
Daniel sudah mendapatkan perawatan dokter IGD. Dan dia juga sudah sadar.
Andre tak mau ambil pusing lagi, sehingga pergi kembali ke kantornya. Tapi...
"Kakak! Maafkan aku!... Aku, selalu menyusahkanku!"
Tangan Daniel menarik jemarinya sebelum pergi. Sungguh suatu sikap yang tak Andre duga.
Kenapa otaknya ini bocah? Sampai minta maaf segala? Pasti terjadi sesuatu!
Mata Daniel merah dan basah. Jarang-jarang ia menangis kalau tidak sedang ada masalah.
"Kau, pasti buat masalah baru ya?" tebak Andre dengan suara tersekat.
Ia telah mengetahui tabiat sang Adik yang keras kepala seperti Shernita.
"Hik hiks..."
"Apa lagi yang kau buat? Hah?"
"Aku..., aku memakai sertifikat rumah sebagai jaminan pinjaman online!"
Bruak.
Seketika Andre memukul sisi ranjang besi rumah sakit.
Hampir ia lepas kendali dan ingin berteriak berkoar-koar melampiaskan emosi.
Daniel sudah tidak waras. Daniel sudah benar-benar melewati batas.
Andai Andre tahu sedari mula tingkah Daniel yang menjadi, tak akan dibawanya bocah itu ke rumah sakit.
"Bagus! Bagus!!! Tindakan yang bagus!!! Lalu uang pinjamannya mana?"
"Habis kak! Hik hiks... semalam aku habiskan semuanya. Tak bersisa. Bahkan motor gede Kakak juga kupakai taruhan, dan... mereka ambil karena aku kalah!"
"Judi lagi? Motorku pun? Ck ck ck..."
Andre seperti mati rasa.
Ingin rasanya ia menghujamkan samurai panjang ke dada Daniel saat itu juga. Tapi itu hanya dalam fikiran jahatnya.
"Nikmatilah penderitaanmu sendirian, Daniel! Selamat menjadi gembel! Karena rumahmu siap-siap ditarik dep kolektor!"
Andre bangkit dari duduknya. Ia bergegas pergi. Meninggalkan Daniel dan Maharani yang terisak meratapi nasib.
Ia ingin pergi dari kekacauan ini.
Andre bengong di depan kemudinya.
Ingin pergi ke klub, tetapi hari masih siang. Mabuk disiang hari hanya akan mempermalukan diri sendiri.
Akhirnya Andre mengendarai mobilnya tanpa arah tujuan.
Entah mengapa, ia ingat rumah kontrakan Naysila di masa lalu. Ia ingin pergi ke sana. Mengingat saat-saat indah bersama Naysila, meskipun kala itu keadaan tidak sedang baik-baik saja. Tapi bersama melewati hari yang berat, cuaca hati seketika berubah indah.
__ADS_1
....
Jalanan gang masihlah sama.
Hanya selokannya yang berubah. Airnya semakin hitam dan keruh. Baunya lebih menyengat ketimbang sepuluh tahun yang lalu.
Tiba-tiba matanya menangkap sosok tubuh yang ia kenal.
Naysila???
Wanita yang tak pernah bisa hilang dari hatinya itu tampak sedang mengobrol dengan tetangganya dimasa lalu.
"Naysila?"
"Andre?"
Kedua mata mereka saling beradu pandang. Ada kaget dan juga malu terlihat dipancaran binar netra mereka.
"Kamu sedang apa disini?"
Kalimat yang sama meluncur dari bibir keduanya. Begitu kompak berbarengan.
"Aku, tiba-tiba ingin main ke sini! Hehehe...! Kamu?"
"Aku juga sama, Nay! Rumah ini, begitu berkesan bagiku walau sangat singkat kenangannya."
Nay menunduk. Teringat cerita sang tetangga yang menceritakan kalau pria dihadapannya ini pernah mengontrak selama sebulan demi menunggunya kembali.
Andre bersalaman dengan beberapa orang ibu yang mengobrol bersama Naysila.
"Bilqis mana?" tanya Andre, berusaha mencairkan kebekuan diantara dirinya dan Naysila.
"Sama Neneknya."
Jawaban Nay begitu singkat dan dingin. Andre merasa kikuk sekali.
