CEO GILA : Mencintai Istri Orang

CEO GILA : Mencintai Istri Orang
BAB 50 (Pertemuan Yang Penuh Misteri)


__ADS_3

Andre Wiguna Dharma, sedang menikmati kebebasannya yang menyedihkan.


Mendapat vonis penyakit mematikan membuatnya menjual semua aset dan membebaskan dirinya dari segala beban.


Andre telah menyerahkan semua tanggung jawabnya pada Daniel dengan bimbingan kuasa hukum dan beberapa orang kepercayaannya.


Andre pergi berziarah ke makam Mama serta Neneknya. Ia mendiami rumah peninggalan Nyai Fatima yang kosong setelah beliau meninggal dunia.


Keluarga mendiang Mamanya memang sedikit. Sedangkan harta warisan tanah dan sawah mereka lumayan luas. Sehingga Andre cukup beruntung mendapatkan bagian yang banyak dari warisan Mamanya.


Setelah seminggu bertapa dari hiruk-pikuknya ibukota, Andre kembali tapi tidak mendatangi Daniel.


Ia hanya memantau dari kejauhan. Dan hatinya tenang melihat perubahan pada diri Daniel. Adiknya itu kini tampak lebih baik.


Daniel juga tidak lagi kasar pada Maharani. Bahkan mau mengantar istrinya periksakan kandungan.


Andre bersyukur, ada hikmah di setiap kejadian.


Lengsernya dia dari perusahaan Keramik Asia Tile membawa kebaikan bagi sebagian orang.


Ia juga mendengar kalau Bianca dan Tio sedang berlibur ke pulau Nias dalam rangka mediasi proses perceraian.


Harapan Andre, Bianca dan Tio membatalkan perceraian lalu rujuk kembali membangun rumah tangga bahagia.


Andre hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk saudara dan juga teman-temannya termasuk Naysila.


Menyebut nama Naysila, seketika mental Andre melemah.


Ia teringat amarah Naysila beberapa belas hari yang lalu. Andre kini juga tak berani sekedar memantau handphone sang pujaan meski hanya menatap foto profil Naysila saja.


Ia tak punya muka lagi. Malu dan takut, kalau wanita itu semakin dalam membencinya.


Andre tak inginkan itu. Naysila sudah cukup jauh salah faham padanya. Biarlah waktu yang akan membuka semua. Bahwa dirinya tiada maksud menjelek-jelekkan Rendra demi untuk memikat hatinya.


Benar, Andre begitu menginginkan Naysila.


Benar, terkadang akal gilanya menyuruhnta untuk merebut paksa Naysila dari suaminya bahkan ketika dirinya belum tahu kalau Rendralah suami Naysila.


Benar, ia terlalu sulit untuk melupakan kenangan indah dimasa mudanya.


Dan selalu saja membanding-bandingkan wanita lain dengan Naysila, sehingga sulit bagi Andre membuka lembaran percintaan yang baru.


Hanya cinta satu malam saja yang bisa ia tawarkan pada para wanita pemujanya.


Selebihnya, Andre tetap tak bergeming. Dan tetap tak percaya pada keagungan cinta.


Naysila Utami, dua kali melukainya lagi.


Dulu, wanita cantik itu meninggalkannya tanpa perasaan. Kini, kembali menorehkan luka dengan tuduhan yang menyakitkan.


Namun sayangnya, meski teramat sakit di hati Andre, ia tetap tak mampu membenci wanita pujaannya itu.


Ia selalu bisa mengerti jalan fikiran Naysila. Dan menyalahkan dirinya sendiri yang tidak berkata pada tempatnya.


Andre tak mau ada rasa benci tertanam, walau ia terluka oleh kekejaman Naysila.


Hingga detik ini.

__ADS_1


Makam sang Papa terlihat suram dan kotor. Berbeda dengan makam mama serta neneknya di Bandung.


Jasad Jaya memang dikuburkan dipemakaman wilayah ibukota. Makamnya berdampingan dengan Shernita. Andre tidak mau keduanya ditempatkan pada satu tempat yang sama. Karena rasa bencinya pada Mamanya Daniel masih tetap membara dihati sampai saat ini.


"Papa...! Kemungkinan aku akan menyusulmu juga Shernita ke alam baka dalam waktu dekat ini! Aku, akan terus menjadi anakmu yang rusuh. Dan mengganggu kalian meski di alam yang berbeda jika kalian masih berani menyakiti Mamaku!"


Entah, apakah ucapannya itu benar. Andre berkata-kata pelan mengeluarkan unek-unek dihatinya. Hingga tak sadar dirinya kini terisak di area pemakaman.


"Papa...! Aku tidak inginkan harta warisanmu. Hanya ingin kasih sayangmu pada kami. Bukan dengan menduakan cintamu dengan wanita gila harta seperti Shernita. Dan sekarang...aku lega, Daniel sekarang sudah bisa kuandalkan untuk mengurus semua harta peninggalanmu!" ucapnya disela isak tangisnya.


"Pa...! Maafkan aku, sampai akhir hidupku... aku tetap durhaka padamu! Maaf, Pa! Maafkan aku! Hik hik hiks..."


