
Wahana kincir di Dufan, jadi saksi obrolan serius pertemanan antara Andre dan Naysila.
"Berobatlah, Ndre! Kamu masih stadium satu!"
Andre hanya tersenyum tipis.
Matanya memandang kosong ke arah depan yang seharusnya jadi hal yang indah luar biasa.
Dulu, bersama Naysila seperti ini adalah impiannya.
Berharap bisa duduk berdampingan, bahkan sampai pelaminan pernikahan.
Kini, semua harapan itu perlahan musnah.
Andre tak punya lagi impian indah tentang masa depan.
Bahkan ketika Naysila memintanya berobat rutin dengan suara lemah lembut sekalipun. Andre tak lagi bergeming.
"Aku..., sudah ditakdirkan begini, Nay!"
"Bukan takdir, tapi nasib! Dan nasib masih bisa kita rubah selagi nyawa masih dikandung badan!"
"Nyawaku sudah dokter tentukan! Tuhan sudah menanamkan bibit penyakit ini dalam tubuhku. Sisa umurku tak lebih dari setahun lagi!"
"Siapa bilang? Dokter? Dan kamu percaya begitu saja ucapan dokter? Hei,... Dokter itu bukan Tuhan! Tuhanlah yang menentukan batas umur dan hidup seseorang!"
"Aku faham. Tapi percuma berjuang, jika hasilnya sama saja! Mati-mati juga! Habis uang miliaran, toh hasilnya tetap masuk peti mati dan dikubur!"
Jawaban Andre teramat mengiris hati Naysila.
Miris memang.
Ketika seseorang sudah pasrah bahkan cenderung apatis pada keadaan yang Tuhan kira sudah ditentukan,... hanya diri dan fikiran positifnya sendiri yang bisa menolong.
Andre, sedang diposisi tenggelam di dasar lautan luas dan gelap.
Kematian seolah jadi tolok ukurnya untuk berdiam diri, tak melakukan apapun. Dan malas berbuat apapun termasuk membahagiakan diri dengan jalan yang positif.
Bagi Andre kini, ia hanya ingin bersenang-senang menerima nasib dan takdir kematian yang dokter tentukan.
Andre lupa, bahwa hidupnya dan juga hidup sang dokter adalah kepunyaan Sang Pencipta.
Hari ini ia bahagia sekali. Dan akan selalu diingat momen ini sampai ia mati.
Ia dan Naysila menikmati wahana demi wahana dengan teriakan dan tawa canda. Setelah itu makan bersama dengan duduk lesehan di atas hamparan koran bekas, membuka rantang yang Naysila bawa.
__ADS_1
Sungguh menyenangkan hatinya.
Hingga tiba-tiba, saat itu ia mendapatkan chat masuk dari kuasa hukumnya.
...Boss... Dokter Gege meninggal dunia. Jantungnya berhenti berdetak ketika ia sedang olah raga....
Bagaikan disambar petir.
Andre menerima kabar duka yang tak ia sangka.
Umur memang benar kuasa Tuhan. Bagaimana mungkin, dokter spesialis yang baru 32 tahun itu tiba-tiba meninggal dunia padahal tidak terdeteksi memiliki riwayat penyakit apapun. Bahkan tubuh dan jantungnya sehat. Namun atas izin Tuhan, malaikat izroil berhasil mencabut nyawanya dalam sekejap. Hhh...
Andre hanya bisa menarik nafas.
Fikirannya menerawang seiring matanya memandang wajah tenang sang bidadari disampingnya.
"Nay!"
"Ya?"
"Boleh aku bertanya?"
"Hehehe...! Untukmu, silakan tanya apa saja. Kalau bisa, aku akan menjawabnya!"
"Aku ingin jawabanmu, kenapa dulu kamu pergi tanpa pamit padaku?"
"Aku, tidak tahu harus berbuat apa waktu itu!"
"Kamu tidak percaya kalau aku akan datang dengan uang 70 juta ditangan?"
Nay menatap mata Andre yang redup.
"Haruskah aku percaya pada anak lelaki yang slenge'an berumur 17 tahunan kalau akan datang membawa uang 70 juta buat melunaskan hutang ayahku?"
"Aku melakukannya, Nay! Dan benar-benar membawa uang 70 juta tepat pukul dua siang. Nyatanya, aku terlambat dua jam lebih. Kata pemilik kontrakan, kamu pergi sebelum pukul dua belas siang."
