CEO GILA : Mencintai Istri Orang

CEO GILA : Mencintai Istri Orang
BAB 62 (Masih POV Andre Wiguna Dharma)


__ADS_3

Ketika cinta tak lagi sejalan, namun masih tetap ingin dipaksakan... apakah itu tidaklah menyakitkan?


Cinta ditolak, dukun bertindak.


Dari cerita demi cerita yang Bianca dan Mamanya tuturkan, kini aku faham. Keluarga Rendra rupanya tidak suka pada Naysila dan tak ingin mantan menantunya itu hidup bahagia.


Setelah ketuk palu perceraiannya, ternyata mereka masih menyimpan dendam. Tak terima kalau kenyataan mantan istrinya Rendra disinyalir kini adalah orang berada. Mereka sangat kecewa.


Sempat beberapa kali Rendra dan keluarganya mendatangi kediaman Bianca untuk meminta rujuk dengan Naysila, namun penolakan yang mereka terima.


Rendra sendiri tidak lagi berhubungan dengan Widuri. Janda itu memutuskan untuk menjual rumahnya dan pindah ke pinggiran kota. Dan kabarnya telah menikah empat bulan lalu dengan orang Cikupa Tangerang. Begitu cerita Bianca.


Hhh...


Jodoh, rezeki dan umur...tiadalah orang tahu.


Aku sendiri, mendapatkan vonis kanker ginjal dan berumur pendek tetapi sampai saat ini belum juga mati.


Sedang Dokter Gege, ternyata lebih dulu dipanggil Yang Maha Kuasa menghadap-Nya.


Lalu Rendra, yang kukira setelah bercerai dengan Naysila akan langsung menikah dengan Widuri justru tidak kejadian.


Mereka pisah sebelum ke pelaminan.


Itu sebabnya kebencian pada Naysila begitu besar, hingga persekutuan dengan setan berani mereka lakukan.


Aku,... aku jujur sangat tidak terima.


Aku ini sarjana managemen bisnis. Lebih suka berfikir logika dan hal yang masuk akal ketimbang hal-hal diluar jangkauan.


Tapi melihat sendiri perut Naysila kadang menggendut seperti ada sesuatu di dalamnya yang membuat wanita pujaan itu menjerit-jerit kesakitan, tentu tak bisa terima.


Aku pulang menemui Daniel dan Maharani setelah meminjam alat cukur mas Tio dan membersihkan diri di kamar tamu keluarga mereka.


Sedikit berseka dengan merapikan jenggot demi eksistensiku agar tidak disangka hidup menggelandang selama ini.


Ya. Aku memang mengembara. Tapi aku masih punya uang dari jual saham dan lain sebagainya. Jika aku mau membeli satu unit rumah ukuran type 21 pun masih bisa kubayar kontan. Tapi itu tak kulakukan.


Fikiranku lebih memilih kebebasan untuk kesana kemari menikmati kehidupan yang Tuhan berikan.


Menyukuri semua nikmat-Nya yang selama ini kulupakan. Begitulah hidupku kini.


"Kak?!? Kak Andre???"


"Kak Andreee!!!"


Daniel senang sekali sampai menubruk tubuhku dengan keras. Rani menangis berlinang air mata sambil tersenyum lebar. Tangannya menggendong putri mereka yang masih bayi.


Aku tersenyum menyeringai.


"Boleh kupangku anak kalian?"


"Tentu, Kak!"


Rani memberikan gadis kecil imut berambut agak pirang itu padaku.

__ADS_1


Sungguh Tuhan Maha Besar. Bocah yang dulu sangat kubenci karena selalu nyinyir menyindir bersama Mamanya itu kini telah menjadi seorang bapak. Kharisma Daniel kini sungguh jauh berbeda. Karena kini dialah CEO PT Keramik Asia Tile.



"Aku senang, akhirnya Kakak pulang!"


"Kak! Aku sudah melakukan semua yang Kakak katakan. Aku, kembalikan jabatanku ini padamu, Kak!" ujar Daniel masih dengan tangan menggandengku.


"Hei, aku pulang bukan ingin mengambil semua yang telah jadi milikku! Aku kesini karena kangen dan ingin melihat keponakanku! Bukan ingin jadi CEO lagi! Dasar, kau ini!"


"Kak!... Aku tahu kau pasti akan berkata seperti ini. Tapi aku serius. Aku lebih suka jadi karyawan biasa dibanding jadi CEO. Hiks,... lihat rambutku... menipis khan? Karena ternyata stres melanda padahal usiaku baru 21 tahun! Aku mundur dari jabatan CEO!"


"O tidak bisa! Itu perusahaanmu, bukan perusahaanku lagi. Hahaha...! Aku tak punya hak di situ, karena asetku sudah kutarik semua. Hehehe...! Rani, siapa nama si cantik ini?" tanyaku pada Rani, mengalihkan perhatian Daniel yang merengut bibirnya.


"Hehehe... Mikayla Ilona Wiguna, Kak!"


