
Aku hanya bisa diam membisu. Ketika mata Naysila yang mulai berkaca-kaca merebak dan jatuh airnya dipipi.
"Maaf, Nay... Maafkan aku! Aku... tak bermaksud menyakiti perasaanku. Aku, bukan ingin mempermainkan dirimu apalagi menghina statusmu saat ini! Usia kita tak lagi muda. Dan umurku, sudah tinggal menghitung hari saja. Aku..., tak ingin membuatmu terluka!"
"Kau tak ingin membuatku terluka, tapi kau tak sadar kalau saat ini aku sedang terluka karena ucapanmu! Hik hiks..."
Kubiarkan kepergian Naysila tanpa kuberikan jawaban yang menyenangkan.
Senangkah hatiku, karena ternyata Naysila seperti berharap tembakanku ini akan membutuhkan jawaban?
Atau justru sedih, karena sampai akhir kisah cintaku hanya menggantung sampai disini?
Hhh...
Apa lacur... begitulah kenyataannya.
Cinta tak berhasil sampai akhir.
Percuma jika cinta, tapi hanya untuk waktu yang sebentar saja.
Buat apa melabuhkan cinta, sedangkan usia sudah akan berakhir menunggu waktunya tiba saja.
....
Hari demi hari, setelah kasus penganiayaanku pada Rendra selesai wajib lapornya, aku pergi meninggalkan ibukota.
Sebelum pergi, kukunjungi makam dokter pribadiku Gerald Verhouven Sp.PD.
Mengirimkan doa agar sang dokter pribadi yang sempat menangani penyakitku itu tenang di alam baka.
Tuhan Maha Berkuasa. Ternyata umurku yang telah dokter Gege tentukan tak bisa dijamin kevalidannya.
Dia yang memvonisku tak berumur lama, ternyata lebih dulu meninggal dunia dalam usia mudanya 32 tahun.
Hhh... Sungguh aneh dunia ini.
...○○○○○...
Setahun kemudian...
Aku, Andre Wiguna Dharma. Usia 28 tahun. Dan tepat hari ini, hari jadiku yang ke-29 tahun.
Umurku rupanya masih panjang.
Nyawaku masih juga dikandung badan.
Setelah malang melintang mengelilingi kota-kota besar di beberapa bagian negara Indonesia tercinta, ternyata Tuhan masih mengizinkanku untuk menghirup udara gratisnya.
Thanks God!
Setahun melanglang buana. Pergi mengembara dari satu kota ke kota lain, mencari pengalaman hidup mensyukuri nikmat Tuhanku Yang Maha Suci.
Kujual hape dan juga barang-barang mewahku. Hanya tas ransel murahan dengan beberapa potong pakaian yang pasaran serta sepatu kets dari pengrajin lokal.
Aku benar-benar berubah 180 derajat.
Terkejut Tio, suami Bianca ketika kami tanpa sengaja bertemu di kota hujan.
Saat itu aku sedang jogging sore di sepanjang trotoar jalan kebun raya. Tempat kost ku memang tak jauh dari pusat kota Bogor dan sudah sebulan lebih aku tinggal menetap di sana.
__ADS_1
"Andre?" teriak Tio ketika mobil yang dikendarainya baru saja keluar dari kantor pemerintahan tempatnya meeting kali ini.
Kami pun menyempatkan ngopi di coffee shop sekitar jalan Taman Sempur.
"Waktu berjalan cepat sekali, ya!?!" katanya membuka pembicaraan kami.
Aku tersenyum mengangguk.
"Apa kabar semuanya?"
"Baik! Kau sendiri?" tanya Mas Tio.
"Seperti yang Mas lihat!"
"Kapan kau pulang ke Jakarta? Kenapa memutuskan semua komunikasi? Bahkan kuasa hukum dan juga saudaramu sendiri?"
Aku hanya diam tak menjawab. Karena bingung, harus berkata apa. Biarlah..., semua menjadi teka-teki yang tak terpecahkan.
"Adik iparmu sudah melahirkan. Anaknya perempuan!" cerita Tio membuatku menghela nafas lega.
"Bianca juga baru saja mengadakan acara nujuh bulanan dua hari yang lalu!"
Sungguh aku senang mendengar penuturan mas Tio. Seolah dapat membaca fikiranku, ia menceritakan satu persatu kabar dari orang-orang yang kusayang. Hanya Naysila, yang tak ia sebut namanya.
Dengan malu-malu, kucoba beranikan diri menanyakan kabarnya.
"Naysila..., bagaimana kabarnya?"
"Apakah Naysila juga penting untuk kuceritakan?"
Seperti tertohok. Jawabannya membuat nyeri ulu hatiku.
