Dia itu sudah mulai berani chattan dengan pria lain!"
Rendra yang baru saja masuk ke rumah dengan wajah lelah hanya menghela nafas dan tersenyum masam.
"Paling itu klien dari WE tempatnya kerja, Bu!" tukasnya datar. Perutnya lapar dan fikirannya kacau, tapi disambut dengan cerita yang tak jelas.
"Ck! Itu teman sekolahnya dulu!"
"Nay mana?" tanya Rendra mengalihkan pembicaraan. Terang saja Ibunya makin kesal sambil menghentakkan satu kaki ke lantai.
"Kamu ini! Ibu cerita malah dicuekin! Kalau nanti istrimu minta cerai karena CLBK sama teman lamanya, baru kau mencak-mencak!"
"Ibu, aku capek bu! Kereta tadi delay lama di stasiun Manggarai, sampe harus transite pindah gerbong segala! Jangan bikin otakku tambah mumet!"
"Makin mumet kalau kau baru sadar istrimu bertingkah!"
Naysila yang memang sudah mendengar keributan di ruang tengah perlahan membuka pintu kamar.
Putrinya baru saja tidur setelah setengah jam menangis tantrum tak jelas keinginannya. Wajah Nay nampak lelah.
"Suami pulang itu ya harusnya disambut dengan muka cerah! Ini, malah muka lelah yang ditunjukkan!"
Naysila menelan ludah.
Dia hanya bisa menunduk sembari merapikan rambutnya yang acak-acakan. Lalu bergegas menuju dapur membuatkan teh manis hangat untuk Rendra.
Begitulah suaminya. Seringkali membawa masalah pekerjaan ke dalam rumah. Dan membuat suasana hati yang kusut semakin bertambah semrawut.
Naysila menyodorkan segelas teh manis kepada Rendra, tapi langsung ditepis hingga gelas yang dipegangnya nyaris jatuh.
Untung hanya berceceran airnya separuh membasahi lantai.
"Panas!" seru Rendra membuat Nay segera bergegas mengambil lap kering ke dapur.
__ADS_1
Bilqis terlihat menggeliat sembari menangis sebentar. Rupanya mengigau karena terlalu lama menangis.
"Mas!... Aku belum mendapat rumah kontrakan!"
Naysila mencoba memulai komunikasi. Rendra sudah berganti pakaian dan sedang duduk di pinggir ranjang kayu di kamar mereka sembari menikmati teh manis yang sisa setengah dengan sebelah tangan kiri memperhatikan layar hapenya.
"Itu pertanda Tuhan tidak mengizinkan kita menjauh dari rumah ini!"
Jawaban Rendra sangat mengecewakan hati Naysila.
"Mas...!"
"Sudahlah, Nay! Aku lelah! Aku mau istirahat!"
"Kalau istirahat itu ya tidur! Untuk apa kamu terus fokus pada hapemu!"
"Hei!? Aku ini masih ada kerjaan sebentar dengan teman! Bukannya main-main hape seperti kamu yang chattingan sama teman lamamu!"
"Mas!... Aku cuma bilang, istirahat itu tiduran. Rebahan! Bukan jadi meleber kemana-mana omonganmu! Bukannya kita sudah sepakat akan pindah dari sini awal bulan nanti?"
"Aku bilang lelah, mau istirahat! Bukan bilang mau tidur! Dan aku juga bilang, kita pindah kalau semuanya mendukung dan mengizinkan. Dan sekarang, kamu sendiri tadi bilang, kita belum menemukan rumah kontrakan! Artinya, itu belum Tuhan dukung! Kau ini beneran ngeyel ya!?! Mau kamu jadi anak durhaka? Kamu itu yatim piatu, kalau aku... orangtuaku masih lengkap dan wajib aku hormati!"
Ia hanya duduk berjongkok di lantai, merapikan piring dan lauk pauk untuk suaminya makan.
Rendra turun dari atas ranjang setelah menaruh ponselnya. Ia mengambil piring tanpa suara. Lalu makan sendirian, tak menawari Naysila untuk makan barengan.
Tiba-tiba...
Treeet... treeet... treeet
Hape Rendra berbunyi. Ada panggilan telepon membuatnya menaruh piring lalu mengambil ponselnya.
Seketika ia berdiri dan berjalan tergesa-gesa meninggalkan kamar. Naysila hanya bisa termangu sendirian.
Andaikan telepon dari teman, tak perlu khan mas Didi keluar dari kamar? Cukup terima saja dan jawab segera panggilan teleponnya!
Naluri Nay membuatnya bangkit dari lesehannya, bergegas mengikuti langkah Rendra.
Suaminya ternyata pergi keluar rumah. Ia duduk di teras depan sembari menelpon dengan suara pelan.
__ADS_1
Mencurigakan sekali tingkahnya! Apa pacarnya kah yang menelponnya itu? Sayangnya aku tidak bisa mendengar obrolan mereka!
Tiba-tiba Rendra masuk kembali ke dalam rumah.
Rendra masuk kamar. Mengganti kembali pakaian santainya dengan lebih rapi.
"Mas! Ada apa? Mau kemana?"
"Temanku butuh bantuan, Nay?"
"Teman? Siapa? Teman pabrik?"
Rendra tak menjawab. Ia sibuk memindahkan dompet dan gawainya ke dalam saku celana jeansnya.
"Mas makanmu belum selesai! Kamu juga khan baru pulang! Pasti bisa khan bilang sama temanmu itu untuk menunggu sebentar sampai makanmu selesai?"
"Ini darurat! Temenku itu butuh aku sekarang, Nay! Nanti kulanjut makannya! Jangan dibuang! Aku pergi dulu. Ga lama, palingan satu jam!"
Naysila tak bisa berkata apa-apa lagi.
Dia hanya memperhatikan kesibukan sang suami berbenah diri. Matanya tak berkedip memperhatikan Rendra. Teringat masa lalu ketika mereka masih muda dan sedang dalam tahap penjajakan.
"Nay, bagaimana penampilanku?" tanya Rendra dulu sewaktu apel saat ia masih jadi kekasihnya.
"Keren! Rapi dan wangi. Hehehe..."
"Ganteng ga?"
"Ganteng maksimal! Hehehe..."
"Hehehe...! Pacar siapa dulu dong! Pacar sang primadona cantik ya harus ganteng maksimal!"
Naysila menelan salivanya. Memori perkataan Rendra itu kini terngiang lagi.
Suaminya kini terlihat rapi dan wangi. Bahkan menyisir rambut sampai berkali-kali. Benar-benar membuat Naysila jadi curiga dan berfikir yang bukan-bukan.
Haruskah aku mengikuti mas Didi kemana ia pergi? Haruskah? Apakah aku siap menerima kenyataan kalau ia sedang bersama kekasih gelapnya?
Dada Naysila berdesir. Degubnya semakin kencang seiring rasa penasarannya yang butuh jawaban pasti.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...