CEO GILA : Mencintai Istri Orang

CEO GILA : Mencintai Istri Orang
BAB 37 (Berjanji Bertemu Naysila Lagi)


__ADS_3

Keadaan yang tak terduga mempertemukan kembali Naysila dengan Andre Wiguna.


Bilqis yang dahinya terluka karena terjun bebas dari ayunan taman, telah mendapatkan perawatan. Bahkan kini Bilqis tertidur dipelukan hangat Andre Wiguna.


Mereka keluar dari ruang perawatan dokter dengan tatapan berpasang mata, termasuk tatapan Maharani.


Andre mengajak Naysila duduk dulu. Selain untuk menenangkan diri, juga untuk memberikan tubuh imut Bilqis pada Naysila.


"Hehehe..., maaf ya Andre! Bilqis sepertinya kangen sama Ayahnya!"


"Kemana Ayahnya, memangnya?" tanya Andre dengan dada berdebar. Ia sangat ingin mengorek kisah rumah tangga Naysila. Ingin mengobrol lebih lama lagi.


"Ibu Maharani!"


Andre langsung menoleh pada Adik iparnya.


"Rani, giliranmu!" kata Andre setelah mendengar suster jaga memanggil nama lengkap Rani.


"Iya, Kak!"


"Tanya apapun yang kamu mau ketahui tentang bayimu!" tutur Andre sebelum Rani berjalan masuk ke dalam ruang periksa.


Rani mengangguk.


Nay yang melihat interaksi mereka tampak tertarik sekali melihat Andre dan Rani.


"Kamu..., tidak ikut masuk?" tanya Naysila pada Andre. Tapi hanya dijawab dengan gelengan kepala saja.


"Kamu membawa Bilqis kemari hanya sendiri. Ayahnya mana?"


"Kerja."


"Oh!"


Andre menunduk.


Kukira Ayahnya sudah tiada, atau... minimal mereka telah bercerai. Hhh...


"Tapi, kalian masih berstatus suami istri khan?" tanya Andre dengan penuh rasa penasaran.


"Iya lah! Hehehe..."


"Haish! Kukira,"

__ADS_1


"Apa? Hehehe...! Suamiku dipindahkan kerja di daerah pinggir Ibukota. Jadi pulangnya seminggu sekali mulai bulan ini."


"Hm... Sepertinya, suamimu pekerja keras ya!?"


"Iya. Mas Didi memang pekerja keras dan sangat bertanggung jawab pada keluarga. Ia malah sering ngambek kalau aku ambil kerjaan jadi MC dan juga karyawan lepas sebuah EO."


"Baguslah kalau begitu!"


"Hehehe...kenapa memangnya?"


"Ya kalau dia itu pria buruk yang membuat sengsara hidupmu, aku tak akan tinggal diam. Aku, akan merebutmu darinya!"


"Hehehe...! Aduh, Ndre... kata-katamu bikin aku takut! Nanti perempuan muda yang ada di ruang dokter keluar dan dengar omongan ngasalmu!"


"Itu Maharani, adik iparku!"


"Adik ipar?"


"Ya. Sudah kukatakan aku belum menikah!"


"Pacar? Atau partner?"


"Aku ditinggal partner sepuluh tahun lalu. Jadi aku trauma, partner-partneran!"


"Aku pamit ya, Ndre! Lain kali moga bisa ketemu lagi!"


"Tunggu, Nay! Kumohon, tunggu Maharani keluar sebentar. Biar kita bisa pulang bersama! Please..."


Naysila diam mematung. Ia bingung mendapati permintaan Andre yang terdengar mengiba.


"Sini, Bilqis aku yang gendong!"


"Aku, masih tinggal dengan mertua. Khawatir mertuaku nanti berfikir yang macam-macam. Jadi..., mungkin sebaiknya lain kali saja kita ketemuan. Ya?"


Nay mencoba menjelaskan.


"Aku kan bersama Maharani, masa' mertuamu akan salah faham melihat kamu diantar kami?"


Naysila duduk kembali. Bilqis tetap ada dipangkuannya karena ia menolak Andre untuk memangkunya.


"Biar Bilqis aku yang gendong, sini Nay!"


"Maaf...! Bilqis suka bangun kalau tidurnya diusik. Maaf ya Ndre!"

__ADS_1


"Hehehe... it's okay!"


Naysila akhirnya menurut juga.


Setelah hampir seperempat jam menunggu Maharani selesai periksa dan mendapatkan obat dari suster medicine, mereka pulang bersama.


Ini adalah kesempatan Andre untuk mengetahui kondisi Naysila dan tempat tinggalnya.


Untuk menjapri dan menanyai Naysila via WA, ia tak punya keberanian. Hanya sesekali membuka dan melihat foto profil Naysila saja secara diam-diam, itu sudah membuatnya bahagia.


Naysila, ternyata masih seperti yang dulu. Tinggal di sebuah perumahan padat penduduk yang jalanannya sempit dan bergang-gang.


Andre hanya menurunkannya sampai depan gang.


"Makasih Ndre, Rani! Maaf, aku ga bisa mengajak kalian mampir. Selain rumah kami sempit dan agak jauh masuk ke dalam gang, aku juga masih numpang dirumah mertua!"


"Iya Nay! Next time kita janji ketemuan ya?"


"Iya kak, tapi... nanti kalau Rani japri Kakak, tolong direspon ya?" jawab Rani membuat Andre tersenyum.


Naysila mengiyakan permintaan Rani juga Andre. Ia pamit setelah melambaikan tangan perpisahan.


Ada untungnya juga Rani bisa masuk mengobrol dengan Nay! Aku jadi terbantu sekali!


Andre senang sampai lupa kalau bibirnya terus-terusan tersungging senyuman membuat Rani diam-diam memperhatikannya.


"Kak,... kakak pasti suka sekali sama kak Naysila ya?"


Andre hanya tertawa, membuat Rani langsung mendekap bibirnya seraya minta maaf.


"Maaf, kak Andre, kalau aku terlalu lancang sampai berani berkata seperti itu!"


"Tak apa, Rani! Jangan kamu terlalu sungkan padaku. Hehehe...! Apa kata dokter tadi?"


"Janin Rani sehat, Kak! Dokter cuma bilang, Rani tidak boleh terlalu banyak fikiran dan harus mengkonsumsi makanan empat sehat lima sempurna!"


"Ah, kita ke swalayan dulu! Beli susu khusus ibu hamil untukmu!"


"Jangan, Kak! Kak Daniel tadi telepon pas di ruang dokter. Katanya, Rani harus segera pulang!"


"Hhh...! Bocah itu ya!?! Seenaknya mengatakan sesuka hati. Biar saja dia tunggu kamu di rumah. Kita tetap mampir dulu minimarket, beli susu dan juga camilan sehat buat kamu!"


Hati Rani menghangat. Kakak iparnya benar-benar orang yang baik. Ia sangat bersyukur dan berdoa dari hatinya yang terdalam, semoga Andre mendapatkan kebahagiaan dari Tuhan.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2