Jantungku berdebar kencang.
Khawatir juga kalau keadaan Naysila tidak baik-baik saja.
"Naysila..., apa kabarnya Mas?"
"Hhh...! Kamu penasaran khan? Kenapa gak lihat sendiri kondisinya?"
Lemas seketika seluruh persendian tubuhku. Jawaban ambigu mas Tio membuat fikiranku jadi negatif thinking.
"Mas..."
"Dia sekarang sakit-sakitan, dan sering keluar masuk rumah sakit."
"Naysila sakit? Sakit apa?"
"Apa pedulimu? Toh dia bukan siapa-siapa kamu! Saudaramu pun tak kau pedulikan, apalagi Naysila!"
"Mas, Naysila sakit apa?"
Suami Bianca Aurelia itu hanya mengangkat bahu. Membuat rasa penasaranku semakin mencuat tinggi.
Nay..., apa yang terjadi padamu? Bagaimana keadaan Bilqis jika kamu sakit?
....
Melihat tubuh Naysila yang ringkih membuatku sedih. Gadis kecil bernama Bilqis Khumaira yang dulu imut chubby dengan dua gigi kelinci kini sudah tumbuh dan lincah sekali.
__ADS_1
Bayi itu kini telah mau dua tahun usianya. Bilqis berlari kesana kemari mengelilingi ruang tamu rumah Bianca yang cukup lapang.
"Qiqis, jangan lari-lari, Nak!"
Aku tak dapat menyembunyikan kesedihan hati ini mendengar suara serak dari bibir Naysila.
Meski terlihat pucat, tapi kecantikannya tak memudar. Senyumnya mengembang, meski terlihat bergetar dengan mata menatap lekat padaku.
"Syukurlah..., kita masih dipertemukan Tuhan untuk bisa bertemu muka!" katanya membuatku menelan saliva.
Ya Tuhan! Kenapa Naysila-ku jadi seperti ini?
Kutahan kesedihan hati ini, agar tak jatuh air mata di pipi melihat tubuh kurus Naysila.
"Kamu sakit apa, Nay?" tanyaku pelan dengan beringsut mendekatinya.
Nay tertawa kecil.
"Entahlah, Ndre! Semua pemeriksaan dokter sudah kuikuti, tapi... tak terdeteksi penyakitnya. Semuanya normal!" jawab Naysila membuatku membasahi bibir ini, bingung.
Mamanya duduk mendekati kami. Di tangannya ada sepiring nasi dengan sayur dan lauk pauk.
"Makan dulu, ya? Walau sedikit, Mama harap kamu mau makan, Nay!" pinta Mama Naysila dengan ucapan mengiba.
"Boleh Andre yang menyuapi Nay?"
Kuberanikan diri bertanya pada Mamanya. Sedikit terdengar agak kurang ajar, tapi aku ingin sekali mencoba melayani Naysila.
Mamanya tersenyum, lalu mengangguk dengan wajah terlihat senang.
"Makan ya? Jangan lupa doa. Kamu harus semangat, Nay! Bilqis membutuhkanmu. Bilqis ingin pertumbuhannya dipantau terus Ibu kandungnya. Jangan pergi tinggalkan Bilqis diusia belia! Bilqis tidak boleh seperti aku, jadi piatu!"
Entah mengapa, jatuh juga satu butir airmata di pipi kirinya.
"Maaf..., aku jadi pria cengeng sekarang!"
Nay tersenyum. Kini bibirnya terbuka lebar menunggu suapan pertama dariku. Matanya juga mengalirkan butiran bening keharuan.
"Aku..., kangen kamu Ndre!" katanya lirih.
"Aku...ada didepanmu kini, Nay!"
Mata ini saling bertatapan. Saling melepas kerinduan dengan telepati bahasa kalbu yang hanya kami berdua yang tahu.
Naysila berhasil makan lima suapan dari tanganku. Ia mengucapkan terima kasih setelah Mamanya menyelamatinya karena berhasil makan tanpa muntah.
"Nay sakit apa, Tante?" tanyaku pada Mamanya setelah Nay tertidur sehabis minum obat.
"Ada yang bilang, Nay kena penyakit kiriman!" jawabnya agak ragu.
"Kiriman? Maksudnya?" tanyaku meminta kejelasan.
"Hhh... penyakit gaib, katanya!"
Aku diam, tak berani menjawab.
Antara tak tahu dan tak berani mengeluarkan pendapat. Aku hanya bisa bengong dengan tatapan kosong.
Apakah penyakit gaib kiriman dari mantan suaminya? Entahlah... Cukup Tuhan saja yang tahu!
__ADS_1
...BERSAMBUNG...