
"Kak, mau kemana?"
Daniel mengikuti langkah Andre yang mendorong koper besarnya keluar dari kamar.
"Kakak mau pergi?" Kini Maharani menanyakan hal yang sama padanya.
Andre duduk di sofa ruang tamu apartemennya yang berada di lantai sebelas.
"Daniel..."
"Iya, Kak!"
"Usiamu bulan depan 20 tahun. Aku tidak memintamu untuk menjadi super hero untuk Maharani kedepannya. Tapi, berbuat baiklah selalu pada istrimu. Jangan sekali-kali kamu menyakitinya. Apalagi, enam bulan lagi bayi kalian akan lahir! Jaga istri dan anakmu dengan benar. Jadilah pria dewasa yang bertanggung jawab! Dan... jagalah perusahaan Papa dengan baik! Aku percaya, kamu mampu membesarkan perusahaan warisan orangtua kita!"
"Kak?... Apa maksud ucapanmu? Kamu mau kemana?"
"Mulai senin, kaulah CEO Keramik Asia Tile. Aku sudah lepas semua sahamku. Kau pemegang saham terbesar. Dan kau mutlak menjadi CEO setelah kepergianku. Aku titipkan semuanya padamu. Jaga baik-baik semuanya."
"Kakak? Apa-apaan sih?"
"Maafkan aku selama ini. Aku terlalu keras dalam mendidikmu! Aku hanya ingin, kamu jadi pria yang hebat dikemudian hari!"
Daniel terisak.
Kata-kata Andre membuat dadanya sesak. Seperti ada sesuatu yang ingin Andre sampaikan secara misterius padanya.
"Kak, kau kenapa? Hiks... Kau boleh benci aku. Kau boleh terus maki aku! Tapi jangan seperti ini! Perkataanmu membuatku merasa kalau kau akan tinggalkan aku! Kau bawa koper besar, memangnya mau pergi kemana? Mau tinggal di pabrik? Kak?"
"Aku...! Entah tinggal berapa lama lagi waktuku tersisa di dunia ini!"
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Aku..., terkena kanker ginjal!"
Daniel dan Maharani menangis keras. Keduanya langsung memeluk tubuh Andre erat.
"Kak!"
"Jaga diri kalian baik-baik! Aku masih akan terus memantau kelakuanmu, Daniel... karena aku masih hidup! Jadi jangan membuat ulah yang membuatmu rugi di kemudian hari!"
"Kak hik hik hiks! Kak! Kau tidak akan cepat mati! Kau masih membenciku sama seperti sejak kita muda dulu! Kau harus terus membenciku! Kau harus terus memaki dan menamparku! Aku tidak akan pernah menyayangimu, Kak! Hik hik hiks... Kaaak!!!"
"Jangan cengeng, tol*l! Aku masih bernafas dan belum mati saat ini! Aku hanya ingin pergi menikmati hidupku yang tak lama lagi!"
"Mau kemana, kak? Mau berobat? Ya ya, berobatlah! Lawan penyakit sialan itu! Lawan! Seperti kau selama ini begitu gigih mencaciku dengan kata-kata kotormu yang memuakkan!"
"Hahaha... adik sialan! Aku akan rehat sejenak dari ocehan memuakkan itu. Dan kau bebas berbuat sesuka hati jika kau mau jadi gembel dimasa tuamu nanti! Jauhi judi, tak ada orang jadi kaya raya karena hobi berjudi. Bahkan si Donal Trump sekalipun, kaya karena jadi bandar judi. Bukan dari hasil main judi. Lihat itu si Mark Zuckerberg, dia pencipta FB tapi gak pernah setiap hari online FB an. Pikir pakai otak, jangan hanya gunakan otot!"
"Hik hik hiks!"
Andre pamit pada Daniel dan Maharani.
"Kak!"
"Jangan cengeng! Jaga istrimu! Dia tanggung jawabmu dunia akhirat!"
"Kak Andre!"
"Rani, sesekali marahi suamimu jika dia tak becus menjadi kepala rumah tangga. Terus ingatkan dia, kau adalah tulang rusuknya yang hilang satu!"
Daniel dan Rani hanya bisa menangis sedih membiarkan Andre pergi. Bahkan Andre menolak diantar sampai depan apartemen.
"Aku pasti akan pulang sesekali! Jadi jangan lebay! Jaga diri kalian baik-baik, ya?"
__ADS_1
AKU PULANG... TANPA BEBAN
KUTERIMA KEKALAHANKU...
Begitulah lagu Sheila on 7 mengalun pelan dari musik box di mobil Pajeronya.
Andre benar-benar telah ikhlaskan diri pada ketentuan Illahi.
Hidupnya yang penuh dengan warna. Sejak kecil, remaja dan dewasa. Mungkin ini jalan Tuhan karena ia bukan umat yang beriman.
Ibadah pun tak pernah.
Wajar saja jika Tuhan ingin menghancurkannya dalam sekali ketukan.
Nyawanya kini tak lagi berharga.
Cintanya kandas tanpa sempat ia labuhkan pada yang didamba. Tuhan tak memberinya kesempatan untuk menikmati indahnya bercint*. Cinta dalam arti yang sesungguhnya.
Dia tak pernah mendapatkan itu sedari kecil. Seperti sudah menjadi kutukan hidup sampai akhir. Dan mati muda dengan hati merana. Begitulah yang Andre rasa.
Perlahan bulir-bulir menuruni pipinya yang dipenuhi kumis dan brewok.
Naysila pasti telah memblokir nomornya. Dan juga memblokir diri serta ingatan baik tentangnya.
Ya. Nasi telah menjadi bubur. Takkan mungkin ia daur ulang menjadi nasi uduk.
Kini ia adalah individu bebas merdeka dengan kesempatan hidupnya perlahan menipis detik demi detik.
"Pergilah ke Hongkong atau Singapura! Teknologi kedokteran disana jauh lebih modern! Kau baru stadium satu, masih banyak kesempatanmu untuk berobat! Bahkan orang yang sudah stadium tiga pun bisa sembuh atas kuasa Tuhan!" nasehat dokter Gege, dokter spesialis pribadinya selama ini.
Ya Kuasa Tuhan! Tapi... meski aku pernah memasukkan Daniel pada sebuah pesantren, aku tak pernah sekalipun melakukan ibadah wajib yang Tuhanku perintahkan selama ini. Hanya dulu, ketika usiaku masih belasan. Dan itupun kulakukan ketika aku pulang ke Bandung. Menginap di rumah Nyai!
__ADS_1
Andre pergi ke Bandung. Mendatangi rumah Nyai yang kosong tak ada yang mengisi. Ia ingin tinggal beberapa minggu di sana, sampai hatinya kembali tenang dan semangat hidupnya pulih. Baru akan mengambil keputusan untuk pergi mengembara kemana.
...BERSAMBUNG...