"Nay,... aku minta maaf untuk,"
"Aku yang harusnya minta maaf, Ndre! Mertuaku sampai memaki-maki kamu karena kesalahfahaman waktu itu!"
"Aku yang salah! Aku tidak seharusnya menchatmu setiap malam!"
Naysila diam dengan wajah tertunduk.
"Apa... kamu tidak mendapat kekerasan dari mereka?" tanya Andre menyelidik.
"Tidak! Mereka hanya seperti itu karena takut aku pergi dari rumah!"
Hhh... Andre menarik nafas panjang.
"Aku minta maaf,... aku... tidak bisa mengendalikan diriku yang senang sekali bertemu kamu lagi. Aku, masih tidak bisa melupakanmu! Sampai aku lupa, kalau kau adalah istri orang lain!"
Naysila makin menunduk dalam. Kini langkahnya semakin cepat menyusuri jalan gang.
__ADS_1
"Kamu engga' kerja, Ndre?" tanya Naysila seperti ingin mengalihkan pembicaraan kaku mereka.
"Adikku bikin ulah lagi!"
"Kenapa?"
"Biasalah, kelakuan anak muda jaman sekarang!"
"Hehehe..., aku lupa, kamu adalah anak muda jaman dahulu!"
"Hahaha...! Iya ya?! Kata-kataku seperti opa-opa tua renta yang sudah bau tanah ya? Ck... Padahal jiwa mudaku lebih sangar dan gahar sampai saat ini! Tapi aku tak habis fikir dengan tingkah Daniel yang ga ngotak itu! Haish! Jadi curhat!"
Naysila tersenyum. Manis sekali.
Hari ini penampilannya sangat sederhana. Bahkan wajahnya polos dari make up seperti di pesta pernikahan Rendy waktu itu.
Naysila begitu manis. Sangat sangat manis dimata Andre Wiguna saat ini.
"Nay, bolehkah aku mengajakmu ketempat pasar malam yang waktu itu?" tanya Andre tiba-tiba. Tapi jawaban Naysila justru semakin membuat Andre makin terpesona.
Naysila tertawa.
"Andre, hahaha...! Tempat pasar malam yang dulu kita naik kincir itu? Sekarang sudah berubah jadi perumahan elit, tauuu! Hahaha..."
"Hah? Iya kah? Eh, ada koq ada! Beberapa tahun lalu aku masih sempat kunjungi! Beneran! Asli itu kincirnya masih ada, cuma emang udah rapuh dan gak dipakai lagi!"
"Idih? Kamu beneran belum tahu? Tanah sekitar pasar malam itu sudah jadi milik pengusaha Dabeng Corp. Jadi perumahan sekarang!"
"Iya? Ah bohong kamu! Aku ga percaya! Hahaha... hoax itu!"
"Ayo, kita buktikan! Hahaha..."
"Ayo! Siapa takut? Aku soalnya masih main kesitu beberapa tahun lalu! Hehehe..."
"Iya, beberapa tahun lalu! Dasar kamu mah, hehehe..."
Entah karena suasananya yang begitu mendukung, baik Andre maupun Naysila begitu menikmati pertemuan itu.
Hati mereka menghangat. Pertemuan yang tak terduga, justru menjadi celah bahaya yang menyenangkan.
Kebahagiaan itu sangat mereka idamkan. Bahagia yang indah tanpa kepura-puraan.
"Lah? Beneran jadi perumahan, Nay?"
"Khan? Hehehe... iya khan? Uang benar-benar merubah segalanya, Ndre!"
"Tapi uang tidak bisa membeli segalanya. Salah satunya cinta tulus yang murni dari hati yang bersih!"
Naysila tersenyum.
Andre hanya bisa melamun dengan mata mengedar ke sekeliling.
Pasar malam yang dulu begitu membuatnya bahagia, kini telah jadi perumahan yang dingin dan beku.
Beton-beton tembok tinggi perumahan elit ibukota berdiri dengan angkuhnya. Memasung para penghuni individualis, yang masing-masing tidak saling kenal apalagi saling berinteraksi satu sama lain walaupun tetanggaan.
__ADS_1
Sungguh mirisnya kini human di perkotaan.
...BERSAMBUNG...