Andre berlalu pergi dengan langkah gontai setelah ziarah kubur.


Ia tak tahu akan kemana kakinya melangkah. Ia juga tak ingin kembali ke apartemen yang ditempati Daniel serta Maharani. Semua hartanya telah ia hibahkan pada anak Shernita, termasuk kendaraan pribadinya. Sehingga ia kini kesana kemari dengan kendaraan umum saja. Hanya kartu hitm ATM-nya saja hartanya kini.


Andre perlahan menyusuri trotoar. Menengok kanan dan kiri. Mencari penginapan atau hotel murah untuk tempatnya singgah.


Dan... akhirnya ada.


Andre merebahkan tubuhnya di kasur dalam kamar seharga tiga ratus ribu semalam. Harga yang cukup murah untuk bilangan pusat ibukota. Setidaknya satu minggu menempati ruangan 10x6 meter dengan harga dua juta seratus ribu adalah sesuai menurutnya yang mantan seorang CEO.


Pukul lima sore. Perutnya yang keroncongan minta diisi membuat Andre turun dari kamar hotelnya mencari makan.


Ia memilih untuk pergi ke Mall seberang hotel tempatnya menginap. Disana banyak pilihan makanan karena ada kedai foodcourt dilantai empat.


Andre memilih steik dan duduk di resto terbuka sambil melihat-lihat sekelilingnya yang ramai orang lalu lalang cari makan.


"Andre?"


Andre terkejut. Naysila berdiri dihadapannya dengan menggendong Bilqis.


"Ya aku tahu. Akulah justru yang mengikutimu sampai tempat sini sedari tadi ketika melihatmu masuk mall!"


Andre menelan salivanya. Ia takut sekali Naysila membenci. Ini pertemuan pertama mereka setelah kesalahfahaman tempo hari itu.


Sehingga Andre kembali kikuk dihadapan wanita pujaannya.


"Boleh aku ikut duduk?" tanya Nay begitu manis.


"Bo-boleh!"


Entah mengapa. Kepercayaan diri Andre seketika ambruk. Ia gugup dan gagap bersama Naysila.


"Kamu kemana saja? Maharani bilang,"


"Jangan percaya omongan Daniel!" sela Andre sebelum ia mendengar kelanjutan cerita Naysila.


"Kamu...sakit?"


Andre menggelengkan kepalanya.


Kini dua bola mata mereka saling bertatapan. Dan Andre mengaku kalah. Ia menunduk menghindari tatapan Naysila.


"Hik hik hiks...! Andre! Kamu harus sehat! Kamu harus semangat! Berobatlah yang benar. Kamu bisa sembuh, aku yakin itu!"


"Permisi...pesanannya, Mas!" kata waitress yang membawa makanan pesanan Andre.

__ADS_1


"Nay, kamu mau makan? Mas... tolong satu porsi lagi ya?"


"Baik, Mas! Ditunggu ya!?"


"Makasih banyak!"


"Kamu tinggal dimana sekarang? Kata Daniel dan Rani, kamu gak pernah merespon panggilan telepon mereka. Kenapa?"


Andre tersenyum. Bilqis tertawa melihat senyumannya.


"Hai Bilqis!... Bolehkah aku gendong Bilqis, Nay?"


"Makanlah dulu! Aku disini, menemanimu."


"Aku tunggu pesananmu datang!"


"Makan dulu! Setelah pesananku datang, kamu bisa pangku Bilqis dan aku bisa makan dengan tenang!"


Andre tersenyum dan mengangguk. Ia makan dengan lahap. Lahap sekali sampai terkesan terburu-buru hingga nyaris tersedak.


Bilqis lagi-lagi tertawa melihatnya batuk-batuk. Bocah imut itu mengira Andre sedang menggodanya.


"Hahaha...! Tunggu Om makan dulu ya, Bilqis!"



Andre semangat sekali untuk menghabiskan makanannya dibawah tekanan tatapan Naysila yang menahan keharuan.


Makanan pesanan untuk Naysila telah tiba. Andre berdiri sambil mengambil Bilqis dari pangkuan Nay.


"Makanlah dengan tenang! Aku akan jaga Bilqis, Nay!"


"Terima kasih, Ndre!"


Andre memangku Bilqis. Mengajaknya berkeliling santai sambil menggoda bayi sembilan bulan itu sampai tertawa-tawa riang.


"Andre!!!"


Bianca rupanya yang memanggilnya.


"Hei, kemana saja kamu?" tegurnya garang.


Bianca ternyata bersama Mamanya. Andre langsung mencium punggung tangan Ibunda dari sahabat masa remajanya itu.


"Anak siapa ini? Imutnya!"


"Anak Naysila dan Rendra!"


"Naysi_la? Istrinya Didi OB itu?"


"Bukan istrinya Didi. Kita salah orang, Bi!"


"Yuk kukenalkan..."


"Naysila...Utami!?!"


Wajah Mama Bianca pucat pasi. Matanya menatap tajam Naysila yang sedang makan.

__ADS_1


"Mama!!?" Kini Nay yang terpekik. Membuat Bianca dan Andre terkejut sekali.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2