
"Nay..."
Mama Bianca dan Naysila saling berpelukan. Kedua menangis dalam rangkulan yang membuat Bianca serta Andre kebingungan.
"Mama..., tolong jelaskan!" ujar Bianca lirih.
Ternyata... keduanya adalah Ibu dan anak kandung. Naysila adalah adik kandung Bianca.
Kenapa bisa begitu? Rupanya sebelum menikah dengan Ayahnya Naysila, mamanya Bianca adalah janda beranak satu.
Bianca adalah kakak kandung Naysila. Berbeda umur satu tahun empat bulan.
Ayah Nay tahu Mirna sudah memiliki anak, tapi tidak bersedia kalau rumah tangga mereka digerecoki anak dari suami pertama Mirna yang meninggal dunia. Itu sebabnya Bianca diurus oleh Nenek ketika kecil sampai kelas satu SMP, karena Mirna hidup bersama Ayah dan Naysila.
Baru setelah naik kelas dua SMP, Bianca tinggal bersama Mamanya dikota. Dari situlah Bianca mengembangkan kariernya di dunia intertainment.
Rupanya Mirna meninggalkan Ayahnya Naysila karena tidak kuat lagi dengan kebohongan demi kebohongan yang selalu diberikan.
Mereka pisah tanpa memberitahukan Naysila yang sebenarnya. Dan Kusno melarang Mirna untuk membawa Naysila. Sehingga terkesan seperti ibu yang tidak bertanggung jawab, tak peduli darah daging sendiri.
Dulu Naysila begitu benci Ibunya. Yang meninggalkannya tanpa perasaan dan kata-kata.
Naysila kini faham, kenapa sampai hati Mamanya pergi.
Nasib rumah tangganya pun kini seperti Ibunya. Menikah dengan pria yang penuh janji manis tapi palsu.
Kini ia mengerti tindakan yang Ibunya ambil kala itu. Berharap Kusno akan berubah sampai akhir. Ternyata..., beginilah takdir. Tak mampu membuat Mirna lebih baik lagi dan Kusno pun justru pergi dipanggil Yang Maha Kuasa tanpa permintaan maafnya.
Mirna sampai kini tak ingin menikah lagi, dan hanya mengurus putri pertamanya. Hati kecilnya selalu merindu putri keduanya. Tapi perjanjian yang ia tandatangani bersama Kusno membuatnya harus menepatinya.
Mirna boleh pergi tanpa gangguan Kusno dengan catatan tidak boleh memberitahukan Naysila akan cerita sebenarnya. Apalagi kalau ia sampai berani membawa Naysila serta. Maka hidup Bianca akan terancam. Kusno bertekad menculik Bianca dan membunuhnya jika Mirna membuka semua kebobrokan Kusno pada Naysila.
__ADS_1
Tetapi di akhir kisah hidup Kusno, Naysila tahu. Hutang judi Ayahnya teramat besar bahkan dirinya nyaris jadi jaminan jika tak segera hengkang dari ibukota.
Beruntung paman dari ibunya mengambil Naysila segera, sebelum para penagih hutang datang.
Hidup Nay terselamatkan sejam sebelum kejadian diobrak-abriknya rumah kontrakan Naysila dan Andre juga terlambat datang menemuinya kala itu.
Kisah hidup yang sempat ditutupi Mirna pada putri-putrinya. Kini mereka bertiga menangis bersama dalam dekapan hangat yang banjir air mata disaksikan Andre dan Bilqis.
"Mau Ibu antar ke rumah mertuamu, Nay?"
"Jangan, Bu! Nay belum mau bercerita semuanya pada suami juga mertua. Rasanya, seperti mimpi. Bisa bertemu ibu juga kakak kandung Nay! Hik hiks..."
Bianca menghapus airmata di pipi Naysila. Kini ia memiliki saudara, meskipun beda Ayah.
"Tinggallah bersama kami, Nay!" ucap Bianca.
"Aku ingin, Kak! Tapi..., aku punya suami. Dan harus mengikuti kemana langkah suamiku!"
Andre menunduk. Jemarinya merengkuh kuat tubuh mungil Bilqis yang tertidur di pelukannya.
Hati Andre menjadi sedih mendengarkan ucapan Naysila. Andai saja ia yang jadi suami Naysila, bukannya Rendra. Sungguh akan bahagia hatinya.
"Maaf, Bu! Nanti Nay akan hubungi ibu lagi. Kita bisa ketemuan lagi bertiga!"
"Kamu mau pulang sekarang, Nay?"
"Iya, Ndre! Aku sudah terlalu lama keluar rumah. Nanti mertuaku marah dan cerita pada mas Didi!"
"Apa Rendra marah padamu?"
"Tidak. Sudah kubilang, suamiku terlalu sayang. Makanya istrinya yang cantik jelita ini tak boleh keluar rumah terlalu lama!"
__ADS_1
"Bagaimana rumah kontrakannya? Sudah dapat kah?"
"Naysila mau mengontrak? Kenapa tidak tinggal bareng kita?" kata Bianca menimbrung diobrolan Nay dan Andre.
"Tadinya, kak! Tapi ternyata mas Didi tidak mau pindah dari rumah orangtuanya karena tidak dapat izin dan restu."
"Hm..., begitu ya?!?"
"Aku pamit ya, Bu, Kak,... juga Andre! Aku permisi!"
"Naik apa? Mau kuantar?"
Andre dan Bianca kali ini berkata kompak. Sehingga gelak tawa terdengar dari semuanya.
"Terima kasih. Tapi Nay naik ojek aja, kak Bi! Biar lebih cepat sampai rumah!"
"Ya udah, hati-hati ya?"
"Iya, Bu!"
Mereka pun cipika cipiki saling berpamitan dan berjanji untuk saling menghubungi via chat.
Andre hanya bisa menatap punggung Naysila yang makin menjauh dari pandangannya.
Bianca dan Mirna, Mamanya juga pamit setelah Naysila pergi. Kini tinggal Andre seorang diri.
Ada rasa haru, senang dan damai. Pujaan hatinya kini hidupnya lebih tenang. Naysila ternyata saudara Bianca. Dan Andre bahagia, mengetahui masa depan Naysila akan lebih baik lagi nanti sampai ia tiba waktunya di-panggil Yang Maha Kuasa.
Andre pun kembali ke hotel tempatnya tinggal.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...