"Wah...! Namanya cantik, secantik orangnya. Semoga hatimu juga cantik, aamiin!"


"Aamiin ya Allah!"


"Rani...! Bagaimana keadaan Abi dan Umi di kampung? Apa kalian pernah mengunjungi mereka sesekali?"


"Alhamdulillah, Kak! Bahkan Abi Umi juga sekarang suka main kemari. Berkat kak Daniel!"


"Syukurlah! Alhamdulillah!"


"Aku mengikuti semua nasehatmu, Kak! Aku mencoba mengunjungi keluarga Rani dan meminta mereka ikut menemani Rani lahiran. Dan aku bersyukur, mereka akhirnya mau memaafkan kelakuanku yang dulu dan ikut bersamaku mendampingi Ilona lahir! Hehehe..."


Aku tersenyum senang.


Daniel benar-benar telah berubah.


Sementara aku,... masih seperti ini dan hidup tak menentu.


"Kak! Kamu sudah periksakan keadaanmu?"


"Halah! Aku tidak perlu periksa. Semuanya tinggal tunggu waktu saja!" jawabku enteng.


"Apa kakak sering pingsan atau kambuh selama ini?"


"Sakit kepala dan sakit perut itu sudah jadi makananku sehari-hari. Aku hanya menjaga kesehatanku dengan makan teratur, cukup beli obat pereda rasa nyeri di apotik kurasa sudah cukup!"


"Jadi,... selama ini Kakak tidak pernah berobat?" Rani shock mendengar perkataanku yang santai.


Tapi memang kenyataannya seperti itu.


Aku sama sekali tak pernah mengunjungi klinik apalagi rumah sakit. Jika kepala nyut-nyutan, cukup parasetamol dengan anti biotik yang kubeli di apotik sebagai antipasinya. Dan berhasil. Sakitku berangsur hilang, hingga kembali bisa wara-wiri.


"Ayo, kita ke rumah sakit!"


"Ran..., gak perlu!" tolakku halus.


"Kak! Ayolah, aku kini memaksa!"


"Ga usah, Rani!"

__ADS_1


"Demi diri Rani dan juga Ilona! Kakak beneran gak mau nuruti kata-kata Rani meski hanya sekali ini saja?"


Aku hanya bisa menghela nafas.


Aku sudah pasrahkan semuanya pada Yang Maha Kuasa.


Aku lelah tahun-tahun kemarin berakrab ria dengan dokter spesialis dan alat-alat canggihnya.


Anemiaku dulu parah dan tak jarang membuatku semaput lemah tanpa daya.


Sekarang hidupku jauh lebih santai. Tak lagi kurasakan sakit yang mengharuskanku ber-interaksi dengan mereka dan juga alat-alat rumah sakit yang membuatku illfeel.


"Ayo! Ayo, Kak!"


Daniel tersenyum puas melihatku akhirnya menurut juga.


Rumah sakit besar dengan bau obat membuat perutku mual.


Langkah kaki setengah diseret karena malas kembali berurusan dengan para ahli kesehatan membuatku lebih banyak diam ketimbang bicara.


"Kalian gak pulang? Ilona ga apa-apa ditinggal sama susternya lama?"


"Tenang! Kami disini menunggui dan menyuportmu, Kak!" kata Daniel sambil menepuk bahuku.


"Heleh! Bilang saja kau, kalau takut aku melarikan diri dari general check ini. Iya khan?!"


"Hahaha... iya, iya!"


Aku... hanya bisa tersenyum kecut.


Kembali menunggu pemeriksaan dengan tes sana sini, sangat melelahkan juga menyakitkan.


Diambil sampel darah, lalu foto rontgen dan endoskopi membuatku jenuh. Bersyukur Daniel dan Maharani menemani. Sehingga ada teman ngobrol walau hanya sepatah dua patah kata.


Hasil akhir semuanya baru akan keluar setelah proses panjang seharian.


"Hasil pemeriksaan, Anda sehat dan tidak menderita penyakit apapun kecuali memang lambung sedikit agak bermasalah!"


"Hah???" Aku kaget sekali.


"Sungguh, Dok?"


"Ini gak salah diagnosa khan, Dok?"


"Ini semua hasil lab dan pemeriksaan yang tadi Mas lakukan!" begitu jawaban sang dokter yang terlihat berumur sekitar empat puluh tahunan kurang lebih.


"Saya... tidak terdeteksi kanker ginjal khan?"


"Tidak ada. Tidak sama sekali. Bahkan ginjal Anda sehat koq!"


"HAH???"


Apa ini? Apa yang terjadi pada hidupku?


Setahun lalu aku divonis kanker ginjal stadium satu. Dan... dokter Gege almarhum menyarankanku untuk melakukan pengobatan kemoterapi secara rutin. Tapi kini,... bahkan sel kanker itu bahkan tak terdeteksi sama sekali.

__ADS_1


Ya Tuhan!!! Aku sungguh terpana oleh Kuasa-Mu.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2