"Aku,... takut dijadikan perempuan malam oleh rentenir yang menagih hutang. Hhh... Selama dua tahun bersembunyi dari kejaran mereka. Bahkan aku benar-benar menghilang tanpa jejak dan pergi ke kampung ayahku yang jauh dipedalaman! Untuk menghindar dari rentenir lintah darat itu!"
Andre menatap bola mata Naysila yang perlahan redup dan mulai berkaca-kaca.
"Boleh aku tahu, bagaimana perasaanmu padaku dahulu itu?"
"Aku... tidak tahu. Maaf!..."
Andre menunduk.
__ADS_1
"Pertemanan kita teramat singkat. Mungkin memang Tuhan menakdirkan seperti itu. Apa boleh buat. Tapi aku selalu mengingatmu. Mengingat detik demi detik yang berharga yang kita lalui bersama. Di atas ketinggian wahana kincir angin di pasar malam itu, adalah kenangan terindah dalam hidupku. Dan tak pernah kulupa sampai saat ini!"
"Adakah perasaan cintamu dulu padaku?"
"Aku tidak mengerti cinta. Aku tidak tahu, bagaimana rasanya cinta saat itu. Tapi aku merasakan sesak, ketika harus pergi secepatnya sebelum para penagih hutang itu datang. Dan hanya sepucuk surat saja yang aku tuliskan padamu lewat ibu Cici tetangga kontrakan sebelahku!"
Andre mengambil dompetnya. Membuka dan menarik lipatan kertas lusuh dari salah satu sisinya.
"Surat ini..."
"Kamu masih simpan, Ndre?"
"Mungkin kamu menganggapku gila! Atau apapun itu, terserah. Aku... menyukaimu sejak pandangan pertama. Tepatnya, pertama kali kita saling bertemu muka di ruangan lomba cerdas cermat. Matamu terlihat berbeda dengan cewek-cewek lain dalam memandangku. Bahkan, terkesan cuek cenderung kejam. Terlebih, saat kita saling bersaing merebut bel untuk lebih cepat menjawab pertanyaan demi pertanyaan dewan juri kala itu. Aku... jatuh cinta pada tatapin sinismu padaku."
Andre tahu, Nay seolah tak mempercayai ucapannya yang terdengar seperti karangan bebas para pujangga cinta yang gagal.
"Aku, ingin sekali kenalan pada saat itu, tapi... takdir tak berpihak. Hingga suatu ketika, Tuhan kembali mempertemukan kita dalam keadaan yang kurang baik. Aku melihat kedukaanmu ditinggal ayah tercinta."
Terlihat Nay semakin tertunduk, dan Andre hanya bisa menelan saliva.
Tapi bibirnya terus ingin berbicara. Ingin mengungkapkan segala rasanya pada Naysila agar tiada beban lagi di jiwa.
Andre ingin mengungkapkan perasaan cintanya yang terpendam sampai tuntas.
"Aku... seperti jiwa yang menunggu belahannya bertemu. Ibarat potongan hati yang hilang separuh dan belum bisa meninggalkan apalagi merelakan untuk berjuang dengan lain orang. Sampai saat ini, aku masih menyimpan sepotong harapan itu. Cintaku padamu, Naysila Utami!"
"Kamu..., benar-benar mencintaiku, Ndre?"
Andre tersenyum malu.
"Lega rasanya, setelah mengeluarkan semua yang ada disini!" jawabnya seraya menunjuk dada kirinya.
"Kamu bohong!"
"Hehehe...! Setidaknya, kalau aku mati besok, aku sudah mengatakan semua isi hatiku ini padamu, Nay! Kuharap, kamu mendapatkan kebahagiaan setelah ini!"
"Maksudmu apa, Ndre? Mengucapkan cinta tanpa menginginkan balasan, atau apa? Sekedar pengakuan untuk membuat dadaku sesak oleh cintamu yang sepihak? Lalu... bagaimana denganku? Apa jawaban dariku atas pernyataanmu itu tidak lagi penting bagimu? Jahatnya kamu!"
Andre tak dapat berkata apa-apa. Hanya tatapan lembutnya dan usapan telapak tangan mengusap pelan anak rambut Naysila.
"Aku, selalu mendoakan kebahagiaan untukmu dan juga Bilqis!"
"Apakah... aku tidak boleh menginginkan dirimu? Apa karena diriku kini bekas orang lain, jadi tak lagi berharga dimatamu?"
Seketika wajah Andre membeku. Pertanyaan telak dari Naysila menohok hatinya yang biru karena cinta.
__ADS_1
Cintakah Naysila padaku?
...BERSAMBUNG...